Liburan ke Reo (3): Antara Perbukitan dan Pantai

Anastasia Yuliantari

 

Hari kedua di Reo membuat saya pesimis. Begitu bangun tidur kami disambut gerimis. Untuk ukuran Reo yang sangat jarang hujan dibanding Ruteng, kondisi alam ini tak menjanjikan untuk pesiar sesuai rencana kami malam sebelumnya. Saya memperkirakan kami akan segera pulang setelah berkeliling Reo beberapa saat. Itu pun bila hujan tak begitu deras. Keteledoran untuk tak membawa jas hujan berkali-kali saya sesali. Sudah tahu musim hujan, kenapa tak menyimpannya dalam bagasi?

Rupanya alam berbaik hati dengan kami. Tak sampai sejam kemudian langit bagai tersibak. Matahari mencorong menerangi wilayah Reo. Max yang telah selesai mandi berkomentar, “Bagus sekali cuacanya, nih. Kita menginap semalam lagi di sini, ya.” Dan kalimat retoris itu tak perlu saya tanggapi.

Setelah menyantap ubi goreng, kue cucur, dan segelas kopi mocha yang disediakan oleh pemilik penginapan kami berencana mengunjungi Robek, kampung yang kata Max bagus pemandangannya. Menara gerejanya yang ada di atas bukit terlihat dari pantai Ketebe kemarin. Tetapi sebelum berangkat saya mengirm pesan singkat kepada Enu Wiwik karena semalam tak sempat berkunjung ke rumahnya akibat pemadaman listrik dan hujan. “Kami masih tinggal semalam lagi di Reo. Mas Max kerasan di sini katanya.”

Jawabannya beberapa saat kemudian membuat kami tertawa, “Baru sekarang saya dengar ada orang yang kerasan tinggal di Reo.” Mungkin maksudnya buat orang pegunungan yang selalu merasakan udara sejuk. Di Reo memang udaranya sangat panas di siang hari, kecuali bila musim hujan.

Karena niatnya bersantai, maka kami akan mampir-mampir dulu sepanjang perjalanan.Tempat pertama yang membuat kami berhenti adalah persawahan yang tak sampai 200 meter dari penginapan. Pemandangan sawah yang baru selesai dipanen itu mirip savannah karena kemunculan hewan-hewan ternak yang digembalakan di sana. Berbeda dengan sawah di Ruteng yang berteras-teras karena terletak di perbukitan, sawah di Reo terhampar luas melandai. Areal itu dihiasi perbukitan sebagai latar belakang. Tampak sebagian punggung bukit itu menghitam karena tambang Mangaan yang terkandung di dalamnya sedang dikeruk oleh beberapa perusahaan.

liburan reo (1) liburan reo (2) liburan reo (3)

Setelah puas berfoto-foto di persawahan, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini kami mampir ke pelabuhan Kedindi. Pelabuhan ini merupakan pintu masuk berbagai kebutuhan sehari-hari di Manggarai, mulai dari bahan bakar, pupuk, sampai kedatangan penumpang dari Makassar. Reo sendiri merupakan wilayah core dalam sejarah Manggarai. Penguasaan Flores Barat oleh kerajaan Gowa dan Bima berpijak pada keberadaan wilayah Reo. Perwakilan Gowa dan Bima secara bergantian menguasai Reo dan melakukan penaklukan terhadap Manggarai. Demikian juga Belanda yang menguasai Bima dan kemudian Gowa juga mengandalkan wilayah ini dalam ekspansi ke wilayah Manggarai. Tak heran seperti kebanyakan wilayah pantai di Flores, sebagian penduduknya yang berasal dari keturunan Bima atau Gowa memeluk agama Islam di antara mayoritas Katholik.

Saat kami berkunjung ke Pelabuhan Kedindi sebuah kapal yang mengangkut pupuk sedang berlabuh. Beberapa truk dari Ruteng sedang mengisi muatan yang dikeluarkan oleh beberapa kuli dari perut kapal. Para crew sendiri sedang bersantai menikmati secangkir kopi dan sarapan. Beberapa orang yang berjaga di pelabuhan menyapa kami dengan bahasa setempat, “Pesiar, Pak?” Tanya mereka pada Max. Berbeda dengan Labuan Bajo yang khusus sebagai pelabuhan ferry dari Bima, sehingga setiap hari beribu orang datang dan pergi, pelabuhan Kedindi jarang dikunjungi orang. Tak heran bila suasananya lengang dan sepi. Bahkan di pagi hari saat libur sekolah.

liburan reo (4) liburan reo (5)

