Kakak

Kembang Bakung

 

Jodoh, sakit, rejeki dan maut adalah rahasia Tuhan untuk manusia di dunia. Begitupun yang terjadi pada salah satu anggota keluarga kami. Saya tiga bersaudara, kakak, saya dan adik. Selama ini kehidupan kami seperti layaknya kehidupan orang normal. Kakak tinggal di kota Kediri, saya di Surabaya dan adik di Kalimantan. Setahun sekali atau dua kali kami bertiga berkumpul bersama khususnya di hari raya Idul Fitri. Tetapi untuk saya, karena jarak Kediri dan Surabaya hanya 3 jam maka hampir setiap akhir pekan bisa bertemu kakak sekaligus menjenguk orang tua di kampung. Hari Raya tahun 2014 saya rasakan menjadi Hari Raya yang paling istimewa, dengan banyaknya berkah dan kebahagiaan yang kami terima. Dapat berkumpul dengan orang tua, handai taulan dan anak-anak bisa bertemu dengan para sepupu.

life-cycle

 

Jalan Hidup Kakak

Kakak adalah seseorang yang menurut saya sejak kecil sering merasa bersedih, mudah berkecil hati, pendiam tetapi sebenarnya keras kepala. Setelah menikah selama 4 tahun baru dikaruniai anak yang lahir pada 2009. Sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan. Kami selalu guyon bahwa dia dapat jackpot karena punya anak dua sekaligus. Nana dan Daffa kami biasa memanggil anak kembar ini. Bukan kembar identik karena wajahnya tidak mirip satu sama lain, Daffa cenderung mirip ayahnya dan Nana sangat mirip ibunya. Sifat mereka juga bertolak belakang dalam hal apapun, kesenangan makanan, mainan maupun tingkat kenakalan. Satu-satunya hal yang membuat mereka layak disebut kembar adalah mereka tak bisa dipisahkan dan bila satu sakit maka lainya akan menyusul sakit.

1 hari menjelang operasi anak-anak menjenguk dan mendoakan ayahnya

1 hari menjelang operasi anak-anak menjenguk dan mendoakan ayahnya

1 hari menjelang operasi anak-anak menjenguk dan mendoakan ayahnya

1 hari menjelang operasi anak-anak menjenguk dan mendoakan ayahnya

27 September 2014, ipar (suami kakak) tiba-tiba jatuh pingsan di rumah dan dibawa ke dokter umum sekitar rumah. Dokter mendiagnosa bahwa ipar mengalami kelelahan dan harus istirahat. Sewaktu saya telp, kakak bercerita sekarang kondisinya suaminya lemah dan merasa pusing. Sampai hari berikutnya kondisi ipar tidak kunjung membaik dan akhirnya dibawa ke rumah sakit. Di rumah sakit dokter jaga UGD mendiagnosa kemungkinan menderita sakit jantung dan dirawat di ruang ICU. Enam hari dirawat diagnosa pasti diperoleh bahwa ipar menderita sakit jantung dan harus dilakukan pemasangan ring dan hanya dapat dilakukan di kota Surabaya.

Jadilah ipar dibantarkan ke Rumah Sakit di Surabaya untuk rawat inap, dan selama di RS beraneka test mulai echo sampai threadmill dilakukan tetapi selama itu pula kondisi ipar agak menurun, mata kiri mulai tidak bisa melihat (hampir buta) dan kaki kanan sempat lumpuh sama sekali tidak bisa digerakkan. Seminggu setelah rawat inap kondisi berangsur baik walau mata kiri tetap buta dan terkadang diajak bicara tidak nyambung. Saya sempat bertanya dengan dokter jantung yang merawat, apakah hal ini ada kaitannya dengan jantung karena sewaktu saya tanyakan nama-nama anaknya ipar sama sekali tidak ingat, saya minta hitung mundur dari 10 ke 1 tidak bisa dan saya coba ajak bicara agak lama bicaranya sedikit ngelantur. Dokter menyatakan bahwa ini bisa jadi karena asupan oksigen ke otak kurang sehingga proses berfikir agak lama dan kadang tidak sinkron dengan yang ditanyakan. Seminggu rawat inap kami diminta pulang dan jantung ipar dinyatakan sehat tanpa perlu dilakukan pemasangan ring dan cukup rawat jalan serta kontrol untuk dua hari ke depan.

 

Jalan Terjal Menuju Diagnosa Tepat

Proses kontrol yang seharusnya hanya memakan waktu beberapa menit atau jam menjadi awal perjalanan panjang kami merawat kakak ipar. Setelah kontrol ipar tidak diperkenankan pulang dan langsung masuk UGD karena kondisi menurun drastis, dan sekali lagi dirawat untuk penyakit jantungnya. Selama ini UGD bicara ngelantur dan mengeluh nyeri di kepala. Selama perawatan jantung kecurigaan kami sampaikan ke dokter dan akhirnya dokter jantung merekomendasikan dokter syaraf juga ikut merawat. Untuk memastikan kecurigaan sakit kepala ipar kami setuju dilakukan CT Scan Contrass dan hasilnya benar-benar membuat kami syok serta sedih. Ditemukan massa sebesar bola tenis (diamater 4-5 cm ) dan dicurigai sebagai tumor.

kakak dan ipar satu jam sebelum operasi

kakak dan ipar satu jam sebelum operasi

Saya termangu-mangu sewaktu dokter jantung dan syaraf menerangkan temuan ini dan menyatakan bahwa mulai besok dokter syaraf akan lebih intensif menangani pasien. Rasa termangu berubah menjadi tangis setelah saya duduk bersama kakak dan adik. Kami tak pernah sekalipun membayangkan hal ini, walau saya sempat mencurigai kenapa ipar lupa nama anak-anaknya, tetapi diagnosa ini sungguh menyedihkan untuk kami terima. Dan untuk mengetahui lebih pasti selang beberapa lama dilakukan MRI dan pukulan lebih hebat harus kami terima. Ditemukan tumor sebanyak 7 buah di kepala dengan ukuran yang beragam serta ada yang di dekat batang otak.

Mulailah perjalanan panjang dan terjal kami jalani. Operasi dilakukan pada 27 Oktober untuk mengambil tumor yang paling besar dan sejak saat itu kakak dalam kondisi koma hingga saat ini. Selama kurun waktu ini kami saling menguatkan. Sungguh berkah bagi kami, team dokter yang menangani ipar sangat simpatik dan memberikan banyak dukungan. Team bedah syaraf, Dokter Syaraf, Internis serta dokter paru merawat sebaik-baiknya. Dalam ikhtiar kami berharap ada kesembuhan, tetapi terselip pula doa, jika seandainya Tuhan menghendaki kamipun telah ikhlas. Dengan derita yang kakak ipar alami, sesungguhnya kamipun orang-orang tercinta yang ada di sekitarnya juga merasakan sakit ini. Melihat ipar hidup dengan bantuan segala macam alat dan kondisi yang semakin menurun adalah hal yang sangat berat walau tetap kami jalani.

Pasca Operasi

Pasca Operasi

Pasca Operasi

Pasca Operasi

koma sampai hari ini

koma sampai hari ini

Kesedihan yang kami alami banyak membawa berkah di sisi lain terutama bagi saya kakak dan adik. Kami semakin rukun dan menyayangi satu sama lain. Kami semua berkorban waktu, pikiran dan biaya untuk kesembuhan ipar dan semua tanpa perhitungan. Selama masih ada harapan dan jalan maka akan kami tempuh demi kesembuhan, tetapi bila semua jalan telah kita tempuh dan kesembuhan tiada maka kami akan merawat dan mencintai kakak ipar dengan penuh kasih dan sayang tanpa batas sampai Tuhan menggariskan usianya. Jodoh, sakit, rejeki dan maut adalah rahasia Tuhan dan saya memaknai hal ini dengan sepenuh hati. Setiap menit dan waktu sangatlah berharga bagi kita untuk menunjukkan rasa kasih dan sayang bagi sesama.

 

 

About Kembang Bakung

Seorang ibu di Jawa Timur yang sangat mencintai keluarganya dan salah satu pembaca setia BALTYRA dan ikut berkontribusi juga di rumah kita bersama.

Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.