Memburu Kopi Telungkop (1): Terjebak Longsor di Gunung

Handoko Widagdo – Solo

 

“Kali ini kita ke Pantai Barat Pak. Nanti kita nikmati kopi telungkop,” demikian berita yang saya dapat dari rekan kerja di Banda Aceh. Kopi telungkop? Kopi apalagikah ini? Memang Aceh kaya dengan kopi. Ada kopi Ulee Kareng, Gayo dan sederet kedai kopi di Kota Banda Aceh yang tak asing di telingan saya. Tapi kopi telungkop? Harus aku akui bahwa nama kopi ini baru sekali ini aku dengar. “Nanti saja Pak, saat kita menikmatinya di Meulaboh, Bapak pasti terkesan,” jelas rekan kerja saya saat saya desak untuk memberi penjelasan tentang kopi telungkop.

Saat masih menunggu pesawat di Cengkareng, tilpon saya berbunyi: “Sudah siap berangkat Pak? Kemarin ada longsor dan beberapa tiang listrik tumbang di atas Pantai Lampuu, semoga sekarang sudah diperbaiki. Sejak kemarin hujan terus Pak.” Saya menjawab bahwa sebentar lagi pesawat akan berangkat ke Aceh. Teman saya bilang bahwa dia akan menjemput saya di Bandara Sultan Iskandar Muda. Tidak lupa dia menjanjikan untuk berhenti menikmati pantai sambil minum kopi di perjalanan dari Banda Aceh ke Calang.

Perjalanan Jakarta – Banda Aceh sangat nyaman. Saat mendarat kami disambut kerimis yang semakin deras. Tepat jam 4 sore kami berangkat dari Banda Aceh menuju Calang. Sepanjang perjalanan diguyur hujan. Pantai Lampuu terlihat sepi. Tak ada pengunjung dan kedai-kedai kopi serta warung ikan bakar semua tutup. Mungkin karena hujan yang semakin deras. “Kita minum kopi di Pantai Geurute, pemandangannya bagus Pak. Kita bisa langsung lihat pantai. Semoga hujan sudah reda ya Pak,” teman saya mencoba menghibur karena kami gagal menyeruput kopi di Lampuu.

telungkop1 (1) telungkop1 (2)

Setelah melewati pabrik semen, kami mendaki jalan tembus yang dibangun oleh USAID. Jalan ini awalnya diperkeras untuk memperlancar distribusi saat tsunami. Kini jalan tersebut telah beraspal mulus. Jika dulu perjalanan ke Meulaboh memerlukan waktu 8-12 jam, sekarang bisa ditempuh dalam waktu 5 jam saja. Saya kaget ketika melihat kabel listrik tegangan tinggi terserak di jalan. Beberapa tiang listrik tumbang. Ada yang masih miring ke jalan, ada pula yang sudah disingkirkan ke tepi jalan. Di beberapa tempat kami melihat pohon yang tumbang dan batu-batu yang menyerak di jalan terbawa arus air yang sangat deras. Mobil mulai tersendat karena mobil-mobil yang di depan kami melambat. Beberapa saat kemudian mobil kami benar-benar berhenti. Kami tidak tahu apa yang terjadi di depan. Sebuah mobil backhoe mendahului kami. Kami sadar bahwa di depan ada longsor yang cukup besar. Dua mobil rombongan kami yang 30 menit lebih dulu berangkat menyampaikan lewat SMS bahwa jalan longsor parah.

telungkop1 (3)

Setelah delapan jam terjebak di gunung tanpa makanan, akhirnya kami mendapatkan warung makan yang masih buka. Kami segera saja memesan apa saja yang masih ada. Warung masih ramai karena banyak penduduk setempat yang menonton pertandingan Real Madrid di TV. Jam sudah menunjukkan pukul 11.30 malam. Segera setelah menghabiskan seporsi besar nasi goreng dengan ikan gembung, kami melanjutkan perjalanan. Sampailah kami dengan selamat di hotel di Kota Calang yang sudah terlelap.

Sampai di sini, belum juga kopi telungkop terungkap jati dirinya.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *