[Mangole] First Step

Imam Dairoby

 

Ku langkahkan kaki beribu kilometer

Hantaman prahara tak ku hiraukan

Terpaan coba ku acuhkan

Yakin ku,mengalahkan akal sehatku

Merangkak telusuri kehidupan

Mencari sesuap nasi

Hanya untuk menegakkan tulang belakang

Agar tetap tegar berada di sini

 

“Selamat sore mas,” seseorang yang tak ku kenal berseragam kemeja biru menyapaku.

“Selamat sore, ada perlu apa pak,” jawabku sopan

“Kenal dengan nama ini mas,” Ia menyorongkan sebuah kertas seperti sebuah surat kepadaku.

“Itu namaku pak, wah panggilan kerja ya pak ?” tanyaku.

“Bukan mas tapi panggilan wawancara, nanti setelah wawancara mas akan dipanggil lagi untuk tes kesehatan, setelah itu baru akan ada panggilan kerja.”

“Terima kasih ya pak,”

Aku menerima surat panggilan itu dengan sangat gembira. Sudah sebulan lebih aku menunggu dan ternyata sekarang aku mendapat kesempatan untuk melakukan wawancara. Kang Ron sangat senang melihat aku telah dipanggil wawancara dan itu juga yang membuat aku lebih bersemangat karena tujuanku akan segera tercapai.

first-step

Keesokan harinya aku dengan bersepeda pergi ke balik tembok itu. Pada satpamnya aku memperlihatkan surat panggilan tersebut. Aku diperbolehkan masuk dengan tetap harus menulis namaku di buku mereka dan meninggalkan kartu identitasku. Dan aku diberi semacam kartu berwarna merah yang bertuliskan TAMU.

Setelah melewati pintu pertama aku harus mengayuh sepeda ke pintu ke dua yang berjarak sekitar 500 meter. Di situ aku menjelaskan tujuanku, sebab memang selain karyawan tidak boleh ada yang masuk ke area tersebut. Di sini ku temui satpam yang ramah dan menunjukkan tempat di mana aku harus pergi. Dia menunjukkan suatu gedung dan menyuruh aku untuk bertanya pada orang yang berada di situ dimana letak ruangan HRD atau Human Resources Department.

Aku harus berjalan kaki sekitar 50 meter sebab sepedaku harus di parkir di tempat parkir yang berdekatan dengan pos Satpam. Begitu banyak sepeda yang terparkir di tempat parkir. Aku jadi membayangkan berapa sebenarnya jumlah karyawan yang hari itu bekerja.

Di gedung tersebut telah ada beberapa orang yang tidak berseragam, ku pikir mereka pasti orang-orang yang dipanggil untuk melakukan wawancara. Ku tanya salah satu dari mereka dan seperti dugaan ku mereka pun dipanggil untuk melakukan tes wawancara. Aku segera bergabung dengan mereka dan sedikit berbasa basi.

Aku melihat sekeliling, dan baru tersadar ini baru gedung pertama, yang dekat dengan pintu masuk ke dalam pabrik. Jika di luar gedung suasana sangat bising dengan bunyi mesin, dan bunyi kendaraan forklift dan truck pengangkut papan plywood. Kami kemudian dipersilakan masuk dan ditempatkan di sebuah ruangan. Kami berjumlah 6 orang. Semuanya laki-laki.

Saat menunggu giliran di wawancara aku melihat sekeliling ruangan, terdapat flow chart tentang bagian-bagian di dalam perusahaan. Mereka memiliki berapa divisi seperti divisi Produksi, divisi Logistik, divisi mekanik, divisi office, divisi particle board dan divisi glue industri. Aku tidak terlalu mengerti dengan beberapa istilah yang tertera di flow chard tersebut.

Tiba giliran ku dipanggil untuk wawancara. Aku masuk kedalam ruangan dan disambut oleh seorang lelaki berperawakan kecil dan tersenyum sopan kepadaku. Sangat sopan.

“Ivan,” Dia berdiri dan menyalamiku. Aku sempat berfikir, sepertinya aku dihormati padahal aku kan seharusnya agak grogi menghadapi wawancara ini. Tak disangka suasana dibangun dengan sedikit rileks.

“Imam, Pak ,” Kataku hormat.

“Mas Imam, santai aja yah, kita sekarang bertukar pikiran saja, tidak usah tegang dan merasa diinterogasi,” kata pak Ivan sambil tersenyum.

Aku mengangguk dan kemudian wawancara mengalir seperti air tanpa aku merasa seperti diinterogasi. Sekitar lima belas menit aku berada di rungan itu dan sebagian kami disuruh pulang sedangkan aku bersama 2 orang lainnya ditahan. Aku tak tahu apa selanjutnya, tapi kemudian kami kembali masuk ke dalam ruangan dan diberi sebuah kertas yang di dalamnya terdapat beberapa pertanyaan dan hitungan.

Wah ujian kalau begini pikirku. Pak Ivan kemudian menyuruh kami duduk saling berjauhan dan meminta kami mengerjakan beberapa pertanyaan di kertas tersebut. Aku melihat ada beberapa pertanyaan dan hitungan. Tak terlalu sulit bagiku karena aku biasa mengerjakan hitungan atau sejenisnya pada saat kuliah, dan nilaiku cukup bagus.

Aku selesai lebih dahulu dan segera ku berikan ke pak Ivan. Dia memandang wajahku , dan memeriksa kertas yang ku berikan. Dia tersenyum. Aku tak tahu apa makna dari senyumannya. Setelah kami bertiga selesai mengerjakan kami dipersilakan untuk kembali pulang dan menunggu surat panggilan kembali. Perasaan ku antara lega tapi ada rasa was-was karena jangan-jangan aku nanti tidak diterima. Ku besarkan hatiku dengan menyerahkan segalanya pada Sang Kuasa.

Saat aku akan meninggalkan ruangan tersebut tiba-tiba seseorang memanggilku. Dia adalah yang kemarin membawa surat panggilan untuk diriku.

“Mas sebentar jangan pulang dahulu,” katanya

“Ada apa pak ?”

“Pak Ivan ingin bertemu,”

“Baiklah,”

“Masuk lagi mas,”

“Iya Pak,”

Aku kembali masuk ke dalam ruangan dan diikuti mata penuh tanya dari kedua teman yang mengikuti tes tadi. Sesampainya di dalam Pak Ivan memanggilku masuk ke dalam ruangannya.

“Silahkan duduk Imam,” Katanya ramah

“Iya pak,terima kasih,” jawab ku

“Begini mas Imam, saya tadi telah melihat hasil tes tertulis dan saya sangat terkejut karena selama ini yang mengikuti tes belum ada yang benar semua. Dan hanya mas Imam yang benar semua,”

Aku mengangguk antara senang dan malu. Aku memang selalu malu jika seseorang memujiku.

“Makanya mas Imam aku panggil karena kami sepertinya membutuhkan tenaga kerja dengan kualifikasi seperti mas Imam, dan saya yakin mas Imam mau mengisi bagian yang memang saat ini kosong, bagaimana ?”

“Tujuan saya untuk bekerja pak, jadi saya menerima di mana saya ditempatkan,”

“Ada permintaan tenaga untuk Laboratorium di divisi Particle Board dan itu adalah divisi pengembangan produk kami, saya harap mas Imam bisa untuk di tempatkan di situ,”

Wah pekerjaan itulah sebenarnya yang sedari dahulu aku harapkan. Berkecimpung dengan bahan kimia dan pemikiran yang memerlukan pekerjaan otak, sebab dari segi fisik aku sangat lemah.

“Jika memang menurut bapak saya bisa, saya akan menerimanya pak,”

“Ok kalau begitu, mas Imam tak perlu menunggu, mas Imam sekarang ke bagian koperasi untuk mengambil baju seragam dan nanti akan saya buatkan surat pengantarnya. Dan besok mas Imam bisa langsung masuk kerja. Ingat jam kerja adalah jam 07.30 pagi jangan sampai terlambat ya, Selamat mas Imam sekarang Anda bagian dari kami. Selamat datang di perusahaan kami, dan selamat bergabung .”

Pak Ivan menjabat tanganku, dan aku tak bisa menutupi kegembiraanku. Ku ucapkan terima kasih berkali-kali padanya. Surat pengantar ke koperasi telah dibuat dan aku diantar stafnya untuk mengambil baju seragam di koperasi milik perusahaan.

Aku diberi juga kartu tanda pengenal yang harus aku gunakan selama aku berada di dalam lokasi perusahaan. Dan kartu tersebut tak boleh hilang karena itu merupakan identitas sebagai karyawan. Apapun yang menyangkut urusan perusahaan harus menggunakan kartu tersebut.

Aku pulang dengan wajah sumringah, sambil tersenyum sendiri. Kabar ini harus ku beri tahu ke keluarga di Manado, aku akan bekerja dan dengan penuh syukur ku tengadah ke atas langit dan dalam hati ku bersyukur atas anugerah yang di berikan Sang Pencipta padaku. Ternyata semuanya indah pada waktunya. Terima kasih Tuhan.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.