[Di Ujung Dunia – Xiexie Ni de Ai] Demi Dirimu

Liana Safitri

 

KEHEBOHAN mengguncang seluruh penghuni tempat itu. Xiao Long menendang beberapa orang yang berjaga di depan pintu dan mencari Nyonya Zhou. Tiga anak buahnya mengikuti di belakang.

Mendengar laporan Xiao Long datang, Nyonya Zhou bergegas menyambut, “Bos! Aku senang sekali kau kemari! Tidak biasanya kau datang tiba-tiba… Apakah mau minum sedikit?

Xiao Long memelototi Nyonya Zhou, “Mana orang baru itu?”

“Oh… perempuan asal Indonesia yang kau bawa? Ada seseorang yang tertarik padanya… Dia menawar tinggi sekali, jadi kujual saja…”

“Siapa yang memberimu izin untuk menjualnya?” bentak Xiao Long. “Sudah kukatakan padamu dia sangat istimewa! Kau harus menjaganya! Apa kau tak mengerti maksudku?”

Nyonya Zhou sangat terkejut sekaligus ketakutan. Ia berusaha mencari-cari alasan untuk membela diri, “Bos… bukannya aku tidak mau… Tapi dia sangat merepotkan! Tidak patuh dan selalu melawan. Dia membuat masalah dengan para tamu… Aku pikir daripada membuat kita rugi, selagi ada yang berminat kuberikan saja! Bukankah itu lebih baik daripada dia terus-menerus membuat ulah dan mengakibatkan kelab malam kita bangkrut?” Nyonya Zhou pergi ke kamar dan segera kembali membawa setumpuk uang. “Ini… kau ambil saja… Tapi sebagian sudah kupakai… akan kuganti sisanya…”

Xiao Long menangkap tangan Nyonya Zhou yang gemetaran. Ia mengambil uang tersebut lalu melempar ke wajah Nyonya Zhou, “Kau tahu ini bukan hanya sekedar soal uang! Kalau aku perlu uang, untuk apa susah-susah memasukkan dia ke tempatmu! Kau menggagalkan rencanaku!” Xiao Long mendorong Nyonya Zhou sampai terjatuh. Ia menampar semua laki-laki yang berdiri di belakangnya sambil memaki, “Brengsek kalian semua!” Xiao Long memberi tanda pada tiga orang yang mengikutinya untuk meninggalkan tempat itu.

Setelah Xiao Long pergi, para wanita yang sejak tadi hanya berani mengintip dari kamar kini bermunculan keluar. Mereka menolong Nyonya Zhou berdiri. Wanita itu bergumam berulang kali, “Celaka! Bos marah besar! Habislah kita kali ini! Habislah kita!” Setelah itu ia memanggil dengan panik, “A Liang! Cepat kau ke tempat Jing Yuan! Cari informasi tentang perempuan itu, cari dia sampai dapat! Dengan cara apa pun, kalian harus membawanya kembali!”

 

Nyonya Li tidak percaya mendengar cerita suaminya. “Apa maksudmu Tian Ya tinggal bersama perempuan lain sekarang?”

“Aku tidak pernah setuju Tian Ya tinggal bersama di apartemen! Kita terlalu memberi kebebasannya!”

Nyonya Li kebingungan. “Lalu… lalu Lydia?”

“Kalau Lydia sudah pulang aku pasti melihatnya!”

“Mana bisa begitu?”

“Mana bisa?” Tuan Li kesal sekali. “Bahkan Tian Ya bisa membawa kabur seorang gadis ke luar negeri! Perempuan yang tinggal dengan Tian Ya sekarang juga orang Indonesia! Dia datang ke kantor setiap hari dan mengantarkan makan siang pada Tian Ya. Aku malah tahu belakangan dari orang-orang kantor yang suka bergosip. Memalukan!”

Nyonya Li lebih memikirkan Lydia daripada Tian Ya. “Aih! Anak perempuan pergi sendiri… Bagaimana jika terjadi sesuatu? Dia tidak kenal siapa-siapa selain kita…”

“Entahlah!”

“Kau sungguh tidak peduli dengan Lydia?” Nyonya Li menatap suaminya tidak setuju.

“Aku tidak bilang tidak menyukai Lydia. Kita mengenal Lydia sejak dia kecil, menganggapnya seperti anak sendiri. Tapi masalah perasaan, kita jangan ikut campur. Kalau Tian Ya dan Lydia sudah tidak cocok, ya berpisah baik-baik. Antar dia kembali ke rumah orangtuanya, ke tempat kakaknya! Kau juga tidak ingin Lydia terkatung-katung di sini, kan? Tidak peduli betapa pun sayangnya kita pada anak itu, kembali ke keluarga tetaplah yang terbaik! Mereka salah! Kita apalagi!”

“Bagaimana dengan perempuan yang tinggal bersama Tian Ya sekarang?”

Tuan Li mengibaskan tangan, “Aku tak punya waktu memperhatikan dia! Yang jelas, Tian Ya tidak boleh dibiarkan tinggal terpisah dari kita! Akhir-akhir ini pekerjaan Tian Ya juga tidak beres. Sepertinya aku harus menunda keinginan untuk pensiun.”

“Tapi… kita tidak mungkin diam saja! Masalahnya… kita tidak tahu dengan jelas siapa perempuan itu… Bagaimana latar belakangnya? Kalau dengan Lydia yang sudah kenal selama bertahun-tahun saja selalu bermasalah, masa mau menjalin hubungan dengan yang baru kenal dua tiga bulan?” Pikiran Nyonya Li semakin lama semakin kacau, lalu bertanya pada suaminya, “Perlukah aku menemuinya?”

“Terserah kau saja!”

Ternyata Nyonya Li benar-benar pergi ke apartemen ketika Tian Ya tidak ada.

Tentu saja Frida yang membukakan pintu. Nyonya Li menatap Frida dari atas ke bawah, membuat Frida keheranan. Tidak nyaman diperhatikan seperti itu Frida batuk-batuk kecil. Nyonya Li seolah disadarkan dengan maksud kedatangannya lalu tersenyum canggung.

“Kaukah yang bernama Frida?”

Mendengar Nyonya Li berbicara dalam bahasa Indonesia perasaan Frida menjadi tak enak. “Benar, Anda siapa?”

“Aku ibunya Tian Ya.”

Setelah meletakkan secangkir teh dihadapan Nyonya Li, Frida duduk di lantai pada ujung lain meja. Kemarin papa Tian Ya yang datang, kali ini mamanya. Mau tak mau Frida menjadi waspada, apalagi sepertinya mereka tidak menyukai dirinya.

“Jadi kau tinggal bersama Tian Ya dan Lydia?” Nyonya Li membuka pembicaraan.

“Ya. Saya bersih-bersih, mencuci baju, memasak… Tepatnya menjadi pembantu Tian Ya, karena Lydia sudah tidak di sini!”

“Oh…” Sejenak Nyonya Li tidak tahu harus menanggapi apa.

“Kau… bagaimana bisa mengenal putraku?”

“Dia membantu saya lolos dari majikan lama yang jahat, lalu menawarkan untuk tinggal bersama sekaligus bekerja. Saya pikir karena pada saat itu keadaan sedang terdesak, jadi setuju saja. Tian Ya juga juga membantu mengurus izin kerja dan masalah gaji di tempat sebelumnya.”

Nyonya Li mengangguk-anggukkan kepala. “Mmm… apakah kau tidak punya keinginan untuk… bekerja di tempat lain? Yang gajinya lebih besar misalnya? Atau kau tidak merindukan kampung halamanmu?”

“Apa maksud Anda? Saya tidak mengerti…”

“Begini… sebenarnya aku dan suamiku tidak setuju Tian Ya tinggal di apartemen. Kami ingin dia tinggal di rumah agar lebih leluasa untuk mendiskusikan masalah pekerjaan. Kalau Tian Ya pindah, kami tidak bisa membawamu karena di rumah sudah ada pembantu. Tapi aku punya saudara yang memiliki dua anak kecil, dia sangat kerepotan. Kurasa kau bisa bekerja bersamanya. Bagaimana?”

