Kisah Paku dan Palu

Dwi Isti

 

“Jika satu-satunya alat yang kau miliki adalah palu, kau akan cenderung melihat segala hal sebagai paku.” –Abraham H. Maslow-

 

Ada beberapa ciri dari orang yang hanya memiliki palu, dan menganggap segala hal adalah paku.

hammer

Pertama, mereka seringkali bertindak sebelum mengetahui gambaran persoalan dengan utuh sehingga mereka salah waktu dan salah cara dalam merespon sesuatu.

Kedua, seringkali mereka adalah orang yang suka mengungkit masa lalu. Dalam pembicaraan-pembicaraan, mereka suka menyakiti sesama dengan menyebut ulang kesalahan-kesalahannya. Kadang-kadang sifat ini tampil dalam bentuk yang agak berbeda. Yang diungkit bukanlah kesalahan orang di masa lalu, melainkan kebaikannya pada orang lain yang diangkat-angkat.

Ketiga, pemilik palu suka memperburuk keadaan dengan memberikan reaksi berlebihan. Ketika marah, mereka cenderung menjatuhkan bom, padahal sebenarnya kerikil mungil pun sudah cukup. Sikap ini akan banyak menimbulkan kesulitan baru karena ukuran masalah yang menjadi makin besar tergantung bagaimana ia ditangani.

Jhon C. Maxwell dalam Winning with People mengatakan, “Pada umumnya, jika reaksi lebih buruk dari suatu tindakan, maka masalahnya akan membesar. Dan jika reaksinya tak seburuk tindakannya, persoalan akan mengecil.

Keempat, pemilik palu selalu beranggapan bahwa situasi jauh lebih penting daripada hubungan. Bagi mereka memenangkan debat saat ini lebih penting daripada menjaga agar hati seorang kawan tak tersakiti. Mereka menduga bahwa membuktikan diri tidak bersalah dalam suatu keadaan jauh lebih penting daripada menyadari bahwa mereka bisa saja sedang mempermalukan orang yang mereka cintai.

Orang-orang yang menganggap situasi lebih penting daripada hubungan sungguh merepotkan orang-orang yang ada di dekatnya. Jika menjadi atasan dia akan sering menginjak bawahan. Jika menjadi rekan searas, sikutnya mungkin akan bergerak kian ke mari untuk menyakiti. Ketika menjadi bawahan, di belakang dia akan menebarkan kasak-kusuk dan isu-isu untuk menjatuhkan. Itu semua dilakukan hanya untuk hal yang sangat sesaat sifatnya dengan mengorbankan hubungan yang seharusnya dipelihara dalam jangka panjang.

Orang-orang yang menganggap bahwa memenangi argumen pada suatu saat jauh lebih penting daripada hubungan memang selayaknya menyadari bahwa ada pilihan lain yang lebih bijaksana.

Apakah di dalam diri kita, masih ada keempat ciri pemilik palu? Subhanallah, hanya memiliki palu, dan menganggap segala hal sebagai paku akan menjadikan diri kita tanah yang gersang dalam persaudaraan. Sangat gersang. Agaknya perlu kerja keras untuk menyuburkan kembali.

Saat kita hanya punya palu, semua yang ada di sekitar kita akan melakukan apapun sekedar agar terhindar dari pukulan.

 

Bahwa tak selamanya kita selalu benar, tak selamanya orang-orang yang berbuat kesalahan pada kita. Bisa jadi yang terjadi adalah sebaliknya. Bahwa kitalah yang bersalah. Bukan orang yang berbuat kesalahan pada kita, tapi kitalah yang menjadi sumber masalah dari semua.

Menghadapi orang sulit selalu merupakan masalah.

Terutama jika orang sulit itu adalah diri kita sendiri

Jika kita merasa bahwa semua orang memiliki masalah dengan kita,

Tidakkah kita curiga bahwa diri kita inilah masalahnya.

Jhon C. Maxwell mengatakan orang yang terluka sulit menerima kegagalan. Semua ketidakberesan dalam kehidupan yang sebenarnya bersumber dari lukanya tak disikapi sebagai pelajaran berharga. Dia selalu menemukan orang, pihak, kelompok, benda atau apapun yang menurutnya telah menjadi sebab dari segala kepahitan.

Orang seperti ini kurang suka membahas persoalan. Mereka tak tertarik untuk memperbincangkan akar masalah. Mereka selalu memandang dirinya sebagai korban. Dan bagi mereka, orang-oranglah yang salah. Tak terlalu suka belajar dari orang lain. Akibat dari menganggap bahwa orang lain merasa bersalah dan menyakiti dirinya. Karena menganggap semua ini bukan salahnya.

 

 

About Dwi Isti

Seorang penulis lepas yang berasal dari Surabaya dan sekarang tinggal di Jogja.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.