Saya Kagum dengan Profesi Guru

Jeng Margi

 

Kita jadi pintar menulis dan membaca karena siapa….?

Kita jadi tau ber-aneka bidang ilmu dari siapa….?

Kita jadi pintar dibimbing Pak Guru

Kita jadi pandai dibimbing Bu Guru

Guru bak pelita disaat gelap gulita

Jasamu tiada tara….

Sepenggal Lyrik lagu di atas memang layak disematkan pada profesi guru yang amat mulia itu. Tidak ada guru….tidak akan lahir sarjana, PNS, dokter, jaksa, hakim, polisi, perawat, penyuluh  dll dst. Guru ibaratnya bidan bagi profesi lainnya.

Berbicara mengenai sosok seorang guru, saya selalu punya pengalaman yang menyenangkan dan mengenakkan. Bagi saya, dari yang tadinya tidak tahu, belum tahu, kurang tahu menjadi tahu.  Hati Guru adalah hati yang seluas samudra, lautan kesabaran. Beliau mampu mendidik dengan telaten dan tanpa pernah melabeli anak didiknya dengan stigma bodoh.

Sekedar flash back, saya termasuk murid yang telmi atau kurang/tidak pintar di sekolah, prestasi saya biasa-biasa saja, seumur-umur tak pernah mendapat ranking, baik ranking 1 sd/ 10. Bila di kelas ada 100 murid, saya rangking 50 lebih.. begitu seterusnya saya selalu berada di poros  tengah. Kadang penasaran, seperti apa rasanya…menjadi Juara itu….di sana sini dielu-elukan, disanjung-sanjung, dirubung kawa-kawan. Tapi saat itu saya sama sekali tidak berkecil hati lho, lha wong banyak temannya. hahahaha…

Oleh guru, saya tetap dijelaskan mana yang belum jelas dan diterangkan mana yang belum terang sampai saya dan kawan-kawan saya benar-benar donk dan ngeh. Guru saya tetep ecxited tuh, tidak gusar, gemes apalagi geregetan. I’m proud a teacher.  Kalo tak ada guru, Entah jadi apa saya sekarang, barangkali  untuk membaca dan menulispun saya tak bisa. Membayangkan menjadi buta huruf….Oohhh betapa gelapnya dunia. Hiks….

Oleh karenanya,  profesi guru sekarang mendapatkan tunjangan sertifikasi dari pemerintah, saya bersyukur karenanya, meski saya bukanlah seorang guru. Ini berarti profesi guru amat sangat dihargai.

Dan hingga detik inipun, saya tidak sanggup berpisah dan masih cinta dengan eksistensi guru. Khusus untuk buah hati saya, selain guru di sekolahnya, saya juga mendatangkan guru les privat di rumah. Bukan untuk sok-sokan, mengikuti trend, gaya-gayaan ohhhh tidak…..!  Tapi semua itu saya lakukan lebih karena saya ingin buah hati saya mendapatkan teori  mapel dasar yang kuat dari Ahlinya. Kebetulan saya dan suami termasuk ilmunya “ya gitu deh” so saban ditanyai anak ttg PR Mapel-nya lebih banyak bingungnya dan jelas kagak bisa jawabnya . Hahahhaha…

Daripada saya dan suami  sok tau, sok jaim lantas coba-coba menerangkan padahal apa yang saya terangkan itu salah sebenarnya, malah melekat ke anak khan berabe tuh, mendingan saya tau diri deh…oleh karenaya tak datangkanlah guru les privat  di umah untuk meng-asistensi, konsultan bagi buah hati saya hehehehe

Aneh tapi nyata, dulu ketika saya menerangkan/ngajari PR ke anak saya, sampe mulut saya mumpluk, anak saya masih belum mudeng, hingga saya gelap mata karenanya. Tapi begitu saya serahkan dan yang mengajari seorang guru Les, anak saya begitu mudah menyerapnya. Hasilnya tidak sia-sia. Nilai sekolah harian anak saya mulai merangkak naik.  Berarti selama ini, ada yang salah dalam metode pengajaran saya ke anak (maklumlah saya bukan guru). Dan ini yang membedakan mana guru yang sebenarnya dan mana yang  bukan. Oohhh maafkanlah…anakku…

ariadng.deviantart.com

ariadng.deviantart.com

Dari pengalaman saya ini, jangan pernah sekali-sekali meremehkan peran guru dengan melontarkan kalimat seperti ini, “Guru mah enak, berangkat jam 7 Jam 2 dah di rumah, dapat sertifikasi lagi ,  lagi pula anak-anak sekarang dah pintar semua, tinggal ditungguin saja”. Ihhhhh kata siapa…..? Pintar tidak turun dari langit, Ia ada harus melalui latihan dan bimbingan intensif, dari siapa lagi kalo bukan dari seorang guru..? Wkwkwkwk…

Pengalaman mengajarkan sesungguhnya orang yang hobi menjustifikasi sebuah profesi, memandang sebelah mata, dia sendiri tak mampu melakukannya.

Guru memang Pahlawan Tanpa Tanda jasa…..Terimakasih Pak Guru dan Bu guru…Jasamu memang tiada tara.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.