Mas, terbangkan saya ke Paris bukan ke sini, atuh!

Luigi Pralangga

 

Satu malam belum lama berselang, si Ondel-ondel ini sedang asyik menyaksikan cuplikan berita melalui tayangan televisi di rumah, si Idung Pesek itu duduk di sebelahnya, nyaman sekali rasanya duduk bersebelahan dengannya, meski kedua tangannya menggenggam ponsel sedang sibuk mengetik pesan singkat pada chat/messenger. Malam itu bukanlah malam akhir pekan, meski anak-anak memang sudah berlanjut tidur, sepi tidak terdengar suara ‘ngak-ngek-ngok’ seperti 1-2 sebelumnya.

Tidak lama sederet iklan melintas, maka nomor saluran pun diganti oleh si Ondel-ondel ini, kontan memecah perhatian si Idung Pesek itu lantaran dikagetkan oleh sebuah sajian tentang promosi pariwisata yang sudah setengah jalan dan kebetulan volume suaranya sedang menggelegar, maka tersitalah pandangan dan perhatiannya pada sajian acara Tv itu.  Bicara soal iklan TV, apalagi iklan undangan melancong ke negeri seberang dan seberangnya lagi, sedemikian rupa dirancang khusus untuk menciptakan reaksi bathin, lalu bagi mereka yang terpancing maka akan berucap, dan buat si Ondel-ondel ini waktu itu – ucapan si Idung Pesek bukanlah jenis komentar yang sedang dinanti-nanti.

“Nah, tuh seperti itu dong… ajak saya ke Paris….”

Celetukan di atas, untungnya tidak segera dibalas.. sebab urusannya bisa panjang. Mengapa?? Jawaban singkatnya memang gamblang: “si Ondel-ondel ini (memang faktanya) belum pernah membawanya pelesir ke Paris dan negara-negara yang notabene dipandang romantis oleh kebanyakan wanita, khususnya perempuan dengan jemari lentik yang (bertahun-tahun menikah dengan-nya dan sudah beranak tiga) satu ini”.

Memang selama ini pernah diajak pelesir berdua ke mana saja sih?

Sudah sih.. tahun 2005 kita berbulan madu ke Liberia… begitu juga tahun 2006… kemana?.Ya, ke Liberia.. (Ooo…), dan tahun 2007, kita pergi berbulan madu lagi… kemana kali itu?.Ya, ke Liberia lagi… (Ooo… [email protected]%[email protected]%^[email protected]).

Jarene nang Liberia… Ono opo toh? Ada apa ya di Liberia? Hmm.. ya ada orang-orang Liberia, Hutan Liberia.. Pantai Liberia.. dan misi PBB di Liberia.. Lantas apa sih yang dicari sampe 3 kali berbulan madu ke sana?  Mungkin jawaban yang menuntaskan adalah: “Mencari (dan memperkuat) cinta..” – sebab selebihnya hanya tersedia duka, lara, dan… orang Liberia di sana..

Ya Olloooh… segitunya.. Bener! – emang segitunya.. Si Idung Pesek ini, kalau mau dijelaskan alasan mengapa sampai 3 kali ke sana ya semata-mata adalah untuk mencari (dan memperkuat) cinta.., mungkin tambahan alasan lain adalah menyadarkan si Ondel-ondel ini bahwa:

Hai.. hai.. wahai si gembala sapi, ingatlah bahwa akulah yang menjadi penjaga perdamaian rumah tanggamu pada Republik Tanah Air sana.

  1. Trus.. trus.. waktu si Idung Pesek itu ke sana (Baca: Liberia, West Africa), diajak pelesir ke mana aja sih?
  2. Apakah ada tempat perbelanjaan keren dan diskon-belanja besar-besarankah?
  3. Terus, terus.. pelesir kemana aja kalian berdua.. dan saat kembali ke tanah air, belanja oleh-oleh apa aja sih? – Coba cerita deh yang lengkap ya… penasaran gua!

Wah, pertanyaan di atas itu nampaknya akan makan waktu yang panjaang dan lamaaa dalam menjelaskannya. Namun si Ondel-ondel ini sudah diceritakan sebaik mungkin dalam posting blog ini. Memang ada beberapa hal yang belum sempat diulas pada posting cerita di atas seperti perihal sebagai berikut:

 

1. Perjalanan ke Liberia itu benar-benar menguras waktu, energi dan jet-lag stadium akut!
Begitu ya? – Jawabnya: Ya! Mengapa? Karena memang bagi si Idung Pesek itu penerbangan ke wilayah barat Afrika memang mengharuskannya berganti pesawat dan berpindah penerbangan sampai 3 kali dengan rute: Jakarta – Dubai, UAE – Accra, Ghana – Monrovia, Liberia. Bagi yang belum terbiasa bepergian sejauh itu jelas akan mengalami ‘potong cangkeng’ (Baca: Patah Punggung & Remuk Badan).

liberia (1)

Meski saya menjemputnya di Bandara Kotoka International Airport, Accra – Ghana, negara yang masih 1,5 jam terbang lagi agar bisa sampai Liberia, si Idung Pesek itu memang sudah cukup lelah melalui perjalanan antar benua tadi. Tidaklah mengherankan meski perbedaan jam dengan Indonesia notabene hanya 7 jam mundur, sejak tiba di Monrovia, ibukota Liberia pada minggu pertama hampir semuanya dihabiskan untuk tidur.

Berkat koordinasi lancar dan dukungan kerjasama kolega staff misi pada terminal pemberangkatan dari lini Accra, Kotoka International Airport yang berhasil membuat si Idung Pesek hatinya tenang yaitu saat keluar dari pesawat, sahabat Ground Staff dari misi PBB sudah berbaik hati menjemputnya dan memastikan bahwa barang bagasi bawaannya selamat dan lengkap tiba di Accra, Ghana sementara si Ondel-ondel ini masih di perjalanan dari Monrovia menuju Accra dengan penerbangan pesawat PBB baru akan tiba di sore harinya.  Sementara bagasi bawaannya masuk didaftarkan menjadi barang bagasi atas nama si Ondel-ondel ini pada penerbangan pesawat PBB, si Idung Pesek kemudian bisa melenggang dengan meneruskan penerbangan lanjutan ke Monrovia.

liberia (2)

 

2. Biaya penerbangan ke sana itu mahalnya bukan main.
Sumpeee!!! Untuk kursi penerbangan kabin kelas kambing saja waktu itu masih berada dalam kisaran US$ 1800 sampai US$ 2000, di luar ongkos transit visa di Accra, Ghana dan visa kunjungan Liberia. Itulah mengapa salah satu prasyarat diberikan oleh si Ondel-ondel itu adalah: “Kalau mau bulan madu ke Liberia, minimal harus 2 bulan..”sebab kurang dari itu rasanya terlalu berat biayanya dan rasa kangen itu tidaklah awet bertahan lama sampai waktunya jadwal cuti mudik. Saat si Ondel-ondel ini berniat menaikkan syarat saat berujar: “Bunda, gimana kalau kamu nancep di sini sampai 3 bulanan gitu..??” Maka dengan lantang dibalasnya: “Mas, kamu pikir kita ini pengenten baru beneran ya? Lantas 3 anak-anak kamu di rumah siapa yang urus dan memeriksa perihal sekolah dan PR-nya?.” – Ok, 2 bulan nampaknya tidak bisa ditawar lebih lama lagi.

 

3. Maaf, tidak ada Shopping Mall kecuali hutan dan pasar becek serta pantai sarat ‘lele koneng’
Teringat saat percakapan telepon-nya ke tanah air lepas 2 minggu pertama berada di Liberia, dalam laporannya ke sang Ibunda (Mertua), si Idung Pesek itu sempat bercerita kepadanya: “Ma.. bayangin aja di sini itu kotanya seperti jaman tahun 70-an deh.. listrik masih pake genset, dan gua diajak pelesirnya ke pasar becek dan kampung-kampung gitu deh…” – mungkin sang ibu mertua sempat berpikir: “Ini anak gua kok diajak bulan madu sengsara amat ya?”.

liberia (3)

Si Ondel-ondel ini masih ingat benar saat dia diajak pelesir di Accra, Ghana untuk membeli oleh-oleh khas Afrika Barat, maka dibawalah berbelanja ke Makola Market, yaitu pasar kulakan tanpa Air Conditioning, ibarat Pasar Tanah Abang versi tahun 1980-an, kebayang khan?

Memang benar kata pepatah bahwa: “Men are from Mars, and Women are from (or likes) cozy-comfortable-shopping-malls-with-stuffed-wallet-with-money-to-spend” – ini mah jelas pepatah ngaco! -namun demikian, nampaknya si Idung Pesek itu mesti lulus dulu dari tahapan pengalaman berbelanja kelas Makola Market dulu sebelum dia eligible untuk berbelanja di kelas Mall-nyaman-berAC itu. Debu-debu ramai beterbangan dan aroma bau pesing serta lalat itu sibuk menyapa hidung dan hinggap di telinga.  Yang jelas mau mengeluh sudahlah sibuk mengipas-ngipasi agar lalat dan bau pesing itu tidak terasa benar oleh panca inderanya.

Dengan pede stadium akut, si Ondel-ondel ini semangat menunjukkan jenis bahan kain khas desain Afrika yang mungkin menjadi minat si Idung Pesek sembari selalu menjawab: “Tidak” dalam tiap tawaran dibelikan kain batik Afrika ini.

"Mas, saya nggak pede kalau harus pake bahan tabrak corak begini - kalaupun kamu beliin juga.. akan saya jadikan gordyn dan taplak meja lebih artistik, ok?- bukan gua nggak nurut.. ini masalah selera..."

“Mas, saya nggak pede kalau harus pake bahan tabrak corak begini – kalaupun kamu beliin juga.. akan saya jadikan gordyn dan taplak meja lebih artistik, ok?- bukan gua nggak nurut.. ini masalah selera…”

"Mas, elu yang bener aja dong... gua hanya akan mau pake celana piyama ini kalau mau tidur aja.. jangan ya suruh saya pake seragam manggung Ria Jenaka ini ke acara resepsi kawinan.. yang ada nggak jadi dateng!"

“Mas, elu yang bener aja dong… gua hanya akan mau pake celana piyama ini kalau mau tidur aja.. jangan ya suruh saya pake seragam manggung Ria Jenaka ini ke acara resepsi kawinan.. yang ada nggak jadi dateng!”

Genggaman tangan itu kuat sekali menggandeng tangan kanan ini, jelas kalau pake acara ‘sasab’ (baca: Nyasar) alamat cilaka duabelas, dan komentarnya cukup menggelitik saat hendak dibelikan oleh-oleh sekodi kain bahan baju dengan desain ‘tabrak-corak’ khas Afrika: “Mas, Elu yang bener aja masak gua suruh pake baju kain gonjreng nggak puguh begini.. macam dandanan khas artis Rama Aiphama & Alm. Farid Hardja dan dipake buat arisan ibu-ibu di Jakarta? – saya belum punya rasa pede stadium akut begitu!”.

"Mas, coba dong... lihat lagi.. gua ini lebih mirip dukun beranak ketimbang typical ibu-ibu arisan erte Nol Lima..., mamah kamu aja deh yang suruh pake ini, dia khan seneng baju-baju model begini, please banget ya...."

“Mas, coba dong… lihat lagi.. gua ini lebih mirip dukun beranak ketimbang typical ibu-ibu arisan erte Nol Lima…, mamah kamu aja deh yang suruh pake ini, dia khan seneng baju-baju model begini, please banget ya….”

 

Wisata alam saat pelesir di Liberia pun, pada kebanyakan pantai yang notabene bersebelahan dengan perkampungan nelayan, pijakan kaki dan saat mau rebahan di pesisir juga harus mencermati sebab tidak sedikit ‘ranjau lele koneng’ yang akhirnya terinjak dan terus terbawa aromanya semerbak sampai kedalam karpet jok mobil.

 

4. Mengemban misi pemberdayaan kuliner Nusantara.
Nikmatnya bisa mendatangkan si Idung Pesek ke Liberia sebanding dengan mahal ongkos menerbangkannya. Mengapa? Selain kesempatan mengasah urusan asrama.. eh, maksudnya asmara juga meningkatkan urusan kuliner. Termasuk itu memberdayakan khazanah dan pemahaman sajian menu tambahan selain dari menu yang sudah difahami si Iman. Sebutlah namanya Iman Dakocan, ia adalah juru tatalaksana rumah tangga yang berjasa besar dalam mengurusi urusan beberes dan kuliner kita serumah (ada 3 staff PBB di mana kita tinggal bersama) termasuk urusan bekal makan siang dan sajian makan malam si Ondel-ondel ini selama lebih dari 3 tahun.

liberia (8)

Tidak sedikit resep baru dan penataran dalam urusan higienitas menyiapkan hidangan pun tuntas diajarkan si Idung Pesek ini kepada Iman. Satu hal yang patut diacungi jempol bagi Iman adalah mengajari si Idung Pesek itu bagaimana memasak dalam kegelapan. Oh ya, kok bisa dalam kegelapan? – karena penerangan rumah hanya bersumber genset yang dinyalakan saat hari sudah lewat dari maghrib, dan posisi dapur itu tidak tersentuh cahaya matahari, maka memasak makan siang dan makan malam berbekal cahaya lilin adalah hal baru yang dialami oleh si Idung Pesek saat berada di Liberia.

"Mas, elu yang bener aja dong.. masak gua suruh ngajarin masak dalam gelap begini.. ini nggak kelihatan apakah ayamnya udah mateng tau-tau gosong dan asep masaknya kemana-mana..."

“Mas, elu yang bener aja dong.. masak gua suruh ngajarin masak dalam gelap begini.. ini nggak kelihatan apakah ayamnya udah mateng tau-tau gosong dan asep masaknya kemana-mana…”

“Bumbu ini nggak ada… mau masak itu nggak punya.. beli keluar di warung.. nggak ngerti bahasanya… si Iman ditanya ini dan itu ada dimana cuman cengar-cengir wae.. lagian gua nggak ngerti dia ngomong bahasa Inggrisnya aneeh… cepatan pulang, atuh…[email protected]!^%!^@%”

Namun tidaklah sedikit keriangan juga acara seru di mana si Idung Pesek itu berinteraksi bersama rekan peacekeepers Garuda yang bertugas pada misi pemulihan perdamaian PBB di Liberia, keluar masuk kampung, pedalaman dan santap makan bersama itu.

liberia (10) liberia (11)

Itulah sebagian dari cerita seru yang dialaminya saat berbulan madu ke Liberia. Meski dalam kunjungan ‘kenegaraan’ berikutnya masih beranjak menuju negara yang sama dan dalam beberapa kesempatan ia sempat merajuk seraya berkata:

“Mas, terbangkanlah saya (untuk berbulan madu) ke Paris, bukan ke sini, atuh!”

Tapi ketahuilah, Bunda… Pelesir ke Liberia itu jauh lebih romantis..

 

 

About Luigi Pralangga

Luigi Pralangga, currently serving for peace operations in Afghanistan - Previously lives and work in the Middle East, West Africa and New York - USA.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.