Memburu Kopi Telungkop (2): Tuhan Suka Kopi Telungkop

Handoko Widagdo – Solo

 

Pantai-pantai Calang memang indah. Selain masih sepi, pasirnya yang putih kekuningan terhampar bersih di tepi ombak. Bukit-bukit yang menjadi latar belakang menjulang merona hijau kehitaman. Ombaknya berdeburan meski tidak terlalu kuat. Dan seekor capung melayang tertangkap kameraku.

telungkop2 (1)

Di antara tetesan gerimis, tanpa matahari yang menyapa, kami sempat menikmati indahnya pantai di Kota Calang. Pantai nan indah ini terhampar sejajar dengan jalan menuju Meulaboh. Beberapa perahu nelayan terlihat menyongsong asa, mengharap ikan mendekat ke pantai.

telungkop2 (2) telungkop2 (3)

Setelah puas memandangi pantai kami beranjak menuju sebuah warung kopi. Kini saatnya kami menikmati kopi telungkop. Disebut kopi telungkop karena kopi disajikan dalam gelas terbalik. Mula-mula gelas diisi bubuk kopi yang agak kasar sebanyak sepertiganya. Kemudian air mendidih dituangkan ke atas bubuk kopi tersebut. Selanjutnya cawan ditutupkan di atas gelas. Dengan keterampilan yang aduhai, cawan yang ada di atas gelas dibalikkan posisinya menjadi di bawah gelas. Jadilah gelas terbalik bersisi kopi yang sudah disedu di atas cawan. Anehnya air tidak keluar dari gelas. Hanya sedikit saja kopi keluar dari bibir gelas.

telungkop2 (4) telungkop2 (5)

Cara menikmatinya adalah dengan menyeruput langsung kopi yang sudah berada di atas cawan, atau dengan menggunakan pipet. Sedangkan untuk mengeluarkan kopi dari gelas, kita harus meniup bibir gelas dengan pipet. Masuknya udara ke dalam gelas mendorong cairan kopi keluar ke dalam cawan.

telungkop2 (6)

Rasa kopi telungkop sungguh sangat nikmat. Ampas kopi menjadi penyaring.

Kekayaan kuliner Aceh tak terbatas hanya kopi telungkop. Di Meulaboh kami menemukan sajian itik Bireuen. Itik goreng dan gulai menemani makan malam kami.

telungkop2 (7) telungkop2 (8)

Nikmatnya kopi telungkop membuat Tuhan juga ingin mencicipinya. DitiupNya ujung langit sehingga air meruah di cawan Meulaboh. Luapan air ini membuat perjalanan kami sejenak terhadang. Namun kegembiraan tak terkalahkan oleh keindahan Pantai Barat Aceh. Apalagi melihat ibu-ibu yang memanfaatkan banjir untuk membawa anak-anaknya berenang.

telungkop2 (9) telungkop2 (10) telungkop2 (11) telungkop2 (12) telungkop2 (13)

Di beberapa tempat kedalaman air membuat lantai mobil kami tergenang. Berbeda dengan air kopi telungkop yang hangat, air sungai terasa sangat dingin. Bahkan mobil kami harus didorong untuk menyeberangi luapan air tersebut. Kami tak memerlukan pipet untuk memaksa air keluar dari dalam mobil. Cukup hanya dengan membuka pintu dan brol airpun keluar berlari mengejar teman-temannya menuju pantai.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.