[Cerita Rakyat Buttasalewangang] Bukit Taman Ngurah

Hajrah Kadir

 

“Kerbauku juga mati”, Kata salah seorang warga Kampung Baruga. Sudah beberapa hari ini, kerbau milik warga Kampung Baruga banyak yang mati. Tak diketahui penyebabnya. Ada sebuah penyakit aneh yang berjangkit dan merenggut nyawa kerbau mereka. Masyarakat Baruga menyebutnya penyakit tedong mate (kerbau mati).

folklore

Kejadian tersebut berlangsung selama beberapa bulan lamanya. Melihat kejadian tersebut, Salah seorang warga yang mengalami kematian beberapa ekor kerbaunya, bernama Daeng Nyambung berinisiatif untuk segera melapor kepada Puang Pinati kampung. Puang Pinati oleh masyarakat adalah seorang yang dapat meramal apa yang terjadi dan belum terjadi di kampung itu. Selain itu, Puang Pinati sebagai pemangku adat dan penentu kebijakan di kampung itu. Demikian juga halnya dengan kejadian yang menimpa Kampung Baruga saat itu.

Berdasarkan kesepakatan beberapa warga yang mengalami nasib yang sama, maka diutuslah beberapa orang selaku wakil untuk menyampaikan berita tersebut kepada Puang Pinati. Mereka adalah Daeng Beta, Daeng Haruna, Daeng Mappa, dan Daeng Rani. Sesuai dengan hari yang telah ditetapkan, berangkatlah mereka ke rumah Puang Pinati. Sesampai di rumah Puang Pinati, mereka menjelaskan kejadian yang menimpa warga Baruga. Puang Pinati sangat terkejut mendengar laporan para warga.

Setelah mendengarkan penjelasan dari wakil masyarakat, Puang Pinati tersebut mulai melakukan persiapan. Puang Pinati segera mempersiapkan sesajian untuk persembahan dan peralatan untuk ibadah tersebut.

Puang Pinati duduk bersila di hadapan sesajian, dan mulailah Puang Pinati membaca mantra-mantra. Mulutnya berkomat-kamit. Selang beberapa waktu, Puang Pinati tampak berkomunikasi dengan makhluk gaib. Lama sekali Puang Pinati berkomunikasi dengan makhluk gaib itu.

Tak lama kemudian, selesailah ibadah yang dilakukan oleh Puang Pinati. Puang Pinati lalu menjelaskan kepada para utusan masyarakat, tentang peristiwa yang menimpa Kampung Baruga.

Menurut Puang Pinati, apa yang terjadi di kampung Baruga merupakan kutukan. Kutukan itu terjadi karena ada beberapa penduduk yang sering melakukan hal yang tak terpuji. Mereka sering berduaan dan bermesraan di tempat yang sunyi. Kelakuan remaja-remaja ini, membuat para leluhur murka, dan mengutuk masyarakat yang ada di Kampung Baruga.

Menurut tradisi saat itu, dilarang berduaan di tempat-tempat sunyi, kecuali telah resmi menjadi suami istri. Jika hal tersebut terjadi, maka arwah para leluhur akan murka dan merupakan pelanggaran adat. Jika arwah para leluhur murka, maka akan terjadi bencana.

Para utusan saling berpandangan mendengar penjelasan Puang Pinati. Mereka saling bertanya satu sama lain, siapa gerangan yang sering melakukan hal terlarang itu. Karena itu, Puang Pinati memutuskan untuk melarang pria dan wanita berduaan selama 40 hari, kecuali sudah diresmikan menjadi suami istri oleh Puang Pinati. Jika hal tersebut dilanggar, maka akan mendapat kutukan (Paccalla) dari arwah para leluhurnya.

Mendengar penjelasan dan larangan Puang Pinati, mereka menjadi takut akan kemurkaan arwah leluhur yang lebih berat akan terjadi. Oleh sebab itu, mereka berniat akan melakukan penjagaan yang ketat terhadap tempat-tempat yang sunyi. Mereka berencana akan melakukan patroli setiap hari, baik siang maupun malam. Dengan demikian akan dapat dicegah pelanggaran-pelanggaran dan kemarahan leluhur akibat perbuatan yang tidak senonoh.

Seluruh Kampung Baruga, ikut berpartisipasi dengan program yang telah disepakati. Secara bergantian mereka dengan sukarela melakukan patroli. Mereka melakukan patroli sampai di sudut-sudut jalan dan tempat-tempat yang dianggap sering digunakan oleh pasangan muda-mudi untuk berduaan dan bermesraan.

Patroli tersebut, berlangsung sesuai dengan waktu yang telah ditentukan oleh Puang Pinati, yakni 40 hari. Akhirnya, karena sudah dianggap aman dari pelanggaran, maka warga menghentikan penjagaan dan patrolinya.

Namun, masyarakat tidak mengetahui bahwa selama mereka melakukan patroli, ada sepasang muda-mudi yang lolos dari pantauan. Laki-lakinya bernama I Tojo dan perempuannya bernama I Kate. Mereka bukan suami istri, namun sering melakukan hubungan layaknya sebagai suami istri. Hal tersebut dilakukannya di sebuah bukit yang sangat jauh dari pemukinan penduduk.

