Othak-Athik Gathuk yang Ketujuh

Djenar Lonthang Sumirang

 

Mengambil satu yang baik, disangkutkan dengan hal baik lainnya, sepertinya pas.

Sekira awal 1980-an, sebuah tim penulis yang diketuai Mohammad Roem, mewawancarai Sultan Hamengkubuwono IX. Salah satu pertanyaannya cukup menggelitik, “Bapak percaya kepada ramalan Jayabaya?,” tanya seorang penulis. Dengan kalem, Sultan menjawab, “kenyataannya, ramalan prabu Jayabaya benar-benar terlaksana, asalkan kita tahu bagaimana mengartikan kata-kata kiasan itu”.

“Namun, sekali lagi, setiap ramalan hendaknya dihadapi sewajarnya saja, sekedar diterima sebagai pengetahuan dan jangan terlalu dijadikan pedoman,” imbuhnya, seperti dikutip dari Takhta Untuk Rakyat: celah-celah kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX.

Perbincangan ramalan Jayabaya, selalu ramai, dan semakin riuh jika dikaitkan dengan sebuah momentum historis. Tak hendak mengulang yang sudah-sudah mengenai kemenangan ‘Anak Bengawan’ yang kini menjadi presiden, namun othak-athik gathuk memang selalu mengasyikkan untuk ditulis dan diperbincangkan.

http://baltyra.com/wp-content/uploads/2014/03/presiden-ri-colourful-logo.jpg

Keberadaan seorang pemimpin yang merakyat, pernah disinggung oleh Jayabaya (1135-1157 M), raja Kediri. “Kawulo podho suko-suko margo adiling Pangeran wus teko. Ratune nyembah kawulo, pandereke yo podho ngujo, iku momongane Pangeraning Prang. Sing wis adus wirang nanging kondang, sing agaman Tri sulo Wondho, genah kiblate gamblang tur njingglang, ora ono wong ngersulo, gemah ripah loh jinawi, kolo bendu wis mingser/mungkur ganti wuku,” seperti dikutip dari tulisan Amat Iskandar yang berjudul Ramalan Jayabaya dan Serat Darmogandhul dalam putaran zaman yang harus kita jawab.

Paling tidak, dalam ramalan jayabaya diatas, ada sekurangnya tiga kalimat yang bisa di-gathuk-kan dengan terpilihnya Joko Widodo sebagai presiden ketujuh.

“Kawulo podho suko-suko” (artinya semua rakyat gembira); “Ratune nyembah kawulo” (artinya pemimpin mengabdi pada rakyat/demokrasi); dan “sing agaman Trisulo wondho” (bersenjata trisula). Jika di-othak-athik, kira-kira begini: dengan membawa konsep Trisakti, Jokowi terpilih secara demokratis, serta didukung dan disambut rakyat dengan gembira. Namanya juga othak-athik gathuk.

Bukan tentang ramalan Jayabaya saja, sebuah akronim magis Notonogoro seperti menggenapi otak-atik gathuk tentang yang Ketujuh ini. Pada sebuah kesempatan bertajuk seminar internasional Renaissance Budaya I, yang dihelat di Universitas Sebelas Maret Solo, beberapa tahun lalu, Damardjati Supadjar, pengamat budaya Jawa, menjelaskan penafsirannya mengenai Notonogoro ini.

“Notonogoro, No itu Sukarno. To itu Soeharto. No berikutnya Yudhoyono. Lalu ada Goro.. bisa Gotong-royong, bisa Goro-goro. Mari kita kembali pada inti filsafat Pancasila, yaitu gotong royong,” ujar Damardjati yang dapat dinikmati secara lengkap di laman.

Titik tekan ada di Gotong-royong. Kemudian cermati pula barisan pidato kenegaraan Joko Widodo pada 20 Oktober lalu, saat dilantik menjadi presiden. “Saya yakin beban sejarah yang maha berat ini akan dapat kita pikul bersama dengan persatuan, dengan gotong royong, dengan kerja keras. Persatuan dan gotong-royong sangat menjadi bekal untuk menjadi bangsa besar,” ujarnya didepan sidang MPR.

Gotong-royong dalam tafsiran Damardjati tentang Notonogoro, gathuk dengan inti pidato Joko Widodo dengan Gotong-royongnya.

Othak-athik gathuk, dicocok-cocokkan, seperti di atas hanya sekedar obrolan ringan di sore hari, sembari cangkrukan dan wedangan di pelataran rumah. Menunggu surutnya matahari, sekaligus bersosialisasi dengan sanak tetangga. Semoga pas. Tabik.*

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.