Pulau Panggang

Gunawan Budi Susanto

 

bakarlah pulau itu, bakar!

EDAN! Apa Bapak Gubernur sudah lupa bahwa baru dua bulan beliau melantikku menjadi bupati? Belum lagi aku tahu persis wilayah mana saja yang menjadi wewengkonku, sudah harus – lebih tepatnya diharuskan – mengambil kebijaksanaan yang benar-benar bijaksana. Senewen juga aku. Apalagi penyelesaian masalah ini harus kulakukan sesegera mungkin, tak boleh ditunda-tunda. Ya, aku bisa memaklumi Bapak Gubernur tentu tidak berkenan menerima teguran berulang kali dari pusat berkaitan dengan persoalan ini. Akibatnya, ya itu tadi, aku harus mengambil tindakan yang tepat dan cepat dalam kasus warisan bupati lama ini. Mau tak mau!

Lalu apa yang mesti kulakukan? Merelokasikan (menurut instruksi Bapak Gubernur lewat radiogram dari pusat) beribu kepala keluarga (KK) – persisnya berapa aku belum tahu – sesegera mungkin jelas bukan pekerjaan mudah. Sulit. Teramat sulit. Kalau aku bisa bertemu Sukrasana, adik Sumantri yang bisa memindahkan Taman Sriwedari dalam semalam, pastilah aku tidak dijarah rasa bingung seperti sekarang ini. Tapi itu kan dongeng wayang? Mana ada pada zaman ultramodern ini orang, eh wayang, kayak itu? Lagipula yang akan dipindahkan sekarang bukanlah taman, melainkan orang, manusia, beribu KK! Edan! Memang aku tukang sihir apa? (Wah, nuwun sewu Pak Gubernur, bukan maksud saya mengata-ngatai panjenengan punika edan! Saya kok yang sableng. Sungguh!).

Amrih Basuki Konflik ekologis, konflik agraria, di berbagai kawasan di negeri ini menuntut penyelesaian segera. Penyelesaian yang menempatkan manusia, kaum petani, sebagai perawat tanah, sang ibu kehidupan. Namun, celaka bukan? Penguasa negeri lebih memihak korporasi, yang berkemungkinan besar melenyapkan mata pencaharian puluhan ribu keluarga petani. Itulah, antara lain, yang terjadi di Urutsewu (Kebumen) dan Pegunungan Kendeng Utara, yang membentang dari Grobogan (Jawa tengah) melewati Kudus, Pati, Blora, Rembang, sampai Tuban (Jawa Timur).

Amrih Basuki
Konflik ekologis, konflik agraria, di berbagai kawasan di negeri ini menuntut penyelesaian segera. Penyelesaian yang menempatkan manusia, kaum petani, sebagai perawat tanah, sang ibu kehidupan. Namun, celaka bukan? Penguasa negeri lebih memihak korporasi, yang berkemungkinan besar melenyapkan mata pencaharian puluhan ribu keluarga petani. Itulah, antara lain, yang terjadi di Urutsewu (Kebumen) dan Pegunungan Kendeng Utara, yang membentang dari Grobogan (Jawa tengah) melewati Kudus, Pati, Blora, Rembang, sampai Tuban (Jawa Timur).

Dan, yang menambah senewenku, mereka itu berada di pulau di seberang pesisir utara kabupaten ini. Pulau itu harus segera dikosongkan dari manusia penghuninya dalam jangka waktu dua bulan. Apa tidak edan itu namanya? Menurut Sekwilda, penghuni pulau itu, Pulau Panggang, adalah penduduk darat. Mereka ramai-ramai pindah dan menetap di Pulau Panggang karena selain sangat subur, di pulau itu ditemukan banyak butiran emas murni. Sekarang mereka semua harus hengkang. Ini yang bikin kepalaku mumet. Kalau mereka cuma segelintir, lebih-lebih lagi bila mereka itu para perusuh, aku tak banyak menimbang-nimbang. La wong mereka, beribu KK itu, mencari nafkah untuk mencapai penghidupan yang lebih baik.

Masih kata Sekwilda, Pulau Panggang sejak dulu merupakan (baca: dijadikan) wilayah konservasi alam. Bagus sekali memang. Pulau yang kaya flora-fauna dengan berbagai spesies yang tak lagi bisa ditemui di daratan besar. Juga Pulau Panggang relatif bebas dari polusi besar-besaran yang menimpa laut di utara Jawa ini. Mungkin karena di sekeliling pantainya yang curam dilindungi cuatan-cuatan karang terjallah yang membuat segala macam limbah industri (serta berbagai macam limbah peradaban manusia) tak mampu mengusik keaslian dan keasrian pulau itu. Tapi lama-kelamaan bisa pula pulau itu rusak atau dirusak oleh nafsu serakah manusia. Wah, ngelantur sejauh ini baru aku sadar: sekarang pun tubuh Pulau Panggang sudah luka parah diparut dan digaruk para pencari butiran emas. Ah, nanti dulu. Rasanya mereka bukan jenis manusia yang bisa aku kategorikan manusia-manusia serakah. Bukankah, seperti kata Sekwilda, mereka itu hanya mencari penghidupan yang lebih baik, lebih dari sekadar mampu bertahan tetap hidup? Dan, toh mereka adalah rakyatku, rakyat yang justru karena amanat merekalah aku dilantik menjadi bupati. Dan aku, bukankah amanat penderitaan mereka yang kusandang dan kupikul untuk kemudian harus kuubah menjadi amanat kebahagiaan rakyat?

Edan! Bagaimana aku bisa se-waleng ini? Ya, bagaimana aku bisa mengambil kebijakan yang sungguh bijak kalau belum menerima dan mempelajari laporan selengkapnya mengenai thek-kliwer Pulau Panggang? Apalagi aku belum pernah meninjau langsung ke sana. Agak gopoh kuraih pesawat interphone di meja kerja.

“Halo! Saudara Sekwilda? Ya. Saya harap Saudara lekas ke kamar kerja saya. Saya pengin bicara. Bagaimana? Ya, Pulau Panggang! Ah, tapi sebaiknya Saudara lekas ke sini saja. Apa? Camat yang membawahkannya sedang bicara dengan Saudara? Kenapa tidak melaporkannya kepada saya? Takut? Wah, saya tekankan sekali lagi, cepat Saudara ke sini. Dan, anu, ajak camat itu sekalian. Juga laporan selengkapnya kalau ada. Ya, saya tunggu!”

Wela, Sekwilda iki piye ta? La wong aku sedang senewen mikir persoalan ini kok malah camatnya datang ndak langsung diajak menghadap. Wah, agaknya Sekwilda bukan tipe pejabat yang cepat tanggap terhadap tugas atasan dus tidak cepat tanggap terhadap tugas dan tanggung jawab sebagai bawahan. Ah, Sekwilda harus diikutkan penataran bagaimana seharusnya menjadi pejabat yang cepat tanggap terhadap atasan dan punya tanggung jawab besar terhadap anak buah. Lebih-lebih lagi agar tidak kena sindrom muter-muter penuh basa-basi. To the point, itu sikap kawan sekerja yang sangat kuharapkan. Jadi aku bisa berharap dari mereka, terutama Sekwilda, sumbang saran yang efektif dan efisien dalam menghadapi dan menyelesaikan segala macam tugas dan persoalan.

Kawan sekerja, atasan atau bawahan, ndak becus payah jadinya. La wong kita ini kan tak hanya abdi negara? Yang lebih penting lagi substansinya kita ini kan abdi rakyat? Pelayan rakyat? Dan, bukan seperti yang sudah salah kaprah: malah dilayani rakyat.

Tok! Tok! Tok!

“Ya, masuk!”

“Selamat siang, Pak Bupati!” Salam mereka serentak.

“Pagi. Ooo, ini Pak Camat Pulau Panggang?”

“Iya, Pak. Tepatnya camat yang membawahkan wilayah Pulau Panggang karena Pulau Panggang adalah pulau kecil yang masuk wilayahKecamatan Jurangnestapa, Pak.” Wela, kok jawaban Sekwilda mengesankan dia pejabat yang cepat tanggap? Sangat cepat tanggap bahkan.

“Silakan duduk. Silakan duduk. Nah, bagaimana….”

“Eeee, anu…, setelah saya pelajari laporan Saudara Camat ini, tak ada cara lain yang sangat efektif dan….”

“Sebentar, Saudara Sekwilda. Siapa nama Saudara Camat?”

“O, iya, Bapak Bupati tentu belum sempat mengingat semua nama camat di kabupaten ini. Maklum, ada dua puluh kecamatan kalau tidak salah. Bapak Bupati, Saudara Camat bernama Drs. Malangnian. Asli putra Jurangnestapa, Pak.”

“Wah, Sekwilda ternyata tidak hanya sangat cepat tanggap, tetapi juga….”
Belum lagi gumamku rampung, Sekwilda sudah kembali bersuara. “Iya, Pak Bupati. Memang saya selalu berusaha untuk cepat tanggap dan to the point seperti yang Bapak kehendaki terhadap kawan sekerja ketika Bapak berpidato pada acara serah-terima jabatan dua bulan lalu. Dan, anu Pak Bupati, saya selalu mengingat isi pidato itu. Menurut pendapat saya, pidato Bapak waktu itu sangat to the point dan sarat makna.”

“Ah, Saudara Sekwilda ternyata memiliki daya ingat tajam. Bahkan tentang hal-hal sepele yang saya ucapkan dua bulan lalu.”

“Tidak sepele, Pak! Tidak sepele. Apa yang Bapak ketengahkan saat itu justru merupakan hal-hal yang sangat prinsipil. Pidato Bapak, bagi saya, bertabur mutiara mutu manikam.”

“Lo, Saudara Sekwilda tahu ta kalau pidato saya banyak kata mutiaranya? Wah, ternyata Saudara pembaca karya sastra yang gamben juga. Memang saat itu saya mengutip banyak kata-kata mutiara dari para pujangga. Ada Shakespeare, Coloridge, O’Henry, Guy de Maupassant, Dostoyevsky, Solzhenistsyn, Pasternak. Lalu, siapa itu penyair Libanon? Ah, ya, Kahlil Gibran! Juga Rumi dan Barbara Cartland. Tagore. Dan, yang paling saya kagumi: Mishima. Ya, Yukio Mishima. Wah, karyanya yang berjudul Kuil Kencana sungguh luar biasa! Menakjubkan sekali. Digambarkan oleh Mishima bagaimana seorang biksu membakar ludes kuilnya. Ya, Kuil Kencana dibakar habis. Padahal….”

“Dibakar, Pak?” sela Camat Jurangnestapa. Wela, agaknya camat ini tak pernah membaca karya agung itu. Atau, dia memang bukan pencinta sastra? Menilik raut mukanya, dia jelas tidak bodoh. Meski mungkin masih muda, belum empat puluh.

“Apa Saudara Camat belum membacanya? Wah, Saudara harus membaca karya agung itu. Hebat sekali! Saya ingat persis penggambaran Mishima yang sangat dramatis. Begini: ‘Dari tempat aku duduk, Kuil Kencana tidak kelihatan. Yang bisa kulihat hanya asap yang berpusar dan api yang menjulang ke langit. Serpih-serpih api melayang-layang antara pepohonan dan langit. Kuil Kencana seolah-olah ditaburi pasir emas.’ Indah sekali bukan? Saudara Camat harus membacanya. Juga Anda, Saudara Sekwilda. Apakah Anda berdua tak menyukai sastra?”

“Menyukai, Pak. Saya selalu membaca cerpen-cerpen di Kompas. Juga tulisan-tulisan S. Mara GD, terutama di Majalah Matra,” jawab Sekwilda cepat.

“Bagus kalau Anda juga senang sastra, Saudara Sekwilda. Orang-orang seperti kita yang duduk di kursi pemerintahan ini memang seharusnya selalu menyempatkan diri membaca karya-karya sastra bermutu. Karena apa? Agar kita terbebas dari belenggu rutinitas yang cenderung menjadikan kita mekanis. Membaca karya sastra membuat kita tetap mampu menangkap pijar-pijar kemanusiaan yang maknawi. Lebih-lebih lagi agar kita selalu sadar: kita ini bukan benda mati, bukan tumbuhan, bukan binatang. Kita manusia. Dan, yang kita hadapi setiap hari pun persoalan-persoalan manusia, bahkan juga manusia itu sendiri. Nah, bagi kita, Saudara-saudara, sangat bagus sekali kalau mau ngugemi mutiara kata yang diucapkan John F. Kennedy almarhum yang ketika itu menjadi Presiden Amerika Serikat. Beliau mengatakan, ‘Kalau kekuasaan menyempitkan area pergaulan seseorang, puisi mengingatkan dia pada kekayaan dan keanekawarnaan eksistensinya. Kalau kekuasaan korup, puisi membersihkannya.’ Nah, apakah Saudara Camat juga senang membaca karya sastra bermutu?”

“Tentu, Bapak Bupati. Saudara Camat pasti selalu membaca sastra. Bukankah begitu Saudara Camat?” tanya Sekwilda.

“Saya lebih menyukai nonton wayang kulit, Bapak Bupati. Tapi waktu masih kuliah dulu, saya senang membaca karya-karya S.H. Mintardja. Juga sesekali karya Kho Ping Hoo.”

“Wah, bagus kalau begitu. Memang karya-karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo sarat falsafah konfusian yang memberi arahan bagaimana menjadi manusia bijaksana. Bagus itu!”

“Tapi, maaf, Bapak Bupati. Boleh saya bertanya?” Weh, hati-hati juga camat muda ini. Agaknya dia tahu bagaimana menghormat yang lebih tua. Tahu subasita dia.

“Boleh, boleh! Wah, saya senang dengan rasa ingin tahu Saudara. Apa yang ingin Saudara Malangnian tanyakan?”

”Maaf, Pak. Anu…, itu tadi,… kenapa Yukiyo Miss-hima membakar kuilnya? Apakah….”

“Yukio Mishima, Saudara Camat. Bukan Yukiyo Miss-hima! Dan, yang membakar bukan dia, bukan. Dia yang mengarang cerita.”

“Ah, maaf, maaf, Bapak Bupati. Saya memang harus membaca karya itu.”

“Iya, Saudara memang harus membacanya dulu agar tidak keliru menanggapi,” sahut Sekwilda.

“Betul. Begini ceritanya; yang membakar kuil itu seorang biksu muda. Dan, itu kuilnya sendiri lo. Tapi dia bukan seorang anarkis. Bukan! Dia lakukan itu juga bukan karena frustrasi. Seperti pernah ditulis Mangunwijaya, tindakan biksu itu justru merupakan ekspresi keyakinan yang radikal yang hanya dapat dirasakan dan dihayati para buddhis yang konsekuen ingin meninggalkan kemayaan tipuan fana, menuju mukswa, menuju Nirwana. Selanjutnya dalam tulisan Romo Mangun itu ditunjukkan bahwa sikap biksu muda itu merupakan refleksi dari ajaran yang tertulis dalam kitab pegangan kaum buddhis Jepang, kalau tidak salah. Tapi, anu, saya lupa nama kitab itu. Menurut dia, di situ tertulis, ‘Jika kau ketemu Buddha, bunuh Buddha! Kalau ketemu leluhurmu, bunuh leluhurmu! Kalau ketemu murid Buddha, bunuh murid itu! Kalau ketemu saudaramu, bunuh saudaramu! Hanya dengan demikian kau akan selamat dari belenggu kebendaan dan jadi bebas.’ Nah, begitulah kira-kira seingat saya. Bahkan kemudian Yukio Mishima pun mengakhiri hidup dengan seppuku, bunuh diri! Itulah puncak keindahan literer. Itulah tragik keindahan. Eh, tapi…, kenapa tadi Saudara bertanya tentang pembakaran kuil?”

“Aaah, saya tahu. Maaf, Pak Bupati. Mungkin maksud Saudara Camat dalam kaitan dengan kasus Pulau Panggang, Pak! Ya, betul sekali, kita bakar saja pulau itu!” ujar Sekwilda dengan sebat. Ediiaan wong iki! Pulau dibakar! Dan, he, sekilas kulihat dia mengedikkan kepala kepada Camat. Apa maksud Sekwilda mengeluarkan ucapan mengejutkan itu?

“Saudara Sekwilda. Saudara jangan ngaco! Apa Saudara kira saya ini Kaisar Nero?”

Ediiaan! Wong kok arep diobong urip-uripan! Nafasku jadi sesak tiba-tiba. Sekwilda sableng ora nggenah itu saya pelototi dengan perasaan kesal. Sangat kesal. Kesurupan setan ngendi wong iki? Kubasahi tenggorokanku dengan air putih dari gelas yang selalu tersedia di meja kerjaku. Kemudian kusulut sebatang kretek. Kusedot dalam-dalam dan kukepulkan asap dari mulut membentuk gelang-gelang tebal. Hening. Sembari menikmati asap tembakau, kuamati wajah pias kedua orang di seberang mejaku. Sekwilda gupuh menyeka keringat di dahinya yang lebar mengilat, sedangkan Camat tuduk menekur. Lengannya terlihat lunglai menumpang di atas dengkul.

“Ehmm!” Aku mencoba membuyarkan keheningan. “Sudahlah, lupakan saja. Nah, Saudara Camat, saya ulangi pertanyaan saya. Kenapa Saudara bertanya tentang pembakaran kuil itu?” Kuucapkan kalimat tersebut lambat-lambat. Aku tak ingin dia salah mencerna sekaligus biar dia berkesempatan menata perasaan karena mungkin sikap kesalku tadi mereka artikan sebagai kemarahan. Meski sebenarnya aku memang pengin marah dan aku memang berhak marah.

“Eee, maaf, Pak. Boleh saya berterus terang? Maksud saya, eee…, tentang anu, Pak, tentang Pulau Panggang.”

“Ya, terus terang saja. Saya menghargai keterusterangan. Juga kejujuran. Memang kejujuran sering kali berkesan kasar, tapi saya lebih senang Saudara-saudara jujur.”

“Eee…. Anu…, apa yang dihaturkan Bapak Sekwilda tadi benar. Itu memang usul saya, Pak.”

“Usul yang mana? Pembakaran tadi?” Edan! Nekat juga camat ini. Kulirik sekilas wajah Sekwilda. Kini, dia tak lagi terlihat pias dan gugup.

Tarikan mukanya mengesankan kepulihan rasa percaya diri. Diam-diam aku salut.

“Betul, Pak. Tadi ketika menghadap Bapak Sekwilda, saya usul agar rumah-rumah atau gubuk-gubuk para penghuni Pulau Panggang dibakar saja. Eeee, maksud saya…, itu demi efisiensi dan efektivitas, Pak. Karena….”

“Saya tidak setuju!”

“Tapi….” Sekwilda tampaknya hendak mencoba mendukung usul Camat.

“Saudara jangan menyela bicara saya! Saudara Malangnian, saya ulangi, saya tidak setuju dan tidak akan pernah menyetujui usul Saudara. Yang kita hadapi dan harus kita selesaikan ini persoalan yang menyangkut manusia, rakyat kita. Di sana, seperti pernah Saudara Sekwilda katakan, ada ribuan nyawa manusia. Ribuan, Saudara! Kalaupun orang-orang yang harus kita relokasikan hanya beratus atau berpuluh, bahkan segelintir, kita tetap tidak boleh berlaku sembrono. Dan, lagi mereka toh, seperti kata Saudara Sekwilda, bukan perusuh atau pembangkang? Mereka, rakyat kita itu, berbondong ke sana justru karena pengin mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Tindakan  yang kita ambil haruslah manusiawi. Tidak bisa dan tidak boleh kita memperlakukan mereka sebagai objek semata-mata demi efektivitas atau efisiensi atau demi apa pun. Harga manusia dan harkat kemanusiaan jangan Saudara nilai dengan hitungan per satuan nyawa. Usul Saudara berdua sungguh tidak berperikemanusiaan!”

