Pengosongan Kolom Agama: Kebijakan Setengah Hati

Wesiati Setyaningsih

 

Mendagri sedang mengusulkan bahwa kita boleh mengosongkan kolom agama di KTP dan orang mulai berkomentar antara pro dan kontra. Saya termasuk yang pro karena menurut saya, kolom agama itu bukan hal yang penting untuk disertakan dalam sebuah identitas. Di negara lain kolom agama tidak ada dan semua baik-baik saja. Beda dengan nama, alamat dan jenis kelamin yang wajib dicantumkan, bahkan sebenarnya kolom golongan darah justru lebih penting dari kolom agama.

KTP-PEMBEDA-AGAMA

Kenapa? Karena dalam sebuah proses administrasi alamat itu akan memudahkan kroscek kalau ada masalah. Ketika seseorang mengalami kecelakaan dan dicari kartu identitasnya, maka tujuannya adalah untuk mendatangi tempat tinggalnya, lalu memberitahukan siapapun yang ada di tempat tinggalnya untuk membantu bertanggung jawab atas si korban. Golongan darah akan memudahkan pihak rumah sakit bila ternyata korban membutuhkan darah karena parahnya kondisi korban. Tapi kolom apa manfaat kolom agama dalam masalah seperti ini? Untuk memanggilkan pemuka agama agar bisa menuntun mereka saat sakaratul maut?

Buat saya, agama itu hak saya pribadi dengan Tuhan dan tidak perlu dipamerkan pada orang lain dalam KTP. Bukan berarti saya tidak bangga dengan agama saya lantas saya setuju untuk menyembunyikannya. Tapi kalau agama yang saya anut lantas membuat orang yang berbeda dengan saya jadi makin merasakan perbedaan yang ada, rasanya saya rela untuk tidak menyebutkannya.

Jadi kalau menurut saya, ide pengosongan kolom agama itu bagus saja. Masalahnya, ide itu diwacanakan agar mereka yang tidak beragama tidak usah repot-repot pura-pura mencantumkan agama yang sebenarnya tidak mereka anut.

Sebagai orang yang pernah bekerja di kelurahan dan tahu bagaimana proses pencetakan di KTP, saya pikir wacana “boleh mengosongkan kolom agama di KTP” itu adalah sebuah kebijakan populis yang setengah hati.

Data yang ada di KTP itu semua sudah ada di Kartu Keluarga. Ketika kita mencetak ulang KTP, sebenarnya hanya memperbaharui saja. Semua data sudah ada. Mau menulis di form KTP apapun, kalau data di Kartu Keluarga tidak diubah, maka yang tercetak ya itu lagi itu lagi.

Kalau orang lantas menghapus data agama di KK mereka, apa ya ada yang mau susah-susah seperti itu? Di negara yang penuh dengan penghakiman ini, rasanya hal itu butuh nyali yang luar biasa.

Andai memang tujuannya adalah untuk menghapus batas tegas yang menujukkan perbedaan di antara para pemeluk agama, kenapa kolom agama di KTP tidak dihilangkan saja sekalian?

Jadi meski di KK data agama itu ada, tapi di KTP tidak ditampakkan. Akhirnya masalah pengosongan kolom agama bukan lagi menjadi pilihan bagi mereka yang tidak punya agama, tapi bagi yang beragama pun diharapkan untuk menikmati agama mereka dalam sebuah ruang yang sangat pribadi antara diri mereka dan Tuhannya, di ruang ibadah dan majelis-majelis. Tapi tidak di kartu identitas.

Namun sepertinya kita harus menunggu dengan sabar apa kiranya yang akan dilaksanakan oleh Mendagri mengenai masalah ini. Sementara ini, kita mulai dari diri sendiri saja untuk tidak terbisa mempertegas batas perbedaan di antara kita.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.