Dendam

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

SUDAH ada nama jalan Hatta, Sjahrir atau Kartini di Belanda, negara yang menjajah Indonesia ratusan tahun. Sedang di Indonesia, tak mungkin ada nama jalan menghormati pahlawan Belanda. Kalau nama ilmuwan, masih ada sekitar 12 jalan di Bandung, untuk menghormati ilmuwan Belanda yang berjasa bagi kemanusiaan dan negeri ini.

Kita langsung marah bila ada nama pahlawan asing dinamakan di jalan-jalan kota-kota Indonesia. Dulua ada Jalan Patrice Lumumba (tokoh pergerakan kemerdekaan Kongo dan pahlawan kaum hitam Afrika), tapi diganti jadi Jalan Angkasa. Jalan Eijkman diganti jadi Jalan Kimia (belakang Megaria) dan banyak lagi. Tapi bila ada nama orang kita dipakai di negara lain, waaaah puja puji semesta sambil berucap, Subhahenol….

Hattastraat

Hattastraat

Kartinistraat

Kartinistraat

Munirstraat

Munirstraat

Sjahrirstraat

Sjahrirstraat

Walau Hatta, Kartini dan Sjahrir bukan pahlawan Belanda, mereka tetap menghormati integritas mereka. Sjahrir sangat anti-Belanda! Apalagi Hatta! Agak aneh memang bangsa barat (Belanda). Tahanan politik sperti Hatta, Sjahrir serta kawan-kawan digaji dan dapat uang bulanan selama di asingkan pemerintah kolonial di Digul atau Bandaneira. Kita? Guru saja gajinya dipotong bahkan tak diberi kalau bisa tak dikasih sebagai haknya oleh bangsa sendiri. Itu bedanya bangsa beragama dan bangsa kapir (Belanda).

Sebentar lagi akan ada Munirstraat di Den Haag. Siapa Munir?

mBuh.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.