[Mangole] Di Balik Tembok Itu

Imam Dairoby

 

Tembok setinggi 3 meter itu mengelilingi seluruh pabrik perusahaan terbesar milik konglomerat yang dekat dengan penguasa kala itu. Dan pernah dikunjungi oleh Bapak Presiden kala itu. Dari cerita orang-orang, di dalam tembok tersebut banyak fasilitas untuk karyawannya, mulai dari swalayan, Bank swasta, bioskop, gedung pertemuan, lapangan bola, lapangan tenis, kolam renang dan yang paling menjadi prestise adalah stasiun bumi kecil yang dimiliki oleh perusahaan.

the wall

Sebab pada saat itu hanya kota-kota besar yang dapat menerima siaran TV swasta seperti RCTI dan SCTV tapi di daerah itu masyarakat telah dapat menerima siaran tersebut. Ditambah dengan siaran dari stasiun TV luar negeri.

Ada peristiwa menarik saat kedatangan orang nomor satu negeri ini ke desa Falabisahaya tahun 1990. Dan peristiwa itu terjadi pada mertua kakakku. Saat itu mertua kakak ku sedang berjualan sehingga lupa memasang bendera Merah Putih di depan rumah kontrakannya. Semua rumah diharuskan memasang bendera beserta umbul-umbul untuk memeriahkan kedatangan penguasa negeri dan rumah yang ditempati mertua kakakku dan ada beberapa rumah lainnya yang tidak memasang bendera. Sore harinya beberapa orang yang memakai seragam datang ke rumah dan menyeret mertua kakak yang telah renta dan menanyakan mengapa tidak memasang bendera.

Dengan gemetar diutarakannya bahwa dia lupa untuk memasangnya. Dan tamparan keras dari orang berseragam mendarat di pipi tuanya. Istrinya memohon ampun agar suaminya tidak disiksa sementara kakak iparku menangis tegopoh-gopoh memanggil kakakku. Dan kakakku menjelaskan bahwa mertuanya memang lupa dan tidak sempat memasang bendera karena harus mencari nafkah berjualan di pasar. Tapi penjelasan kakaku tidak digubris oleh orang-orang yang berseragam.

Mertua kakakku kemudian diseret bersama beberapa orang yang melakukan kesalahan yang sama. Mereka diletakkan depan bendera di sebuah pos aparat dan di biarkan berdiri sampai keesokan paginya.

Setelah peristiwa itu mereka harus melapor setiap hari selama enam bulan dan kesalahannya adalah hanya tidak memasang bendera saat orang nomor satu negeri ini datang.

Tak pernah mereka menanyakan alasan mengapa mereka tidak memasan. Sebab ada yang tidak memiliki bendera karena harga bendera saat kedatangan orang nomor satu negeri ini, melambung hinggga hampir sepuluh kali lipat. Dengan penghasilan penduduk yang sebagai nelayan miskin, adalah sangat tidak mungkin untuk membeli bendera yang harganya sepuluh kali lipat harga sekilo beras.

Masa itu adalah masa tak ada kata protes atau mengeluh, apa yang telah digariskan penguasa dan antek-anteknya adalah yang harus dipatuhi, bila tidak pasti akan dikenai undang-undang yang menjerat sang pemrotes untuk berada di balik terali besi.

Mungkin ini hanya segelintir cermin sebuah kesewenang-wenangan. Tapi penguasa tetaplah penguasa tanpa pernah mengerti dan memahami kekuasaan yang didapat sebenarnya adalah untuk memajukan kemakmuran masyarakatnya.

Kehidupan di dalam tembok menjadi sebuah kehidupan impian bagi pengangguran seperti diriku. Sebab banyak tetangga yang bekerja di dalam pabrik itu dan sering menceritakan keadaan dalam pabrik. Entah dilebih-lebihkan atau tidak tetapi bagiku kehidupan di dalam tembok itu sangat menggiurkan. Dan terpikir oleh ku untuk dapat segera bekerja di sana.

Kesempatan melihat ke dalam tembok itu adalah saat aku harus memasukkan lamaran ku melalui seseorang yang bekerja di dalam perusahaan. Kata kakakku harus memakai “koneksi“ kalau mau bekerja di sana. Kalau tidak maka akan lama prosesnya dan mungkin tidak akan dipanggil bekerja.

Entah lah aku juga bingung apa itu yang disebut dengan kolusi. Aku tak seberapa tahu masalah itu, jika hanya ingin memiliki pekerjaan saja harus melakukan hal seperti itu apalagi jika harus berurusan dengan jabatan atau yang lainnya. Tapi hal seperti itu sudah lumrah di negeri ini dan sudah menjadi tradisi.

Entahlah……………………

Sore itu aku dan kakakku bersepeda dan ingin ke tempat “koneksi” ku. Kami harus melalui pintu yang dijaga oleh satpam yang berseragam dan terlihat sangat berwibawa. Sambil membungkuk kami mengatakan ingin ke tempat di sebuah mess yang disebutkan oleh kakakku. Dengan acuh satpam itu menyuruh kami menuliskan nama dan kami harus meninggalkan kartu identitas kami.

Pintu pagar terbuka dan terlihat olehku kehidupan yang sangat berbeda dengan kehidupan di luar tembok. Jalan di sini telah di aspal mulus, rumah-rumah berjejer rapi dan sekitar 500 meter dari pos pertama terdapat pos kedua yaitu pos untuk masuk ke dalam areal perkantoran dan mess bagi karyawan yang belum berkeluarga.

Sementara mess bagi karyawan yang telah berkeluarga bergabung dengan berbagai fasilitas lainnya di antaranya rumah sakit, bank, gereja dan masjid yang semuanya tertata rapi bagai memasuki sebuah kota. Aku teringat film The Last Emperor, dan sekarang sepertinya aku memasuki The Forbidden City.

Di tepi jalan terdapat penerangan lampu listrik, dan terdapat nama-nama jalan yang terpampang di pinggir pertigaan atau perempatan jalan. Sesekali muncul mobil atau motor yang lalu lalang. Aku berpikir ternyata lampu yang kulihat saat aku pertama kali datang adalah lampu yang berasal dari lampu di dalam tembok ini. Ini adalah kota pada sebuah desa. Dan sangat kontras dengan keadaan di luar tembok.

Di luar tembok, jalan belum di aspal, tak ada penerangan lampu jalan. Masyarakatpun harus memiliki genset sendiri jika ingin memiliki listrik, sebab belum ada perusahaan listrik milik negara maupun swasta.

Kantor pelayanan pemerintah seperti kantor desa, kantor camat serta polsek dan kantor pos semua meminta listrik dari perusahaan di balik tembok itu. Melihat keadaan itu aku sering tersenyum sendiri. Begitu berkuasanya seorang yang dekat dengan penguasa, segalanya bisa dilakukan.

Aku dan kakak ku sampai di sebuah mess yang terdiri dari lima unit rumah yang saling sambung. Kulihat tertera di pintu pagar rumah “Cemara No.02”. Kami disambut dengan santun oleh tuan rumah yang kemudian ku tahu namanya adalah ibu Sofie. Beliau salah satu sekretaris general manager di perusahaan itu.

Orangnya sangat baik dan ingin membantu aku untuk memasukkan lamaran pekerjaanku ke perusahaan itu. Segera kuserahkan berkasku dan dia berkata bahwa aku harus sabar menunggu.

Tak lama kami di rumah ibu Sofie, setelah basa basi sebentar kami pun pamit kepadanya dan bergegas keluar dari tembok yang membuat kami merasa sangat kecil dan memiliki apa-apa.

Tembok itu seperti wujud sebuah kekuatan dan kekuasaan yang datang dari kedekatan dengan penguasa negeri. Jika ingin selalu basah maka bermainlah dekat dengan mata air.

 

 

One Response to "[Mangole] Di Balik Tembok Itu"

  1. Falabisahaya  18 May, 2018 at 20:03

    sangat sedih dan teharu, terima kasih karena telah membagi kisah menarik. Sebagai generasi muda falabisahaya (yang lahir pada sekitaran reformasi) kami merasa sangat iba dan terharu dengan kisah hidup bapak sejak kecil di tanah jawa sampai meraih kesuksesan di tanah falabisahaya. Dan juga merasa iba atas kejayaan yang luar biasa yang telah diraih barito mangole di tanah falabisaya, yang telah bapak ceritakan secara spesifik dari sudut pandang karyawan, bagian yang hilang dari cerita kisah orang tua kami dulu pada saat masa kejayaan barito mangole Hal ini juga sebagai motivasi untuk kami generasi muda agar selalu berusaha dan bekerja keras demi mengembalikan kejayaan barito mangole dalam falabisahaya. Semoga kita semua selalu ada dalam naungan kasih yang Tuhan Yang Maha Esa. Ngomong-ngomong bapak boleh bilang disini urutkan yang benar artikel dalam blog bapak tentang mangole tak? supaya bisa dibaca sesuai urutan, soalnya tadi saya bacanya acak, walau saya mampu mengurutkan secara pribadi, tapi mungkin yang lain tidak hehehe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.