Agama Bukan Pilihan

Itsmi – Nederland

 

Orang yang memeluk suatu agama merasa senang jika mengakui bahwa dirinya beragama ini berdasarkan pemikiran dari dirinya sendiri apalagi orang tersebut berpendidikan tinggi namun apakah pemikiran yang dipikirkan bahwa agama pilihan dia sendiri itu mempunyai dasar?

Pemuka-pemuka agama mencoba terus untuk membuktikannya dengan mengasosiasikan pada matematika dan logika. Metoda yang dipakai adalah metoda deduktif terutama dalam teologi. Induktif dan logika statistik yang berdasarkan empiris sains mereka tidak pernah mau mendengarkannya. Di luar itu pemikiran mereka melompat-lompat dari perasaan subjektif ke total transendensi dimana semuanya tidak dapat di lihat. Objektivitas? Itu juga belum pernah mereka pikirkan karena alasan mereka keyakinan seseorang pada agama merupakan suatu bukti yang mutlak.

Jadi manusia diindoktrinasi habis-habisan sampai kehilangan pikiran untuk berpikir mandiri. Pengetahuannya hanya berdasarkan mendengar dari “kata orang”. Inilah pemikiran yang paling berbahaya dalam suatu agama, bukan dari transedensinya tapi ideologi mendengar dari kata orang, sebagai kekuatan masa atom yang destruktif pada kohesi kelompok dan sekaligus menjauhkan diri dari kelompok lain.

Anak-anak sedari kecil sudah didoktrin dengan buku-buku dongeng bahwa merekalah yang lebih baik dari pada yang lain. Bahwa agamanya yang paling benar dan tidak usah berpikir dan meneliti pada fakta karena keyakinan berdasarkan otoritas sudah prima. Apa kata orang tua berarti itu benar. Di buku juga tertulis, berarti benar. Seorang pakar atau cendiakawan mengatakannya, berarti benar. Rabi mengatakan, berarti benar. Pandita mengatakan, berarti benar. Ulama mengatakan, berarti benar. Paus mengatakan, berarti benar.

Tanpa Indoktrinasi, terlepas dari sosial konteks atau tidak, manusia tidak akan berpikir sampai transedensi. Ini terlepas dari pemikiran adanya transendensi atau tidak ada.

Setelah seseorang mengetahui bagaimana cara meyakinkan orang lain tanpa bisa mengandalkan pengalaman pribadi yang kongkret, itu sudah indoktrinasi. Pemikiran atau ide yang abstrak, kekuatannya diambil dari proses menyebarkan supaya orang menjadi simpatik pada agamanya dan pada akhirnya masuk manjadi anggota. Seperti cara Yehova menyebarkan agama mengetuk pintu rumah ke pintu rumah lainnya atau cara Katholik dan Protestan dengan misionaris-misionarisnya.

Jika banyak orang-orang sudah percaya pada suatu agama lalu orang-orang tersebut akan berpikir pasti ada kebenarannya. Seperti pada rokok, banyak orang merokok, pasti ada enaknya…. Ini semua bisa terjadi karena kekurangan reflexi diri dan kekurangan ini di kombinasikan dengan kekurangan pengetahuan mengenai indoktrinasi. Akhirnya mereka berpendapat bahwa kepercayaan pada Tuhan dan mempunyai agama itu bukan indoktrinasi.

Tentu pemikiran ini sangat bertolak belakang dan tidak rasional pada fakta kongkret dari indoktrinasi seperti sekolah minggu, pengakuan pada pastor, pesta-pesta agama seperti hari Natal, lebaran Idul fitri dan Idul Adha, hari Paska, Nyepi, sebelum tidur atau makan sembahyang, dan seterusnya dan ini sudah 2000 tahun Hindu 5000 tahun….

choice

Menurut Dick Swaab, profesor neurobiologi terkemuka di Belanda dan guru besar di Cina yang terkenal sebagai penelitian otak, berpendapat bahwa beragama itu 50% sudah ditentukan oleh gen. Agama itu sebagai pengisi lokal perasaan spiritual manusia. Lingkungan dimana seseorang dibesarkan, dalam proses perkembangan sangat terpengaruh karena dalam proses itu agama terekam di sirkuit otak. Sama seperti berkembangnya bahasa ibu.

Bahan kimia Serotonine dalam proses ini pegang peranan besar. Serototine, zat yang ada di Lsd, mesculine dan lain lain yang bisa membangunkan mistik dan pengalaman spiritualitas.

 

Renungan

Bagi penganut agama, dimana Tuhan yang berkualitas mahatahu, apakah masih tetap berpikir bahwa agama itu pilihan?

 

Itsmi-Nederland

 

 

One Response to "Agama Bukan Pilihan"

  1. Jankgordon  23 October, 2019 at 15:16

    Seorang Atheist mau aja didoktrinasi menjadi Atheis. Goblok kannnn?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.