Film Third Person: Telaah Hermeneutika Romantik

Alfred Tuname

 

third-person-movie

Film Third Person (2013) sebagai sebuah karya seni sinematografi seakan sedang membangunkan kembali jejak romantika simptomatik spektator (penonton). Di situ, narasi romantik menjumpai patahannya yang semilu, meski sering digandrungi. Patahan itu adalah “orang ketiga” yang hadir dalam jalinan temali asmara sejoli yang intim.

Narasi “orang ketiga” dalam film Third Person itu kemudian dibaca dan ditafsir dengan kemungkinan lain yang mungkin “spekulatif”. Jalur pikir hermeneutika romantik menjadi jembatan bambu untuk menarik lebih dekat tafsir spekulatif itu. Dengan derajat keseimbangan tertakar, film ini akan dipahami sebagai sebuah “teks” dalam kosmologi keberaksaraan.

Sebagai sebuah film, Third Person ber-genre drama romantis. Narasi sinematiknya menimbulkan gejolak emosional-sentimental, khususnya cinta, benci, rindu ect. Kesan sentimental itu sangat kuat dalam setiap karakter para aktornya. Liam Nesson (Micahel), Mila Kunis (Julia), James Franco (Rick), Olivia Wilde (Anna), Andrien Brody (Sean), Maria Bello (Elaine), Moran Atias (Monica) dan Kim Basinger (Theresa) merupakan aktor-aktor yang terbilang cemerang dalam lakonnya masing-masing dalam film ini.

Film Third Person disutradarai oleh Paul Haggis. Ia adalah seorang sutradara brilian dalam jagad perfilman Hollywod karena kualitas karyanya. Film-film hasil sentuhannya sering mendapatkan penghargaan Oscar di antaranya Crash (2004), dan Million Dollar Baby (2004). Film terbaru-nya adalah Third Person yang akan dibahas dalam tulisan ini.

 

Narasi Sinematik

Film Third Person bercerita tentang jalinan “segita tiga” dalam hubungan asmara. Kota Paris (Prancis), Roma (Italia) dan New York (US) menjadi setting cerita film ini.

Di Paris, seorang penulis bernama Michael memilih Hotel sebagai tempat untuk untuk membangun mood dalam berkarya. Karenanya, ia meninggalkan rumah sekaligus melebarkan jarak dengan istrinya, Elaine. Hanya komunikasi seluler yang membuat mereka merasa dekat.

Pada kesempatan itu, Michael menghimpitkan rasa dengan Anna yang dekat dan se-kota dengannya. Anna adalah kekasih baru dalam relasi cinta Michael dan Elaine. Anna memilih seinap hotel Michael. Kisah kasih mesra Anna dan Michael melahirkan turbulensi rasa cinta, cemburu, benci, rindu, harap dan ragu. Kombinasi rasa itu memekarkan kompleksitas kemesraan Anna dan Michael. Sebab, Anna pun memiliki relasi mesra dengan pria lain. Disebutkan, pria itu sebagai ayahnya.

Di Roma, seorang ibu bernama Monica harus menebus anaknya dengan sejumlah uang. Anaknya diculik oleh preman (ganster). Di sebuah bar, ia berkenalan dengan Sean, seorang pebisnis Amerika, secara kebetulan. Pesona Monica menimbulkan simpati dan getar hasrat dalam diri Sean. Gejolak silang asmara seketika dimulai dengan kombinasi empati dan cinta antara Sean dan Monica dalam balutan cerita “hilangnya” anak Monica. Anak “berbayar” tertebus oleh empati limpah dan cinta singkat Sean.

Di New York, dugaan melakukan tindakan kriminal terhadap membuat Julia kehilangan hak asuh terhadap anaknya. Anaknya harus tinggal bersama mantan suaminya, Rick. Kehilangan dan keterpisahan itu membuatnya sangat tersiksa. Cinta dan kerinduan terhadap anaknya semakin meledak-ledak. Usaha Julia untuk mengasuh anaknya kembali tidak berhasil. Kejujurannya dan dugaan kuat mantan suaminya terhadap tindak kriminalnya, membuat usaha Julia semakin sia-sia. Anaknya pun diasuh oleh mantan suaminya dan istri.

