[Cerita Rakyat Buttasalewangang] Biseang Labboro

Hajrah Kadir

 

once-upon-a-time

Tersebutlah sebuah kerajaan yang sangat terkenal keramatamahan penduduknya, kecantikan gadis-gadisnya, ketampanan para pemuda, serta kekayaan alam yang melimpah. Kerajaan itu bernama Samanggi.

Salah satu desa di Kerajaan Samanggi, yaitu desa Samanggi, hiduplah sebuah keluarga yang tergolong kaya. Ayahnya bernama Manyyaurang dan ibunya bernama We Pananreng. Memang, keluarga itu masih satu garis keturunan dengan kerajaan Bone. Karena Kerajaan Bone dan Kerajaan Marusu masih dalam satu ikatan darah.

Keluarga Manyyaurang memiliki 3 orang anak perempuan. Anak sulung bernama Pancai, Tenrigangka, dan si bungsu bernama Cimpau. Ketiga anak gadis itu sangat patuh dan taat kepada kedua orang tuanya. Meskipun mereka bergelimang harta, namun, mereka mengerjakan sendiri seluruh pekerjaan rumah.

Agar tidak menimbulkan kecemburuan, maka mereka sepakat untuk membagi pekerjaan. Si sulung mengerjakan semua pekerjaan di dapur. Anak kedua membersihkan rumah bagian dalam, sedangkan si sulung membersihkan pekarangan rumah dan merawat taman. Kedua orang tua mereka sangat bahagia memiliki anak gadis yang rajin dan cantik-cantik.

Ketika ayam berkokok, sebagai tanda sang dewa siang akan menampakkan wajahnya di ufuk timur, si sulung Pancai, Tenrigangka, dan Cimpau bergegas bangun dari peraduannya. Si sulung bergegas mengambil beras, lalu menanaknya. Setelah itu, dia memanaskan air untuk membuatkan kopi dan teh hangat untuk ayah dan ibunya. Tenrigangka segera mengambil sapu, lalu menyapu dan mengepel seluruh bagian rumahnya. Si bungsu Cimpau mengambil sapu lidi, lalu membersihkan halaman, kemudian menyiram bunga-bunga yang ada di taman, dan merawatnya.

Pagi menjelang, pekerjaan mereka pun telah selesai. Mereka bercengkeramah di beranda rumah sambil menikmati hidangan yang telah mereka buat. Betapa rukun dan bahagianya keluarga itu.

Keluarga Manyyaurang, terkenal sebagai keluarga yang dermawan. Meskipun mereka memiliki kekayaan, namun dia tidak sombong. Mereka selalu menyedekahkan sebagian hartanya kepada orang yang membutuhkan. Selain itu, ketiga anak gadis Manyyaurang meskipun cantik dan berkecukupan, namun mereka tidak sombong. Dalam bergaul pun, mereka tidak memilih teman. Mereka bergaul dengan gadis-gadis seumur mereka yang ada di sekitarnya. Setiap sore, gadis-gadis tersebut bercengkeramah di rumah keluarga Manyyaurang.

Kekompakan keluarga Manyyaurang, tentunya menjadi buah bibir bukan hanya masyarakat di desa Samanggi, akan tetapi sampai di tetangga desa. Kecantikan dan keluhuran budi putri-putri Manyyaurang sangat tersohor di kalangan pemuda khususnya dan masyarakat Samanggi umumnya. Dan tidak sedikit dari mereka ingin mempersunting salah satu dari mereka.

Tersebutlah seorang pemuda yang bernama La Paranreng, ingin mempersunting putri Manyyaurang yakni Pancai. La Paranreng adalah anak seorang bangsawan dari Desa Pakalu. Keinginan La Paranreng, disampaikan kepada ayahandanya. Desakan La Paranreng kepada ayahandanya semakin besar. akhirnya ayahanda La Paranreng memberanikan diri untuk meminang Pancai.

Ayahanda La Paranreng mengutus salah seorang pengawalnya untuk menyampaikan pesan kepada keluarga Manyyaurang bahwa mereka akan datang untuk meminang salah seorang putrinya.

Hari telah ditetapkan untuk kunjungan ke rumah keluarga Manyyaurang. Iring-iringan pun tiba di Desa Samanggi. Masyarakat Samanggi tertegung menyaksikan iring-iringan tersebut. Iring-iringan mulai memasuki pekarangan rumah mewah itu. Mereka disambut dengan ramah oleh keluarga Manyyaurang. Dengan tutur kata dan senyuman yang sangat bersahabat, mereka saling berpelukan.

Aji Pawewang, ayahanda La Paranreng memulai pembicaraan dengan mengemukakan maksud kedatangan mereka. ”Adapun maksud kedatangan kami adalah untuk meminang putri anda, Pancai”, kata Aji Pawewang, ayahanda La Paranreng.

Sambil tersenyum, Manyyaurang menerima pinangan tersebut. ”Aku terima pinanganmu, Aji Pawewang. Kerena aku sudah tahu siapa dirimu, begitu juga anakmu”, jadi tidak ada alasan untuk menolak pinanganmu”.

Aji Pawewang dan Manyyaurang dua orang sahabat yang telah lama tak bersua. Mereka akhirnya akan dipertemukan menjadi besan. Manyyaurang memanggil Pancai untuk mendengarkan persetujuannya. ”Saya menyerahkan semuanya kepada ayahanda, apa yang terbaik untuk ayahanda dan keluarga, itu juga yang terbaik untuk saya, kata Pancai”.

Setelah itu, mereka membicarakan hari pelaksanaan pesta pernikahan antara Pancai dan La Paranreng. Akhirnya kata sepakat pun dicapai, yakni 3 bulan dari hari pinangan. Setelah menikmati hidangan, rombongan pun bergegas pulang.

Pancai mempersiapkan diri untuk hari bahagia itu. Tenrigangka dan Cimpau pun membantu kakaknya mempersiapkan segalanya.

Suatu hari, diadakan hajatan di istana kerajaan Simbang. Tenrigangka dan Cimpau, mendapat undangan pada hajatan tersebut. Hajatan itu, akan dihadiri oleh para raja dan putra raja dari kerajaan tetangga.

Hari yang telah ditentukan pun tiba. Seluruh undangan berdatangan dari penjuru kerajaan, begitu pula dari kerajaan tetangga. Mereka tampak gagah, berwibawa dan cantik-cantik dengan pakaian kebesaran mereka masing-masing. Tamu terus berdatangan memenuhi pendopo istana.

Meskipun bukan dari keturunan raja yang ada di Maros, akan tetapi Tenrigangka dan Cimpau mendapat kehormatan tersendiri, karena dipandang sebagai orang yang punya andil dalam pembangunan kerajaan di Samanggi. Tenrigangka dan Cimpau, tak kalah cantik dan anggunnya dengan para putri raja.

Tenrigangka dan Cimpau dengan anggunnya, duduk di deretan kursi para tamu. Senyuman dari bibir Tenrigangka dan Cimpau, menambah aura kecantikan mereka.

Para pemuda, tak bosan-bosannya memandangi mereka. Bahkan tak segan-segan, ada yang bertanya kepada Raja Samanggi, siapa gerangan kedua orang itu. ”Siapa gerangan kedua orang itu,”? kata salah seorang putra raja dari kerajaan Cenrana. Sang Raja menjawab, ”Mereka adalah Tenrigangka dan Cimpau”. ”Mereka putri dari saudagar terkaya di Kerajaan Samanggi ini”. ”Nama orang tuanya adalah Manyyaurang”. Silih berganti para pemuda menanyakan kedua gadis itu.

Pesta pun usai. Para pemuda kembali ke rumah masing-masing dengan pikiran tak menentu. Mereka panasaran. Mereka menginginkan salah satu dari putri itu. Salah seorang dari mereka yang memiliki keinginan yang sangat besar adalah putra Raja Cenrana. Keinginannya itu disampaiakan kepada ayahandanya, Raja Cenrana. Akhirnya Raja Cenrana mengabulkan keinginan anaknya untuk meminang salah satu dari mereka.

Raja Cenrana mengutus pengawalnya untuk menyampaikan keinginannya meminang putri Manyyaurang. Berangkatlah utusan itu. Setelah memdapat kata sepakat, utusan itu pun pulang ke kerajaan Cenrana untuk menyampaikan pesan dari keluarga Manyaurang.

Keesokan harinya, iring-iringan dari kerajaan Cenrana pun tiba di rumah Manyyaurang. Dalam rombongan itu, ikut pula putra raja Cenrana. Mereka disambut dengan ramah dan penuh kekeluargaan oleh Manyyaurang, Pananreng, dan kedua anaknya yakni Tenrigangka dan Cimpau. Para tamu yang hadir terpana melihat kecantikan Tenrigangka dan Cimpau. Manyyaurang memperkenalkan kedua putrinya. ” Tenrigangka adalah putriku yang kedua dan Cimpau adalah putri bungsunku”’ kata Manyyaurang (sambil menunjuk Tenrigangka dan Cimpau).

Sesampai di rumah keluarga Manyyaurang, Raja Cenrana menyampaikan maksud kedatangan mereka. ”Maksud kedatangan kami ke sini, untuk meminang putri kedua anda”, kata Raja Cenrana. Putra Raja Cenrana menginginkan Tenrigangka untuk dijadikan permaisuri. Kata sepakat pun dicapai. Pernikahan akan dilangsungkan 3 bulan dari hari pinangan. Kata sepakat itu dicapai berdasarkan pertimbangan, bahwa pernikahan akan dilangsungkan bersamaan dengan pernikahan Pancai. Setelah menikmati suguhan, rombongan pun meninggalkan rumah Manyyaurang.

Berita kecantikan putri-putri Manyyaurang, terdengar sampai ke tanah Cina. Nun jauh di negeri Cina, ada seorang saudagar yang sangat kaya, bernama Chip Pheng. Saudagar itu sangat tertarik mendengar berita kecantikan putri-putri Manyyaurang. Menurut berita yang dia dengar, bahwa putri-putri Manyyaurang bukan hanya cantik secara lahir, akan tetapi memiliki tutur kata, dan prilaku yang sangat bersahaja. Chip Pheng ingin sekali melihat secara langsung kecantikan mereka. Pada saat itu, Chip Pheng sedang mencari seorang istri.

Setelah berfikir matang, akhirnya Chip Pheng menyampaikan hasratnya itu kepada kedua orang tuanya. Kedua orang tua Chip Pheng tidak menyetujui putranya pergi sampai ke tanah Bugis mencari calon istri. Kedua orang tua Chip Pheng menentang keberangkatan putranya. Namun, karena tekadnya sudah bulat untuk mencari istri di tanah Bugis, maka Chip Pheng pun pergi meninggalkan kedua orang tuanya. Sebelum berangkat, Kedua orang tua Chip Pheng berpesan, ”Jangan menginjakkan kakimu di tanah Cina, sebelum kamu membawa gadis Bugis yang kamu rindukan itu”. ”Jika kamu gagal, maka lebih baik kamu tidak kembali ke tanah Cina”. Demikian pesan Kedua orang tua Chip Pheng.

Dengan berlinang air mata Kedua orang tua Chip Pheng, melepaskan putranya. Kedua orang tua Chip Pheng membekali anaknya dengan keperluan yang akan digunakan jika akan menikah nanti. Berkarung-karung beras, peralatan dapur (piring, sendok, mangkok, panci), perhiasan, semua diikutsertakan, sebagai mahar kepada calon mempelai. Selain itu, Kedua orang tua Chip Pheng, membekalinya dengan pengawal sebanyak 5 orang sebagai teman di perjalanan dan di Negeri Bugis kelak.

Kapal yang ditumpangi oleh Chip Pheng bergerak menjauhi negeri kelahiran Chip Pheng, menghampiri sebuah negeri, yakni negeri Bugis. Negeri yang menjanjikan sebuah kehidupan dan harapan baru bagi Chip Pheng. Kapal pun terus menjauh, menjauh, menjauhi negeri Cina dan akhirnya kapal itu lenyap ditelan bumi.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dengan perjuangan menentang badai, melawan bajak laut yang setiap saat menghadangnya. Namun, semuanya dapat dihalau, berkat lindungan dan doa dari kedua orang tua Chip Pheng. Sampailah Chip Pheng di sebuah tempat yang sangat asing baginya.

Setelah mendapat petunjuk dari beberapa orang yang ditemuinya, maka Chip Pheng tiba di Kerajaan Samanggi. Tak henti-hentinya Chip Pheng bertanya dan meminta keterangan dari masyarakat yang ditemuinya ”Di manakah letak dari rumah Pancai, Tenrigangka, dan Cimpau?

Setelah mendapat keterangan yang lengkap, maka Chip Pheng langsung menuju rumah yang dimaksud. Betapa terkejut keluarga Manyyaurang menerima tamu tersebut. Apalagi mereka menganggap tamu itu adalah tamu asing.

Setelah mempersilakan masuk, Manyyaurang menanyakan maksud kedatangannya. ”Apakah maksud kedatangan Tuan, sehingga jauh-jauh meninggalkan negeri Tuan?”. Chip Pheng lalu menjelaskannya. ”Nama saya Chip Pheng. Saya berasal dari Cina”. ”Di Negeri Cina, saya mendengar bahwa di tanah Bugis ada sebuah keluarga yang memiliki 3 orang putri yang sangat cantik dan berbudi. Saya ingin bertemu mereka”. ”Adapun maksud kedatangan saya adalah ingin memilih salah satunya, untuk kujadikan istri”, Kata Chip Pheng menjelaskan.

Betapa terkejutnya Manyyaurang mendengar penuturan orang asing itu. Tak pernah terbayang dalam pikirannya, bahwa kecantikan putri-putrinya serta keluhuran budinya, tersebar sampai ke Negeri Cina.

”Saya sangat menghargai usaha dan pengorbanan dari Chip Pheng,” Kata Manyyaurang. ”Namun dengan berat hati, saya harus katakan, bahwa ketiga putriku telah dilamar dan telah menentukan tanggal pernikahannya”, Kata Manyyaurang kepada Chip Pheng.

Sambil meneteskan air mata, Manyyaurang mengusap rambut dan dahi Chip Pheng. Manyyaurang membayangkan perjalanan Chip Pheng dari Negeri Cina menuju Samanggi hanya untuk mendapatkan calon istri. Namun, sesampai di tanah Bugis, hanya kekecewaan yang didapatkan.

Chip Pheng hanya tertunduk sambil menangis, menyesali keterlambatannya. Dia teringat akan sumpah yang telah diucapkan oleh kedua orang tuanya.

”Jodoh, mati, dan reski, telah diatur oleh Sang Pencipta”, kata Manyyaurang. Chip Pheng terus menangis dan menangis. Tak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya. Manyyaurang juga tak dapat menahan air matanya.

Hening, tak ada kata yang terucap, baik dari mulut Chip Pheng maupun dari mulut Manyyaurang. Akhirnya, ”Kalau begitu, saya mohon diri”, Kata Chip Pheng memecah keheningan. ”Saya tidak akan pulang ke Negeri Cina”. ”Karena kedua orang tuaku telah melontarkan sumpah, jika saya tidak membawa istri dari Negeri Bugis, kedua orang tuaku tak akan menerimaku kembali”, lanjutnya.

Akhirnya, Chip Pheng pamit. Manyyaurang hanya berharap Chip Pheng bisa mendapatkan calon istri dari negeri Bugis yang lain. Mereka saling berpelukan. Sebuah perpisahan yang sangat memilukan. Chip Pheng melangkah meninggalkan rumah itu, dengan sejuta kepedihan. Manyyaurang mengantarnya sampai ke halaman. Manyyaurang memandanginya sampai lenyap di tikungan jalan.

Sepulang dari rumah Manyyaurang, Chip Pheng langsung menuju kapalnya. Kekecewaan meliputi hati dan perasaannya. Para pengawalnya yang sejak tadi menyertainya, dapat merasakan kekecewaan dan kepiluan hati majikannya. Chip Pheng menuju kamar dan menutupnya. Dua hari dua malam Chip Pheng tak keluar kamar, sehingga menimbulkan kekhawatiran para pengawalnya. Salah seorang pengawalnya berusaha mengetuk pintu kamarnya, namun lama tak ada jawaban.

Malampun tiba, Chip Pheng keluar kamar dan memerintahkan nahkoda untuk melanjutkan perjalanan. Namun, entah ke mana arah dan tujuan yang diinginkan. Kapal tersebut dijalankan tanpa arah. Akhirnya, Chip Pheng memerintahkan kepada nahkoda untuk mengaramkan atau menenggelamkan kapal yang ditumpanginya. Betapa terkejut para pengawal mendengar perintah dari majikannya. Namun, itu adalah perintah yang harus dipatuhi.

Sejalan dengan itu, petir dan halilintar bergemuruh. Badaipun datang menghantam kapal milik Chip Pheng. Kapal tersebut terpelanting dan terbalik. Badai itu berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Banjir pun menggenangi sebagian besar kerajaan Samanggi. Dan ketika hujan reda dan banjir pun mulai surut, masyarakat terkejut karena ditemukan bongkahan batu yang menyerupai kapal di dua tempat yang letaknya tidak berjauhan. Di dalam bongkahan batu itu juga ditemukan tumpukan batu yang menyerupai karung yang tersusun rapih. Selain itu, juga ditemukan serpihan-serpihan batu yang menyerupai piring dan sendok.

Manyyaurang mencocokkannya dengan peristiwa yang baru saja dialaminya, ternyata Chip Pheng betul-betul tidak kembali ke negara asalnya, tetapi dia meneggelamkan kapalnya. Manyyaurang sangat sedih menyaksikan peristiwa itu, dan menyesali apa yang telah dilakukan oleh Chip Pheng.

Berdasarkan cerita dari Manyyaurang, maka masyarakat Samanggi menamakan ”Biseang Labboro” yang berarti perahu yang ditenggelamkan atau yang dikaramkan.

Sampai saat ini, tempat itu masih sering dikunjungi oleh masyarakat etnis Cina. Dan masyarakat masih dapat menyaksikan bongkahan batu yang menyerupai kapal terdampar.

Pemerintah Kabupaten Maros menjadikan tempat itu sebagai objek wisata yang memiliki keindahan alam yang sangat menakjubkan. Dapat disimpulkan bahwa pada zaman dahulu, bumi Samanggi dan sekitarnya digenangi oleh air laut.

 

Note Redaksi:

Hajrah Kadir, selamat datang dan selamat bergabung di rumah kita bersama: BALTYRA! Make yourself at home ya, semoga betah dan kerasan. Ditunggu artikel-artikel lainnya ya… Terima kasih pak Handoko Widagdo yang sudah mengajak Ibu Hajrah Kadir untuk bergabung di BALTYRA!

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.