Masa Depan

Anwari Doel Arnowo

 

Ada banyak kenalan saya yang selalu ingin mengetaui dan kalau perlu hanya ingin mengintip saja ke dalam dunia masa depan. Masa depannya siapa? Ada seorang yang saya kenal cukup dekat, yang suka mengintip, mendengar dan mengetaui apapun yang menyangkut masa depan berupa apa saja dan siapa saja. Dia selalu mengatakan bahwa apa yang terjadi di masa lalu, sekarang dan masa depan itu berkaitan sangat erat dengan kemauan Yang Maha Kuasa, Tuhan sekalian alam semesta. Rupanya masa depan itu amat penting bagi dirinya. Ingin sekali melihat dan mengetauinya. Saya berpikir dia adalah orang yang amat ingin tau terlebih dahulu atau lebih awal dari siapapun. Matipun dia sudah menginginkan seperti apa yang akan terjadi, bahkan kira-kira bila serta bagaimana, mati yang akan terjadi kepada dirinya. Saya nanti akan berumur sekian tahun lagi saja, tidak lebih, katanya. Saya berusaha untuk ikut memahami apa yang  sebenar-benarnya diinginkannya. Apakah dia ini ingin melepaskan dirinya dari beban yang dia pikir tidak akan mampu dan bisa diselesaikannya selagi masih hidup di dunia? Saya tidak berani menjawabnya. Tentu saja saya harus bersikap begitu karena saya memang bukan dia. Jadi saya biarkan saja diri saya agar tidak mengetauinya. Saya pikir itu sama sekali tidak jelek. Kan bukan urusan saya?

masa-depan

Bukankah memang saya tidak sepantasnya menerima informasi mengenai seluruh pribadinya, apapun itu? Bukankah dia seorang yang secara fakta memiliki 100% tubuhnya saja, tidak menceritakannya kepada saya?! Begitulah, saya hentikan rasa ingin tau, kalau pun itu masih ada. Saya pikir-pikir saya ini memang sejak muda belia tidak mau mendengar segala ramalan mengenai masa depan saya. Di sekeliling saya ada banyak yang tidak sama dengan pendirian saya itu. Yang begin pernah terjadii: Ayah saya pada hari ulang tahunnya yang ke sekian, saya lupa bila itu, tahun ke berapa, karena saya tidak sedang berada di situ, bercerita seperti berikut, kepada ibu dan anak-anak yang saudara-saudara kandung saya yang hadir. Pada waktu beliau berusia 16 tahun ada seorang yang asal  bangsa India meramalkan bahwa ayah saya nanti akan berusia sampai 80 tahun. Ramalan lainnya beliau akan menjadi orang terkenal seperti halnya Chiang Kai Sek, seorang pemimpin negara China yang memang amat terkenal waktu itu. Apa yang terjadi? Ayah saya meninggal dunia pada usia 80 tahun dan 80 hari. Apa sebab saya bisa mengatakan seperti itu? Saya memiliki sebuah kalkulator yang bisa menampilkan grafik biorhythm berikut keterangan mengenai fluktuasi tiga  graphics yang menyangkut physical, emotional,  intellectual dan intuitive. Oleh karena merupakan kelengkapan data yang ada maka siapapun bisa mencari data yang diinginkan seperti menampilkan data berapa jumlah hari hidup dari seseorang sejak lahir sampai meninggal dunia. Macam-macam memang itu kemampuannya.

Kalkulator itu saya miliki pada tahun 1985, jadi hampir sewaktu ketika ayah saya baru saja meninggal dunia, pada tanggal 18 Januari 1985. Beliau terlahir pada tanggal 30 Oktober 1904.

Hasil pencarian menggunakan alat itu menunjukkan hasil tersebut di atas: 80 Tahun 80 Hari. Sekarang saya sudah tidak lagi memiliki alat itu, entah sudah hilang atau saya lupakan pemilikannya. Beliau memang terkenal di Jawa Timur sebagai pejuang dan pernah dipenjara bertahun-tahun oleh pemerintah kolonial belanda sebanyak 3 kali dan satu kali lagi oleh Ken Pei Tai dalam masa pendudukan oleh Bala Tentara Jepang. Beliau menjabat menjadi Wakil Gubernur Jawa Timur dengan Gubernur Pak Soerjo dan Gubernur Pak Dokter Moerdjani sejak Proklamasi Kemerdekaan. Di aplikasi tertentu biorythm masih exist dan saya saksikan teman-teman saya berkebangsaan Jepang ada yang menggunakan graphic biorythm ini sebagai pedoman segala tindakan yang dilakukannya sehari-hari. Bilamana tiga garis graphic biorythm itu bertemu di satu titik, maka dia bisa saja menghentikan kegiatannya pada hari itu, karena sudah dianggap error prone (rawan berakibat membuat kesalahan), silakan memerhati isi link berikut ini:

Free biorhythm readings and charts online

http://www.whitestranger.com/free_biorhythm_chart.php.

Anda bisa mengerti bagaimana naik turunnya kondisi tubuh kita secara physical, emotional dan intelectual dan intuitive.

Panjang pendek waktu yang digambarkan oleh masing-masing graphics tidak sama pada setiap manusia, demikian juga durasinya.

Khusus di dalam pergaulan selama ini kalau ada yang sedang mau meramal saya, selalu saya katakan pendirian saya: TIDAK mau tau masa depan saya. Saya hanya mau diramalkan dan melihat masa lalu saya, apa memang benar atau tidak? Itu saja, cukup! Sekali sekali memang pernah juga saya bertanya-tanya, karena pernah diramalkan oleh seorang berkebangsaan Thailand, yang mengatakan bahwa umur saya akan panjang sekali. Heh? Terkejut saya! Jadi saya tanyakan kepadanya berapa tahun? Dia jawab lebih tua dari nenek saya. Heh lagi ! Nenek kan 94 tahun usianya !! Ada-ada saaaaaja. Saya tanya lagi :”Is it possible to be one hundred?” saya tanya sambil tertawa terbahak. Ah ini orang menjawab dengan tegas, meneliti garis tangan saya sambil sedikit memejamkan mata, dia berkata tegas: “More !” ini orang bercanda. “Perhaps around 105 years” eh serem juga nih. Takut juga sih. Takut apa lagi? Yaaa takut diakhiri dengan kondisi badan tidak sehat!! Terbayang bagian-bagian badan saya sudah diganti dengan prothese dengan kabel dan selang dipasangkan ke dalam seluruh tubuh saya, seperti pakaian astronaut!!  Itu seperti mimpi buruk!!

Itu terbayang-bayang setiap kali saya berulang tahun, banyak yang menyanyikan lagu Panjang Umur bagi saya, tetap saja saya membayangkan selang karet dan kabel-kabel serta jarum-jarum. Barang-barang ini yang menghubungkan tubuh saya dengan mesin-mesin dan alat-alat untuk  keperluan memanjangkan penderitaan saya agak lebih lama?!??

Bukankah 105 itu hampir 30 tahun di masa depan, waktu itu cucu saya yang paling tua akan berumur hampir setengah abad, 49 tahun? Bikin pikiran bisa kalut. Apakah masih ada di negeri saya: Kartu Indonesia Sehat buat seorang yang tua sekali? Bukankah record dunia orang tertua laki-laki saat ini “hanya” berumur 110? Nah sudah sekian lama saya bisa bertahan untuk tidak usah tau masa depan saya seperti apa, mengapa saya sekarang harus berubah menjadi pusing terhadap ramalan orang Thailand itu?

Lebih baik melakukan apa yang saya bisa hari ini saja, karena yang kemarin mungkin sudah lupa dan yang besok saya belum tau apa yang akan terjadi?

Bilamana anda diberitau bahwa anda akan meninggal dunia lima puluh jam lagi, apa yang akan anda perbuat selama dua hari ke depan? Saya membayangkan akan ada saja yang iseng menjawab, saya akan melamar mengajak kawin seorang yang selama ini saya cintai tetapi saya kurang berani menyatakan cinta saya kepadanya. Atau saya akan merampok uang tunai yang ada di Bank Indonesia di Jalan Thamrin pojok sana itu. Kalau berhasil kan saya mencatat sejarah hebat,      Toh saya akan mati juga. Bukankah jawaban model begitu bisa saja muncul? Agar hal seperti ini tidak terjadi, saya hindari saja mengetaui masa depan. Sekali lagi masa depan tidak usah dikedepankan, Tidak usah dikhawatirkan. Seperti dulu kita takut tidak maik kelas? Atau tidak berani hidup karena rejeki seret dan madesu (masa depan suram) ?

Sudahlah karena menurut sebuah survey orang ahli membuktikan bahwa sebanyak 90% dari kekhawatiran kita itu tidak terjadi dan tidak juga terwujud. Lalu mengapa kita bertanya: ”Apa kata orang nanti kalau aku pakai baju warna merah menyala ini?” Ah terbukti tidak seorangpun perduli… Seseorang yang saya kenal sakit yang mengakibatkan lumpuh, dia seorang Wakil Gubernur. Dia tidak mau menggunakan kursi roda, MALU katanya. Setelah sekian bulan tidak keluar rumah, dia memberanikan diri duduk di atas kursi roda dan pergi ke Senayan Plaza didorong ke mana-mana. Ternyata tidak ada seorangpun yang dijumpainya yang dia kenal atau mengenali dia. Alangkah percuma dia membuang-buang waktu untuk kesenangan, upaya perbaikan kesehatan mentalnya hanya karena malu. Saya sitir perkataan Hablum Min Annas Hablum Min Allah. Min Annas (dengan sesama sekeliling kita, saudara, kawan dan orang sekeliling kita) dan min Allah (yang memang ada dan berhubungan dengan Allah atau akhirat). Karena kita sekarang ada di dunia, ya dunia kita dulukan baru yang masa depan kita serahkan kepada Allah.

Janganlah kita sok tau dengan mengedepankan masa depan seperti akhirat pada saat sekarang ini. Saat ini di dunia terserah kepada diri kita sendiri mau jadi apa, memilih menjadi orang baik atau sebaliknya. Seratus persen pilihan bisa kita lakukan karena Allah Sang Pencipta telah melengkapi diri kita, tubuh kita antara lain dengan seluruh 12 organ vital yang amat bisa melakukan pilihan tersebut. Janganlah otak tidak dipakai, nanti terjadi kondisi pikun karena sel otak yang rusak akan bertambah berlebihan. Otak adalah bagian tubuh yang merupakan pusat kehidupan. Otaklah yang memerintahkan jantung berdetak atau berhenti berdetak. Jantung hanya alat memompa darah ke seluruh bagian tubuh menyalurkan makanan dan mendorong keluar semua racu-racun yang terjadi. Jadi 12 organ itu saling menunjang fungsi-fungsi masing-masing.

Selanjutnya masalah Illahi dan akhirat kita serahkan kepada Allah saja. Allah Maha Besar, tidak usah kita menyatakan diri membela Allah. Bela diri sendiri dahulu agar tegak, hidup jujur dan bermartabat. Sampai saat ini kita belum mampu ikut-ikut mengatur akhirat. Entahlah nanti pada jaman cucu dan cicit kita semua.

 

Anwari Doel Arnowo — 2014/11/05

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.