 

Jelajah Scenografy

Dari narasi sinematik di atas, film Third Person menuntun spektator sebagai “nomadolog” (istilah filsuf Gilles Deleuze). Spektator berpindah-pindah gaze dan berjelajah dari satu kota ke kota lain di negara-negara yang berbeda.

Kesan eksotis kota Paris seakan merayu suasana batin spektator ke dalam nuansa romantis cerita. Paris yang terkenal sebagai kota asmara dunia pun semakin melambungkan hanyal spektator terlibat dalam narasi film. Hotel megah dan elegan, suasana jalan dan pemandangan sekitar menambah perspektif kemolekan kota Paris. Jejak asmara Michael dan Julia terlepas bebas di antara ruang hotel, jalan dan suasana kota.

Kesan kota romantis pun tidak digambarkan untuk kota Roma. Kota yang pernah menjadi rumah para dewa (Parhtenon) itu justru ditampilkan secara “antogonis”, yakni sisi kriminalitas urban. Sudut kota Roma yang bersahaja ternyata menyimpan kisah haru penculikan seorang anak kecil. Ekspresivitas orang-orang Italia tampak redup dengan munculnya figur-figur xenophobia dan sikap apatis orang-orang di bar.

Selain itu, ada kesan yang nyaris persis dalam sikap orang-orang New York dan Roma. Sebagai kota yang sangat sibuk dan kota bisnis, relasi setiap orang pun didasarkan atas “tukar-tambah” ekonomi yang terjadi. Bahwa relasi harus saling menguntungkan secara ekonomi. Homo oeconomicus menyusup ke dalam sudut-sudut kota yang sesak. Waktu menjadi begitu penting. Kerapatan jadwal rutinitas kerja diatur dan harus tanpa delay.

 

Jembatan Bambu Hermeneutika

Filsafat selalu dimulai dengan pertanyaan. Karena itu, aktivitas bertanya menjadi syarat seorang filsuf. Semua orang pun bisa menjadi filsuf. Proposisi ini hanyalah cerita sederhana sifat manusia.

Semua makna dunia ini dipertanyakan dan disangsikan secara metodis, karena ini Filsuf Rene Descartes (juru bicara keruntuhan Abad Pertengahan) begitu yakin mengatakan “je pense donc je suis” (aku berpikir maka aku ada). Heidegger dalam “Being and Time” menulis “[L]ogos dari fenomenologi Dasein memiliki ciri hermeneuein”.

Menafsir merupakan salah satu cara untuk mengetahui. Memasuki Renaissance, pengetahuan manusia berkembang pesat melalui cara berpikir metodologis. Manusia selalu mempunyai hasrat untuk mengetahui. Pakemnya postivisnya, “savoir pour prevoir”. Pada konteks keberpengetahuan, dasarya manusia adalah hermeneutic human.

Sederhananya, hermeneutika[1] adalah operasi penafsiran. Pada mulanya, hermeneutika digunaka sebagai “seni” memahami teks-teks yang bersifat otoritatif (dogma dan Kitab Suci). Saat ini, hermeneutika dimengerti sebagai wujud metodologis dan teoritis atas teknik-teknik penafsiran (bdk. F. Budi Hardiman dalam Basis 1991).

Pada konteks penafsiran itu, manusia memadatkan pikiran-pikirannya dengan menggunakan bahasa. Bahasa merupakan bagian dari manusia yang oleh Ernst Cassirer disebut sebagai animal simbolicum. Dengan kata lain, hermeneutika merupakan gejala khas manusia.

Filsuf Marleau Ponty pernah menulis “man is condemned to meaning”. Oleh karena itu, melalui penafsiran manusia memberi makna pada dunia kehidupan (lebenswelt). Memberi makna adalah sama dengan memahami[2] (ibid).

Makna dalam konteks hermeneutik bersifat antropologis (Verstehen) tinimbang kosmologis (Erklaren). Di sini, manusia menjadi subyek penafsir yang memberi makna kepada realitas dengan menggunakan bahasa.

Beberapa filsuf yang menjadi “pamong” dalam metodologi hermenutika ini, diantaranya Wilhelm Dilthey, Hans-Georg Gadamer, Friederich Scheiermacher dan Paul Ricoeur. Metodologi hermeneutika yang digunakan dalam tulisan ini adalah hermeneutika romantik yang digagas oleh Friederich Schleiermacher[3].

Hermeneutika romantik ala schleiermacher tidak saja berhenti pada metodologi penafsiran tetapi juga tentang mengapa manusia mampu memahami. Sumbangannya adalah divinatorisches Verstehen (pemahaman intuitif). Bahwa intuisi sangat penting untuk memahami teks. Selain itu, rekonstruksi imaginatif atas situasi zaman dan kondisi batin (psikologi) pengarang membantu kita untuk memahami teks. Karena itu, cakrawala budaya seringkali tidak memiliki jenjang yang kelewat dengan cakrawala budaya pengarangnya. Sebab, teks tidak lain adalah ekspresi diri seseorang (ciri hermeneutika psikologis ala Schleiermacher).

Selain itu, bagi Schleiermacher, hermeneutika juga berkaitan dengan retorika (tindakan berkata). Baginya, setiap tindakan memahami merupakan inversion of speech-act. Tanpa berkata, proses memahami tidak akan pernah ada (ciri hermeneutika gramatikal ala Schleiermacher).

 

Ceruk Tafsir film Third Person  

Dimitris Eleftheriotis dalam “A Touch of Spice” (dalam L. Papadimitriou and Y. Tzioumakis eds., 2012) menjelaskan, “the film initiated a pleasurable and reaffirming historical and geographical journey that addressed past and present national anxieties, fantasies and aspirations”. Film Third Person pun menawarkan pengalaman menyenangkan sekaligus jelajah reflektif akan romantika relasi personal.

Paris menjadi kota pilihan bagi Michael untuk merefleksikan relasi romantisnya. Realitas hubungan “segi tiga” dirinya dengan Anna menjadi titik picu eksperimentasi fantasi cerita novelnya. Anna adalah kata itu sendiri. Realitas tentang Anna oleh penulis di-transcribe menjadi cerita penulis.

Di sini, relasi asmara Anna dan penulis adalah inspirasi sekaligus “vanishing mediator” pembentukan plot cerita sang penulis. “Humor, which apparently doesn’t travel more than one floor” adalah petikan awal inspirasi sang penulis ketika Anna hadir di hotel yang sama. Dari situlah awal petualangan Micheal. Setutur dengan Albert Camus, “di tepi pegunungan di mana seorang seniman bergerak maju, setiap langkah adalah petualangan”.

Sang penulis menyelam dalam selubung family crisis sebagai titik berangkat ceritanya novelnya. Karena itu, untuk memelihara cerita, ia memelihara hubungannya dengan Anna sembari sendikit mengangkangi relasi “legal” dengan istrinya. Kepentingan sang penulis terhadap Anna adalah novelnya sendiri. Tetapi, narsisme Anna muda melahirkan gairah dan hasrat seksual romantik dalam diri Anna sendiri. “You don’t even want to have sex?”;Have you had any woman here?“ adalah penggalan-penggalan gairah dan hasrat muda. Sang penulis pun tidak bisa bebas dari gairah romantik itu.

Kecemburuan dan eskapisme pun terjadi dalam dinamika romatika asmara itu. Pada lingkaran ini, sang penulis membangun cerita novelnya. Kisah asmara romatik “segi tiga” di Roma dan New York adalah fantasi “mimetik” sang penulis dalam kreativitasnya. Sebab, sang penulis adalah “…the man who can only feel through the characters he creates”.

Di Roma, cerita dimulai dengan pertemuan Sean dan Monica di Bar Americano. Hasrat pertama menjalar di sana dan memamahbiak. “You’re just looking at my limoncello”, kata Monica. Tentu tidak bagi Sean.

Di New York, sang penulis mengawali cerita dengan konflik sang tokoh Julia yang dituduh “child killer”. Ia pun harus pisah dengan anak semata wayangnya, bahkan harus keluar dari pekerjaanya. Untuk survive ia menjumpai seorang manajer sebuah hotel (ia sebut sebagai lifesaver) dan bekerja sebagai pelayan hotel.

Bayangan akan kejadian di Bar Amricano membuat Sean keluar dari hotel dan mengujungi lagi tempat itu. Keterlibatan Sean dalam hidup kisah Monica dimulai dari saat itu, ketika Monica kehilangan uang yang akan dipakai untuk membayar bandit penculik anaknya, Nina. Kisah “tragicomedy” berkembang setelah Sean harus menguras isi dompetnya dalam membantu Monica menebus anaknya.

“Uang tebusan” yang digunakan oleh sang penulis adalah bahasa persahabatan dan kasih sayang kemanusiaan, bukan metafora hasrat. “…And you don’t look like a whore to me”, kata Sean kepada Monica. Dan palung bangku pada malam di stasiun kereta api antara Sean dan Monica adalah ekspresi suasana batin kesepian dalam “realitas” sinematik sang penulis. Malam itu, sang penulis tidak bersama Sean, meskipun se-hotel. Begitu pun halnya dengan kesepian seorang anak laki-laki yang rindu kepada ibunya, Julia, dalam cerita di New York.

Cerita tentang gagalnya negosiasi antara Monica di Roma dan Julia di New York adalah narasi mimetik dalam realitas sang penulis. Michael gagal meyakinkan editornya untuk menebitkan novelnya. Tetapi komunikasi telah dibuka. Dengan begitu, mengutip filsuf Jurgen Habermas, “berkomunikasi bukan untuk memuaskan hasrat-hasrat, tetapi yang lebih penting adalah untuk menjadikan hasrat atau kehendak Anda diketahui”. Tanggapan pun menjadi penting untuk keluar dari persoalan.

Diseling aksi negosiasi itu, ada persoalan perempuan dalam “realitas” sinematik Michael. Anna dan Elaine pelan-pelan menguliti hidup personalnya, selain novel. Dalam kemelut itu, ternyata perempuan begitu tangguh. “Woman have the incredible gift of being able to deny any reality”, demikian kata editornya di sebuah bar.

Persoalan kegagalan negosiasi Monica dan Julia tentang anak mereka adala persoalan sang penulis itu sendiri. Monica tidak berhasil menebus buah hatinya; Julia tidak berhasil berembung dengan suaminya, Rick, dalam aribitrase legal. Demikian pun halnya sang penulis. Dalam hal ini, buku adalah anak kandung dari imaginasi sang penulis. Gagal cetak adalah “abortus” akibat dari “judging before seeing”.

Anak harus lahir, inspirasi harus terus dikandung. Meskipun, tangis dan air mata terus mengalir. Sang penulis membiarkan emosinya lepas bebas dalam kata. “Hanya emosi yang terus menerus ada”, mengutip penulis Ezra Pound. Oleh karena itu, renegoisasi harus dibuat; renegoisasi dengn Anna sebagai inspirator. Sebab kecemburuan Anna terhadap Micahel dan Elaine telah merusak situasi batin sang penulis. Uniknya, itu juga bagian dari cerita dalam novel sang penulis. Sang penulis telah menemukan sendiri bentuk terbaik untuk bercerita.

