Bertanam dengan Sistem Aquaponik

Enta Nola – Bogor

 

Hallo semua Baltyrans…

Semoga semua sehat-sehat aja ya.

Kali ini saya mau cerita soal tanam menanam, mau nyaingin pakde Djoko (maaf ya pakde).

Semenjak saya dioperasi kista, saya berusaha makan dengan pola makanan sehat. Kalau beli makanan di luar saya cerewet tanya apakah kaldunya dari kaldu ayam apa bukan? Daging yang dipakai daging ayam atau bukan? Sampai-sampai resto langganan keluarga kami sudah hafal pesanan saya harus steril dari ayam, telur dan MSG.

Kalau masakannya saya harus masak sendiri maka saya pun memilih sayur yang organik untuk diolah. Lama-lama kepikiran kenapa tidak menanam tanaman organik sendiri saja? Karena apa yang dijual di pasar belum tentu organik, banyak penjual nakal yang memberi label organik padahal tetap memakai pupuk kimia. Dengan memakai label organik maka harganya menjadi 2x lipat, harga yang cukup menggiurkan karena untung yang di dapat semakin besar.

Setelah browsing sana, browsing sini untuk mendapatkan referensi cara budidaya seperti apa yang cocok buat lahan sempit dan orang pemalas seperti saya. Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba cara menanam dengan aquaponik. Inti dari aquaponik ini, air dan pupuk alami yang didapat dari air kolam ikan jadi kita juga harus membuat kolam ikan untuk sumber air dan pupuk. Kolam ikan saya buat dari kotak kayu yang dilapisi terpal. Ikan yang saya pilih adalah lele karena lele cukup bandel tidak gampang mati bila dipelihara oleh orang awam seperti saya.

Saya membeli, 4 buah kaso untuk membuat kotak kayu ukuran 2 x 1 meter dengan tinggi 60 cm, sisa kaso saya pakai dari kaso sisa membangun rumah dulu. Terpal jadi ukuran 4 x 4 meter sebanyak 2 lembar karena saya pakai double supaya tidak mudah bocor. Saya pakai baskom plastic untuk pot tanaman dengan media tanam terdiri dari arang batok, batu split dan pupuk kandang.

Untuk pot-nya saya pakai system bell siphon dimana air akan otomatis pasang surut sendiri. Biar ceritanya tidak terlalu bertele-tele di sini saya tidak perlu menjelaskan mekanisme dan pembuatan bell siphon, para Baltyrans bisa cari di internet sendiri ya…(padahal malas nulis).

Air yang dialiri ke pot dari kolam ikan akan difilter oleh batu kerikil dan arang yang ada dalam pot dan air yang sudah difilter akan kembali lagi ke kolam jadi tumbuhan akan mendapat unsur hara dari kotoran ikan dan ikan akan mendapat air yang bersih dari tanaman. Kalau saya mengaliri airnya cukup dari pagi sampai malam sepulang kerja soalnya takut korslet kalau malam pompa airnya tetap menyala maklum Bogor sering hujan sedangkan sumber listriknya terbuka bisa bahaya kalau kena air hujan.

Bibit lele yang saya beli jumlahnya 102 ekor, lele sangkuriang dan dinamai lela sama anak-anak. Sampai sekarang cuma mati 3 ekor. Lele pun saya kasih yang organik cuma nasi putih doang makanya badannya kuyus-kuyus yang penting bebas pelet yang mengandung hormon jadi aman dimakan oleh penderita kista seperti saya.

Berikut gambar tanaman yang sudah saya tanam…

Pot kalian (pipa paralon yang mencuat ke atas itu adalah bell siphon yang mengatur jumlah air dalam pot)

Pot kalian (pipa paralon yang mencuat ke atas itu adalah bell siphon yang mengatur jumlah air dalam pot)

Pot kalian (pipa paralon yang mencuat ke atas itu adalah bell siphon yang mengatur jumlah air dalam pot)

Pot kalian (pipa paralon yang mencuat ke atas itu adalah bell siphon yang mengatur jumlah air dalam pot)

Pohon sage yang menjulang, di depannya pot bayam merah yang habis dipanen buat sayur bening

Pohon sage yang menjulang, di depannya pot bayam merah yang habis dipanen buat sayur bening

Keseluruhan sistem aquaponik saya bila dilihat dari atas

Keseluruhan sistem aquaponik saya bila dilihat dari atas

 

 

One Response to "Bertanam dengan Sistem Aquaponik"

  1. Eka Imam Aminuddin  14 August, 2015 at 14:34

    Saya tertarik membuat akuaponik, sepertinya ini solusi memperoleh makanan sehat sehari hari di rumah.
    Kebetulan saya tinggal di bogor juga. Jika berkenan saya bisa bertemu dan melihat secara langsung sistem akuaponik yang dibuat ??

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *