Belajar dari Masyarakat Kampung Naga dalam Memenuhi Kebutuhan Hidup Sehari-hari (1)

Wiwit Sri Arianti

 

Kampung Naga, selalu ada yang menarik untuk dipelajari di kampung yang terletak di Kabupaten Tasikmalaya ini, aku akan berbagi informasinya dengan saudaraku di rumah Baltyra. Namun sebelumnya aku harus berterimakasih khusus kepada Mas Iwan Satyanegara Kamah, karena postingan beliaulah maka sore ini aku tergerak lagi untuk menyusuri anak tangga di Kampung Naga yang pernah kujamak 25 tahun lalu.

Pada hari kedua tugasku di Kabupaten Tasikmalaya kupenuhi hasratku untuk menjenguk saudaraku sebangsa dan setanah air di Kampung Naga dan kebetulan pekerjaanku hari itu membuatku penat. Sehingga begitu selesai langsung tancap gas menuju kampung impian ketika mentari sudah mulai condong ke barat menuju peraduannya.

kampung-naga 1 (1)

Keberadaan Kampung Naga bisa diketahui dari luar dengan adanya Tugu Kujang Pusaka yang berdiri kokoh di lokasi tempat parkir di depan gang menuju Kampung Naga. Ketika kutanya kenapa disebut kampung naga, ternyata asalnya bernama kampung nagawir, yang berarti kampung di bawah tebing atau kampung di jurang. Untuk membuktikan kehadiranku pada semua orang, aku perlu narsis dulu di depan tugu sebelum menuruni 439 anak tangga menuju kampung Naga.

Ketika mendengar jumlah anak tangga yang begitu banyak disebut oleh Pak Ijad yang memandu perjalanan, kami sempat “awang-awangen” begitu kata orang Jawa atau ragu-ragu apakah masih kuat menapakinya. Kalau waktu turun sih pasti kuat, tapi pulangnya nanti kan pasti naik, itu yang membuat kami ragu. Tapi karena prinsip mumpung ada waktu dan lokasi sudah ada di depan mata, kalau tidak sekarang kapan lagi? Kalau nanti-nanti belum tentu punya waktu dan kalau direncanakan “thirik-thirik” atau rapi dan detil malah belum tentu dapat terlaksana. Akhirnya, Bismillah,…..kami bertiga ditemani dengan pemandu mulai menuruni anak tangga satu persatu seperti foto di bawah ini.

kampungnaga (2) kampungnaga (3)

Yang pasti anak tangga sudah lebih rapi, indah dan kuat terbuat dari batu alam, tidak seperti 25 tahun yang lalu ketika pertama kali aku menginjakkan kaki di sini. Begitu sampai di bawah, kita akan disambut dengan sejuknya pemandangan, sawah yang hijau terhampar laksana permadani dengan terasering yang indah berpadu dengan berbagai tanaman yang juga berdaun hijau segar padahal saat ini sudah mulai musim kemarau. Namun di kampung ini kita masih dapat menemukan pemandangan yang sangat menyejukkan. Di kampung Naga seperti tidak mengenal suasana kekeringan musim kemarau seperti daerah lain.

kampungnaga (4)

Padi merupakan tanaman yang wajib ditanam untuk memenuhi kebutuhan beras sebagai makanan pokok di kampung ini seperti sebagian besar masyarakat kita di pulau Jawa. Di kampung ini padi bisa ditanam 2x dalam setahun karena ketersediaan air yang mencukupi ditunjang dengan adanya irigasi yang baik. Jadi kalau soal makan nasi tidak perlu kuatir karena panen 2x dalam setahun masih berlebih bagi masyarakat sehingga di setiap rumah ada salah satu kamar yang difungsikan sebagai lumbung penyimpan bahan makanan selain lumbung bersama yang tersedia di kampung dan dapat dimanfaatkan bagi semua warga yang akan menyimpan padinya di lumbung umum. Di bawah ini foto sebuah rumah warga yang difungsikan sebagai lumbung padi umum.

kampungnaga (1)

Selain padi, kita juga bisa menemukan tanaman lain seperti pohon kelapa, aren, bambu, kapulaga, singkong, nanas, beberapa jenis tanaman sayuran dan lain-lain yang semua itu bermanfaat untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari seluruh warga bahkan berlebih sehingga sebagian bisa dijual yang hasilnya untuk membeli bahan makanan dan kebutuhan lain yang belum bisa mereka hasilkan sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan mereka akan minuman teh, mereka juga menanam sendiri pohon teh di kebunnya. Sungguh nikmat hidup di kampung ini di antara limpahan alam dan kesederhanaan masyarakatnya.

Di bawah ini foto gula aren dan beras merah organik dari hasil panen di sawah mereka yang dijual di toko souvenir bersama hasil kerajinan masyarakat yang sebagian juga kerajinan dari masyarakat di luar kampung hasil barter. Saya membeli gula aren dan beras merah untuk oleh-oleh, sudah saya masak dan makan bersama suami dan anak-anak, rasanya memang beda, lebih pulen dan enak.

kampungnaga (5) kampungnaga(2)

Masyarakat dapat membuat berbagai macam kerajinan dari bamboo berupa berbagai jenis anyaman seperti caping, tampah, tempat nasi, “tenggok” atau sejenis bakul besar tempat ibu-ibu membawa barang dengan digendong di punggung, tempat sampak, kukusan, dan lain-lain. Di rumah toko itulah (foto di atas) warga memasarkan barang-barang hasil kerajinanya kepada tamu-tamu yang datang berkunjung ke kampungnya. Sejatinya, semua tanaman yang tercipta di bumi ini ada manfaatnya, tinggal bagaimana upaya kita untuk mencari tahu dan menemukan berbagai manfaatnya.

Selain itu juga ada salah satu alat music mungil yang disebut dengan karinding. Proses pembuatan alat musik ini sangat lama, total waktu yang dibutuhkan selama 3 tahun 6 bulan dan hanya sedikit orang yang mampu membuat alat musik tradisional ini dengan suara yang indah. Menurut cerita Pak Ijad, proses pembuatan karinding dimulai dengan memilih bambu yang cukup tua supaya bisa menghasilkan bunyi yang indah dan awet. Pengambilan di kebun ada hitunganya dan memilih waktu yang tepat yaitu setelah jam 9 pagi atau tengah hari sehingga bambu sudah cukup kering dan tidak mengandung embun. Kenapa demikian? Karena kalau bambu diambil ketika masih ada embunnya akan mudah kena rayap sehingga mudah lapuk. Setelah menemukan pilihannya, bambu dipotong dan direndam di sungai selama 3 bulan, kemudian dijemur selama 3 bulan dan diasap selama 3 tahun, barulah kemudian dibentuk menjadi alat musik bernama karinding. Namun ternyata harganya tidak sebanding dengan proses pembuatan yang sangat lama dan membutuhkan keahlian. Satu karinding hanya dihargai Rp. 70.000. Di bawah ini foto karinding dan foto seorang teman (Fery) sedang mempraktekkan cara membunyikannya.

kampungnaga (6) kampungnaga (7)

Berikut ini foto pohon kapulaga dan buahnya setelah dijemur. Kapulaga merupakan salah satu tanaman penghasil uang dan sangat bermanfaat untuk campuran jamu dan penyedap masakan seperti masakan gulai, kare, rendang, dan mungkin masih ada jenis masakan lain.

kampungnaga (8) kampungnaga (9)

Setiap jengkal tanah di kampung ini termanfaatkan dengan baik, ini tepi jalan yang berhimpitan dengan rumah yang posisinya ada di bawah ditanami dengan nanas, cabe, pandan, kangkung, bunga tapak dara, pakis dan kencur. Semua tanaman tersebut bermanfaat sebagai sumber vitamin dan obat-obatan. Sedangkan di bawahnya ada kolam tempat ikan milik warga dan ada juga milik bersama yang akan dipanen untuk kebutuhan bersama warga. Mereka juga memelihara ayam dan kambing yang berfungsi sebagai tabungan jika sewaktu-waktu membutuhkan dana banyak, mereka dapat menjual kambingnya.

kampungnaga (10) kampungnaga(3) kampungnaga (11)

Inilah Kampung Naga dari jauh, meskipun letaknya ada di bawah namun tidak pernah kebanjiran, apalagi longsor dan kalau kemarau tiba tidak pernah kekurangan air. Kenapa bisa begitu? Baca lanjutannya ya…

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.