Dan dalam cerita itu, Micheal meratapi keberhasratannya terhadap Anna ketika ia harus kehilangannya. Anna meninggalkannya dan menjumpai pria lain. Sengketa hasrat menjadikan semuanya rumit. Rasa kehilangan dan seakan terasing merayap dalam jelinan rasa sang penulis. Perasaan itu persis sama dengan narasi ceritanya tentang situasi batin setiap karakter yang ia tulis, di Roma pun di New York. Monica (di Roma) dan Rick (New York) adalah karakter yang dibangun atas dirinya. Ekspresi batin dituangkan dengan layangan kiriman bunga penyesalan kepada Anna. Seperti, Monica dengan pistolnya, dan Rick dengan kanvasnya.

Yang dikehendaki Michael adalah rasa bersalah (feeling guilty) dari Anna. Seperti, yang dinarasikannya tentang Sean dan Julia. Bahwa, hanya dengan pengakuan akan rasa bersalah itu membuat semuanya berakhir baik. Konflik harus berujung dengan rekonsiliasi dan pehamahan.

Dalam rekonsiliasi itu, komunikasi melahirkan pengakuan (recognition), selain penyesalan. Rasa damai pun berbuah dari pemahanan bersaama. Karena pemahaman adalah spasi intim antara suara tanggapan dengan suaru yang memulai komunikasi. Bagi filsud Heidegger, “hanya mereka yang telah memahamilah yang bisa mendengarkan”.

Untuk bisa saling memahami, setiap orang tentu tidak selalu dikaruniai cara berkomunikasi yang baik. Nekad bisa menjadi pilihan untuk itu. Michael melakukannya, begitu halnya dengan karakter dalam novelnya. Sean dan Julia melakukannya. Rekonsiliasi berjalan baik, meski berujung malang. Monica tidak mendapatkan Nina. Julia tidak mendapatkan Jesse, anaknya. Tetapi, resultante-nya adalah kesalingpahaman. Bahwa, pembalut kebenaran luruh dan menyisahkan kebenaran an sich. kebenaran itu menjadi mawar putih, “color of truth. It’s a color of belief”. Sebab “third person” adalah ruang dimana pengampunan dan cinta tidak pernah hadir. It is the color of lies.

Ketika semuanya lenyap, muncullah cumbuan “Hellenomania”,   “an innovative gaze full of curiosity, ingenuity, and contradiction was crystallizing” pada saat yang bersamaan. Hingga akhirnya, “watch me!

 

Jogja, 2014

Alfred Tuname

 

Sumber:

Alain Badiou. 2013. Cinema. UK: Polity Press

Papadimitriouand Y. Tzioumakis(eds.). 2012. Greek Cinema: Texts, Histories, Identities. Brisbol: Intellect

Jacqueline Malina. 2008. Transformation Of The Self In The Thought Of Friedrich Schleiermacher. New York: Oxford University Press

Jurgen Habermas. 1984. The Theory Of Communicative Action I. London: Heinemann

Martin Heidegger. 1962. Being And Time. Oxford: Backwell

Roland Fishman, terj. 2005. Creative Wishdom For Writers. Magelang: Indonesia Tera

F. Budi Hardiman. Januari 1991, Majalah “Basis”

 

[1] Hermeneutika berasal dari kata kerja Yunani hermeneuô yang artinyamengungkapkan pikiran-pikiran seseorang dalam kata-kata. Kata kerja itu juga berarti “menterjermahkan” dan juga “bertindak sebagai penafsir”. Kata hermeneuein dikaitkan dengan nama dalam mitologi Yunani yaitu Hermes. Dalam mitologi, Hermes bertugas sebagai penafsir kehendak dewata (orakel) dengan bantuan kata-kata manusia.

[2] Filsuf Wilhelm Ditlthey mengajukan konsep Erklaren dan Verstehen. Erklaren digunakan dalam ilmu-ilmu alam (Naturwissenschaften) untuk mengurai fenomen sebab-akibat dalam proses-prosesn alamiah. Sedangkan, Verstehen digunakan dalam ilmu pengetahuan budaya (Geisteswissenschaften) untuk menemukan dan memahami makna.

[3] Bernama asli Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher. Dia lahir pada tahun 1768 di Breslau, Jerman dan meninggal pada tahun 1834.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.