Membangun Tembok Berlin di Jakarta

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

WALAU sudah seperempat abad Tembok Berlin runtuh, 9 November 1989, namun masih ada tembok Berlin-tembok Berlin di penjuru dunia. Bangsa Korea masih memiliki Tembok Berlin yang lebih besar, panjang dan mengerikan. Mengapa harus ada tembok pemisah dalam sebuah masyarakat?

Ide pembangunan Tembok Berlin bukanlah dari blok komunis atau Uni Soviet atau dari Jerman Timur yang kini hilang menjadi Jerman bersatu. Gagasan orisinal pembangunan Tembok Berlin datang dari Menteri Luar Negeri Jerman Barat (waktu itu) Heinrich von Brentano, seperti ditulis oleh seorang pengamat Timothy Ryback dalam majalah “Atlantic’ pada 1986.

Menurut Ryback, dalam pertemuan para menteri NATO (Pakta Militer AS dan Eropa Barat) 11-14 Desember 1956 di Paris, von Brentano khawatir warga Berlin Timur akan berontak melawan pemerintahnya seperti dilakukan rakyat Hongaria pada 1956. Bila itu terjadi maka warga Berlin Barat akan membantu saudara mereka di Berlin Timur. Bisa terjadi kekacauan dan perang baru. Berlin saat itu belum dibagi dua.

Untuk mencegah itu, von Brentano mengusulkan dibangun tembok pemisah dan langsung didukung oleh AS. Namun ide itu tak terwujud. Hingga akhirnya Jerman Timur punya logika yang sama: membangun Tembok Berlin enam tahun kemudian, 13 Agustus 1961.

Kini Tembok Berlin imajiner juga banyak dibangun di Jakarta dan seantero Indonesia. Memisah masyarakat berdasarkan sekat-sekat SARA.

Membangun Tembok Berlin di Jakarta 1 Membangun Tembok Berlin di Jakarta 2 Membangun Tembok Berlin di Jakarta 3 Membangun Tembok Berlin di Jakarta 4 Membangun Tembok Berlin di Jakarta 5 Membangun Tembok Berlin di Jakarta 6 Membangun Tembok Berlin di Jakarta 7 Membangun Tembok Berlin di Jakarta 8 Membangun Tembok Berlin di Jakarta 9 Membangun Tembok Berlin di Jakarta 10 Membangun Tembok Berlin di Jakarta 11 Membangun Tembok Berlin di Jakarta 12 Membangun Tembok Berlin di Jakarta 13 Membangun Tembok Berlin di Jakarta 14 Membangun Tembok Berlin di Jakarta 15 Membangun Tembok Berlin di Jakarta 16

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *