Barbeque Buatan Ibu untuk Suamiku

Primastuti Dewi Pobo

 

“Tulisan ini sudah lama ku buat, sengaja ku upload pas hari Guru, Selamat hari Guru, Ibu adalah guru favorit ku. Beliau mengajarkan bagaimana menyelamatkan nyawa suami ku berkat racikan BBQ specialnya”

 

Suatu ketika suami ku mengajak mengunjungi Ibu dan Bapak di pelosok Jambi di seberang lautan. Kalau bukan karena kedua orang tua ku masih tinggal di sana, sepertinya sudah malas membayangkan suasananya. Aku lebih senang sebenarnya kalau Ibu dan Bapak kembali ke Yogyakarta. Berkali kali aku memberikan alasan:

Pertama Ibu sudah pensiun, tidak diikat negara untuk mengabdi lagi jadi tidak masalah meninggalkan Jambi. Kedua, kedua orang tua ku sudah sepuh, walau sampai sekarang mereka masih sehat, tapi kepikiran juga bagaimana kalau tiba-tiba mereka sakit? Rumah sakit jauh, tenaga medis juga meragukan, fasilitas tidak semudah kalau mereka berada di Yogyakarta. Ketiga, ke empat anak-anaknya tidak tinggal di Jambi, semua berada di luar pulau Sumatra. Keempat, kalau yang menjadi berat untuk pindah adalah semua properti yang di miliki, aku menyarankan untuk dijual semua saja, uangnya didepositokan dan mereka bisa gunakan untuk bersenang senang di hari tua, tapi orang tua Indonesia tetap saja orang tua yang memegang budaya warisan. “lha nanti anak-anak ku nggak dapat warisan?”

Waktu itu aku dan kakak-kakak ku sepakat bahwa kami tidak mengharapkan warisan orang tua, kami harus bertanggung jawab sendiri atas kehidupan kami masing-masing. Warisan pendidikan yang mereka berikan rasanya sudah lebih dari cukup, tidak perlu dapat warisan rumah, tanah, atau jenis jenis warisan lain. Setelah semua tipu daya rayuanku tidak mampu membuat Ibu ku tergerak hatinya untuk segera meninggalkan tanah Jambi, ternyata ini alasannya “Masyarakat di sini masih membutuhkan Ibu”. Speechless, mau bilang apa lagi aku ini?

Ibu ku, seorang Abdi negara, sudah pensiun. Namanya juga Abdi negara, apalah yang bisa kubanggakan dari profesi seorang abdi negara, kecuali niatnya yang tulus mencerdaskan kehidupan bangsa. Gaji Ibu yang selalu minus, jatah beras yang baunya apek 50kg per bulan, hal yang membuat aku senang hanya karena Ibu berbeda dari ibu-ibu lainnya.

Setiap pagi, sebelum beliau berangkat kerja, beliau akan berdiri di depan cermin, asyik dengan rambut panjangnya, ditata sedemikian rupa, kadang disanggul, kadang dikepang, kemudian wajahnya yang mampu membuat para lelaki terpesona itu diolesi bedak tipis, bibirnya yang indah diolesi dengan lipstik, sepatu hak tinggi nya berjajar rapi di kamarnya, beliau akan memilih satu di antaranya yang tentu saja disesuaikan dengan baju yang dikenakannya saat itu.

Tidak lupa ibu memasangkan anting di kedua telinganya. Semangatnya untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, dengan gaji pas pasan, mana lah cukup untuk menghidupi kami. Dengan keterampilan, kecerdasan yang beliau miliki, Ibu punya profesi tambahan sebagai dukun beranak. Konon sewaktu kuliah, Ibu pernah ikut kursus bagaimana menolong persalinan. Maka jangan heran, walau Ibu ku seorang guru, di rumah juga lengkap dengan alat-alat kedokteran. Tidak ada dokter di desa kami saat itu, tidak ada tenaga medis, jadi Ibu turun tangan membantu proses persalinan. “Sekarang Ibu sudah tidak mau menolong persalinan lagi” alasannya sudah banyak Dokter dan Bidan yang lebih mampu, “kalau di minta menemani Ibu mau, tapi kalau menolong proses persalinan Ibu sudah pensiun”, begitu katanya.

Kalau mau lebay mengisahkan, entah sudah berapa ratus Ibu hamil yang persalinannya ditolong oleh Ibu. Tapi sebaiknya tidak usah lebay, yang jelas entah sudah berapa kelahiran yang ditolong oleh ibu selama 31 tahun tinggal di Jambi. Selain itu, Ibu terkenal pandai memijit, dari mulai pijat capek sampai pijat dengan keluhan penyakit tertentu. Saking terkenalnya Ibu, biasanya sepulang mengajar, pasien sudah antri di teras menunggu Ibu. Malah dulu sempat sampai ada yang menginap menunggu antrian. Tidak heran nama Ibu dikenal di seantero Desa bahkan sampai ke kota. Singkat cerita, Ibu belum mau pindah ke Yogyakarta karena kasihan dengan pasien-pasien yang masih merindukan jasa beliau. Aku menyerah, sampai akhirnya suami ku mengatakan ingin berkunjung ke Jambi.

Berangkat, diawali dengan 2 kali naik pesawat, dilanjutkan dengan naik kendaraan 5 jam menuju rumah Ibu. Perjalanan menuju ke rumah ibu tidak semulus perjalanan di negara suami, tapi tentu saja suami ku tidak mengeluh, beruntung rasanya punya suami yang nggak neka-neka. Dapat beradaptasi di mana pun berada. kami tertawa setiap kali kendaraan kami harus berjuang di jalan penuh lubang-lubang sepanjang puluhan kilo. Alih-alih mengeluh, dia malah bilang ini adalah perjalanan paling menantang dalam hidupnya.

Di rumah Ibu, kami menikmati kebersamaan bersama keluarga. Makan, ngobrol, dan rutinitas lain. Sampai akhirnya malam terakhir sebelum paginya kami terbang menuju Jakarta, dan merupakan malam paling mengerikan sepanjang sejarah hidupnya. Aku tidur di kamar Ibu, minta dikelonin. Suami ku tidur sendiri di kamar ku. Kami tidur lebih awal karena harus bangun jam 5 pagi. Pesawat kami dari Jambi berangkat pukul 2 siang, jadi kami memutuskan untuk berangkat dari rumah jam 6 pagi dengan estimasi perjalanan 5 jam, dan jika terjadi faktor X sepanjang perjalanan kami masih punya cukup waktu menuju Bandara.

Antara sadar dan tidak sadar, aku mendengar pintu kamar Ibu diketuk dan aku mendengar suara “Dewi… Dewi… Wake up, Help me please” aku merinding, melirik jam di dinding kamar, pukul 2 dini hari. Hantu? Aku menoleh ke Ibu ku yang tertidur pulas dengan tangan melingkar di Badan ku. Detak jantung ku tiba-tiba berdegub lebih kencang memikirkan ada hantu memanggilku. Aku coba memejamkan mata lagi dan “Dewi.. Dewi.. Please” aku tersentak.

Tiba-tiba mata Ibu ku terbuka dan menatap ku, aku tambah kaget. “suara apa itu” tanya Ibu. Spontan aku meloncat dari tempat tidur, tiba-tiba aku teringat suami ku. Itu bukan hantu, mana ada hantu di desa berbahasa Inggris. Sambil sedikit sempoyongan ku buka pintu kamar. Suami ku berdiri di tepat di hadapan ku. Ku lihat wajahnya memerah dan meringis kesakitan. Aku panik. “ada apa?” tanya kebingungan. “sesuatu telah menggigit pinggang ku. Ini binatang nya ada disini, di dalam kaos ku” jelasnya.

