Minyak Dunia, Defisit Perdagangan Belum Tentu Turun

Agus Benzaenuri

 

Kami melihat meskipun minyak dunia menurun signifikan dengan minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) dipasar New York ditransaksikan turun 25% sejak akhir tahun 2013 lalu yang menembus level dibawah US$ 80 per barrel, belum tentu mengurangi defisit perdagangan nasional, apalagi defisit APBN.

Crude_oil_prices_since_1861

Penurunan minyak tersebut juga cenderung berpotensi diikuti oleh penurunan harga komoditas lainnya baik energi maupun komoditas perkebunan yang merupakan komoditas andalan untuk ekspor dari Indonesia.

Dengan harga minyak yang cenderung menurun, impor Indonesia pada kelompok migas dan hasil migas diharapkan berkurang setelah penurunan harga minyak yang signifikan tersebut, namun dengan catatan apabila nilai tukar Rupiah cenderung tetap stabil terhadap Dollar AS. Sepertinya hal ini yang akan sulit terjadi sehingga masih membebani neraca perdagangan.

Disisi lain, apabila penurunan harga minyak yang juga diikuti penurunan harga energi lainnya seperti batubara dan komoditas lain termasuk tambang dan pertanian, maka nilai ekspor Indonesia pada sisi tersebut juga cenderung menurun sehingga defisit pun masih berpotensi terjadi.

Disamping itu, meskipun harga minyak menurun, beban subsidi APBN belum tentu berkurang karena perdagangan minyak dunia menggunakan Dollar AS sementara Rupiah saat ini masih terdepresiasi. Harga minyak ICP yang premium sekitar 15% diatas WTI juga masih cukup tinggi tersebut juga masih membebani subsidi.

Sebagai catatan, harga minyak dunia menurun dan sempat diperdagangkan pada level dibawah US$ 80 per barrel (16/10) atau level terendah sejak tahun 2009 setelah permintaan mengalami penurunan dengan produksi berlebih diiringi perlambatan ekonomi Eropa yang ditunjukkan oleh melembatnya indeks produksi Jerman dan manufaktur Perancis yang menurun dan juga ancaman perlambatan ekonomi China.

International Energy Agency (IEA) telah memangkas permintaan minyak global menjadi 92,4 juta barrel per hari atau turun 200 ribu barrel per hari, sementara permintaan untuk tahun 2014 diproyeksikan masih naik 700 ribu barrel per hari year-on-year, dan juga mengalami kenaikan 1,1 juta berrel per hari year on year pada tahun 2015 dengan asumsi ekonomi global membaik.

Produksi OPEC yang menguat dalam level tertinggi 13 bulan terakhir pada September setelah membaiknya produksi di Libya dan kenaikan produksi di Irak. Produksi OPEC naik 415 ribu barrel per hari menjadi 30,66 juta barrel per hari dibandingkan Agustus lalu. Secara keseluruhan baik OPEC maupun non-OPEC, produksi pada negara-negara tersebut naik 910 ribu barrel per hari pada September menjadi 93,8 juta barrel per hari.

Selisih over supply yang mencapai 1,6 juta barrel per hari ini sehingga mendorong persediaan minya dunia bertambah cenderung menekan pergerakan harga minyak. Persediaan minyak dunia pada September bertambah menjadi 2.70 miiar barrel atau bertambah 37,7 juta barrel selama bulan September.

Bahkan dalam risetnya, Citigroup menyatakan tahun depan harga minyak WTI secara rata-rata akan berada pada level dibawah US$ 90 per barrel.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.