Setelah sejenak melihat-lihat pelabuhan Kedindi yang sepi, kami beranjak melalui pasar ikan yang berada di depan sebuah masjid. Para penjual ikan itu tertawa melihat kami karena kemarin, ketika bersama Romo Charly Crova, Pr. membeli ikan di tempat itu, salah satu pedagang berkasak-kusuk dengan temannya. “Co’o? (Kenapa?)” Tanya Romo. Salah satu di antara mereka menunjuk saya sambil tertawa, “Dia berkata ebietnya bagus sekali. Dia pingin, Pak.” Ujarnya menoleh pada perempuan yang duduk di sebelahnya ditimpali tawa teman-temannya. Ebiet adalah sebutan untuk kacamata hitam bagi orang Manggarai. Entah mengapa mereka menamakannya begitu. Jangan-jangan karena dulu Mas Ebiet G. Ade selalu berkacamata ketika menyanyi.

Asa tukar ebiet agu ikang de meu?” Kata Max menawarkan untuk menukar kacamata dengan ikan.

“Bagaimana, Mbak? Boleh kah?” Kata pedagang yang berminat dengan kacamata saya sambil tertawa.

“Oleee enu, kacamata ini belinya jauh, e. Kalau tukar dengan ikan satu tong mungkin baru saya mau.” Jawab saya ditimpali tawa semua orang.

Sampai kami meninggalkan pasar, mereka masih berkasak-kusuk, “Di’a tu’ung ebiet de Mbak hitu, e.” Bagus benar kacamata hitam Mbak tadi, ya. Wah!

Kami kembali menyusuri jalan sepanjang pantai. Saya mengusulkan untuk ke pantai Ketebe lebih dahulu, tapi Max lebih suka bila kami mengunjungi kampung Robek, baru pulangnya mampir kembali ke Ketebe. “Kemarin belum puas, dear berenangnya. Hari ini mumpung cuaca bagus kita berenang sampai puas. Setelah itu baru makan siang di Reo.”

“Memang kamu tahu tempat makan yang bagus?” Tanya saya.

“Tidak terlalu bagus ka, tapi lumayan. Rumah makan Padang selalu ada di mana-mana.” Ujarnya.

OK, deh. Tapi omong-omong apa yang akan dilihat di Robek? Entahlah, intensi kami hanya berkendara sambil mengukur jalan. Sepanjang perjalanan kami mengomentari anak-anak yang sedang bermain dengan bertelanjang dada atau petani yang sedang memanen pisang bertandan-tandan dan meletakkannya di pinggir jalan tanpa khawatir dicuri orang. Rumah penduduk yang letaknya terpencar dilatarbelakangi pantai. Birunya air laut kadang tampak jelas, namun tak jarang tersembunyi di balik tebing curam atau lebatnya pepohonan.

Setengah jam kemudian kami telah sampai ke pertigaan kampung. Max berkata bahwa Robek mengikuti jalan hotmix, sedang jalan aspal yang tampak mulai rusak dari persimpangan adalah jalur menuju ke Kajong. Jadi ke mana, nih? “Kalau mau ke Kajong juga tak begitu jauh, dear hanya kira-kira 45 menit atau sejam.” Kata Max. Sebenarnya 45 menit atau sejam, nih? “Kan kira-kira, soalnya jalannya agak rusak.”

Malam sebelumnya Pater Paskalis Patut, OCarm yang sedang bertugas di Dilli, mengundang kami untuk mengunjungi kampung halamannya di Kajong. Beliau memberikan arah-arah jalan dan kontak yang dapat dihubungi bila kami singgah di tempat asalnya itu. “Pokoknya kalian harus ke kampungku, ya.” Pesannya. “Sudah dekat harus mampir ke rumah!” Lanjutnya. Tapi melihat jalan yang mulai rusak saya agak enggan. Max tak pernah bermasalah, baginya yang penting pesiar mau ke mana pun akan dijabaninya.

liburan reo (6)

Setelah melakukan berbagai pertimbangan, kami kembali pada tujuan semula untuk pergi ke kampung Robek. Jalanan begitu sepi meskipun jalannya sangat mulus. Tak sekali pun kami berpapasan dengan kendaraan selama puluhan menit. Pemandangan satu-satunya adalah pohon pisang, gamal, dadap, dan mahoni yang tumbuh di sepanjang sisi jalan. Kadang kehijauan itu disela oleh rumah-rumah berpagar bambu dengan pohon asam di belakangnya atau beberapa perahu yang menyentuh bibir pantai.

Kampung Robek telah tampak. Max memperlambat laju kendaraan. Kampung kecil ini mempunyai gereja yang menjulang di tebing perbukitan. Menaranya menyembul dari balik hijaunya pepohonan yang tumbuh lebat di punggung bukit. Beberapa meter di pinggir pantai juga terdapat kapel (gereja kecil) yang halamannya ditanami pohon asam dan terasnya dipergunakan untuk bermain oleh anak-anak kecil. Ada beberapa perahu di pantai beberapa meter dari kapel. “Kita foto di sana dulu, e.” Ajak saya pada Max.

“Nanti dulu. Kita lanjutkan perjalanan sampai ke ujung jalan hotmix.” Tolaknya.

Dan di manakah ujung jalan hotmix itu?

“Saya tidak tahu, belum pernah ke sana.” Katanya sambil tertawa. “Kita pergi saja, toh.”

Aih, kalau jalannya sampai ke perbatasan Manggarai Barat, bagaimana? Apalagi cuaca saat ini tak bisa diprediksi. Bila hujan tiba-tiba datang, jas hujan yang absen di bagasi selalu menjadi hal yang menghantui. Apalagi kampung-kampung letaknya berjauhan diseling kebun-kebun atau semak belukar. Tapi lebih dari segala alasan itu, sebenarnya saya memang tak adventurous macam Max. Saya selalu mencari aman sekampung apapun tempat yang kami kunjungi.

Setelah beradu argumen kami berbalik arah kembali menuju Robek. Di kapel kecil dekat pantai saya minta berhenti untuk berfoto-foto sejenak sekaligus ingin tahu seberapa bagus pantai yang ada di Robek. Sama dengan pantai Ketebe, pantai di kampung Robek ini tak mempunyai penunjuk arah. Kami hanya menghentikan kendaraan di pinggir jalan lalu melintasi setapak di depan halaman kapel yang ditumbuhi pohon asam. Pantainya juga hanya berada beberapa meter di belakang rumah warga.

liburan reo (7)

Berbeda dengan Ketebe yang berpasir putih, pantai di kampung Robek berpasir hitam keabuan. Karena tak dirawat dan hanya merupakan pantai di kampung maka banyak sampah dari pepohonan dan kayu-kayu memenuhi hamparan pasir. Tak berapa jauh dari pantai tumbuh daun-daunan yang merambat berbunga keunguan. Anak-anak nelayan yang tak ikut bermain di teras kapel bercengkerama di atas perahu. Mereka menghentikan sejenak aktivitasnya melihat kami datang ke pantai untuk berfoto-foto. Beberapa di antara mereka menyapa dengan bahasa daerah, “Ni mai ite?” Menanyakan asal-usul kami. Wajah-wajah mereka tampak puas ketika kami menjawab berasal dari Reo dan melanjutkan bermain-main di perahu.

“Saya numpang foto, e Nana.” Saya melangkah ke dalam perahu yang berusaha mereka dorong ke laut. “Jangan diceburin dulu, rantang aku, e.” Cegah saya dengan bahasa campuran karena takut bila mereka membawanya ke laut.

“Iyo, Ibu.” Jawab mereka sambil tertawa-tawa. “Co’o tara rantang Ibu ho’o, aeehh.” Mereka tak habis pikir mengapa saya takut berperahu di pantai.

Lha situ engga tahu kalau saya engga dapat berenang dengan baik, sih. Gaya batu doang bisanya, aeeehh.

liburan reo (8)

Tak lama setelah berfoto-foto kami menelusuri pantai di bawah matahari yang mulai menyengat. Anak-anak kembali bercengkerama dan berenang di pantai. Mereka menghabiskan waktu libur panjang kenaikan kelas di sekitar rumah. Mungkin saat tak libur pun mereka tetap labar (bermain) di pantai dan halaman kapel beramai-ramai.

liburan reo (9)

Setelah cuaca bertambah panas kami memutuskan untuk kembali ke Reo dengan rencana singgah kembali ke pantai Ketebe. Max mengusulkan untuk melepas helm dan merasakan kesejukan udara yang berhembus dari laut melalui rimbunnya pepohonan di sepanjang jalan. “Apalagi di sini tak ada polisi yang bakal menilang kalau kita tak pakai helm, dear.” Katanya tertawa-tawa.

“Ooh, jadi selama ini pakai helm karena takut tilang,” ejek saya.

Toe nenggitu ta, dear. Santai kaut. Tidak begitu, santai saja.” Jawabnya sambil meletakkan helm kami di cantelan depan jok.

Udara panas berganti kesejukan angin pantai ketika kami melaju meninggalkan kampung Robek. Kesejukan itu mengurangi sedikit dahaga yang mengeringkan tenggorokan kami. Angan saya melayang membayangkan segarnya air kelapa muda. Hanya membayangkan, karena saya tahu tak ada warung yang menjual kelapa muda dengan es batu di pantai-pantai ini. If only…

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.