Gerimis Telah Jatuh di Manaus

Leo Sastrawijaya

 

gerimis

jika aku bisa, aku akan menulis sajak paling sakit dari semua kesakitan

meski titik-titik air itu

seperti kristal

tercurah dari selubung langit

lalu jatuh perlahan

pada rumput hijau yang menggigil dalam Arena Amazonia

 

sebab aku yakin saat ini Priscilla Meirelles pun sedang menangis (meski menyembunyikan air matanya)

tetapi sudahlah

mungkin seperti kalian,

akupun telah terbiasa mengakrabi satu kata yang acapkali terdengar menyakitkan;

kesabaran!

 

lagipula,

 

gerimis memang telah jatuh di sini, di Manaus

sehingga sukacita segera mewarnai semua sudut rimba raya Amazon

sebuah momen ketika sesiapapun, jika sudi

masih bisa menjejaki gelora harapan

yang ditinggalkan para petualang

yang dahulu susah payah memintalnya

dari pinggir bantaran bengawan Negro dan Solimoes

 

mereka tentu tidak ingin jejaknya

terhapus oleh rasa sakit dan kekecewaan

dua hal yang dahulu telah berhasil mereka kalahkan

sehingga aku,

beberapa kali bisa menikmati

gerimis kristal yang jatuh di kota ini …

 

ya,

meski drama itu

layaknya cermin sebuah permainan kehidupan

ketika roda nasib membawa kepada realitas tentang kekalahan

dan rasa sakit!

 

=========Pertengahan Juli, ’14

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.