“Bukankah hal ini harus ditanyakan pada Tian Ya lebih dulu? Meski Anda berdua menginginkan Tian Ya tinggal di rumah, tapi kalau Tian Ya tidak setuju itu terserah dia. Lagi pula… saya sudah cukup senang bekerja dengannya. Tian Ya tidak bisa memberhentikan saya seenaknya, saya juga tidak mau dipindahkan bekerja pada sembarang orang.”

Nyonya Li terkejut sekali, tidak menyangka jika Frida berani berterus terang menyatakan penolakannya. “Tapi… kami memindahkanmu bukannya tanpa alasan. Tian Ya tidak bisa tinggal di apartemen! Akan lebih baik baginya kalau kembali ke rumah sendiri.”

“Jika demikian saya juga harus ikut ke rumah Tian Ya!”

“Apa?” mata Nyonya Li terbelalak.”Sebenarnya apa maumu? Aku kan sudah katakan, jika kau membutuhkan pekerjaan kau bisa bekerja di tempat saudaraku. Di rumah kami sudah ada dua pembantu, tak perlu tambahan lagi.”

“Anda bisa memecat salah satu pembantu Anda dan gantikan dengan saya!”

“Mengapa aku harus berbuat begitu? Memangnya siapa kau, berani mengaturku?” Kecurigaan Nyonya Li semakin bertambah.

“Saya bukan siapa-siapa. Tapi hanya merasa aneh… Dulu saat Lydia masih tinggal di apartemen ini tidak ada seorang pun yang mempermasalahkan. Tapi kenapa setelah ada saya sepertinya Anda keberatan? Kelihatannya Anda tidak suka dengan saya!”

Nyonya Li marah sekali. “Kau… belum pernah aku bertemu dengan orang yang sangat kurang ajar sepertimu! Ya, kau benar! Aku tidak suka Tian Ya tinggal satu atap denganmu! Aku datang kemari berbicara baik-baik, berharap kita bisa saling membantu, tapi kau tidak menunjukkan sikap menghargai sedikit pun!” Ia segera berdiri sambil meraih tasnya, “Aku perjelas saja, kalau kau tidak mau pindah dari sini tidak apa-apa. Tapi jangan harap kau bisa masuk ke dalam rumah kami! Semua tawaran juga sudah kubatalkan!” Melalui kaca jendela Frida melihat Nyonya Li meninggalkan apartemen dengan tergesa-gesa, setelah itu barulah ia menutup pintu.

Tidak akan semudah itu menjauhkan aku dari Tian Ya. Emas yang sudah ada dalam genggaman, tak mungkin kulepas lagi!

Tian Ya terkejut ketika tiba-tiba mamanya menelepon, “Tian Ya, pulang dari kerja nanti kau harus ke rumah!”

“Ada apa, Ma?”

“Kau tidak usah tinggal di apartemen lagi! Kau punya rumah di sini!”

“Iya, tapi kenapa tiba-tiba memnyuruhku pulang?”

“Dengar, mama dan papa tidak suka kau tinggal dengan perempuan kurang ajar itu! Dia punya maksud yang tidak baik!”

“Tapi…”

Bagaimana kalau Lydia kembali?

“Tidak ada tapi-tapian! Kau harus pulang!”

“Baiklah!”

 

Begitu Tian Ya datang Nyonya Li langsung memarahinya habis-habisan. “Aku tidak tahu apa saja yang kau kerjakan di luar sana! Kenapa kau bisa sampai berhubungan dengan wanita seperti itu? Hari ini aku datang menemuinya untuk menawarkan pekerjaan tapi dia malah membuatku kesal setengah mati!”

