Kangen Jogja

Elisabeth Oktofani

 

**nulis sambil denger lagunya Katon-Yogyakarta**

 

Tinggal di Pulau Dewata tak selalu menyenangkan. Itu yang kurasakan dan itu yang ingin kuungkapkan, TIDAK SELALU MENYENANGKAN.

Setiap kali temanku bertanya di mana aku sekarang dan memberikan mereka jawaban pada mereka, tanggapan mereka hampir semuanya sama “Wuah.. menyenangkan!”. Menyenangkan bagaimana? Tidak juga!

Pertama, karena aku tinggal di banjar Nyuh Kuning, Mas, Ubud, aku jauh dari mana-mana. Jauh dari kantor, dari mall, dari bioskop, dari rumah sakit, dari supermarket, dari toko buku, dari toko sepatu, dari tempat makanan enak dan murah dan dari airport. Hal ini sangatlah menyebalkan karena aku harus mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk menjangkau tempat-tempat tersebut, setidaknya aku harus punya uang Rp 200.000,00 jika aku sedang malas dan memutuskan untuk naik taxi. Kalaupun aku harus naik motor, setidaknya aku harus menempuh setidaknya satu jam perjalanan. Kalau hati senang tak masalah, tapi kalau harus aku lakukan setiap hari seperti sebelumnya saat kantorku berada di kawasan Petitenget, yang ada hanyalah rasa lelah yang membuatku selalu dalam bad mood.

Kedua, (again) karena aku tinggal di Ubud, terlalu banyak orang aneh dengan cara berpikir yang nggak masuk akal atau lebih tepatnya kuno, baik bule maupun orang local. Misalnya aja neh untuk orang lokal, supir langgananku yang selalu membicarakan tentang kehebatan dan kelebihan dirinya sendiri serta keluarganya yang membuatku merasa muak untuk terus menerus menderangkannya, sebut saja namanya Made, yang selalu menggunakan kata saya, saya dan saya. Atau sering banget, ngebandingan orang Jawa dan orang Bali, di mana orang Bali lebih hebat ketimbang orang Jawa. Well, menurut Les Giblin “Lebih banyak orang yang senang membicarakan dirinya sendiri, maka dengarkan mereka”. Jadi, apa salahnya mendengarkannya meskipun aku harus muntah-muntah mendengarkan cerita tentang dirinya yang nggak ada buktinya, kalaupun itu benar Who give a damn about that? That’s not my business at all! Dan untuk masalah orang Jawa vs orang Bali, haduh haduh kasian deh orang kok narrow minded banget she. Kalau nggak ngerti mendingan diem deh!

Ketiga, (again) karena aku tinggal di Ubud, gelap banget! Apa mereka nggak memikirkan betapa bahayanya jalan dengan tikungan tajam tanpa lampu jalan? Kalau cuma mengandalkan lampu kendaraan saja kan sangat berbahaya. God damn it! I hate this place! It is so dark!

Keempat, air di rumah pake air pam dengan kandungan klorin yang sangat tinggi, menyebabkan kulitku gatal-gatal dan berjerawat. =(( sehingga aku malas untuk mandi karena mandi pun percuma kulit jadi gatal-gatal dan nggak merasa fresh setelah mandi. (Apa ya solusinya selain buat sumur?)

Kelima, orang lokal yang bekerja di tempat umum (seperti restaurant, café, book shop, shop) gemar sekali melakukan diskriminasi terhadap orang Indonesia. Heran banget dengan hal tersebut, dengan bangsa sendiri kok melakukan diskriminasi, hanya karena mereka pikir bule punya duit lebih banyak daripada orang local makanya bisa melakukan hal tersebut? Hello… nyadar euy…. Banyak banget bule kere! Tetanggaku orang Jerman, ngutang sama Bu Made (tetanggaku juga) buat bayar listrik! Pernah suatu kali waktu pertama banget ke Ubud sebelum dapat rumah di Nyuh Kuning, kita (aku ma Ed) mau makan di Ary’s Warung (Jalan Raya Ubud)dan yang disapa hanya cowok aku dong “Hello, how are you today?” dan memandang atau menghiraukan cewek yang duduk satu meja sama dia. Kurang ajar banget kan? Dia pikir aku setan apa? Alhasil, kita nggak jadi makan di situ.

Keenam, nggak ada lesehan atau angkringan. Nggak ada makanan murah dan enak, kebanyakan cuman restaurant dengan western menu. Ada sih rumah makan dengan menu local seperti Babi Guling Bu Oka, Kafe Batan Waru, cuman kan mahal!! Sekalinya makan berdua pasti minimal di atas seratus ribu. =((.

Ketujuh, (again) karena aku tinggal di Ubud, di sini nggak ada tempat hiburan, nggak punya apa-apa dan jam 11 malam udah sepi kayak kuburan. Nggak ada bioskop, nggak ada mall, nggak ada night club dan lama-lama sangat membosankan.

Kedelapan, (again) karena aku tinggal di Ubud, orang lokal terlalu berani menguras kantor bule. Contohnya aja cowokku, sejak kenal sama supir langganan kita, mulai dari pembantu, guru bahasa Indonesia, dll kita dapat dari dia semua dengan kualitas yang harus dipertimbangkan dengan seksama karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Bahkan pernah, suatu hari ketika kita mau beli motor, in the last minute cowokku minta ganti motor vario, karena menurut si supir, montir motor lebih paham matic ketimbang manual. “Hello to Ello…. Matic sama manual duluan mana?” Nggak masuk akal banget kan pendapat kek gitu? Kali aja si supir mau nyewain motor kita ke orang lain kalau kita pergi, jadi dia punya penghasilan tambahan. Mental kere! Licik! Jangana coba-coba meres laki aku ya….

Dan masih banyak lagi alasan kenapa tinggal di Bali itu sangat tidak menyenangkan in the end of the day buat aku dan mungkin beda dengan mereka yang benar-benar menikmati tinggal di Bali. Atau… mungkin seharusnya aku bilang bahwa tinggal di Ubud itu tidak terlalu menyenangkan. Ya…. Sepertinya itu lebih tepat, tinggal di Ubud itu tidak sepenuhnya menyenangkan. Cuma kalau disuruh tinggal di kawasan Kuta atau Seminyak pun akan kukatakan BIG NO for that! Oh my God, I am such a miss little complainer! My man has done his best to find the best place for us and I am complaining now. I am feeling guilty for this, but I need to share my feeling! That I hate the chlorinated water, I hate that this place is so dark; I hate the conservative and narrow minded people. I miss Jogja so much.

Festival Kesenian Yogyakarta 2008

Festival Kesenian Yogyakarta 2008

 

 

About Elisabeh Oktofani

Lahir di Yogyakarta, 1987, Elisabeth Oktofani adalah seorang jurnalis dan penulis yang kini berdomisili di Jakarta. Lulusan Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta 2010. Kecintaan Oktofani pada dunia tulis menulis dan ketertarikannya pada isu sosial membuat Oktofani senang berkenalan dan bergaul dengan orang-orang dari berbagai kalangan. Bule Hunter adalah buku Oktofani pertama yang ditulis dengan metode jurnalistik, yakni melalui riset, wawancara dan observasi lapangan dengan sudut pandang perempuan Indonesia.

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.