[Mangole] Falabisahaya

Imam Dairoby

 

Artikel sebelumnya:

[Mangole] The Beginning

[Mangole] 06 Februari 1993

[Mangole] Perjalanan

[Mangole] Perjuangan

 

Kampung itu bernama Falabisahaya, pada tahun itu termasuk kampung paling ramai. Beragam etnis membaur menjadi satu. Suku asli kampung itu adalah suku Kadai dan Sula. Suku Kadai adalah suku asli penghuni pulau tersebut tetapi tinggal pada daerah pedalaman hutan dan hidup secara nomad dan belum tersentuh dengan teknologi.

Aku belum pernah sekalipun melihat mereka, karena mereka jarang datang ke perkampungan. Mereka masih sangat tertutup pada masyarakat pendatang, mereka hanya menggunakan pakaian semacam cawat berwarna merah dan sering membawa tombak atau parang untuk melindungi diri dari gangguan.

Suku kadai jarang bersosialisasi dengan penduduk lainnya. Mereka hanya berinteraksi jika terjadi transaksi jual beli barang yang dilakukan secara barter.

Suku Sula adalah percampuran masyarakat dari daerah Sanana dan penduduk yang telah tinggal lama di pesisir pantai pulau Mangole keberadaannya sudah semakin tergusur dari kampung Falabisahaya tersebut. Mereka menyebar ke arah pedalaman dan hidup sebagai petani ladang.

Suku lain yang banyak mendiami kampung itu adalah suku yang berasal dari pulau Sanana. Itu dapat dilihat dari berbagai nama marga atau nama familinya seperti Umasugi, Tuhulele, Umasangaji, Ipa dan masih banyak lagi. Membaur dengan suku yang lainnya dari wilayah yang berdekatan dengan Pulau Mangole seperti suku Buton, Bugis, Jawa, Minahasa, Gorontalo, Manado, Banggai dan masih banyak suku-suku lainnya.

www.panoramio.com

www.panoramio.com

Keberagaman etnis di kampung itu membuat kampung menjadi semarak. Terlebih jika ketika acara Tujuhbelasan yang sering diadakan dengan meriah oleh penduduk setempat. Terkadang pula pihak perusahaan mengundang artis papan atas ibu kota pada jaman itu seperti Rano Karno, Jamal mirdad, Dina Mariana, Yuni Shara, dan lain-lain sebagai hiburan bagi karyawan dan penduduk kampung.

Ini memang kampung, tetapi kehidupan di sini sangat luar biasa dan penuh dengan aneka warna. Kampung ini memiliki penginapan, Lapangan Pesawat, dan yang paling sangat menyolok adalah tempat hiburan yang berbau esek-esek.

Seperti daerah industri lainnya tidak dapat dipungkiri bahwa tempat hiburan pasti terdapat di dalamnya. Mulai dari tempat bermain bilyar, bar yang berjumlah 4 buah serta sebuah lokalisasi. Aku sempat terperanjat mengetahui di sebuah Desa terdapat sebuah tempat dimana para lelaki hidung belang untuk memuaskan hasratnya. Tapi mungkin ini semacam renungan bahwa kemiskinan cenderung membawa kita pada kekufuran.

Dan di Desa ini pula adalah contoh bagaimana kesenjangan sosial yang sangat lebar terjadi antara yang berpunya dan tidak berpunya. Suatu ironi untuk sebuah negeri yang melimpah hasil bumi.

Dan sudah selayaknya menjadi kewajiban kita bersama untuk mengentaskan mereka dari keterpurukan ekonomi dan mental. Tapi seperkasanya itukah diriku. Aku tersenyum sendiri bila terpikir olehku hal tersebut.

Aku cuma seorang manusia biasa yang belum ada daya untuk berperan aktif dalam pengentasan kemiskinan. Biarlah aku berjuang mengentaskan kemiskinan diriku dan keluarga ku sendiri dulu.

Gemerlap kehidupan yang sangat berbeda dapat terlihat dengan kehidupan masyarakat asli kampung. Mereka hidup dari hasil menangkap ikan yang kadang tidak mencukupi kehidupan sehari-hari. Mereka memiliki kebun yang luas yang di tanami kelapa, coklat dan aneka buah yang bisa memenuhi kebutuhan keseharian mereka, tetapi karena sulitnya jalan ke lahan mereka dan pemasarannya tak jarang tanaman itu hanya membusuk di kebun.

Anak-anak muda nya lebih memilih untuk bekerja sebagai karyawan pabrik, sebab mereka bisa mendapatkan gaji yang sangat memuaskan dari pada harus pergi ke ladang atau kebun setiap hari.

Fasilitas umum di kampung ini bisa dikatakan lengkap. Mungkin salah satu kendala adalah jalan yang memang belum tersentuh sama sekali oleh aspal. Tetapi di kampung ini telah terdapat kantor pos, polsek, sekolah dasar yang berjumlah 4 buah dan SMP yang berjumlah 2 buah. Sayang saat itu belum ada sekolah menengah lanjutan atas, sehingga bila ada yang ingin melanjutkan ke tingkat SLTA mereka akan pergi ke daerah Sanana atau ke kota Ambon.

Bagaimanapun juga kampung ini adalah salah satu kampung yang sangat menggeliat di setiap pagi sampai malam. Dan di sinilah aku akan menghabiskan sebagian dari usiaku.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.