Tian Ya pun mengerti kalau Nyonya Li baru saja dari apartemen. “Maksud Mama Frida? Mungkin ia masih takut jika harus pindah kerja ke tempat lain. Dia sering diperlakukan dengan tidak baik oleh majikan yang sebelumnya.”

“Bukan hanya itu, Tian Ya! Kau masih tidak mengerti apa maksud Mama! Harus berapa kali Mama katakan, Mama dan Papa tidak setuju kau tinggal bersama dengan seorang wanita sebelum menikah! Dalam masalah Lydia kami terpaksa mengalah karena kau terlanjur membawanya pergi, dan karena kami sudah mengenalnya sejak dulu…”

“Mama, dia hanya membantu bersih-bersih… Dia satu kamar dengan Lydia…”

“Dan sekarang Lydia sudah pergi!” tandas Nyonya Li. “Aku tak mau dengar alasan apa pun darimu! Kau sudah melampaui batas! Kalau kau tidak tega menyuruhnya pergi, kaulah yang harus meninggalkan apartemen!”

Badai besar kembali mengguncang rumah keluarga Li keesokan paginya. Seseorang datang menemui Tuan Li ketika semua orang sedang sarapan. “Tuan… beberapa hari yang lalu Anda meminta saya mencari tahu siapa orang yang bertemu dengan Tuan Wang dan memengaruhinya agar membatalkan kerjasama dengan perusahaan kita. Saya mendapatkan informasinya tadi malam, jadi baru bisa mengantarkan hari ini.”

Tian Ya mendadak kehilangan selera makan, diam-diam mengawasi Tuan Li.

Tuan Li menerima amplop coklat yang disodorkan pegawainya. “Terima kasih, Yin Tong. Kau boleh pergi!”

Tian Ya menunggu dengan jantung berdebar-debar.

Tiba-tiba Tuan Li terbatuk-batuk keras dan menjatuhkan kertas yang ada di tangannya, ia memegangi dada seperti orang yang kesulitan bernapas.

“Papa! Papa kenapa? Papa!”

“Pasti jantungnya kambuh!”

Tian Ya dan Nyonya Li menolong Tuan Li berjalan ke kamar dan membaringkannya di tempat tidur. Dokter segera datang dan memberikan pertolongan. Untung tidak sampai terjadi masalah serius. Setelah minum obat Tuan Li langsung tertidur.

Tian Ya kembali ke ruang makan, melihat kertas-kertas yang dijatuhkan Tuan Li. Data pribadi Franklin. Tentang pendidikan Franklin dan keluarganya. FRANKLIN FERDINAND. Ferdinand adalah nama ayah kandung Franklin yang sudah meninggal. Juga ada nama Yudhanto, tentu saja nama ayah Lydia sekaligus ayah angkat Franklin. Papanya sudah tahu kalau Franklin yang merusak hubungan mereka dengan Tuan Wang, adalah Franklin yang merupakan kakak angkat Lydia. Franklin yang punya dendam kesumat terhadap keluarga Li. Tapi masa hanya karena hal tersebut papanya jantungan? Tian Ya melihat lembaran lainnya yang merupakan guntingan artikel koran dan majalah dari Indonesia. Ada keterangan yang menyebutkan bahwa itu adalah artikel terbitan lebih dari sepuluh tahun lalu.

Tian Ya membaca judul demi judul, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf… Lalu mengamati gambar hitam putih Franklin kecil bersama orangtua kandungnya. Wajah Tian Ya berubah pucat dan matanya membulat. Berita yang sangat membingungkan! Sepertinya hanya Tuan Li yang bisa memberikan penjelasan.

Malam harinya Tuan Li memanggil Tian Ya ke kamarnya.

“Kau sudah tahu kalau yang merusak hubungan kita dengan Tuan Wang adalah Franklin kakak angkat Lydia?”

“Ya…” jawab Tian Ya dengan perasaan bersalah.

“Sudah membaca dokumen yang diberikan Yin Tong tadi pagi?”

“Sudah… Tapi aku hanya… tidak ingin Lydia terlibat, Papa…”

Nyonya Li menatap Tian Ya dengan tidak percaya, “Apa katamu?”

“Dulu Papa sudah pernah menceritakan masalah keluarga kita dengan keluarga Franklin… Tapi Mama dan Papa masih menerima Lydia…”

“Waktu itu kami berpikir, biar bagaimanapun Lydia dan Franklin bukan saudara kandung. Sangat tidak adil jika hubunganmu dengan Lydia harus dikorbankan karena kesalahan papamu di masa lalu. Setelah Franklin berniat akan menghancurkan SKY School, lalu Lydia bersedia kembali ke rumah demi melindungi kita, kukira…” Nyonya Li tampak sangat putus asa, “Kukira Lydia bisa membujuk Franklin agar melupakan dendamnya… Tapi… jika sudah begini sepertinya kau harus merelakan Lydia pergi…”

“Maaf, tapi aku tidak bisa!” kata Tian Ya keras kepala.

Nyonya Li memukul punggung Tian Ya sambil menangis gusar, “Kau sudah gila! Apa kau mau mengorbankan papamu demi Lydia? Anak tidak berbakti!”

“Aku bisa mengatasi masalah ini, Mama… Percayalah padaku…”

“Kakak Lydia hampir membunuh papamu! Kau mau mengatasi dengan cara bagaimana? Sungguh anak yang tidak berbakti!”

Suara berat Tuan Li memecah pertengkaran Tian Ya dengan Nyonya Li, “Jangan salahkan siapa pun… Aku memang pantas menerima semua ini… Franklin… sungguh malang…”

Tian Ya dan Nyonya Li sama-sama tertegun.

Lydia dan Franklin pulang dari bioskop ketika malam sudah larut. Kemarin setelah bertemu dengan Tian Ya, Lydia seperti kembali dilempar ke sudut yang gelap. Franklin harus bersusah payah mengajaknya pergi keluar. Ia menuruti permintaan Lydia untuk nonton film meskipun harus menahan rasa bosan, duduk diam selama dua jam. Tampaknya usaha Franklin berhasil. Ketika berjalan menuju hotel, seperti biasa Lydia menggamit lengan Franklin sambil bercerita panjang lebar. Sedangkan sang kakak seolah menjadi tempat sampah, siap menampung apa saja.

“Wah, film tadi benar-benar romantis, ya!”

“Romantis apanya? Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan!”

Suasana sekarang jauh lebih romantis daripada adegan film mana pun!

Franklin diam-diam tersenyum. Tentu saja mereka berdua tak akan merasakan ini jika hubungan Lydia dan Tian Ya tidak bermasalah.

“Apa Kakak tidak mencoba memahami cerita melalui gambar?”

“Jika film action atau horor mungkin masih bisa. Tapi roman kan lebih banyak percakapan, rayuan menggelikan dan tidak masuk akal! Hampir saja aku tertidur kalau tidak mendengar suara sebagian penonton yang tiba-tiba menangis!”

Lydia mencibir, “Lalu kenapa Kakak ikut masuk?”

“Apa? Bukankah kau takut gelap? Di rumah, jika mati listrik pada tengah malam kau selalu mencariku. Masih saja bergaya mau nonton di bioskop!” Lydia takut kalau mati listrik di malam hari, dari dulu sampai sekarang. Hanya ibu, ayah, dan Franklin yang tahu. “Apakah selama di Taiwan kau pernah mengalami mati listrik?”

Saat Kakak tidak ada dan mati listrik, kau mencari siapa?

Pikiran Lydia melayang pada Tian Ya, menebak apa yang akan dikatakan pemuda itu jika di tengah malam ia berteriak hanya karena mati listrik, mimpi buruk, atau ketakutan mendengar suara petir ketika hujan angin. Mengatainya penakut? Menertawakannya di belakang bersama Frida? Diam-diam Lydia menarik napas lega.

Untung belum sempat merasakan mati listrik di malam hari! Untung juga belum pernah mengalami badai Taifun!

Franklin sepertinya tahu kalau Lydia sedang memikirkan Tian Ya. Ia berkata untuk mengalihkan perhatian, “Kau berhutang padaku!”

“Apa?”

“Menceritakan film tadi!”

“Kakak bisa mencari ulasannya di internet.”

“Aku sudah membayar dua tiket! Kau harus menceritakan dengan detail adegan dan percakapan setiap tokohnya!”

“Dasar tidak mau rugi!”

“Malam ini kita akan mengobrol sampai pagi!”

“Dan Kakak harus membuatkan aku kopi!”

Franklin tidak memperhatikan kalimat terakhir yang diucapkan Lydia karena matanya menatap lurus ke depan dengan waspada. Lydia juga mengangkat kepala. Ada empat orang laki-laki yang entah datang dari mana.

“Ni hao, Li-di-ya!” (你好,Ly-di-a!—Halo, Ly-di-a!) Salah satu dari mereka menyapa dengan memberi tekanan pada nama Lydia sambil menyeringai mengerikan.

Jantung Lydia berdebar keras. “Kak… mereka orang-orang dari tempat itu!” Ia berbisik sambil mempererat pegangannya pada lengan Franklin.

Franklin terkejut bukan kepalang, sementara keempat laki-laki di hadapan mereka semakin mendekat. “Lari…” desis Franklin.

“Tapi…”

“Cepat lari!” bentak Franklin sambil mendorong Lydia ke arah berlawanan.

Ketakutan dan kecemasan berbaur menjadi satu. Lydia berlari sambil menoleh ke belakang beberapa kali dan dapat melihat bagaimana Franklin seorang diri berusaha mencegah para penjahat itu mengejarnya. Lydia harus memaksa sepasang kakinya menjauh meninggalkan tempat itu, sementara telinganya mendengar suara pukulan… Lydia tak mau menoleh lagi… Franklin sendirian…

Lydia mendaki tangga apartemen.

Dulu ketika dia datang dan meminta tolong padamu, kau mengulurkan tangan. Kini akulah yang datang… Kuharap tanganmu masih mau menyambut tanganku!

Lydia menekan bel pintu tanpa jeda seperti ledakan serentetan petasan. Tapi yang muncul tak sesuai dengan harapan.

“Mana Tian Ya?”

“Untuk apa kau mencari Tian Ya? Bukankah kau sudah memutuskan hubungan dengannya?”

Lydia menggertakkan gigi, “Aku tak mau bertengkar denganmu!”

“Katakan, ada urusan apa kau mencari Tian Ya?” tangan Frida menghalangi Lydia masuk ke dalam.

“Apa hakmu melarangku bertemu dengan Tian Ya?”

“Apa hakku?” Frida tersenyum licik. “Tentu saja aku berhak menanyakannya karena posisimu di sini sudah digantikan olehku! Tian Ya sudah menjadi milikkku!”

Untuk sesaat tempat Lydia berpijak bagai terbalik. Tapi wajah Franklin kembali menyadarkan Lydia. Ia berteriak keras, “Tian Ya! Tian Ya! Di mana kau? Tian Ya!” Karena tak ada jawaban dari dalam Lydia pun yakin Tian Ya sedang pergi.

“Sudah kukatakan Tian Ya tidak peduli lagi padamu! Kenapa kau masih berani mencarinya?”

Lydia menatap Frida penuh kebencian, “Kau benar-benar busuk! Aku tidak menyangka kau bisa berbuat serendah ini! Akan aku lihat kau berakhir seperti apa dirimu!”

Setengah nyawanya telah diambil. Tapi Lydia tak boleh jatuh sekarang, karena pada saat ini Franklin pun sedang mempertaruhkan nyawa demi dirinya.

Baiklah… Kalau memang itu yang kau inginkan, aku akan melepaskanmu… Tapi sekali ini saja, yang terakhir, aku mohon kau mau menolongku! Bahkan jika mungkin kau punya banyak alasan untuk mengabaikannya…

Lydia tidak bisa menelepon Tian Ya karena tak punya nomor pemuda itu sejak ponselnya dirampas Xiao Long. Lydia juga tak mau menyimpannya karena berpikir tidak memerlukannya lagi. Harapan Lydia tertumpu pada tempat terakhir ini.

Semua orang terkejut saat Lydia menerobos ke dalam kafe yang hampir tutup.

“Tian Ya, tolong…”

Tian Ya, Fei Yang, dan Xing Wang menoleh bersamaan. Tian Ya merasakan genggaman tangan Lydia dingin seperti es.

“Lydia! Ada apa?”

Lydia menjelaskan kejadiannya secara singkat dengan kalimat yang kacau balau, tapi Tian Ya mengerti bahwa Franklin sedang dalam keadaan bahaya. Setelah terdiam beberapa saat Tian Ya bertukar pandang dengan Xing Wang lalu berkata pada Lydia, “Kau tunggu di sini bersama Fei Yang, biar kami berdua yang pergi!”

 

Ketika Tian Ya dan Xing Wang datang ke tempat yang dimaksud Lydia, mereka tak menemukan siapa-siapa. Tapi pada sebuah sudut yang agak tersembunyi Tian Ya melihat pot tanaman yang pecah dan bercak darah. “Franklin sudah di bawa pergi…”

“Atau mungkin ia menghindari kejaran mereka ke tempat lain,” tebak Xing Wang. Ia mengambil sesuatu berbentuk bulat dan menunjukkannya pada Tian Ya. “Lihat!”

Tian Ya mengenalinya. “Ini koin seribu rupiah! Uang Indonesia!”

Mereka mengamati lebih teliti, lalu pada jarak tertentu menemukan uang rupiah dengan nilai berbeda. Ada lima ribu, sepuluh ribu, seratus ribu, dua puluh ribu…

“Mungkin milik orang Indonesia yang tinggal di sini dan tak sengaja terjatuh?”

“Tidak! Jelas sekali uangnya sengaja ditinggalkan sebagai petunjuk! Aku kira Franklin berlari menghindari kejaran sambil menjatuhkan uang. Kita berjalan mengikuti uang-uang ini…” Sampai di suatu tempat, dua kilometer dari uang pertama yang mereka temukan, Tian Ya dan Xing Wang tak melihat uang lagi.

“Uangnya sudah habis!” kata Xing Wang.

“Tapi seharusnya Franklin menjatuhkan benda lain…”

Tian Ya masih terus mencari dan setelah berjalan beberapa meter ia menemukan sebuah ponsel dan dompet warna hitam. Ponselnya sudah tidak dapat dinyalakan. Tapi ketika dompet di buka, Tian Ya melihat foto Franklin bersama Lydia, kartu identitas, dan kali ini uang dolar Taiwan.

“Benar dugaanku! Semua uang yang kita temukan milik Franklin. Dan aku rasa dompet ini adalah barang terakhir yang dijatuhkan Franklin.”

“Sekarang bagaimana?” Xing Wang bertanya pada Tian Ya sambil menatap lurus ke depan.

“Karena hanya ada satu jalan… kita harus terus…”

Gang gelap itu membawa Tian Ya dan Xing Wang ke sebuah tempat terpencil, tidak ada toko, tidak ada rumah penduduk. Hanya tanah lapang luas dengan tanaman liar dan rerumputan yang dibiarkan tumbuh tinggi. Di depannya ada sebuah gedung tua yang tidak jelas digunakan sebagai apa. Di samping gedung terdapat drum-drum minyak dan tumpukan karung pasir. Tian Ya dan Xing Wang melihat beberapa orang laki-laki mondar-mandir di depan bangunan.

Tian Ya dan Xing Wang menyembunyikan diri di balik semak-semak. “Mungkinkah Franklin ada di dalam sana?”

“Kita harus memeriksa tempatnya…”

“Tidak bisa! Mereka banyak orang, kita hanya berdua!”

