Masih tentang Dampak Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak Bersubsidi

Agus Benzaenuri

 

Tiga jam menjelang konferensi press Presiden Joko Widodo saya mendapat kabar bahwa semua anggota kabinet sedang diundang ke Istana dari teman saya yang kebetulan berada di sana. Pertanyaan saya kepada dia adalah benarkah akan ada pengumuman itu (revisi harga BBM subsidi) dan kata dia mungkin saja dan sepertinya (dia tidak bicara gamblang karena masih confidential saat itu tapi saya cukup tau).

Pertanyaan saya kedua adalah jadi naik sekitar Rp 1.500 untuk Premium? (yang kbelakangan prakiraan saya salah, asumsi saya karena tren harga minyak akan berada dibawah US$ 75/ barrel untuk minyak WTI di pasar New York, artinya di harga MOPS sekitar US$ 92-96/ barrel)

Dia bilang tidak tau, saya bukan bagian staf ekonomi. Saya pun lanjutkan obrolan biasa.

Saat ramai-ramai di TV dan sosial media, saya post bahwa harga premium akan jadi Rp 8.000 (salah ternyata, karena mendahului empunya negara, hahaha). Itu sekelumit cerita, analisisnya berikut:

Jika harga BBM bersubsidi naik, masyarakat kelas menengah akan teriak “mahal, biaya hidup akan naik” tidak hanya kelas menengah, penguasaha pun akan bilang ongkos produksi, biaya modal dan biaya pendanaan akan naik, ekspansi akan tersendat.

Benar!!

jokowi

Dalam jangka pendek hal tersebut akan terjadi mengingat efek kejut dari kenaikan harga BBM akan berlanjut pada kenaikan biaya distribusi barang, jasa dan perpindahan orang. Terlebih lagi, secara moneter maka bank sentral akan mengambil kebijakan konservatif dengan menaikkan suku bunga acuan, dan benar BI menaikkan suku bunga menjadi 7,75% sehingga secara otomatis biaya keuangan atau cost of fund akan naik.

Seorang pengusaha yang mengandalkan laverage untuk pembiayaan akan menanggung biaya bunga yang tinggi untuk ekspansi usahanya, akhirnya profitabilitas tertekan dan jika dihitung secara nasional dalam jangka pendek imbal hasil investasi akan cenderung melambat. Yang bahkan turun. Seharusnya, jika mereka cerdas dan melihat peluang, ini sudah diprakirakan sejak Agustus lalu. Harusnya.

Kemudian yang menjadi dampak lanjutan adalah harga barang akan naik, bahasa kerennya inflasi, dan sejauh mana inflasi itu akan terjadi.

Inflasi dalam jangka pendek akan terjadi terutama akibat distribusi. Namun, yang disayangkan adalah oknum yang mendistribuksikan barang terutama barang pokok, broker kebutuhan dasar dan penyelenggara angkutan yang secara sepihak dipastikan akan mengambil oportunitas untuk menaikkan marjin.

Masalahnya, sebagian dari mereka tidak berpikir panjang, jika menaikkan harga jual, mampukan masyarakat membeli, sementara permintaan cenderung turun karena pendapatan masyarakat calon pembelinya belum naik? Sebelah kanan kena, sebelah kiri kena, nah.

Tantangannya adalah kepada regulator dan eksekutor, dalam hal ini BI, OJK dan kementerian terkait untuk mengeuarkan regulasi dan melakukan program yang  menahan perlambatan ekonomi dengan menjaga daya beli.

Dari sisi pemerintah, seharusnya mengontrol kenaikan harga agar tidak liar dan volatil, sementara dari sisi regulator adalah menjaga agar biaya keuangan tidak naik, namun sayangnya mereka tidak mempunyai taring untuk itu karena sepertinya semuanya diserahkan pada mekanisme pasar. Sedikit operasi pasar karena posisi modal dari keduannya relatif terbatas.

Permasalahan itu saya yankin hanya akan berlangsung setidaknya dalam tiga bulan, mampukah kita puasa dalam tiga bulan?

Dalam jangka panjang struktur ekonomi nasional saya yakin akan lebih baik karena pemerintah mempunyai ruang fiskal yang lebar untuk mendoroong pertumbuhan dalam jangka panjang.

Namun kebanyakan dari kita tidak sabar. Coba lihat secara historis, tahun 2004 lalu saat saya lulus SMA dan baru pindah di Jakarta harga nasi goreng hanya Rp 4.000 dan saat itu tahun 2005 BBM juga dinaikkan menjadi Rp 6.000.

Efeknya sekarang nasi goreng menjadi Rp 10.000 dan saat itu pertumbuhan ekonomi RI berada diatas 5-6%  per tahun sejak sepuluh tahun saya tinggal di Jakarta toh banyak kelas menengah yang semakin kaya, benarkan?

Secara siklus ekonomi atau siklus apa saja lah, kalau digambar grafiknya ada kalanya kita berada diatas ada kalanya krisis dan berada dibawah, atau istilah lainnya roda itu berputar.

Yang menjadi tantangan adalah bagaimana kita mengontrol hal itu. Jika kita mengarah ke penurunan dalam sebuah grafik, pasti akan menemukan reversal point atau titik balik, sejauh mana kita memanfaatkan bouncing atau pantulan dalam sebuah trampolin misalnya, jika kita dapat mengontrol maka pantulan tersebut membawa kita lompat lebih tinggi, bukankah begitu?

Semoga bahasanya mudah dimengerti karena pakai bahasa gaul yang tidak ekonom banget. Hahaha..

 

Agus (pengamat gadungan)

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.