Labil – Anda Sedang Putus Asa?

Anwari Doel Arnowo

 

Ikuti saja peristiwa rasa putus asa itu, ketika anda sedang kacau berpikir, dan bertindaklah sesuai dengan apa yang baik bagi diri anda. Mau membunuh orang yang menyebabkan anda berputus asa itu atau ingin membunuh diri sendiri? Itu dua-duanya pasti akan merugikan diri anda sendiri. Mau marah, membakar rumah atau merusaknya, bahkan akan meninju muka gubernur? Ikuti “lamunan” marah dan sikap keputus asaanmu, hanya dalam batin, begitu saja!! HANYA di dalam pikiran dan batin saja.  Selebihnya jangan lakukan apa-apa. Kalau bisa ya tidur saja; minum saja valium atau obat batuk, yang mengandung obat tidur, seperlunya, jangan berlebihan.

Apa sebab??

Semua keputusan yang dilaksanakan ketika sedang putus asa, emosi sedang tidak stabil serta marah dan dendam,  amat mngkin sekali berakibat kurang baik, malah bisa sekali fatal. Itu tidak kita kehendaki kan? Itulah sebabnya tundalah dahulu bilamana ingin mengambil satu keputusan apapun bilamana anda sedang karut marut cara berpikirnya apalagi sikap dalam berkelakuan sedang tidak stabil.

Siapa pula yang mau dan bisa mengatur ini? Ya tentu saja anda sendiri. Semua perbaikan itu  sebaiknya dimulai dari dalam diri sendiri, bukan dari luar sana.

Kita semua sadar bahwa itu semua tidak segampang dikatakan, tapi tidak mungkin dibiarkan tanpa tidak lanjut apapun. Setelah diri agak tenang, ambillah tindakan sesegera mungkin meskipun itu tidak akan menyenangkan anda sendiri.Tindakan itu mungkin termasuk bersedia dan mau mengakui kesalahan diri sendiri, akuilah bila ada, dan lanjutkan meminta maaf oleh karenanya. Bila untuk ini anda belum bisa siap, ya tunda lagi saja sampai anda bisa melakukan toleransi sendiri keputusan apapun bentuknya.

Yang penting minta maaf segera dan cepat, tidak usah menunggu ketika mau puasa, mau Iedul Fitri atau Iedul Adha. Oleh karena sejak masa kanak-kanak saya sampai sekitar tahun 1965an,  tidak ada kebiasaan seperti itu pada waktu ketiga masa itu tiba di dalam menjalankan ritual beragama Islam. Di Indonesia seakan sudah menjadi kebiasaan masyarakat banyak untuk mengerjakannya, meski pada masa kecil saya hal seperti itu terpikirpun tidak, menumpuk segala kesalahan dan meleburnya pada waktu hendak mulai berpuasa, Iedul Fitri dan Iedul Adha. Menimbulkan tanda tanya mengapa kita selalu mau lain dari aslinya atau memodifikasi, antara adat dan kepercataan serta agama, sesuatu yang biasa dengan drastis yang kemudian berakibat merugikan diri sendiri selama berpuluh-puluh tahun kemudian?.

Rugi materi dan menambah beban pergaulan sosial, yang ditambahi mitos akan mendapat anugrah atau hukuman nanti di akhirat. Wah.

Waktu kita mengalami stress, kalau melakukan bunuh diri sekalipun pasti tidak akan mendapat ganjaran di alam baka nanti, karena telah berbuat kriminal dengan cara membunuh manusia, meskipun itu berupa dirinya  sendiri. Membunuh orang, siapapun dia, pasti harus dihukum. Betull??

Seperti sering saya kutip sebelum ini: segala sesuatu kejadian di dunia ini, selalu ada akhirnya. Tertawa atau menangis, senang atau susah hati dan tentu saja rasa frustasi dan putus asa. Biasanya kurun waktunya tidak terlalu lama. Bisa diakhiri semua itu dengan menarik nafas panjang dan menghembusnya perlahan sekali. Lakukanlah agak berlama-lama, sampai diri tidak lagi labil. Bilamana dirasa perlu lakukan lebih dari sekali. Ini paling murah dan hanya bisa dilakukan di tempat yang udaranya relatif bersih, jangan dilakukan didepan area gas yang berbahaya. Disusul kemudian, bisa saja dengan menghisap oksigen murni. Akan menyegarkan.

Jangan menambah konsumsi minuman keras, atau malah narkoba. Ini saya sebutkan karena telah banyak dan masih dilakukan di mana saja termasuk oleh orang beragama, bertitel akademis tinggi dan seorang yang berkedudukan tinggi di masyarakat, tidak terkecuali.