Ibu juga sudah berdiri di belakang ku. Kaos oblong yang dikenakan suamiku sudah di gulung hingga perutnya yang seksi terlihat seperti penari perut. Tangan kirinya memegang gulungan kaos nya yang sudah naik ke dadanya. “Sini biar ku lihat” dalam hati ku berkata “Oalah di gigit semut aja sampai bangunin aku dan Ibu” ku bimbing dia duduk di kursi. Ku bantu dia melepaskan kaosnya sambil tetap memegang gulungan kaos yang menurut dia ada binatang di dalamnya itu. Uuumm… seksi goda ku saat melihatnya topless.

Aku tertawa dan menjatuhkan kaosnya di lantai. Ibu sudah membawa pisau daging. Entah kapan beliau ke dapur mengambil pisau besar itu, entah apa yang mau dipotong-potong aku masih tidak habis pikir. Suami ku sekarang terlihat pucat. Aku masih heran, tidak ada apa-apa di kaos yang terjatuh di lantai itu. Aku lalu memeriksa pinggangnya. Aku terkejut, ada bekas gigitan menghitam dipinggangnya, 2 lubang. Apa ini? Aku lalu memeriksan kaos yang teronggok di lantai.

Tiba-tiba ada binatang hitam berkelebat di kaos itu. Hah??!! Aku merinding. Dengan mengumpulkan keberanian ku aku memegang ujung kaos dan berkata pada Ibu “ Ada binatang besar dalam kaosnya, kalau Ibu lihat langsung dibunuh pakai pisau daging itu ya” Ibu mengangguk. Ku tarik kaos itu. Binatang itu keluar dari kaos berusaha lari di lantai. Dengan sigap bak pahlawan Ibu langsung memotong binatang itu jadi dua, separuh potongannya langsung di cacah kecil kecil di lantai seperti mutilasi binatang. Aku masih terdiam seribu bahasa karena terkejut. Suami ku tidak bergerak, kaku karena kaget dan ketakutan, dengan gesit Ibu memotong dan mencacah binatang itu sampai halus, separuh badan binatang itu masih bergeliat geliat di lantai sekarat. tiba-tiba tanpa rasa jijik ibu mengambil cincangan binatang tersebut dan plek!!!

Menempelkannya pada bekas gigitan di pinggang suami ku. Mata suami ku berkaca-kaca. Aku yang tadinya shock sekarang menahan tawa melihat ekspresi suami ku “oh my God” keluhnya sambil membuang muka tidak mau melihat binatang yang telah menjadi bubur itu menempel di badannya “ini menjijikkan sekali” keluhnya hampir menangis.

Sekarang aku tidak bisa menahan tawa ku. Aku meledak sambil berujar “mau sembuh atau mau mati” dia dengan polosnya menjawab “mau hidup” aku semakin tertawa. “Oalah le le, pie to iki mau critane” ujar Ibu ku sambil meminta suami agar tidak bergerak. Separuh badan binatang yang masih bergeliat di lantai di ambil ibu pakai ujung pisau daging nya. Membawanya ke dapur lalu binatang itu di panggang di atas kompor, bau gurihnya tercium di ruang tengah.

Aku tatap suami ku kasihan tapi tetap tidak bisa menahan tawa ku melihat ekspresinya. Merasa bersalah karena meremehkan gigitan binatang itu ku kira semut. Ternyata yang menggigitnya adalah Kaki seribu (Kelabang) sebesar ibu jari ku, warnanya gelap pekat dan kaki kaki yang berujung kemerahan. Tiba-tiba Ibu datang lagi dengan piring kecil berisi barberque kaki seribu. “jangan memintaku untuk memakannya, ku mohon Ibu” aku terpingkal-pingkal bercampur rasa kasihan.