lukisan Amrih Basuki

lukisan Amrih Basuki

Usai menumpahkan rasa kesal dan jengkel aku bangkit. Sekali entakan kakiku telah menghampiri jendela kaca di belakang kursi, menghadap ke taman kecil. Tergesa kubuka jendela dan kusemburkan air ludah yang terasa memualkan. Kesiur angin perlahan menerpa muka. Ada kesejukan yang tiba-tiba menelusup ke rongga dada. Perlahan pula rasa kemrungsungku mengendur. Tanpa sepenuhnya kusadari bola mataku menatap bukit-bukit tiruan dengan tebing-tebing batu masif. Dari puncak bukit batu berlumut itu menyembul pancuran bambu kecil. Gemericik air bertingkah membentuk satuan irama. Di bawah sinar matahari siang bolong seperti sekarang ini muncratan air bak mutiara berkilauan membentuk lengkung tak terputus. Percikan-percikan yang lepas mengilau bagai perak, jatuh di rumputan dan kembang-kembang di seputar kolam kecil di bawah tebing.

Mataku mengitar, menelusuri kehijauan berseling warna-warna kuning dan merah. Lalu kembali pandangku menancap ke bukit tiruan berbentuk kerucut. Kubiarkan hati dan pikiranku mencecapi keindahan sepetak taman pada saat ini. Dalam pandang mataku, batu-batu masif di tebing bukit tiruan yang selalu basah terkena air itu seperti berkilau, memantulkan cahaya matahari. Fantastik! Seperti…, ya, ya, seperti kuil. Kuil Kencana! Menakjubkan!

Tepat di tentang bola mataku, kuil itu memancarkan daya kewibawaan magis. Tapi, ah, hatiku tercekat ketika tiba-tiba saja kuil itu terbakar. Mataku terbelakak. Semburan api dan asap membubung tinggi. Gemeretak kayu terbakar membuat kupingku sakit sekali seperti ditusuk berulang-ulang. Sesekali terdengar letupan kecil dari pusat kebakaran. Dan, seiring letusan besar, ingatanku terpatok pada satu kejadian yang persis sama yang tergambar dalam benakku. Sekonyong-konyong mulutku bergumam. “Dari tempat aku berdiri, Kuil Kencana tidak kelihatan. Yang bisa kulihat hanya asap yang berpusar dan api besar yang menjulang ke langit. Serpih-serpih api….”

Dan, tiba-tiba apa yang kulihat berubah. Oh, pemandangan yang memilukan! Ribuan gubuk dan pepohonan terbakar. Dan, jerit tangis itu!

Tidak! Tidak! Kenapa berubah? Kugelengkan kepala keras-keras. Tapi gagal juga.

“Tidak! Tidaaaak!”

Rriiiiiiing! Rrriiiiiiing! Suara telepon menyentak kesadaranku. Sebelum gagang telepon diangkat Sekwilda (eh, ternyata dia masih di sini, juga Camat Malangnian), dengan sebat aku mendahului. Wah, ini sambungan hotline dengan gubernuran!

“Ya, halo! Selamat siang, Bapak Gubernur. Belum, Pak! Ya, justru saat ini kami, ee… maksud saya, saya sedang memperbincangkan persoalan itu bersama Sekwilda dan Camat Jurangnestapa. Ya, ya, kami sedang mengkaji usulan Camat. Baik, Pak, nanti segera saya laporkan selengkapnya. Baik, Pak, ya, dalam dua bulan. Baik, selamat siang, Pak.”
Kuletakkan gagang telepon dan segera kutatap kedua bawahanku. “Saudara Camat, juga Anda, Saudara Sekwilda, Bapak Gubernur yang menelepon. Beliau menghendaki dua bulan ini persoalan harus selesai. Kalau tidak, gawat kata beliau.”

“Memang bisa gawat bila tak terselesaikan, Pak,” ujar Camat. Sekwilda mengangguk berulang-ulang. Huh, seperti tekukur saja orang ini.

“Maksud Saudara?”

“Begini, Pak. Maksud saya, Bapak pasti sudah tahu kalau kasus ini tidak segera kita tuntaskan, bisa gawat akibatnya.”

“Ya, saya tahu. Pasti saya akan dipensiun diam-diam seperti bupati terdahulu.”

“Maaf, maaf, bukan itu maksud saya, Pak.”

“Lalu?”

“Begini, Pak. Kalau tidak kita tuntaskan segera justru akan menimbulkan persoalan yang lebih ruwet. Malah-malah sudah persoalan tidak selesai, kita akan menghadapi persoalan lain yang bisa menyengsarakan nasib rakyat kita di sana. Mereka akan dirundung ketidakpastian yang mencemaskan, Pak.”

“Ah, to the point saja Saudara Malangnian! Jujur saja dan ceritakan selengkapnya. Saya akan sabar mendengarkan.”

“Maksud Saudara Camat begini, Pak, eee… untuk merelokasi para penghuni Pulau Panggang memang tidak ada jalan lain, kecuali membakar gubuk-gubuk mereka. Eee, tapi…, maaf, Pak Bupati. Boleh kami bicara apa adanya?”

“Ya, bicara saja apa adanya,” sahutku sambil menahan geram.

“Ketika kami dipimpin Bapak Bupati terdahulu sudah berulang kali, berangsur-angsur, mereka kami pindahkan ke hutan-hutan bakau yang dibabat dan dijadikan tambak serta kami dirikan rumah-rumah sederhana di sana. Tapi ternyata kemudian banyak yang diam-diam kembali ke Pulau Panggang. Sekalipun kami telah merobohkan gubuk-gubuk mereka. Tentu saja ada yang tertangkap satgas yang menjaga di sana. Tapi karena masih lebih banyak yang lolos – maklum, prajurit penjaga tak mencukupi — apa yang kami lakukan saat itu seperti sia-sia. Lima puluh KK kami pindah, tak berapa lama jumlah yang sama kembali memasuki pulau itu. Pernah kami lakukan operasi besar-besaran, tetapi sebelum kami menginjak pasir pantai mereka sudah menghilang ke hutan yang masih cukup lebat dan bermedan sulit. Akhirnya, begitulah, kasus ini menjadi terbengkalai. Dan, sekarang berdasar data yang ada, di sana ada 1.500 KK, Pak.”

Sekwilda berkata panjang-lebar sembari membolak-balik berkas yang dibawa. Tapi ketika dia hendak menyambung kalimat lagi, aku menggelengkan kepala keras-keras. Sekwilda terdiam. Ah, sebetulnya aku tak bermaksud menghentikan omongannya. Aku hanya pengin mengusir gambaran-gambaran memilukan yang membayang di pelupuk mata. Bara api, jerit tangis, dan lintang-pukang orang-orang menyelamatkan diri berganti-ganti dengan bayangan kuil kuning berkilauan di tengah kobaran api yang menjulang ke langit. Dan, sesungguhnya aku tak menangkap apa pun yang dia ucapkan. Tapi keheningan yang tercipta justru menyadarkan aku.

“Ah, sudahlah. Sekian saja pertemuan kita. Dua hari lagi kita bertemu dalam rapat lengkap antarinstansi. Silakan Saudara kembali. Tinggalkan saja berkas-berkas Saudara biar saya pelajari. Selamat siang!”

Sepeninggal mereka, aku tergugu. Kembali keheningan menyungkup kamar kerjaku. Aku seperti terpuruk dalam lubang yang tak terukur kedalamannya. Ah, aku tak boleh larut. Kukibaskan kepala, kuhirup dan kuembuskan nafas dalam-dalam dan panjang.

Setelah gejolak rasa mereda kuraih berkas di atas meja. Perlahan kubuka lembar-lembar terketik rapi itu. Hebat! Laporan yang disusun Camat Jurangnestapa dilengkapi pelbagai data dan gambar situasi. Bahkan juga kliping-kliping tentang kasus yang mirip serta surat-surat penting dari dinas-dinas terkait.

Kuambil selembar surat dinas berkop gubernuran. Hei, ini surat perintah kepada bupati lama. Edan! Gubernur menginstruksikan pembakaran gubuk-gubuk penghuni pulau itu! Kuamati lagi. Ya, ini surat perintah kepada bupati lama, bukan kepadaku sebagai bupati baru. Dan, rasanya aku belum pernah menerima surat dari Gubernur yang berkaitan dengan kasus ini, kecuali instruksi berdasar radiogram yang kuterima itu. Ah, aku tahu sekarang. Pasti bupati pendahuluku tak sudi melaksanakan instruksi itu dan akibatnya, masa baktinya dipercepat tanpa tawar-menawar lagi.

Dalam rapat dua hari kemudian, aku tegaskan pendirianku. Aku sepenuhnya mendukung tindakan bupati pendahuluku. Yang lebih penting lagi, upaya pengungsian tersebut kucanangkan sebagai aksi kemanusiaan dengan melibatkan berbagai pihak dan sukarelawan. Meski demikian, aku tak bisa menghindar dari langkah yang sedikit mengandung paksaan. Tapi yang pasti pembakaran tidak terjadi dan aku yakin secara psikologis bisa berdampak lain. Sayang, masih ada beberapa orang yang tak bersedia pindah dan lebih memilih memasuki hutan. Upaya persuasif untuk membujuk mereka gagal. Mereka, dengan alasan yang sebenarnya bisa kumengerti, tetap enggan meninggalkan Pulau Panggang. Mereka bertahan di hutan-hutan, entah sampai kapan. Untuk mencegah arus balik, penjagaan diperketat. Dan, perubuhan gubuk-gubuk pun dilakukan terus-menerus setiap hari.

Ketika deadline tinggal sehari, kuputuskan merampungkan perubuhan. Aku turun ke lapangan. Barangkali saja aku masih sempat membujuk mereka yang bertahan. Namun percuma saja aku mengumbar kata. Mereka bersikukuh pada pendirian. Karena tak mungkin ditunda lagi, perubuhan gubuk terakhir secara besar-besaran pun dilakukan. Hiruk-pikuk suara para pekerja dan sukarelawan ambata rubuh.

Tiba-tiba teriakan bersahut-sahutan memecah Pulau Panggang. Orang-orang berlarian tak tentu arah. Bahkan beberapa menceburkan diri ke laut curam. Api! Ya, api mobat-mabit menyantap segala yang disentuh. Bah! Siapa nekat membakar gubuk-gubuk itu? Siapa berani menerabas garis kebijaksanaanku? Busyet!

Gopoh aku berlari di tengah lalu lalang orang-orang yang lintang-pukang. Waduh, kepada siapa aku harus bertanya atau melampiaskan kemarahan kalau semua orang sibuk menyelamatkan diri masing-masing? Tanpa kusadari kakiku tersaruk-saruk menuju ke ketinggian. Kulihat beberapa orang yang berusaha memadamkan api tak lagi meneruskan upaya mereka yang jelas sia-sia karena si lidah naga itu terlalu ganas. Memangsa gubuk-gubuk, membakar pepohonan.

Aku termangu di antara udara panas dan asap tebal bergulung-gulung. Oh, lihatlah, kobaran api makin besar dan terus membesar bagai hendak menyentuh bibir langit. Seluruh pulau terbakar! Sekonyong-konyong aku merasa ringan sekali, melayang-layang di tengah gumpalan asap dan api. Sekilas masih kulihat tubuhku terempas ke tebing curam, terbanting-banting di bebatuan, kemudian lenyap. Di bawah sana, di tentang mataku, hanya api dan asap. Namun tiba-tiba samar terlihat sebuah bangunan berkilau diselimuti api yang sekarang berwarna kuning keemasan. Kuil Kencana! Menakjubkan! Berbareng suara ledakan mengguntur, aku merasa makin terlambungkan jauh tinggi. Tinggi sekali!

 

Tulusharapan-Genuksari-HW, 2889

* Dimuat majalah mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Diponegoro (Undip), Hayamwuruk Edisi Nomor 3 Tahun IV/1989, halaman 49-52.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.