I Tojo dan I Kate, telah lama menjalin kasih. Keduanya saling merindukan di mana pun mereka berada. Hidup mereka tak ada hari tanpa pertemuan untuk berbagi kasih dan sayang dalam ikatan cinta. Mereka pun telah bersumpah di atas makam leluhur masing-masing bahwa tak ada yang dapat memisahkan cinta mereka kecuali kematian.

Ketika adat dan larangan untuk berduaan dan bermesraan dikeluarkan oleh Puang Pinati, mereka hanya tersenyum sinis. I Tojo dan I Kate tak dapat lagi dipisahkan. Pasangan yang sedang dimabuk asmara ini berpendapat bahwa tak ada hubungannya antara tedong mate dengan hubungan mereka. I Tojo dan I Kate terus saja melakukan hubungan terlarang itu. Setiap hari mereka tetap saja melakukan pertemuan dan hubungan.

Biasanya I Tojo dan I Kate hanya melakukan kemesraan di tempat yang sunyi. Sekarang, I Tojo dan I Kate bermesraan bukan hanya di tempat yang sunyi, akan tetapi di tempat ramai pun mereka menunjukkan kemesraannya. I Tojo dan I Kate tidak memiliki lagi malu (siri’). Meski di tengah keramaian, mereka tetap berpegangan tangan, berpelukan, berciuman. Mereka tidak lagi memperdulikan sekelilingnya.

Masyarakat di sekelilingnya sudah muak melihat prilaku mereka. I Tojo dan I Kate, betul-betul telah melupakan adat dan etika pergaulan yang berlaku di tengah-tengah masyarakat.

Suatu hari, I Tojo dan I Kate sedang berciuman di bawah sebuah pohon baka’ (sukun) yang cukup besar. Ketika sedang berciuman, mereka dipergokinya oleh seorang anak gembala. Anak gembala tersebut langsung melaporkan perbuatan asusila itu kepada Puang Pinati. Puang Pinati sangat murka mendengar perbuatan yang telah dilakukan oleh I Tojo dan I Kate. Saat itu juga, Puang Pinati memerintahkan kepada seluruh masyarakat untuk mencari I Tojo dan I Kate dan memberikan hukuman sesuai dengan pelanggaran yang telah dilakukannya. Mereka beranggapan bahwa I Tojo dan I Kate sudah tidak lagi menghormati norma-norma sosial dalam pergaulan. Masyarakat berkesimpulan bahwa, I Tojo dan I Kate adalah biang keladi mewabahnya penyakit tedong mate yang meresahkan masyarakat di Kampung Baruga selama ini.

Mayarakat berbondong-bondong menuju tempat yang ditunjukkan oleh anak gembala tersebut. Masyarakat membawa bermacam-macam benda tajam, untuk membunuh I Tojo dan I Kate. Ada yang membawa parang, tombak, pisau, keris, dan sebagainya.

I Tojo dan I Kate sedang aksyik-asyiknya berciuman dan bermesraan itu, sangat kaget mendengar teriakan menyebut-nyebut nama mereka dari kejauhan. Hiruk pikuk dan teriakan-teriakan mereka membuat I Tojo dan I Kate berlari meninggalkan tempat itu. I Tojo dan I Kate terus berlari menuju sebuah bukit kapur yang tak jauh dari tempat mereka tadi, namun cukup jauh dari perkampungan penduduk. I Tojo dan I Kate berhasil mencapai puncak bukit itu. Masyarakat tidak mengetahui bahwa I Tojo dan I Kate telah mengamankan diri ke atas bukit sebelum mereka disergap. Masyarakat kehilangan jejak. I Tojo dan I Kate telah berhasil mencapai puncak bukit dengan aman. Orang-orang yang mencarinya tidak mengejar sampai di atas bukit.

Setelah merasa aman, mereka melanjutkan kemesraan mereka. I Tojo dan I Kate kembali melakukan perbuatan dosa. Mereka melakukan hubungan layaknya suami istri. Keduanya tidak ingat lagi sekelilingnya, mereka larut dalam kenikmatan dan kehangatan.

Ketika I Tojo dan I Kate memulai lagi melakukan hubungan suami istri, guntur pun menggelegar, kilat menyambar-nyambar di atas bukit. Masyarakat segera mendatangi tempat itu. Seiring petir menyambar dan guntur menggelegar, I Tojo dan I Kate menghilang entah ke mana. Saat itu pula masyarakat yang mencarinya, sampai di tempat mereka melakukaan hubungan.

Masyarakat sangat kaget, karena di tempat mereka bermesraan di dapati sebongkah batu yang berbentuk paha. Masyarakat hanya mendapatkan sebongkah batu berbentuk paha itu, dan tak menemukan lagi I Tojo dan I Kate. Masyarakat menduga bahwa, bongkahan batu berbentuk paha itu adalah milik I Tojo dan I Kate yang telah menyatu. Di antara mereka yang menyaksikan bongkahan batu yang berbentuk paha itu, terdengar ucapan bahwa batu itu milik tau menggure yang berarti orang yang cabul.

Akhirnya, bukit tempat melekatnya batu yang menyerupai paha itu dikenal dengan nama Tomanggure. Namun oleh masyarakat muda Kampung Baruga sekarang menyebutnya dengan sebutan ”Taman Ngurah”.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.