Berat

Hariatni Novitasari

 

Saya memutuskan untuk ganti laptop setelah melalui pergulatan yang cukup panjanggggg…. Alasannya sederhana, karena saya sudah membuang terlalu banyak energi untuk gotong laptop berat sana-sini karena sebagian besar waktu saya habiskan di lapangan. Kalau rute saya hanya rumah-kantor, tidak masalah karena saya tidak perlu gotong-gotong laptop. Laptop kantor juga sama saja beratnya. Jadi, saya tidak punya pilihan. Jadi, kalau saya boleh memilih, saya memilih hanya membawa dompet dengan cukup duit saja kemana-mana tanpa harus bawa beban :)).

lightweight-laptop

Saya pernah ingat, suatu ketika dalam perjalanan ke Charleston, South Carolina buat liburan Spring Break. Namanya saja “break”, tapi sebenarnya bukan liburan per se, melainkan minggu dengan banyak tugas karena begitu masuk, tugas-tugas ini dikumpulkan. Nah, dengan semangat liburan tetapi terbebani dengan tugas, maka memutuskan membawa laptop ke SC. Sayangnya, sepanjang jalan kesana dan balik ke The Lou, kita mampir-mampir, termasuk ke Ashville. Di rumah keluarga Vanderbilt ini, harus ikut tur rumah naik-turun empat lantai dengan menggendong “anak” plus “cucu” si Canon itu. Jadiiii, bisa dibayangkan beratnya kayak apa… Hahaha. Mau ditinggal di mobil, belum tega juga. Parno bawaan dari Indonesia :))). Nah, setibanya di SC pun kerjaan juga tidak kelar karena enakan main sana-sini dan tidak ada sambungan internet. Akhirnya, setengah nyesel bawa dia. :)))

Dan saya mikir jangka panjang untuk investasi punggung, panggul, dan bahu di masa yang akan datang. Kalau saya terus bawa barang-barang berat dalam jangka panjang, bisa dibayangkan dah.. Belum lagi saya punya riwayat cedera waktu fitness dan sedikit masalah dengan back karena bawa barang lebih berat di masa lalu. :)))

Kalau dipikir, bawaan saya yang paling berat waktu bepergian adalah laptop. Kalau baju, saya cukup simpel. Business trip dua minggu cukup bawa baju 5 dan satu celana ganti. Kalau kotor, tinggal laundry. Sepatu cukup satu yang saya pakai: running shoes Asics. Kosmetik secukupnya karena yang saya butuhkan juga cukup simple. Selain itu, saya masih suka bawa notebook Moleskine pink saya yang berisi hasil field trips. Ditambah kacamata, dompet, dan handphone. Kalau pas field trip, akan ditambah kamera. Untungnya, saya sudah setahun lebih tinggalkan DSLR and welcome mirrorless. Itu saja sebenarnya. Tidak cukup berat sebenarnya. Sampai orang kadang heran dengan bawaan-bawaan saya. Kok dikit banget ya? Eh, tapi jangan salah.. Laptopnya sendiri sudah hampir tiga kilo :((((.

Awalnya saya berpikir nambah saja tablet. Tapi setelah ngobrol sana-sini plus mikir lagi, rasanya juga kurang efisien. Kerjaan saya lebih banyak menulis. Tab tetap saja kurang maksimal…

Sejujurnya, saya lebih suka berpergian seperti jaman dulu. Ketika berpergian tidak usah “keberatan” dengan gadget. Well, kalau perginya plesiran diusahakan tidak bawa laptop. Beda sama jaman ngampus dulu. Daaaaannnn saya berpikir lagi, kalau kita pada akhirnya merasa “tersiksa” bawa laptop, bukan kita yang memanfaatkan gadget, tapi kita telah dia perdaya, hehehehe.

Saya berharap, dengan barang yang lebih kecil, saya tidak lagi merasa “tersiksa” dan bisa traveling lighter and simpler. Kalau perlu bisa sampai kayak si Tynan atau Colin Wright.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *