Jadi Jockey: Berani, Nekat, Ngawur, Demi Kawan atau Mabok Apa?

Bagong Julianto, Sekayu-Muba-Sumsel

 

Solo, Faperta UNS 1981 – 1983

Sejak masih di SMP terbiasa dan suka nonton acara pelajaran bahasa Inggris di TVRI, juga sesekali menyimak siaran Radio ABC, BBC dan VoA, kecakapan beringgris ria menjadikan saya dapat nilai B Mata Kuliah Dasar Umum Bahasa Inggris. Walau bukan nilai A, nilai sempurna 4, tapi itu cukup menjadikan saya populer karena rata-rata kawan kebanyakan dapat C. Bahkan ada yang D dan E. Harus mengulang lagi dua semester ke depan. Satu tahun! Momok Inggris sungguh nyata di lingkungan saya bahkan banyak kawan saya semasa SMP dan lanjut SMA lebih takut kepada Inggris daripada kepada Kimia atau Matematika.

 

Penerjemah dan Summary

Nggak jelas siapa yang memulai, di lingkungan kecil group kami, saya mulai didapuk atau ditabalkan sebagai penerjemah manakala ada tugas kuliah dan fotocopyan Inggris sekian lembar. Pula kakak semester yang lagi nyusun Thesis dan perlu sajikan Summary banyak saya bantu. Tugas dan pekerjaan yang enjoy saja saya laksanakan. Pekerjaan tambahan ini memang mengasyikkan dan gratis serta sukarela saya kerjakan bantu-bantu kawan dan kenalan. Sebetulnya juga nggak gratis-gratis amat. Saya nggak menerima upah rupiah, cukup traktir ramai-ramai di Kantin Kampus Kentingan. Sesekali traktir di Timlo Solo atau Gudeg Adem Ayem, itu sudah jadi bonus yang cukup memuaskan. Sekedar jabat tangan dan terima kasih juga bisa dan biasa di antara kawan. Bagi saya pantang membisniskan inggris saya.

 

Jadi Jockey

Momok Inggris rupanya sungguh nyata. Pergaulan lintas fakultas salah satu anggota group kami mendapati kenyataan yang sungguh pahit dan memiriskan: banyak mahasiswa SM III, V dan VII Fakultas Teknik yang belum lulus MKDU Bahasa Inggris! Harus mengulang lagi! Minimal harus dapat C! Berarti mereka sudah ada yang mengulang dua tiga kali! Edan! Hingga tibalah ajakan, bujukan dan permohonan seorang kawan:

“Gong, tolong kawan-kawan kita yang di Teknik ya?!”, ajak Gundul, salah satu kawan yang luas pergaulannya. Aktivis seni, lingkungan juga anggota Menwa.

“Terjemahan Teknik?! Butuh Kamus Teknik Inggris-Indonesia-Inggris itu!”, jawab saya. Sesungguhnya saya belum paham benar-benar apa gerangan maksud Gundul.

“Bukan terjemahan! Jadi jockey semesteran besok!”, ucap Gundul. Mantap. Jelas. Tegas. Lugas.

Jadi jockey? Di Fakultas Teknik pula? Lhah, ini pengalaman pertama yang pasti mendebarkan. Lebih tepatnya lagi: pengalaman pertama tindakan kriminal pidana pendidikan yang sungguh menantang. Lebih lanjut Gundul sebutkan bahwa yang bakalan “kita” tolong ini para mahasiswa dari banyak kota. Bukan Wongso saja! Bukan Wong Solo saja, tapi dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Kediri, Lampung dan sebagainya. Bukan lima enam orang saja. Puluhan. Puluhan mahasiswa Teknik yang dimomoki Inggris! Kesan dan pesan yang ingin disampaikan Gundul jelas: mereka ini wajib ditolong dan dibantu! Tapi jadi jockey?! Bukankah ini beresiko dan tidak pula main-main bahayanya?! Saat itu saya nggak lama berpikir: “Okey!”. Akal sehat saya dikalahkan oleh akal pertemankawansahabatan saya! Tak beberapa lama kemudian saya dikirimi copyan contoh-contoh soal Inggris tahun sebelumnya. Juga Kamus Teknik Inggris-Indonesia-Inggris.

joki

 

Hari H Jockey

Tibalah hari H perjockeyan saya. Tugas utama saya adalah mengerjakan soal-aoal MKDU Bahasa Inggris Fakultas Teknik sebaik-baiknya. Saya menjadi seseorang mahasiswa Teknik Semester V, dengan nama tertentu, NIM tertentu. Bagaimana kawan-kawan Gundul bisa memonitor mahasiswa yang masih terdaftar, berarti wajib ikut ujian tapi sudah nggak aktif kuliah lagi sehingga bisa saya “ganti-isikan”, bagaimana mereka bisa setting tempat duduk saya tepat di tengah-tengah, bagaimana mereka memberi nametag saya sekaligus nomor peserta ujian, sungguh, itu saya nggak gubris lagi.

Rekayasa total yang demikian sempurna. Orang namanya juga mahasiswa Teknik! Saya nggak diajak simulasi, atau diberi arahan yang detail. Pokoknya lembar jawaban harus saya isi dengan tinta tebal dan huruf lebar besar. Saya harus memposisikan lembar itu hingga bisa diteropong kiri kanan dan belakang saya. Bagaimana mereka mendistribusikan jawaban itu hingga ke lantai satu dan tiga, sungguh, itu di luar akal pemikiran saya. Sekali lagi, mahasiswa Teknik adalah jagoan rekayasa. Ujian berjalan mulus dan seluruh soal saya selesaikan sedemikian cepatnya. Dua lembar jawaban saya pampangkan di meja secara terbuka. Keterbukaan yang melebar meluas kekirikananbelakang. Silahkan ditelisikteropongcontek.

 

Lulus dan Ganti Direkayasai

Seperti yang diharapkan, kami lulus dengan nilai B. Saya nggak perlu disalamselamati. Pula dikoar-koarkan. Misi selesai. Aman. Bukankah ini misi rahasia? Misi yang hanya diketahui secara terbatas hanya pada pelaku dan agennya?! Yang jelas saat dijumpai Gundul yang tersenyum lebar seolah mewakili sekian puluh mahasiswa yang selamat dari momok hantu Inggris, saya dikasih kabar pula: besok Sabtu malam kita makan-makan di Timlo Solo…..

Dengan dibonceng sepeda motor, saya dengan Gundul, kami berenam menuju Restoran Timlo Solo. Kami jumpa sekian belas lagi kawan-kawan yang konon adalah mahasiawa Fakultas Teknik. Galibnya acara makan-makan, pasti banyak pesertanya. Diundang dan ataupun yang sekedar nunut ikut makan enak. Bermacam menu disajikan di meja, selain menu utama timlo dan juga soto. Juga berbotol-botol bir dan beberapa botol minuman keras yang berkadar alkohol di atas 40%. Total kami riuh rendah menyantap makanan di lima meja.

“Cobain Walker, Gong?!”, kata Ayok. Kawan satu ini tahan minuman sebangsa Walker tersebut.

“Nggak! Makasih, saya bir sajalah. Nggak tahan saya”, saya memang bukan peminum yang baik. Minum bir saja pasti saya nggak bisa nahan kencing. Mesti kencing berkali-kali. Sebentar sebentar, kencing. Dan itu yang terjadi. Di samping minuman teh tawar panas yang saya minta, saya memang disediakan satu gelas besar bir. Saya minta setengah saja, tapi laju oleh si Ayok gelas itu dipenuhi. Whuadhuh! Kawan semeja yang lain di samping minum bir mereka minum alkohol itu.

Sungguh, sebelumnya saya pernah sekali saja coba Vodka yang berkadar alkohol 40% . Saya salah minum. Bukan sikit-sikit, tapi langsung tenggak menggelegak sekian glek, glek, glek. Nggak sampai lima menit, kepala saya rasa diputar, mata berat hingga saya mesti menelentangkan badan dengan perasaaan nggak keruan. Itulah kali pertama dan terakhir saya minum Vodka. Nggak mau lagi. Sekarang, di tengah kawan-kawan yang lagi bergembira karena lulus Inggris, perasaan berat kepala itu sepertinya menyerang saya lagi.

Saya sudah coba jejali emping dan kacang goreng bawang, eh, perasaan ingin kencing juga mendera lagi. Tiga empat lima enam kali dan lebih saya bolak-balik antara meja makan dan toilet, sementara kawan-kawan lain ada yang tertawa-tawa lihat tingkah saya. Saya pikir saya nggak terlalu berlebihan manakala ingin kencing dan kencing berkali-kali. Mereka pasti memaklumi: ah Bagong memang bukan peminum yang tangguh.

Inggris boleh jago tapi bir dan alkohol bukan bisa ditaklukkannya. Hingga perasaan terdesak ingin kencing yang ketujuh kali mendera saya lagi. Saya mesti tinggalkan meja lagi. Kawan-kawan makin terkekeh dan ketawa-ketiwi. Entah saya yang mulai mabok, entah pula mereka yang lebih mabok. Perasaan sama-sama mabok. Bagi saya mabok bir, bagi mereka mabok Walker dan sebangsanya. Dengan perasaan berkecamuk saya meninggalkan meja. Langkah saya sekali lagi menuju toilet. Entah apa pula yang saya pikirkan, belum lagi sepuluh langkah saya balik lagi ke meja. Seperti ada yang tertinggal. Entah sapu tangan entah apa. Pokoknya saya mesti balik lagi. Dhuar. Dhuar dhuar. Dhuar. Belum lagi sampai di meja, terpaparlah sama saya pandangan menakjubkan itu: setelah meminum sebagian birnya, gelas saya dituangi Vodka oleh Atok!

 

Sampun…..Suwunnnnnn… (BgJ, 231014)

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.