Barbeque kaki seribu bikinan ibu sudah berbentuk bubur di atas piring, sepertinya Ibu telah mencampurnya dengan Minyak Tawon. Perlahan Ibu membersihkan cacahan mentah kaki seribu yang masih menempel di pinggang suami dengan kapas basah. “Oh my God” ucapnya saat ibu menempelkan barbeque di atas bekas gigitan kaki seribu, kemudian menutupnya dengan kapas “biarkan ini sampai pagi”. Aku mencari plester di tempat persediaan Obat di rumah. Nihil, plester habis. Tidak ada warung buka, kalo mengikat pinggangnya dengan perban guna agar barbeque tidak berceceran ke mana-mana rasanya berlebihan.

“Lihat itu, pakai itu saja” suami ku menunjuk kertas yang menempel di koper ku. Aku terbahak bahak. Kertas yang di maksud adalah sticker Airport Security Checked, stiker yang akan ditempel pada barang bagasi setelah melewati scanner di airport. Stiker itu masih menempel di Koper ku. “ambil saja, itu pas untuk menutupi ini, pelan-pelan nanti sobek” aku menurut, tak ada plester stiker pun jadi. Ku tempelkan stiker itu di pinggangnya. Dalam kesakitannya, suami ku tertawa demi melihat stiker security checked menempel di pinggangnya.

Ku pandangi suami ku yang tertidur, sesekali ku pegang keningnya untuk memastikan apakah badannya demam atau tidak, aku khawatir racun kaki seribu itu menjalar ke dalam tubuhnya. Dari cerita yang ku dengar bahwa orang yang di gigit kaki seribu akan mengalami demam 2 – 3 hari. Bahkan konon katanya sampai ada yang meninggal. Aku tidak sanggup membayangkan suami ku meninggal karena gigitan binatang sialan itu. Masih tida habis pikir bagaimana dia bisa di gigit kaki seribu. Terakhir kali ada kaki seribu di rumah kami sekitar 15 tahun yang lalu, saat itu di sekitar rumah kami masih hutan belantara. Kenapa tiba-tiba binatang ini muncul kembali? Apa mungkin karena mereka mencium darah bule? Yang berbeda dari darah darah kami. Aku merasa bersalah karena telah sedikit malas menanggapi gigitan binatang di pinggangnya karena ku pikir semut, tidak sekalipun terpikirkan ada kaki seribu di balik kaosnya.

Ibu menasehati ini itu, mampir ke rumah sakit dulu sebelum menuju bandara. Aku iyakan saja semua petuahnya. Sebentar-sebentar ibu masuk ke kamar kami “panas nggak badannya?” beliau ingin memastikan mantu nya baik-baik saja, pasti beliau pun cemas. Sepanjang sisa malam itu aku tidak bisa tidur, memandang wajah suami dan merasa sangat bersalah dan kasihan, lalu memandang pinggangnya aku tertawa melihat sticker security checked menempel di pinggangnya semakin terpingkal-pingkal menyadari bahwa di bawah stiker itu ada barberque kaki seribu yang menempel di kulitnya.

Kami harus pulang ke Yogya, jam enam pagi kami berangkat. Suami ku memeluk ibu erat sekali “Mama, terimakasih telah menyelamatkan nyawaku” sebelum pergi Ibu masih menasehati ini itu jika badan suami ku panas. Aku mengangguk. Di dalam perjalanan, setiap 30 menit ku pegang badannya, tangannya, pipinya, keningnya, lehernya untuk memastikan dia tidak demam. Sesekali ku tarik bajunya ke atas untuk memastikansecurity checked masih menempel di pinggangnya. Tak pelak, setiap kali ku lihat stiker itu, saat itu juga aku tertawa. Aku meminta sopir berhenti di apotik untuk membeli plester yang lebih manusiawi untuknya, tapi suami ku bilang tidak perlu, dia beralasan plester yang sekarang menempel di pinggangnya sekarang lebih cool.

