Roller Coaster Adventures with the Kenthirs: Unveiling Switzerland (2)

Sasayu – Jakarta

 

Artikel sebelumnya:

Roller Coaster Adventures with the Kenthirs: Unveiling Switzerland (1)

 

Yuhuu pembaca Baltyra, lanjutan kisah seru dari edisi jalan-jalan The Kenthir Sisterhood, sorry agak lama yaaa…

I HAD NOTHING

Panik….panik…panik…Semua tas diobrak-abrik untuk mencari si dompet. Sasayu langsung meminta Nonik menghubungi Ji Eun untuk mengecek siapa tahu dompet Sasayu jatuh di mobil teman pacarnya. Si Nonik juga langsung menghubungi pemilik rumah yang kami kunjungi untuk persekutuan doa. Kepala Sasayu langsung berputar cepat mengingat-ingat kronologi kejadian sebelum dompet Sasayu raib. Di otak langsung terpikir, kemungkinan terburuk adalah dompetku digondol copet di Bus no 3 dalam perjalanan menuju Central Station sebelum ke persekutuan doa. Gini nih kalau terlalu biasa tinggal di Finland yang super aman dan super jujur, level of awareness langsung terjun payung. Ga sadar aja donk ada yang merogoh-rogoh tas punggungku.

Bisa dibilang, isi dompet itu adalah hidup Sasayu, lupakan soal uang, kartu kredit, yang penting adalah ID card, residence permit, dan yang paling fatal PASSPORT. Semua pasti bilang, bodoh banget sih bawa passport di dalam dompet, masalahnya selama jalan-jalan apalagi naik kereta selalu diminta Passport untuk dicek dengan Swiss Pass, ya kutaro sekalian aja biar ga ribet, ga taunya berbuntut super ribet…haizzz. Males banget kan ya musti urus residence permit, apalagi pas udah mau kembali ke Indonesia, gimana nanti urus-urus surat kelulusan kalau student card raib juga…arghhh. Campur aduk beneran ini perasaan dan pikiran.

Malam itu juga Sasayu meninggalkan pesan melalui FB Duta Besar Indonesia untuk Helsinki dan beberapa kenalan di KBRI Helsinki, menerangkan keadaan Sasayu. Berterimakasih sekali kepada para staf KBRI Helsinki, karena mereka dengan sigap memberikan beberapa kontak yang bisa dihubungi di KBRI Bern, sekaligus mereka juga membantu menghubungi staf KBRI Bern. Karena keesokan harinya adalah weekend, tidak mungkin KBRI Bern buka, sehingga kami berencana Sabtu dan Minggu digunakan untuk melapor ke Polisi untuk mendapatkan surat kehilangan, sambil berharap siapa tahu dompetku ada di kantor polisi.

Pagi hari dilalui dengan muka sendu, galau-galau dan muka kusut karena susah tidur. Setelah berbenah sebentar, Nonik mengajak ke Central Station untuk melapor Polisi. Sesampainya di kantor polisi, ternyata kantor polisinya belum buka. Kami akhirnya menghubungi polisi lewat emergency intercom, dari situ kami dirujuk ke headquarter Polisi di Rue de Bern, yang ternyata daerah prostitusi gitu (karena masih pagi ya belum ada yang berkeliaran deh). Di kantor polisi, seorang polisi wanita dengan tampang suram menyambut kami. Sangat tidak helpful deh, mungkin karena udah bosan menangani dompet hilang. Mau tidak mau Nonik yang harus menerangkan kronologi kejadian karena si Polwan hanya mau berbahasa Perancis. Mungkin karena adrenalin, Perancisnya Nonik yang biasanya ada logat-logat medhok Jawa, langsung lancar gitu….keyennnnn.

Nonik banyak menanyakan bagaimana menangani prosedur dompet hilang. Menurut saran si Polwan judes, prosedur yang kami lakukan sudah benar. Setelah Police report-nya keluar, kami berusaha menyusuri tempat-tempat yang kemarin dikunjungi. Karena Ji-Eun belum memberi kabar apapun, kami memutuskan untuk mencari rumah temannya. Dengan ingatan semi-photographic Sasayu, kami berhasil menemukan apartment Richard (teman Ji-eun) untuk menanyakan siapa tahu dompetku jatuh di mobilnya dia. Naik ke lantai 6, Sasayu menebak-nebak apartment yang sehari sebelumnya Sasayu kunjungi, agak ragu-ragu waktu menekan bel pintu. Ternyata benar saja itu apartmentnya, disambut dengan muka baru bangun dan masih menggunakan piyama, Richard sangat surprised pagi-pagi kedatangan tamu tak diundang. Hasilnya nihil, di mobilnya pun tak ada dompetnya Sasayu. Setelah mengucapkan maaf dan terimakasih, kami pamit. Dalam perjalanan pulang, kami juga mengorek-ngorek tong sampah, berharap ada yang membuang dompet Sasayu. Pencarian kami sebagai wallet hunter di tong sampah juga nihil…hikz.

Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke apartemen Nonik. Yang luar biasa dari Nonik, setiap berpapasan dengan Polisi atau security, Nonik pasti berkonsultasi tentang dompet hilang. Nonik sempat menanyakan apakah mungkin dompetnya diketemukan, Pak Polisi dengan pragmatis menyarankan untuk merelakan si dompet sambil menjelaskan modus operandi pencopet yang biasanya langsung membuang dompet ke danau Leman (danau terbesar di Swiss)….huwaaa masa Sasayu musti menyelam ke danau. Tambah hopeless ga bakal ketemu.

Untuk menghibur Sasayu, Nonik memutuskan untuk mengadakan acara masak-masak merayakan Chinese New Year. Dia dengan sukarela menggunakan voucher hadiah pemberian temannya untuk membeli bahan-bahan makanan di Manor Supermarket…hikzz terharu. Ngerti banget deh Nonik kalau Sasayu butuh pelampiasan di dapur. Setelah muter-muter mencari bahan, Sasayu memutuskan untuk memasak Nasi Ayam Hainam, Iga Babi Kecap dan pomegranate salad. Nonik pun mengundang beberapa temannya untuk meramaikan suasana sekaligus biar Sasayu ga mellow-mellow banget.

Potong malingnya….eh potong ayamnya

Potong malingnya….eh potong ayamnya

 

Finding My Peace in God

H+2 kehilangan dompet masih bangun pagi dengan muka kusut. Bergegas kami menyiapkan diri untuk pergi ke gereja. Nonik mengajak Sasayu pergi ke gereja internasional; Church for the Nations, gereja inter-denominasi yang jemaatnya sebagian besar berasal dari Filipina dan negara-negara Afrika. Tipe gerejanya Nonik hampir sama dengan gerejanya Sasayu di Helsinki so I felt comfortable with the worship and the sermon. Memasuki kotbah, si pendeta kok ya pas membahas tentang paspor dan identitas penghuni rumah Tuhan (lahhh bikin gw galau lagi teringat paspor yang hilang).

Hidup itu memang lucu dan ironis, kita baru mendekatkan diri dengan sang Khalik di saat-saat kita mengalami masa-masa sulit. Padahal pada saat masa-masa senang yang jelas merupakan anugerah Tuhan, seringkali kita lupa mengucapkan syukur. Agak kurang ajar menurut pemikiran Sasayu, meminta Divine Power pada saat kita susah (loe kira Tuhan itu call girl?). Well, pada saat itu Sasayu pasrah aja sih, yang Sasayu minta biar liburan tetap menyenangkan dan biar Nonik ga ikutan kisruh. Akhir kebaktian Sasayu didoakan oleh Ibu Pendeta yang mendoakan agar passportnya bisa ditemukan dan semua berjalan lancar. Amennnn!

Sepulang gereja, waktu kami habiskan dengan mencoba berbagai makanan yang dijual di alun-alun dekat apartment si Nonik. Yang unik, ada satu kios yang sangat panjang antriannya, ternyata kios ini menjual falafel. Menurut Nonik, yang berjualan adalah pasangan suami-istri, si suami berasal dari Israel sedangkan istrinya berasal dari Palestina (bukti bahwa dua negara itu ga selamanya ribut). Dengar-dengar pemilik-pemilik kios yang lain berusaha mengusir pasangan suami-istri ini karena kios-kios lain tidak laku. Anyway, Sasayu ikutan mengantri dan mencoba falafel bikinan si Ibu. Falafelnya dibuat fresh di depan pelanggan dan memang rasanya sungguh maknyus, rasa hummusnya juga sangat lembut dan creamy. Selanjutnya kita coba-coba Kurtos (Hungarian chimney bread), disebut chimney bread karena tengahnya memang berlubang membentuk cerobong. Cara membuatnya, adonan roti dililit di silinder kayu lalu dipanggang di oven yang berputar. Pertama kali Sasayu mencoba Kurtos sebenarnya malah di KBRI Helsinki, ada satu Ibu Indonesia yang baru kembali jalan-jalan dari Hungaria dan dengan amat niatnya khusus membeli oven listrik Kurtos.

Eating on Sunday

Eating on Sunday

 

Bern : Speedy Documents and A Good Samaritan

Mengawali hari dengan lebih tenang. Mencoba peruntungan, kami berjalan menuju Lost and Found, siapa tahu ada yang berbaik hati mengembalikan dompet Sasayu, ternyata hasilnya nihil. Kami berjalan menuju Central Station, berharap perusahaan kereta mau mengganti tiket yang hilang dengan menunjukan laporan kehilangan dari polisi. Setelah agak lama berdiskusi, ternyata tiket kereta memang tidak bisa diganti. Alhasil Sasayu harus mengeluarkan kira-kira €200 lagi untuk tiket kereta, tambah tongpes dehhhh.

Langsung saja kami bergegas melanjutkan perjalanan ke Bern untuk mengurus paspor yang baru. Dalam perjalanan, handphone Sasayu berdering. Ternyata dari Finland Embassy, mereka dengan sangat baik hati berniat membantu kehilangan residence permit Sasayu. Sehari sebelumnya, Sasayu memang meninggalkan pesan di Facebook dan email mereka. Pesan mereka, setelah mendapatkan paspor yang baru, bisa segera mampir ke Finland Embassy. Perhatian mereka patut diacungi jempol, mengingat Sasayu bukan warga negara Finland.

On train - Pemandangan menuju kota Bern, ada yang berumput hijau, ada yang masih bersalju

On train – Pemandangan menuju kota Bern, ada yang berumput hijau, ada yang masih bersalju

Sesampainya di KBRI Bern, kami mengklarifikasikan kembali maksud kedatangan kami. Pihak KBRI Bern sudah mengetahui karena sudah dihubungi sebelumnya oleh KBRI Helsinki. Awalnya Sasayu diberi instruksi oleh Duta Besar Indonesia di Helsinki untuk membuat surat jalan saja, yang akan diganti paspor sekembalinya ke Helsinki. Setelah berdiskusi kembali, diputuskan untuk membuatkan paspor baru untuk Sasayu. Cukup ragu-ragu karena pasti lebih lama untuk membuat paspor, di Helsinki saja butuh waktu 3 hari. Salah satu staff meyakinkan akan jadi hari itu karena memang diprioritaskan. Bersiap menunggu beberapa jam, ternyata 20 menit kemudian paspor Sasayu sudah jadi, WOW! Seriously, that was the fastest passport ever made for me if not anyone! Masih hangat pula waktu ditandatangani…angkat jempol untuk KBRI Bern dan KBRI Helsinki.

Ngurus dokumen berlanjut ke Finland Embassy, setelah melihat detil masalahnya, sebenarnya mereka tidak bisa membantu banyak. Karena Sasayu akan kembali menggunakan Finnair, pihak Embassy memberikan contact person yang bisa dihubungi untuk mengurus masalah Sasayu. Setelah dihubungi, sudah dipastikan tidak ada masalah untuk kembali ke Helsinki.

