Kinds of Flowers (Ketawang Puspowarno)

Osa Kurniawan Ilham

 

Raden Mas Sudiro, lahir tanggal 3 Maret 1811 adalah cucu dari KGPAA Mangkunegoro II. Sebagai bangsawan Mangkunegaran, selain wajib menikmati pendidikan Jawa ala Mangkunegaran, dia juga mendapatkan pendidikan barat melalui guru les privat Belanda yang didatangkan oleh kakeknya. Setelah KGPAA Mangkunegoro III meninggal, dia kemudian diangkat menjadi KGPAA Mangkunegoro IV.

Trah Mangkunegoro, selain trampil dalam urusan militer biasanya juga cakap dalam urusan seni, sastra dan ekonomi. Mangkunegoro V, kecerdasannya tidak bisa dipungkiri, Konon, dialah yang bersama Ronggowarsito menulis karya legendaris, Serat Wedhatama. Dia pula yang menulis komposisi klasik legendaris berjudul Ketawang Puspowarno Laras Slendro Pathet Manyuro.

Karya klasik ini sempat direkam oleh Robert E. Brown, etnomusikolog dari AS saat dimainkan oleh kelompok gamelan Pakualaman Yogyakarta di bawah arahan KRT Wasitodipuro. Hebatnya, komposisi sepanjang 4 menit 43 detik tersebut dipilih oleh Carl Sagan; profesor astronomi Universitas Cornell sekaligus Ketua NASA; sebagai salah satu dari bukti peradaban manusia yang akan diperdengarkan kepada ciptaan Tuhan yang lain di luar angkasa alam semesta yang luas ini melalui wahana Voyager I. Ngomong-ngomong tentang Carl Sagan, orang mengenalnya sebagai penulis novel berjudul Contact, yang kemudian difilmkan dengan judul yang sama, dibintangi oleh Jodie Foster dan Matthew McConaughey.

Demikianlah, Ketawang Puspowarno akhirnya direkam dalam sebuah cakram emas bersama Brandergburg Concerto No 2 karya Johan Sebastian bach, The Magic Flute karya Mozart, Symphony No 5 karya Beethoven, Melancholy Blues karya L. Armstrong dan puluhan karya lainnya (lihat di arsip youtube di bawah) mewakili seluruh peradaban manusia di bumi. Selain Ketawang Puspowarno, di dalam cakram emas berisi file berkapasitas 68 Kilobyte itu juga tersimpan foto penari Bali jepretan Donna Grosvenor serta ucapan dalam bahasa Indonesia “Selamat malam hadirin sekalian, selamat berpisah dan sampai bertemu di lain waktu”.

ketawang puspawarna

Voyager I, wahana tanpa awak berbobot 722 kg tersebut diluncurkan di Cape Canaveral, Florida pada 5 September 1977 menggunakan roket Titan IIIE-Centaur. Dua tahun kemudian wahana ini menyapa orbit planet Yupiter (planet kelima), setahun kemudian menyapa penduduk planet Saturnus (planet keenam). Dan pada bulan September 2013 sudah mencapai jarak 18.783.575.158 km, atau sudah meninggalkan planet terluar sistem tata surya memasuki ruang antar bintang di Galaksi Bimasakti.

Banggalah Engkau sebagai orang Indonesia, Kawan!!!!

Karya klasik nenek moyang kita ini masih akan sempat menyapa Alien, entah di mana dia, sampai bahan bakarnya habis kelak di tahun 2040.

(Referensi: majalah Detik,edisi 23-29 September 2013)

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *