Kalimat Tanpa Makna

Ki Ageng Similikithi

 

Hujan renyai berubah liar. Angin gemuruh, langit murung,gelap, tidak ramah sama sekali. Sendirian saya mengendarai mobil di kelokan Pingit, antara Ambarawa Magelang. Sore hari dalam perjalanan pulang ke Yogya. Akhir tahun delapan puluhan, sudah dua puluh lima tahun lewat. Sudah ratusan kali saya melewati jalan ini sejak tahun 69, Yogya Ambarawa pulang balik secara periodik. Saya mengemudikan dengan tenang Kijang merah dalam curahan hujan. Paling sebentar lagi hujan akan reda. Hujan tropis, lebat seperti dicurahkan dari langit, tetapi biasanya berlangsung cepat. Jika sampai berlangsung seharian, pasti akan banjir. Memasuki Secang hujan belum juga reda, malah semakin garang bercampur angina. Ada warung sate di kiri jalan. Tiba tiba saja saya ingin berhenti. Makan sate sambil menunggu hujan reda.

Saya memarkir mobil tepat di muka warung sate itu. Rumah sederhana bersih bercat warna putih,dengan bingkai jendela dan pintu warna hijau. “Alam telah berubah. Hujan salah musim pak”. Penjual sate menyambut. Saya tak mengiyakan, langsung  pesan sate satu porsi, sepuluh tusuk.  “Sendirian saja? ”. “Nggak usah banyak tanya, tolong satenya cepat”. Mau sendiri, mau rame rame, urusannya apa orang ini, pikir saya.

Sate memang terasa empuk dan enak. Dengan kecap manis, irisan  bawang merah, tomat, dan kobis. Tidak lupa lombok hijau segar. Porsi sate dan nasi begitu cepat habis. Hujan masih deras. Air mengalir deras sepanjang jalan. Lebih baik menunggu. Saya minta kopi kemudian. Jaket kulit saya lepaskan. Juga topi laken hitam yang lupa belum saya lepas sejak tadi. “Hujan gini memang asyik pak minum kopi. Ini kopi asli sini pak, Robusta”. “Bapak suka pijet pak? Ponakan saya ini suka mijit sama ngeriki. Kerikannya sampai dalam, anginya lepas semua”. Dia menunjuk wanita kemenakannya. Nampak kuat dan sigap. Kesan saya dia pemijat yang handal, pijatannya pasti bisa menembus otot-otot yang kaku. Ada keinginan untuk pijat sebenarnya. Sejak kecil saya selalu pijat. Masih ingat ketika di tahun 1981 lalu ketemu mbah Gembleh, dari Beringin, tukang pijat saya waktu masih kecil. Sudah renta, tetapi saya menahan sakit ketika dia mulai memijit. Aneh biasanya saya memilih tukang pijat pria yang kuat untuk menembus otot punggung yang keras.

Ketika tukang sate itu menunjukkan ruang pijatnya, hilang seketika hasrat untuk pijit. Kain jarik berserakan di tempat tidur. Bantal nampak kumal.

“Maaf saya tidak biasa pijat pak”.

“Mangga lo pak, nggak usah ragu. Bapak aparat dari Polsek dan Koramil juga sering pijit di sini”.

“Maaf saya ini intel, tidak boleh pijit sembarangan di tepi jalan”.

Dia masih mencoba merayu dan meyakinkan saya. “Lho kok aneh, bapak Babinsa itu ya intel, kok suka pijat di sini”?.

Saya menyambar jaket dan memakai topi saya. “Habis berapa pak, saya bayarnya. Seorang komandan tidak boleh pijat sembarangan”.

“Oh begitu ta. Terima kasih pak Komandan”. Dia tidak membujuk lagi. Kata-kata Intel tidak bisa meyakinkan dia untuk tidak pijat. Tetapi ternyata dengan kata Komandan, dia akhirnya luluh, tidak mendesak lagi.

nakri.deviantart.com

nakri.deviantart.com

Saya meninggalkan warung itu dengan nyaman. Sate yang enak.Tetapi juga tidak paham apa makna kalimat-kalimat yang saya ucapkan. Membualkah? Tak peduli, saya merasa tidak merugikan dia. Kalimat tanpa makna. Beberapa tahun kemudian, ketika saya pindah ke Ngaglik. Tetangga saya, pak Mardi almarhum, pensiunan polisi. Dia selalu memanggil saya nDan. Jika bertemu lewat depan rumah selalu  bersikap sempurna dan hormat militer, ‘Hormat Ndan”, dan meluangkan waktu ngobrol di teras depan.  Sayang saya tidak sempat ngajak dia makan sate di Secang.

Hidup adalah perjalanan. Penuh makna, meski banyak kalimat yang sering terucapkan tanpa makna.

 

Ki Ageng Similikithi

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.