Pada suatu periode di dalam hidup, bila hati sedang galau saya sering melakukan yang berikut ini.

Saya membayangkan diri saya seakan terbang dengan helicopter secara vertical sehingga tempat daerah di tempat saya berpijak ke tanah tadi telah jauh, mungkin sekitar 500 meter tingginya. Seperti itulah rasa yang saya alami sesungguhnya waktu saya sering kali naik helikcopter. Ternyata banyak benda dan hal-hal yang tertinggal di sana termasuk pikiran kalut saya. Keciiiill. Hampir tidak berarti apa-apa. Kata hati saya: ”Masalah kecil begitu saja kamu risaukan galaukan, apa kurang pekerjaan, ya??” Aaah begitu sederhananya saya berpikir untuk meredakan stress.

Ketika saya mendekati umur 65an saya juga mulai berlatih memberi maaf kepada kesalahan orang lain tanpa diminta, yang saya terkena imbas kelakuannya. Berlatih dan berlatih, sekarang saya sudah bisa memaafkan orang lain, tanpa diminta, kepada hampir semua, karena belum 100%. Apa sebab? Karena saya ini manusia biasa. Potensi dendam itu selalu ada dan ikut terus menerus di dalam tubuh kita, itu manusiawi. Nah ini kejadian berikut pada satu hari yang lalu:

Ketika saya menyiram rumput gajah yang telah saya suruh tanam rapi di depan dan di luar pagar rumah, cuaca dan hawa sedang panas luar biasa. Saya siram air  menggunakan slang panjang yang daya semburnya lebih keras dari air PAM atau air asal dari tangki di atas menara yang tinggi, karena saya sudah menggunakan ekstra pompa tekan yang bertekanan tinggi. Truk sampah yang rajin setiap hari berlalu dan saya yang sedang tidak membawa uang, saya teriaki: “ … nanti kembalinya saja ya?”

Mereka mengerti dan mengangguk mengerti bahwa yang saya maksud adalah memberi mereka sejumlah uang. Itu saya lakukan kapan-kapan saja mereka saya ketaui melaksanakan tugasnya dengan baik. Truk itu akan menuju ke jalan sebelah sana, akan kembali melalui rumah lagi. Benar, mereka memang kembali, dan uangnya diserahkan oleh pembantu di rumah, dan saat pengemudinya melihat saya masih menyiram dengan sungguh-sungguh, berujar berkomentar: “Pak, bukannya sebentar lagi kan hujan …” . Entah mengapa saya menjawab dengan cepat: “Sebentar lagi kita kan lapar, apa sebaiknya kita tidak makan?” Saya ternyata sedikit merasa agak menyesal mengucapkan kata-kata di dalam kalimat saya tadi, bukankah dia mungkin saja tidak mengatakannya dengan serius? Mungkin sekedar hanya basa basi saja.

Tetapi sudahlah, apa yang mau dikata sudah terlanjur, lagi pula dia tadi tampak tersenyum lebar juga ketika  mendengar kalimat saya itu, sebelum pergi?

putus-asa

Kalau saya mengingat yang terjadi dan menyesali diri sendiri begitu, yang bisa saja berakibat positif atau sebaliknya, hal itu tergantung kepada suasana hati sendiri. Tidak semua niat baik itu akan menghasilkan yang baik. Sudah lama sekali ketika saya menuliskan kalimat: Kita harus selalu berkata benar, tetapi tidak semua yang benar itu patut bagi kita untuk  mengatakannya. Kita harus mengingat dengan siapa kita sedang berbicara atau kita harus menimbang-nimbang apakah waktunya dan suasananya sesuai?

Saya sadari bahwa salah adalah salah satu hal yang seringkali kita semuanya mengalami.Meskipun  sesuai dengan pengetauan kita sendiri maupun tanpa sengaja atau malah tidak tau sama sekali sebelumnya.Dari banyak kejadian kita selalu belajar dan mengingat bahwa rasa bersalah itu sebaiknya dikecilkan saja selama masih mungkin bisa  dikecilkan, antara lain dengan meminta maaf dengan berbagai cara. Banyak hal yang dapat kita lakukan bilamana sudah tidak mungkin meminta maaf secara langsung, mungkin yang di pihak sana itu sudah tidak bisa dihubungi, karena pindah tempat tinggal atau meninggal dunia. Satu hal yang mungkin adalah saya tuliskan saja dan mengakuinya. Itu mengurangi hampir semua “beban” dengan drastis.

 

Anwari Doel Arnowo  —  2014/Oktober/18

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.