Malindo Feedmill, Kinerja Saham Tertekan, Wajarkah?

Agus Benzaenuri

 

Malindo Feedmill, Tbk. (MAIN) mencatatkan penurunan saham signifikan hingga 27,30% sejak sebulan terakhir pasca rilis laporan keuangan yang menunjukkan penurunan laba hingga 92,35%, wajarkah?

MAIN mencatatkan penurunan laba bersih hingga 92,35% menjadi  Rp 18,53 miliar meskipun pendapatan masih menunjukkan kenaikan hingga 9,22% menjadi Rp 3,40 triliun.

Yahoo Finance: Perbandingan MAIN, CPIN, JPFA

Yahoo Finance: Perbandingan MAIN, CPIN, JPFA

Yahoo Finance: Perbandingan MAIN, CPIN, JPFA

Yahoo Finance: Perbandingan MAIN, CPIN, JPFA

Selain MAIN, dua emiten pakan ternak lainnya yang membukukan penurunan kinerja keuangan, juga mencatatkan penurunan pergerakan saham di pasar, namun tidak sesignifikan yang terjadi pada MAIN.

Charoen Popkhand (CPIN) tercatat turun 1,04% sejak sebulan terakhir, Japfa Comfeed (JPFA) melemah 8,12% pasca rilis penurunan kinerja pada triwulan ketiga ini, sementara MAIN membukukan penurunan hingga 27,30% sejak sebulan terakhir.

Kami melihat pergerakan saham MAIN yang bisa dikatakan abnormal ini terkait dengan transaksi modal dan aksi korporasi yang terjadi sejak April lalu, dimana saat itu MAIN melakukan non-preemptive right issue dan dilanjutkan pemindahan kepemilikan saham dari Dragon Amity Ltd., kepada Dragon Amity Pte. Ltd., yang meskipun keduanya masih di bawah kendali keluarga Lau.

Saat ini pemegang saham pengendali adalah Dragon Amity dengan prosentase kepemilikan sebesar 55,93% dan kepemilikan saham terhadap publik sebesar 44,07%.

Transaksi saham MAIN:

  1. MAIN melaksanakan non-preemptive right issue pada 18 April 2014 dengan harga pelaksanaan Rp 3.500 atau sedikit premium dengan harga rata-rata penutupan tiga bulan terakhir saat itu sebesar Rp 3.425.
  2. Salah satu kepemilikan publik terbesar adalah Ginger Company and Peak Team yang menyerap 5% saham MAIN saat pelaksanaan non-preemptive right issue April lalu.
  3. Pemegang saham MAIN pada 15 Agustus 2014 yang difasilitasi dua broker asing, CIMB Securities sebagai sell side dan OSK Securities sebagai buy side  melakukan transaksi di pasar negosiasi dengan harga pelaksanaan Rp 2.280 atau lebih rendah 37% dibanding harga penutupan saat itu sebesar Rp 3.130.

Jumlah ini mencerminkan identik dan mencerminkan kepemilikan MAIN oleh Dragon Amity sebesar 51.

  1. Pemegang saham MAIN pada 18 Agustus 2014 yang difasilitasi oleh broker yang sama, melakukan transaski crossing pada harga pelaksanaan Rp 2.283 dengan jumlah saham sebesar 88,33 juta atau sebesar 4,93% yang berasal dari non-preemptive right issue lalu sehingga kepemilikan Dragon Almity bertambah menjadi 55,93% per September 2014.
  2. Sejak awal November lalu, MAIN mengalami penurunan signifikan hingga berada dalam level harga terendah Rp 2.070 per saham dan sekarang berada pada harga Rp 2.300, sehingga seakan-akan ada investor yang akan melepas saham MAIN dalam jumlah signifikan pada harga Rp 2.300 per saham.

Hipotesis berikutnya yang muncul adalah berapa harga wajar MAIN? Saat MAIN melakukan right issue, harga pelaksanaan Rp 3.500 lebih tinggi dibandingkan harga MAIN saat ini yang berada pada Rp 2.300 yang sama dengan pembelian Dragon Almity dari Ginger Company and Peak Team.

Harga wajar MAIN pada kisaran Rp 3.300 hingga Rp 4.000

Dari beberapa riset yang kami kumpulkan, Bahana Securities, Trimegah Securities, Pefindo, Maybank Kim Eng masih menyatakan MAIN memiliki potensi tumbuh kedepan.

Bahana Securities pada Oktober 2014 lalu menilai wajar saham MAIN pada level harga Rp 3.800 dengan asumsi per 18,5 kali pada akhir tahun nanti. Bahana menilai kinerja MAIN tahun ini secara bottom line akan tertekan meskipun pendapatan naik akaibat tertekannya marjin. Marjin akan turun akibat kompetitor yang lebih besar juga memangkas marjin karena dinilai saat ini pasar poultry over supply.

Namun, perputaran MAIN yang lebih cepat hanya 9 hari dan penambahan kapasitas produksi lewat pembangunan pabrik baru cenderung mendorong operasional MAIN di masa mendatang. Selain itu, MAIN yang merupakan pemain terkecil dibanding CPIN atau JPFA, tetapi industri  poultry memiliki pangsa pasar yang masih cenderung tumbuh dan besar merupakan oportunitas.

Trimegah Securities pada risetnya September lalu bahkan menilai MAIN pada harga wajar Rp 4.000 per saham atau dengan target PER 16.4 kali. Dengan asumsi penurunan harga bahan baku mulai semester kedua ini, nilai tukar Rupiah yang stabil, kemampuan MAIN memangkas biaya bahan baku dan pertumbuhan working capital hingga 11,6% per tahun dalam 10 tahun ke depan.

image003

Menurut Pefindo, posisi industri MAIN masih relatif bagus dengan ekspektasi tumbuh masih relatif tinggi dibandingkan dengan JPFA atau SIPD, namun masih lebih rendah dibandingkan CPIN. Manajemen biaya yang menekan profitabilitas menjadi kendala MAIN sehingga laba bersih tertekan.

Sementara Maybank Kim Eng menilai saham MAIN pada harga wajar Rp 3.300 pada PER 16.6 kali. Maybank menurunkan proyeksi laba MAIN yang akan turun hingga 30% pada akhir tahun nanti karena beban langsung yang naik signifikan, namun sejauh ini pertumbuhan laba masih positif meskipun industry masuk dalam fase kelebihan pasokan.

Hingga saat ini, MAIN yang masih dalam under perform terhadap IHSG membuat potensi kenaikan ke depan masih terbuka jika didorong oleh pendapatan yang tumbuh.

Dari keempat periset tersebut selama periode ini masih menilai setidaknya harga wajar MAIN berada pada kisaran Rp  3.300 hingga Rp 4.000 sehingga potensi kenaikan masih cukup terbuka. Namun, penilaian yang dilakukan keempatnya memiliki keterbatasan di mana belum berdasar laporan keuangan yang dirilis pada triwulan ketiga ini.

 

Fundamental Tertekan

Secara fundamental, MAIN memang membukukan penurunan laba bersih meskipun pendapatan tumbuh akibat kenaikan beban langsung yang membuat laba kotor mengalami penurunan.

Analisis kami, beban langsung yang meningkat hingga 21% ini tidak diimbangi  dengan peningkatan pendapatan, sehingga menekan profitabilitas MAIN. Sayangnya, kenaikan beban langsung ini tidak dapat diteruskan ke pelanggan seperti pada consumer goods lainnya karena industri pakan ternak sedang mengalami kelebihan pasokan.

Di samping itu, pertumbuhan ekonomi nasional yang melambat juga cenderung menekan bisnis bahan pokok seperti ternak ayam dan turunannya sehingga pendapatan masih cenderung melambat setidaknya hingga pertengahan tahun depan.

Kenaikan beban langsung ini berasal dari kenaikan beban pembelian bahan baku digunakan untuk pengolahan pakan ternak yang didatangkan melalui impor dan juga peningkatan beban fabrikasi dimana mayoritas pembelian bahan baku.

Beban bahan baku meningkat seiring kenaikan komoditas kedelai, jagung dan kelapa sawit pada semester pertama tahun ini, diharapkan pada semester kedua yang mana tren harga komoditas cederung melambat akan menekan beban langsung hingga akhir tahun nanti.

Meskipun pembelian beban langsung dengan menggunakan Dollar, sejauh ini depresiasi Rupiah terhadap Dollar hanya memiliki sensitivitas sebesar 2% pada tahun ini, tidak seperti tahun lalu yang sebesar 7% terhadap risiko perseroan secara keseluruhan, jadi sebenarnya nilai tukar tidak signifikan terhadap beban.

Hasilnya pun laba kotor MAIN tertekan hingga 39,98% sehingga marjin laba kotor pun juga tertekan menjadi hanya 9,89%. Bahkan EBITDA dari MAIN pun melambat dengan mencatatkan penurunan 51,05% yang menunjukkan profitabilitas dari operasional MAIN melambat. Hal tersebut juga dialami oleh tiga emiten pakan ternak lainnya.

Imbal hasil terhadap ekuitas (ROE) MAIN pun tertekan hingga 2,08% atau menurun dibandingkan tahun lalu yang mencapai 28,06%.

tabel-saham

Pada industri pakan ternak, kami melihat bahwa MAIN dalam SWOT analisis memiliki beberapa keunggulan yaitu berada dalam high industry barrier to entry  yang mempunyai pangsa pasar besar sehingga oportunitas tumbuh cukup besar.

MAIN memiliki oportunitas dimana ekonomi Indonesia yang masih menarik dan potensi tumbuh besar dibandingkan dengan negara ASEAN lain dan potensi pasar yang besar.

Namun, MAIN memiliki kelemahan dimana volatilitas bahan baku dan nilai tukar cederung mendorong biaya, begitu pula peraturan impor bahan baku yang tidak konsisten. Dibutuhkan efisiensi biaya dimana saat ini industri poultry memiliki marjin yang cukup tipis. Selain itu, ancaman terhadap wabah penyakin ternak selalu membayangi.

MAIN juga memiliki ancaman pada posisi industri secara keseluruhan, yaitu pasar pakan ternak yang masuk dalam fase kelebihan pasokan sehingga cenderung menekan pertumbuhan. Selan itu, ancaman dari pasar China yang menawarkan biaya yang lebih murah ke petani juga mengancam industri akan ternak di Indonesia.

Berdasarkan analisis kami tersebut, kami melihat kedepan potensi MAIN untuk tumbuh masih terbuka, namun selama setahun ke depan kondisi fundamental masih akan tertekan dari faktor biaya dan penurunan pendapatan. Setidaknya dalam jangka panjang MAIN masih berpotensi tumbuh.

Sehingga kami menilai, harga Rp 2.300 pada posisi sekarang relatif murah dan masih berpotensi tumbuh meskipun saat kinerja fundamental MAIN sendiri tertekan. Selain itu, sifat industri poultry mirip consumer good, dimana meskipun terjadi perlambatan ekonomi, belum tentu menekan pertumbuhan pendapatan sektor konsumer, sehingga peluang tumbuh masih terbuka.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.