[Di Ujung Dunia – Xiexie Ni de Ai] Menginginkanmu Kembali

Liana Safitri

 

FRIDA membuka pintu apartemen dan melihat wajah asing di hadapannya. Mereka nyaris tidak pernah kedatangan tamu, bahkan ketika masih ada Lydia.

“Mencari siapa?”

“Tian Ya!”

“Maaf…” Frida tampak ragu, “Tapi Anda ini siapa?”

“Apa?” Pria setengah baya itu membelalakkan mata lebar-lebar. “Justru aku yang seharusnya bertanya kau ini siapa?”

Pada saat itu Tian Ya muncul dari dalam dan berseru, “Papa! Kenapa tidak memberitahu lebih dulu kalau akan datang?”

Frida sangat terkejut mendengar Tian Ya memanggil “Papa”. Dia membungkukkan badan lalu masuk ke kamar. Tuan Li mengerutkan alis dengan tidak senang pada Frida. Terlebih-lebih setelah Frida masuk ke kamar Lydia. “Ada penghuni baru rupanya?”

Tian Ya gelagapan, “Itu…”

“Diakah orang yang sering mengantarkan makan siang ke kantor dan menyebarkan gosip? Pantas saja Lydia pergi!”

“Papa… Dia teman kami yang membantu bersih-bersih.”

“Kau kira aku bodoh? Dari awal aku tidak setuju kau membawa Lydia kabur ke Taiwan! Aku juga tidak setuju kalian tinggal bersama di apartemen! Tapi kau tidak pernah mau mendengar apa kata orangtua!”

Tian Ya tahu, kalau sudah marah begini Tuan Li tak bisa berhenti. Ia memilih diam. “Kalian harus menikah lebih dulu! Kau kan bisa pelan-pelan membujuk orangtuanya! Sudah seorang gadis, tinggal bersama, malah membiarkannya menghilang! Lalu sekarang membawa wanita lain yang tidak jelas kemari! Aku kecewa sekali padamu!”

“Papa, tolong pelankan suara Papa sedikit…” kata Tian Ya lirih.

“Kenapa? Apa kau takut ada orang lain yang mendengar?” Tuan Li justru berbicara semakin keras. “Aku peringatkan sekali lagi, kau harus temukan Lydia! Kalau hubungan kalian memang tidak bisa diperbaiki lagi, antarkan dia pulang ke Indonesia!”

“Ya, Papa!”

“Jangan hanya menganggukkan kepala! Jika tidak becus menangani masalah ini tidak usah jadi anakku!”

 

Lydia berubah menjadi sangat pendiam dan pemurung. Franklin tahu tidak mudah menghilangkan bayangan gelap di hati gadis itu. Franklin membatalkan janji-janji penting dan merubah semua jadwal yang disusun jauh-jauh hari, meluangkan waktu mengajak Lydia pergi berlibur. Tidak hanya berbelanja ke mal, tapi juga mengunjungi tempat wisata di dalam dan di luar Taipei. Mereka menjelajahi hampir seluruh penjuru pulau Taiwan. Gunung, pantai, sungai, dan danau…

Ke tempat bersejarah seperti National Palace Museum, Chiang Kai Shek Memorial Hall, dan Sun Yat Sen Memorial Hall. Lalu merasakan betapa dinginnya berada di daerah pegunungan Hehuanshan, meski telah menggunakan jaket ekstra tebal. Lydia agak takut, tapi Franklin memegang tangannya untuk mencukur bulu domba serta memberi makan domba di peternakan Cijing Farm. Kemudian mereka menikmati pemandangan Sun Moon Lake dengan bersepeda di tepiannya. Bunga sakura yang memantulkan cahaya lampu warna-warni memasuki waktu malam membuat keduanya semakin terbuai. Franklin memotret Lydia di antara batu karang alami berbentuk unik di Yehliu Geopark, juga di depan Dragon and Tiger Pagodas, pagoda kembar bertingkat tujuh dengan pintu masuk serta pintu keluarnya berbentuk mulut naga dan mulut harimau.

Namun di antara sekian banyak tempat wisata yang dikunjungi Lydia dan Franklin, Love River (Ai He爱河), adalah yang paling berkesan bagi mereka. Setelah berjalan bergandengan tangan menyusuri Sungai Cinta, mereka hanya berdiam diri sambil merasakan keberadaan masing-masing yang begitu nyata. Berbeda dengan saat Franklin mengajak Lydia berbulan madu di Bali, yang “madu” nya terasa pahit karena Lydia muram sepanjang waktu, kini wajah gadis itu bagaikan memancarkan cahaya.

“Senang sekali, ya?”

“Ya!”

“Kau kan sudah tinggal di Taiwan selama beberapa bulan, memangnya belum pernah pergi ke mana-mana?”

“Hanya ke Taipei 101 dan pasar malam!”

Franklin heran sekali. Dia penasaran, ingin tahu lebih banyak seperti apa hari-hari yang dilalui Lydia tanpa dirinya. Tapi Franklin khawatir pertanyaan semacam ini akan merusak suasana. Dan Lydia sangat berterima kasih karena Franklin tak pernah menyinggung nama Tian Ya yang masih menyisakan luka dalam hatinya. Tian Ya… sedang apa dia sekarang? Apakah Frida masih tinggal di apartemen? Apartemen mereka? Lydia berusaha mengusir bayangan Tian Ya.

Lupakan dia, karena dia sudah melupakannu!

Mau tidak mau Lydia jadi membanding-bandingkan kedua pemuda ini. Tian Ya selalu beralasan sibuk setiap kali Lydia mengajaknya jalan-jalan, tapi Franklin, tanpa Lydia harus mengatakan, selalu tahu kapan saatnya perasaan gadis itu sedang buruk dan perlu pergi jalan-jalan. Meski Lydia sangat merepotkan dan kadang bersikap kelewat manja, meminta “Kakak ini… kakak itu…”, Franklin menuruti apa saja yang dia inginkan. Jika Lydia bertengkar dengan Tian Ya, Lydia mengadu pada keluarga Tian Ya dan mendapat pembelaan dari Tuan Li atau Nyonya Li.

Sedangkan Franklin memilih mengalah jika berselisih dengan Lydia, dan justru Franklin lah tempat Lydia mencari perlindungan kalau ada masalah dengan orangtuanya. Tian Ya kadang melupakan Lydia jika bersama Frida, tapi Franklin selalu mendahulukan Lydia dibanding siapa pun. Tian Ya pernah berpacaran dengan Fei Yang, tapi Franklin mengabaikan Eugene yang bertahun-tahun mengejarnya. Franklin tidak pernah mengatakan “Aku menyukaimu” seperti Tian Ya yang mengucapkan Wo xihuan ni melebihi aturan makan setiap harinya, tapi Lydia dapat merasakan kehangatan kasih berkelimpahan dalam setiap tindakan yang ditujukan Franklin padanya. Tunggu… Franklin pernah meminta Lydia menikah dengannya! Ya, pernah! Tian Ya lah yang terus menghindar ketika mereka membicarakan masa depan dan tidak pernah memberi kepastian meski sudah tinggal bersama selama beberapa bulan. Franklin sudah hidup satu atap dengan Lydia selama lebih dari sepuluh tahun, dan Tian Ya tidak mau Lydia tinggal di rumah keluarga Li walau mama dan papa yang menyuruhnya. Dan di mana Tian Ya saat Lydia sedang dalam masalah?

Setelah segala hal yang telah terjadi, Lydia berharap masih belum terlambat, untuk menghargai yang telah ia miliki selama ini. Ia mengulurkan tangan menggenggam tangan Franklin yang bertumpu pada pagar pembatas. Pemuda itu menatapnya, dan mereka sama-sama tersenyum. “Mau naik itu?” Franklin menunjuk ke perahu yang berlayar di tengah sungai. Untuk pertama kalinya Franklin tidak merasa iri pada Tian Ya.

 

Lydia dan Franklin kembali ke Taipei membawa segudang kenangan. Hingga hari berikutnya karena Lydia terus merengek, Franklin belum kembali bekerja. Sore hari yang cerah itu mereka keluar dari hotel mencari udara segar. Orang yang tidak mengerti pastilah mengira Lydia dan Franklin sepasang kekasih.

Lydia dengan semangat berkata, “Kakak, aku mau memilih beberapa baju…”

“Bukankah kemarin sudah?”

“Bukan untukku, tapi untukmu! Karena kemarin Kakak sudah memilihkan baju untukku, sekarang giliran aku yang memilihkan baju untuk Kakak! ”

“Ya, baiklah! Tapi ngomong-ngomong…” Ia mengedipkan mata pada Lydia, “Kemarin aku yang membayar baju-bajumu. Jadi hari ini kau mau membayar baju-bajuku?”

“Soal bayar-membayar, tetap urusan Kakak!”

“Bukankah jadinya sama saja?”

“Tentu saja berbeda! Aku seorang pemilih pakaian yang baik!”

Franklin hanya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Lydia menarik napas dalam-dalam dan bertanya penuh selidik, “Kau merokok, ya?”

“Aku merokok lagi sejak kau kabur ke Taiwan dengan Tian Ya!”

“Karena sekarang aku sudah bersamamu seharusnya kau berhenti!”

“Iya aku tahu! Nanti aku buang!”

Mal yang tak begitu ramai justru memberi keleluasaan bagi Lydia dan Franklin. Di bagian pakaian pria Lydia sibuk memilih kemeja. Franklin berdiri di sebelahnya. Tangan pemuda itu harus selalu siap menampung apa saja yang disodorkan Lydia. Ini pertama kalinya Lydia memilihkan baju untuk seorang pria. Bahkan ia belum pernah memilihkan baju untuk Tian Ya. Tapi apa yang dilakukan sekarang membuat Lydia teringat dengan hari di mana ia disuruh memilih gaun oleh Qiao Li dan Jing Yuan. Sungguh memuakkan! Melihat Lydia tiba-tiba terdiam, Franklin keheranan. “Ada apa?”

“Oh, tidak! Tidak apa-apa!” Wajah Lydia berubah, “Kakak, kita pulang saja, ya!”

“Kenapa?” Franklin bertanya heran.

“Sepertinya tidak ada model yang cocok untukmu…”

Franklin menatap Lydia lekat-lekat dan dapat membaca apa yang ada di benaknya. Membeli baju mengingatkan Lydia pada pakaiannya yang masih tertinggal di tempat itu, atau baju aneh yang dipakai Lydia ketika mereka bertemu di kelab malam! “Kau janji mau memilihkan baju untukku!”

“Aku takut Kakak tidak suka.”

“Pilihkan yang mana saja, nanti aku akan pakai. Ayolah…”

Lydia menarik napas dalam-dalam lalu memilih sebuah kemeja warna biru muda. Diberikannya pada Franklin. “Yang ini!”

Franklin menempelkan kemeja tersebut di tubuhnya. “Bagus!”

Lydia memilih lagi beberapa celana panjang dan dasi. Franklin memikirkan sesuatu untuk mencairkan suasana, ia melihat kanan kiri. Kejahilannya timbul, “Lydia… sepertinya ada sesuatu yang kurang!” Franklin berbisik lirih di telinganya.

“Apa?”

Franklin menunjuk ke sebuah sudut yang khusus memajang pakaian dalam pria. Wajah Lydia memerah, malu bukan main, “Kau pilih saja sendiri!”

“Tapi kemarin aku memilihkan semua!”

“Terserah apa yang kau katakan!”

Lydia berjalan mendahului Franklin ke meja kasir. Para laki-laki rata-rata tidak sabaran jika diajak pergi belanja dan memiliki cara yang berbeda mengatasinya. Kalau Tian Ya akan langsung menolak, memilih berdiam diri di rumah dan menyuruh Lydia pergi bersama Frida atau Nyonya Li. Sedangkan Franklin tetap menemani Lydia, tak peduli betapa membosankan kegiatan tersebut.

“Lydia!”

Lydia dan Franklin menoleh bersamaan ke arah datangnya suara.

Di sebuah sudut tak jauh dari meja kasir tampaklah Fei Yang. “Haojiu bujian le!” (好久不见了!—Sudah lama tidak bertemu! )

Franklin bertanya pada Lydia, “Apakah dia temanmu?”

“Mmm… ya…” ujar Lydia gugup.

Fei Yang melihat wajah asing di sebelah Lydia lalu menyapa, “Hello!”

Franklin menganggukkan kepala, “Hello!

“Lydia, ni hui zaiwo de fangzi ting xialai?” (Lydia,你会在我的房子停下来?—Lydia, maukah kau mampir ke rumahku?)

Spontan Lydia menolak, “Xianzai bu neng! (现在不能!—Tidak bisa sekarang!)

“Kenapa?” tanya Franklin lagi.

“Dia… mengajakku ke rumahnya…”

“Kalau begitu pergi saja!”

“Aku sedang tidak ingin ke mana-mana…”

Franklin yang tidak mengerti stuasinya mengira Lydia takut pergi sendirian. “Tidak apa-apa! Kebetulan Kakak mau mengurus sesuatu. Nanti sore akan aku jemput, bagaimana?”

Lydia tidak bisa mengelak lagi. Franklin dan Lydia naik mobil Fei Yang ke rumahnya, setelah itu Franklin meninggalkan Lydia.

Lydia tidak tahu kenapa Fei Yang mengundangnya. Dan kalau mau jujur Lydia tidak suka dengan Fei Yang karena dia mantan kekasih Tian Ya. Tapi Fei Yang tidak menunjukkan sikap “menyerang”, jadi Lydia agak tenang.

“Kudengar kau bertengkar dengan Tian Ya dan pergi dari apartemen…”

“Kukira masalah kami tidak ada hubungannya denganmu!”

“Ya, memang… Tapi aku tidak mau kau salah paham terhadapku dan Tian Ya.”

“Aku tidak…”

“Jangan mengelak! Aku tahu sejak pertemuan pertama kita di kafe Xing Wang. Xing Wang juga mengatakan kalau kau marah pada Tian Ya karena kami berdua pergi bersama.” Fei Yang berkata serius, “Hubunganku dengan Tian Ya benar-benar sudah berakhir. Waktu itu kami sebenarnya bersama beberapa orang. Hanya saja aku dan Tian Ya yang terakhir pulang. Lalu masih ada soal telepon… Ketika itu akulah yang mengangkat panggilanmu, dan aku tidak melihat nama yang ada di layar. Sedangkan waktu Tian Ya mabuk berat di rumah Zhi Kai, aku sendiri baru tahu dari Xing Wang. Tian Ya kalah main tebak-tebakan, jadi dihukum minum beberapa gelas. Lydia… kau tahu Tian Ya anak tunggal. Paman Li mendidiknya dengan sangat keras, beban pekerjaannya juga banyak. Bagi kami, laki-laki dan perempuan pergi bersama adalah hal biasa, tanpa memandang apakah mereka mantan kekasih atau sekedar teman. Tapi mungkin kau tidak terbiasa.”

Lydia terdiam lama sekali sebelum berkata dingin, “Banyak alasan yang membuatku meninggalkan Tian Ya jika bukan karena kau. Dia menebar pesona di mana-mana… Aku tidak tahan lagi!”

“Apa karena orang baru yang tinggal di apartemen?” Pertanyaan Fei Yang tepat mengenai sasaran, wajah Lydia jadi menegang. “Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian… Aku hanya ingin memberitahumu, Tian Ya tidak seperti pria kebanyakan yang mudah berpindah ke lain hati! Aku sudah lama mengenalnya! Yang aku khawatirkan justru jika orang lain memanfaatkan kesalahpahaman ini.” Ditatapnya Lydia lekat-lekat, “Kau mengerti maksudku?”

i_want_you_back

“Fei Yang, aku tidak ingin membicarakan Tian Ya lagi!”

Fei Yang lalu mengalihkan pembicaraan, “Laki-laki yang menemanimu tadi, apakah dia pacar barumu?”

“Bukan! Dia kakakku, Franklin! Kakakku tinggal di Indonesia. Ia ke Taiwan selama beberapa hari karena urusan pekerjaan.” Lydia mencari penjelasan paling sederhana.

“Jadi setelah meninggalkan apartemen kau pergi ke hotel tempat kakakmu menginap? Kebetulan sekali!”