Waktu menunjukkan Pk. 15.00, langit masih terang dan masih banyak waktu yang bisa digunakan. Kami memutuskan untuk jalan-jalan sejenak melihat kota Bern. Nonik membawa Sasayu ke Old Town sambil berhenti sesekali untuk bernarsis ria (buat laporan si Mbok bahwa anaknya tetap utuh dan bisa tersenyum walaupun dompetnya raib). Berjalan menyusuri beberapa toko, ternyata kita melewati Einstein House. Wuihh, langsung saja jiwa kutu buku Sasayu bangkit, tentu saja membujuk Nonik untuk mampir ke rumahnya Einstein. Sebenarnya pas kita masuk, sudah dekat closing time, cuma tidak ada salahnya mencoba. Kami disambut oleh satu Ibu yang kelihatan sangat bersahaja, namanya Ibu Verena. Sasayu bertanya apakah tiket kereta Sasayu bisa digunakan sebagai tiket masuk, ternyata karena Einstein House bukan museum, jadi tiket kereta Sasayu tidak berlaku. Karena kita masih berstatus pelajar, sebenarnya harga tiket tidak terlalu mahal CHF 4.5 saja. Akhirnya Nonik membayar tiket untuk kami berdua.

Sambil memberikan kembalian, Ibu Verena sedikit bercanda berceletuk ke Sasayu, ”Seems, you have to treat your friend, she paid your ticket.” I said, ”Well, I need to treat her everything, since after someone took my wallet away, she basically takes care of me.” Mendengar sedikit cerita Sasayu, Ibu Verena wanti-wanti untuk berhati-hati pelesir di Swiss, terutama di Geneva, karena dengan derasnya arus imigran, semakin banyak kasus kriminal, terutama dari kaum-kaum Romani (no intention to be stereotypical). Kami akhirnya berkenalan dan obrolan pun berlanjut. Setelah mengetahui bahwa kami dari Indonesia, Ibu Verena bercerita bahwa waktu dia masih muda, cantik dan kinyis-kinyis dia sering ke Indonesia bekerja sebagai tour guide. Beliau sering membawa turis-turis dari Swiss untuk berkeliling Jawa dan Bali.

Lalu dia menceritakan pengalaman saat membawa 30 turis ke Bandung dengan menggunakan kereta. Seturunnya dari kereta, mereka dibantu oleh 3 orang porter untuk mengangkut koper-koper. Ternyata oh ternyata, 3 pemuda ini malah membawa kabur tas Ibu Verena yang berisi paspor dan uang sebesar CHF7000!! Uang sebanyak itu akan digunakan untuk membayar biaya akomodasi dan biaya makan ke 30 turis itu. Walah jian, berapa sih kemungkinannya bertemu orang secara acak yang pernah mengunjungi negara masing-masing sekaligus sama-sama kecopetan. Tentunya Ibu Verena akhirnya bisa kembali ke Swiss atas bantuan teman dan kenalan di Indonesia dan di Embassy, walaupun nyaris terdampar dan kejar-kejaran pesawat di Bali akibat paspor baru yang belum ada capnya.

Karena waktu tutup sudah semakin mendekat, kami pamit untuk mulai melihat-lihat Einstein House. Lalu Ibu Verena bilang ”Wait for a while”. Terus si Ibu ngubek-ngubek lemari dan laci, dan tiba-tiba menyerahkan selembar uang CHF 20 ke Sasayu. Nonik dan Sasayu ndlongop sejenak, dan tidak terasa Sasayu meneteskan air mata. Tentu saja Sasayu menolak pemberian si Ibu, but she insisted saying ,”I know how it feels to be in a foreign country and have nothing left, so please take this, it’s not much but you can spend it for a decent meal.” Selanjutnya Ibu Verena meminta bukti pembayaran tiket kami dan mengembalikan uang tiket kami. Tambah geleng-geleng, Truly bless her soul!!

Einstein House

Einstein House

 

Untuk akhir cerita jalan-jalan Swiss, to be continued….

 

 

About Sasayu

Dari kecil passion'nya adalah makanan, bahkan sampai cicak pun dilahapnya tanpa basa-basi. Petualangannya melanglang buana, menjelajah benua Eropa mengantarnya meraih gelar dan ilmu dalam Food Technology dan Food Science. Setelah lulus dari Helsinki, kembali ke Tanah Air untuk melanjutkan kerajaan kecil keluarga: PONDOL - Pondok Es Cendol, spesialis masakan Jawa Tengah yang cukup melegenda di Jakarta.

Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.