Gandari dan Kumis

Alfred Tuname

 

Gandari,

Hai, apa kabarmu? Dirimu baik-baik saja, bukan? Aku harap kamu baik-baik saja. Sebab diriku juga baik-baik saja.

Kini aku sedang berhasrat untuk menulis kepada dirimu. Tetapi bukan seperti surat perintah 11 Maret (Supersemar)1966 yang disalah tarsir sebagai tranfer of authority. Ini tulisan biasa. Mungkin karena aku sedang berhasrat untuk selalu ingin mendengar cerita dari dirimu. Kini wajah dan senyummu menjadi imaji yang memenuhi ruang pikiranku. Bahkan kamarku ini sedang menggambarkan dirimu. Seolah-olah dirimu sedang menatapku. Berbaring dengan posisi yang sama seperti dalam ingatanku. Semoga kita benar-benar bertemu di ruang rindu. Rindu yang tentunya menggebu-gebu.

 

Gandari,

Baru-baru ini aku membaca sebuah buku berjudul “Mademmoiselle Fifi“, sebuah antologi cerita pendek (cerpen) yang sungguh menyenangkan. Penulisnya adalah seorang sastrawan Prancis, Guy de Maupassant. Semoga dirimu juga pernah membacanya. Ceritanya sederhana dan sangat manis. Inspirasinya adalah kisah-kisah sederhana yang sering dan pasti pernah dialami secara universal oleh manusia.

Sebuah judul cerpen yang sungguh menarik bagiku berjudul “Kumis”. Dirimu tentu bisa membayangkan bagaimana ia menulis cerita tentang kumis. Ketika aku membaca cerita pendek itu, aku ingat kembali kata-katamu. Saat itu kau pernah mengatakan, “jangan cukur rambut-rambut di wajahku, jambang, kumis dan janggut!”. Ah, tentu karena saat itu aku sedang brewokan. Yang pasti, kumisku tidak melintang seperti kumis Salvador Dali atau Josef Stalin; janggutku juga tidak melincut seperti Lao Tse. Kalo aku sendikit narsistik, bulu-bulu di wajahku seperti Ernesto Che Guevara pada poster atau politisi Ramos Horta muda pada film Malibu atau penyair Allen Ginsberg dalam film Hawl. Sori ini hanya cermin narsistikku saja. Oh ya, Aku tak tahu alasanmu saat itu.

Namun, setelah aku membaca cerita “Kumis” karya Guy de Maupassant, aku pun jadi tertawa geli sendiri. Aku sendiri seperti dituntun ke lorong yang lebih terang, ke jalan pemikiranmu. Ide ceritanya adalah curahan hati seorang istri kepada teman perempuannya (Lucie) tentang kegagahan suaminya dalam ritus dunia politik. Tentu topik utamanya adalah tentang kumis. Istri itu bercerita bagaimana pandangannya tentang kumis laki-laki, suaminya. Baginya, “lelaki berkumis menunjukan kepribadian dan sekaligus juga kelembutan”. Itu menurutnya. Aku tidak mengada-ada. Aku menulis cuplikannya yang lain untukmu sebagai berikut:

“….Aduh, Lucie sayang, jangan pernah membiarkan dirimu dicium oleh pria tak berkumis, ciumannya benar-benar hambar, hambar, hambar! Ciumannya tidak lagi mengandung daya tarik, keempukan dan…semacam merica… ya, semacam merica dari ciuman yang sebenarnya. Kumis adalah cabainya.

Bayangkan jika pada bibirmu ditempelkan orang kertas kulit yang kering…atau lembab. Itulah sentuhan bibir pria tak berkumis! Tentunya tak lagi mengasyikan.

…Mula-mula, kumis menggelitik dengan cara yang menyenangkan. Orang merasakannya sebelum sampai ke mulut. Kumis menimbulkan getaran yang membahagiakan di seluruh tubuh sampai ke ujung kaki. Kumislah yang membelai, yang menggetarkan, yang merangsang kulit, dan menjadikan syaraf bergetar nikmat dan mendorong orang mendesah perlahan “oh” seolah-olah sedang sangat kedinginan…” (hlm. 140-141).

Hemmmm….Maaf aku tidak bisa menulis dan mengutipnya lebih panjang. Aku hanya mengambil pengantar cerita yang sangat menarik dan membuatku tertawa geli. Sebagai lelaki yang lebih dari berkumis, aku pun senyum-senyum saja. Mungkin aku sedang membayangkan hal itu. Lalu, aku bisa masuk dalam cerita itu. Nah, saat aku membaca cerita itu, aku membayangkan dirimu. Maksudku, aku membayangkan kata-katamu saat dirimu memintaku untuk jangan mencukur bulu-bulu halus di wajahku, juga termasuk kumis.

Tetapi aku belum bisa membayangkan jika bulu-bulu itu menyentuh wajahmu yang halus dan lembut. Boleh jadi sedikit menusuk kulit wajah, tapi gelitik geli dan mungkin geli-geli kejang. Ah, aku sendiri belum bisa yakin tentang itu. Yang jelas, aku masih membiarkan bulu-bulu tumbuh secara proporsional di wajahku. Mungkin tampak sedikit garang, revolusioner tetapi mengayomi.

Eit… aku tidak mau menceritakan lebih panjang lagi. Kalau suka ceritanya, dirimu bisa membaca sendiri bukunya. Menarik sekali ceritanya. Atau kalau tidak suka dengan ceritanya, dirimu bisa langsung membayangkannya, menghadirkan imaji tentang kumis dan janggut dan jambang.

Akhirnya, lain waktu baru kita sambung ceritanya. Salam rindu selalu untukmu.

Yours,

Aku

 

Jogja, 2014

Alfred Tuname

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.