Di dalam pesawat, suami menarik baju nya keatas, memperlihatkan plester cool itu lagi, dan dia berujar “seharusnya tempat ku bukan di sini, dengan stiker ini seharusnya aku berada dalam bagasi pesawat” tawa kami meledak. Sebagian penumpang menoleh ke arah kami dan kami masih terbahak-bahak.

Sesampai di Yogya, ku lihat suami ku baik-baik saja, suhu badannya tidak meningkat. Malamnya ku buka plaster cool yang menahan barbeque tetap menempel di pinggangnya. Ku bersihkan pinggangnya yang menghitam akibat barberque bikinan ibu ternyata gosong. Bekas gigitan itu sedikit memudar. Sedikit ku tekan “sakit?” tanya ku, suami ku menggeleng. Ku perhatikan di area gigitan kaki seribu itu juga tidak bengkak “ Pusing? Mual? Dingin?” tanya ku lagi, “tidak, aku baik-baik saja, Ibu menyelamatkan nyawaku, dia adalah pahlawan kehidupan untuk ku” ujarnya sambil tertawa.

Luar biasa, ramuan Ibu mujarab. Sampai hari ketiga setelah insiden itu, suami ku baik-baik saja, “dari kedua ramuan yang Ibu buat, aku lebih percaya yang pertama, yang daging mentah menempel di bada ku, walau itu sangat menjijikan, tapi rasanya itu lebih mujarab menghisap racun binatang itu” begitu katanya pada hari ke tiga, saat ku tanya kenapa alasannya, dia menjawab “soalnya yang sudah di barberque itu gosong, aku kira arang tidak menyembuhkan tapi hanya membuat pinggang ku hitam” kami tertawa “tapi, kalau suatu saat aku digigit kaki seribu lagi, aku akan melakukan hal yang sama seperti yang ibu lakukan, menempelkannya mentah-mentah di badanku dan membuatnya barbeque sebagai tindakan kedua. Ini pelajaran luar biasa, aku tidak mendapatkannya di sekolah” jelasnya sambil memandang pinggangnya. Bekas gigitan itu sudah tidak ada lagi.

Berada di kota Madrid saat hujan itu sedikit membosankan, kami tidak bisa berjalan kaki. Akhirnya kami menghentikan taxi dan memintanya mengantarkan kami bertiga (aku, suami dan teman kami) menuju rumah salah satu sahabat kami di Madrid. Di dalam taxi kami menceritakan pengalaman suami d gigit kaki seribu di Asia. Cerita yang mengerikan bagi orang Eropa ini di kemas lucu oleh suami ku dengan logatnya yang kocak berhasil membuat cerita ini lebih sebagai komedi dibanding cerita menyeramkan. Kami tertawa terbahak-bahak di dalam taxi saat mengisahkan kembali kejadian itu.

Sopir taxi pun tiba-tiba menjadi sahabat kami, dia ikut tertawa dan bertanya ini dan itu. Sampai akhirnya teman ku berkata “hai teman (berkata pada sopir taxi), kita ini kebablasan, alamatnya di sana” kata teman ku sambil menunjuk arah belakang mobil. “Aku tahu. Tenang saja, aku akan membawa kalian ke alamat itu, aku tidak keberatan membawa kalian keliling Madrid, taxi meter sudah ku matikan sejak kita melewati alamat itu. Kalian tidak ku kenakan biaya tambahan sekarang. Ini gratis. Aku hanya ingin mendengar akhir dari kisah gigitan monster Asia itu”. Kami kembali tertawa. Suami ku kembali melanjutkan ceritanya. Aku senyum-senyum, mata ku memandang rintik hujan di luar kaca mobil taxi.

Teringat nyanyian anak jalanan di Yogyakarta “Semua orang itu guru, alam raya sekolah ku”. Iya Ibu adalah guru kami dalam hal melawan racun kaki seribu. Alam raya adalah media nya dengan mengirimkan kaki seribu menggigit suami ku. Ibu tidak mengajari aku dan suami di depan kelas, beliau mengajari kami menyelamatkan hidup. Terimakasih guru.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.