Ketahuan Menjadi Intel BIN, Mendadak Gayatri Dijemput Malaikat

Prabu – Jakarta

 

Gayatri Wailissa telah berpulang. Indonesia berduka. Gadis belia yang cakap bertutur 14 bahasa di dunia dan 5 bahasa daerah ini meninggal saat masih mendapat gemblengan Badan Intelijen Negara (BIN). Menurut diagnosa dokter, pembuluh darah di kepala gadis belia itu pecah. Padahal, sebelumnya Gayatri tidak pernah mengeluh sakit. Ia meninggal dunia pada Kamis (23/10/2014) di ruang ICU Rumah Sakit Abdi Waluyo, Jakarta, sekitar pukul 19.15 WIB.

gayatri-wailissa

Kepada media, Deddy sebagai ayah mendiang Gayatri Wailissa mengatakan, “Jadi yang jelas bahwa foto Gayatri ini sudah diterima sebagai anggota BIN. Saya perlu menjelaskan ini karena banyak yang bertanya Gayatri itu kerjanya apa dan fotonya itu apa,” ujarnya sambil menunjuk foto Gayatri yang mengenakan seragam BIN. Seperti dilansir Tribunnews.com, selain para kerabat dan sahabat, sejumlah pejabat daerah dan pejabat militer turut melepas kepergian Gayatri Wailissa ke TPU Bahagia Ambon.

Pernyataan Deddy Wailissa, tentu saja bikin publik bertanya, benarkah Gayatri anggota BIN?

Tak mudah memperoleh jawabannya. Apalagi minset publik memahami BIN itu sebagai lembaga angker, rahasia, misterius, tertutup, klandestin, dan bahkan kekerasan. Terkadang mindset awam ini masih diikuti oleh sinimisme terhadap profesi Intelijen, seperti tercermin pada ungkapan “intel Melayu” atau “spion Melayu”. Tidak heran, pemikiran seperti itu masih berkembang di kalangan masyarakat, karena karakter dunia Intelijen mengutamakan prinsip kerahasiaan, anonimitas dan cara kerja klandestin.

Dengan asosiasi publik terhadap dunia intelijen seperti itu, maka pertanyaan awal adalah bagaimana menjadi anggota BIN?

BIN memakai sistem tertutup dan terbuka dalam merekrut anggota sehingga calon agen yang direkrut benar-benar pilihan dan sesuai kebutuhan organisasi.

Untuk agen-agen khusus operasional, sistem rekrutmen tertutup dilakukan dengan spotting berbulan-bulan, karena karakteristik agen yang dibutuhkan adalah kemampuan khusus yang unik yang dimiliki seseorang seperti pengalaman hidupnya, punya keterampilan khusus, cakap berbahasa asing atau memiliki akses penting dll. Setidaknya model ini sangat efektif dan tampak tetap menunjukkan bahwa agen yang direkrut cukup handal. Anggota BIN yang direkrut secara tertutup ini kebanyakan dari sipil, dan sebagian besar punya jabatan penting di BIN.

Sementara agen-agen analis lebih membutuhkan rekrutmen kompetitif yang bisa dilakukan secara terbuka di kampus-kampus maunpun membuka lowongan pekerjaan seperti dilakukan di situs resmi bin.go.id. Baik BIN maupun badan intelijen di dunia seperti CIA, MI6, MOSSAD, ASIS telah melakukan rekrutmen terbuka sejak lama. Bidang-bidang pendukung seperti teknologi informasi dan peralatan intelijen jelas membutuhkan kemampuan teknis yang tinggi dari lulusan informatika, telekomunikasi, elektronika, dll.

Selanjutnya, andai seseorang bisa lolos dengan mekanisme rekrutmen itu, belum tentu ia adalah anggota BIN. Jangankan publik, isterinyapun yang setiap malam dikelonin sulit mencium apa sesungguhnya pekerjaan sang suami?

Pakar Intelijen Brigjen (Purn) Soeprapto, dalam diskusi yang bertema, “Kasus Munir: Keterbukaan dan Kerahasiaan Intelijen” (2007), mengatakan untuk membuktikan seseorang anggota intel sangat sulit. Bukti percakapan saja tidak cukup. “Seharusnya ada bukti lain yang lebih konkret yang bisa mendukung bukti tersebut,” tambahnya.

Pernyataan itu diungkapkan untuk menanggapi sidang Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan terdakwa Polycarpus dalam kasus pembunuhan aktivis Hak Asasi Manusia, Munir. Dalam sidang tersebut seorang saksi RM Patma Anwar alias Ucok mengaku sebagai agen BIN. Bahkan, ia meragukan pengakuan Ucok yang berpangkat sebagai Agen Muda Golongan IIIc. Ia menambahkan, dalam kondisi apapun, rahasia sebagai intel harus tetap dirahasiakan.

Memang mirip sopir bajaj di Jakarta. Publik tak bakal tahu kemana sopir bajaj akan belok, kecuali dirinya dan malaikat. Itulah intel sebenarnya.

Dengan mekanisme perekrutan seperti itu serta persepsi publik terhadap dunia intelijen yang misterius, maka apa yang dikatakan Deddy Darwis Wailissa, tidak akan digubris BIN. Bahkan jika muncul spekulasi kematian Gayatri lalu digoreng oleh media, BIN juga tidak akan galau dalam kegalauan.

Menyimak kerja intel demikian dan melihat potensi “keajaiban” seorang Gayatri Wailissa, tiada keliru jika malaikat mendadak menjemput gadis belia 17 tahun ini agar lolos dari dunia intrik dan lumpur fitnah.

Dalam hal demikian, maka saya sepakat dengan Soe Hok Gie yang mengutip seorang filsuf Yunani :

“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Selamat jalan bunga bangsa, Gayatri Wailissa, kami percaya malaikat akan mengantarmu di tempat terhormat nan abadi.***

 

 

About Prabu

Sosok misterius yang sejak kemunculannya tidak banyak orang yang mengenalnya. Walaupun misterius, sosok satu ini sekaligus ramah dan sangat terbuka pertemanannya. Sang Prabu dan Permaisuri sering blusukan menyapa kawula BALTYRA.com dan menggebrak dunia, kebanyakan dengan coretan karikaturnya sekaligus artikel-artikelnya yang bernas, tajam dan berani.

My Facebook Arsip Artikel

15 Comments to "Ketahuan Menjadi Intel BIN, Mendadak Gayatri Dijemput Malaikat"

  1. Stefani  1 December, 2018 at 09:39

    Banyak orang berpayung dan sy tdk bisa menyebut instansi jrn menyangkut nm baik bangsa yg hrs sy sj dan hormati.Tetapi Sy ank nansa ckp,kecewa menerima sikap yg tdk mencerminkan dg seragamnya.Sbgai ank bangsa sy malu.Tapi Sebagai oknum licik tdk jujur dan tdk manusiawi.Dy menangis Ibu pertiwi semua keluarga ayahnya adalah pejuang bangsa.Tapi Negri merdeka menyalahgunakan almamater untuk berlindung atau sekedar numpang hidup.Kesombongan bkn krn bintang belum memiliki bintang lakunya melebihi bintang dua dan sangat tdk terpuji.Tdk menunjukkan sebagai abdi masyarakat abdi negara.mengecewakan.

  2. Rey  8 June, 2018 at 03:07

    saya tahu persis siapa RM Phadma Anwar alias Ucuk Alias Empe’k

  3. agus kuncring  1 February, 2018 at 10:44

    wkwkwk..

  4. Bani Amon  13 July, 2017 at 03:26

    Sebuah referensi yang bermanfaat

  5. supriadi  12 July, 2017 at 01:51

    Andai waktu bisa muter balik,ingin juga sy gabung..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.