Lydia menutup mulut rapat-rapat. Yang ini lebih tidak ingin dijelaskan Lydia, soal bagaimana ia ditipu orang dan masuk ke tempat itu! Lydia mulai menyukai Fei Yang. Dia tak seburuk yang dibayangkan, banyak bicara, apa adanya, tapi pemikirannya sangat modern dan bebas.

Menjelang sore bel rumah Fei Yang berbunyi. “Wah, kau kedatangan tamu! Sepertinya aku harus pulang sekarang!” kata Lydia.

“Tidak-tidak! Jangan pulang dulu! Akan kulihat siapa yang datang!” kata Fei Yang.

Fei Yang membawa seseorang masuk dan membuat Lydia sangat terkejut.

“Lydia!”

“Tian Ya!”

Tian Ya tidak menduga akan bertemu Lydia di rumah Fei Yang. “Kau di sini! Ternyata kau di sini!” Ia sejenak lupa diri, meraih tangan Lydia sambil berkata, “Aku mencarimu ke mana-mana! Kenapa kau tidak bilang…”

Lydia terpana sesaat lalu mendorong Tian Ya, “Pergi kau! Aku tak mau melihatmu!” Ia menoleh pada Fei Yang, “Aku mau kembali ke hotel!”

Tapi Fei Yang menghalangi Lydia. “Akulah yang meminta Tian Ya datang. Dia tidak tahu sebelumnya kalau kau di rumahku.” Ia menatap Lydia dan Tian Ya bergantian. “Masalah kalian harus diselesaikan, sayang sekali kalau putus dengan cara seperti ini…”

Wajah Tian Ya berubah serius, “Kita harus bicara, Lydia!”

“Siapa yang mau berbicara denganmu?” Lydia berteriak. “Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi, tidak ada yang harus dibicarakan!”

“Kau tidak bisa memutuskan secara sepihak! Aku tidak pernah mengatakan ingin mengakhiri hubungan denganmu!”

“Kau sudah punya kekasih baru, aku harus tahu diri!”

“Bicara sembarangan! Apa kau benar-benar mengira aku punya hubungan khusus dengan Frida?” Tian Ya memejamkan mata, “Kejadian di kantor itu… hanya refleks… Dia tidak akan mengirimkan makanan lagi setelah tahu kau marah. Jangan hanya karena masalah kecil seperti ini lalu kau meninggalkan apartemen dan membuat cemas semua orang…”

“Masalah kecil, ya? Kalau begitu aku boleh berpelukan dengan sembarang pria di pinggir jalan karena bagimu itu cuma masalah kecil…”

“Kau ini kenapa?” Tian Ya seperti orang kehabisan akal, “Aku tidak pernah sengaja untuk memeluk Frida! Harus bagaimana agar kau percaya padaku?”

“Aku tidak percaya padamu karena kau bukan orang yang bisa dipercaya!”

Fei Yang bermaksud memberikan privasi untuk Lydia dan Tian Ya, ia lalu keluar dari ruangan itu. Tapi di depan pintu yang memang belum ditutup, Fei Yang bertabrakan dengan Franklin. Mereka bertukar pandang. Fei Yang gugup sekali, ingin menyuruh Franklin menunggu di luar tapi tak tahu harus bagaimana. Keributan suara Lydia di dalam rumah membuat Franklin penasaran dan menerobos masuk. Franklin benci sekali dengan apa yang ada di depan matanya!

“Lydia!”

Lydia merasa lega Franklin datang di saat yang tepat. Sebaliknya hati Tian Ya tambah panas setelah mengetahui jika ternyata Franklin ada di Taiwan! Jadi Lydia menghubungi Franklin untuk datang ke Taiwan?

“Kau lagi! Masih belum puas membuat Lydia menderita?” ujar Franklin penuh kebencian.

Kau yang membuat Lydia terperangkap di tempat itu!

“Aku tidak mau berurusan denganmu!”

“Urusan Lydia adalah urusanku!”

Tian Ya tidak memedulikan Franklin. Ia menarik tangan Lydia dan berkata penuh harap, “Lydia, ayo kita pulang!”

Franklin juga menarik tangan Lydia yang satu lagi sambil menatap Tian Ya dengan tajam, “Lydia akan pulang bersamaku!”

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.