Indonesia International Mask Festival 2014

Anoew & Tjok Mas

 

Setelah acara Solo International Performing Arts (SIPA) 2014 selama 3 hari berturut-turut dari tanggal 11 September 2014 kemarin, benteng Vasternburg kembali dihidupkan oleh pertunjukan seni tari berbasis topeng selama dua hari yaitu Indonesia International Mask Festival (IIMF) pada tanggal 14 – 15 September 2014. Pertunjukan berkelas internasional yang baru pertama kali diadakan ini diikuti oleh lima delegasi luar negeri (Kamboja,  Singapura,  Malaysia,  Korea Selatan, Thailand) dan sepuluh delegasi dalam negeri.

Acara dibuka oleh Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Media Desain Iptek dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (kemenparekraf) yaitu Harry Waluyo, bersama-sama dengan Wakil Walikota Solo Achmad Purnomo dan didampingi Ketua Panitia IMF Juju Masunah. (*pict 1)

1

Tema yang diusung dalam acara ini adalah ‘The Greatest Panji” dengan pertimbangan tokoh heroik dalam epik Panji itu mendasari berbagai seni pertunjukan topeng di tanah Jawa. Cerita Panji, merupakan kisah asli Indonesia yang mengisahkan terpecahnya kerajaan Kediri menjadi Jenggala dan Daha pada abad ke-12 sebelum era kerajaan Majapahit.

Sesaat setelah pemukulan gong dan peluncuran kembang api ke udara, Semarak Candra Kirana Art Center dan Red Batik Community yang mengenakan kostum dari bambu membawakan tari Kuda Lumping sebagai tarian pembuka seluruh rangkaian acara. (*pict 2, 3,4,5)

2 3 4 5

***

Setelah usai tarian pembuka, panggung segera dimeriahkan oleh penampilan kolaburasi antara delegasi Kamboja (Chy Ratana) dengan penari topeng klasik Jawa Tengah (Boby Ari Setiawan) yang membawakan tarian berjudul “Through The Mask”. Sajian itu mencoba menggarap cerita Ramayana yang terjebak cinta dengan Dewi Sinta. (*pict 6,7)

6 7

Tak lama kemudian panggung diisi dengan penampilan Reog Ponorogo dengan properti Dadak Merak, yaitu topeng bermuka singa dengan aksen bulu merak setinggi lebih dari satu meter. (*pict 8, 9)

8 9

Tarian ini bercerita tentang kisah Prabu Klono Sewandono dari negeri Bantaran Angin yang ingin melamar Dewi Songgolangit putri dari kerajaan Kediri.., (*pict 10, 11)

10 11

…namun di tengah perjalanan rombongan itu dihadang oleh Singo Barong dari Hutan Lodoyo… (*pict 12, 13, 14)

12 13 14

…tapi mendapat perlawanan sengit dari pasukan pengawal negeri Bantaran Angin (*pict 15, 16)

15 16

..hingga akhirnya Singo Barong pun menyerah (*pict 17, 18)

17 18

***

Penampilan berikutnya dibawakan oleh Duta Seni Krakatau Steel dari Cilegon dalam karya komposisi tari berbasis tradisi, yang dikembangkan secara kontemporer… (*pict 19, 20)

19 20

..yang sangat memikat mata dan terkadang, memancing gemuruh penonton saat aksi akrobatik nan seksi ditampilkan. (*pict 21)

21

Berikutnya adalah tampilan dari Sanggar Topeng Purwa Kencana yang membawakan tari Pamindo, menggambarkan Raden Panji Sutrawinangun yang berkarakter lembut sekaligus bisa juga galak, namun tetap berkharisma. (*pict 22, 23)

22 23

Anak Seni Asia dari Malaysia membawakan Tari Maha Meri, memanggil Muyang / roh leluhur untuk hadir dalam festival. (*pict 24, 25, 26)

24 26 25

Acara berakhir di hari kedua dengan penyerahan rangkaian bunga sebagai ungkapan terima kasih kepada perwakilan masing-masing delegasi yang turut meramaikan pertunjukan seni tari topeng ini. (*pict 27, 28)

27 28

Dan pesta kembang api menutup seluruh rangkaian acara yang digelar selama dua hari sejak tanggal 14 hingga 15 September 2014. (*pict 29)

29

Salam Budaya

***

 

PS:

Foto-foto lebih lengkap akan ditampilkan di kolom komentar

 

 

About Anoew

Sedari kemunculannya pertama kali beberapa tahun yang lalu, terlihat spesialisasinya memang yang "nganoew" dan "saroe". Namun tidak semata yang "nganoew-nganoew" saja, artikel-artikelnya mewarnai perjalanan BALTYRA selama 6 tahun ini dengan beragam corak. Mulai dari pekerjaanya yang blusukan ke hutan (menurutnya mencari beras) hingga tentang cerita kehidupan sehari-hari. Postingannya di Group Baltyra dan komentar-komentarnya baik di Group ataupun di Baltyra, punya ciri khas yang menggelitik, terkadang keras jika sudah menyenggol kebhinekaan dan ke-Indonesia-annya.

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.