“Aku berusaha mengalihkan perhatian, lalu kau masuk ke dalam! Kalau menemukan Franklin, ajak dia lari sambil memberi tanda padaku!”

“Kau yakin?”

“Kita tak punya banyak waktu!”

“Tian Ya!” Xing Wang berteriak, tapi Tian Ya sudah mendahului Xing Wang.

Tian Ya membuat kegaduhan di depan gedung. Melemparkan batu, kayu, kaleng, atau apa saja. Semua laki-laki berjumlah delapan orang keluar mengejar Tian Ya. Tian Ya naik ke atas tumpukan drum lalu mendorong drum-drum itu ke arah mereka. Sebenarnya keadaan tersebut sangat tidak seimbang, Tian Ya menyadari dirinya tak mungkin menang. Dua banding delapan, secara jumlah ia kalah. Untungnya mereka sedang dalam keadaan mabuk berat, jadi Tian Ya tidak tidak terlalu terancam. Ia hanya berusaha mengulur-ulur waktu sampai Xing Wang keluar.

Xing Wang masuk melalui pintu belakang gedung yang tidak dijaga. Dengan mudah Xing Wang menemukan seseorang yang tergeletak tak berdaya di sudut ruangan dengan tubuh babak belur. Meski belum pernah bertemu dengan Franklin, tapi Xing Wang yakin dialah orang yang dimaksud. Xing Wang mengguncang-guncangkan tubuh Franklin. Mata Franklin terbuka. Sesaat Franklin mengira akan dihajar lagi, tapi ia melihat wajah Xing Wang yang berbeda dari para preman itu. Xing Wang menempelkan jari telunjuk ke bibirnya, menyuruh Franklin diam. Dibantunya Franklin berdiri dan keluar dari gedung.

Tian Ya mendengar suara siulan yang menandakan ia harus segera pergi. Delapan orang mengusap-usap matanya setelah Tian Ya menumpahkan berkarung-karung pasir yang ada di situ. Sementara Tian Ya berlari menyusul Xing Wang dan Franklin.

demi-dirimu

Kini ada tiga orang yang membuat Lydia cemas.

“Kalau sampai besok pagi mereka belum kembali, kita terpaksa lapor polisi!” Lydia menatap jam dinding. “Besok pagi” yang dikatakan Fei Yang tinggal tiga jam lagi.

Ponsel Fei Yang berbunyi.

Lydia ikut tersentak.

“Dari Xing Wang!” Fei Yang mendengarkan sesaat dan wajahnya berubah. “Apa kalian sudah menemukannya?” Lydia memperhatikan Fei Yang dengan tegang.

Fei Yang menoleh ke arah Lydia, “Kita ke rumah sakit!”

Rumah sakit… terjadi sesuatu dengan Kakak…

“Apa kata Xing Wang?”

“Mereka sudah menemukan kakakmu,” kata Fei Yang.

“Lalu kenapa kita diminta ke rumah sakit? Dia terluka, ya kan?”

“Aku tidak tahu! Tapi mereka berhasil menyelamatkan kakakmu.”

Jawaban Fei Yang membuat Lydia semakin cemas. Perjalanan ke rumah sakit terasa sangat lama. Mungkin Tian Ya dan Xing Wang terlambat menemukan Franklin, mungkin Franklin sudah dihajar habis-habisan oleh anak buah Xiao Long…

Ruang gawat darurat, berarti keadaannya benar-benar serius…

Lydia berlari lagi menyusuri lorong rumah sakit. Orang-orang yang lewat bagaikan bayangan kabur.

Jika terjadi sesuatu pada Kakak, aku tak dapat memaafkan diri sendiri!

Begitu melihat Franklin, Lydia berlari memeluknya. “Kakak!”

“Aku tidak apa-apa…” Franklin berkata menenangkan sambil mengusap punggung Lydia.

“Tidak apa-apa bagaimana?” Lydia menghentakkan kaki dengan kesal setelah melihat wajah Franklin penuh lebam biru.

“Yang parah Tian Ya, dia… tertembak!”

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.