Kecerdasan Kolektif

djas Merahputih

 

Kecerdasan kolektif adalah sebuah bentuk yang dituju dan diamanatkan oleh para pendiri negeri. Kalimat “Mencerdaskan kehidupan bangsa” dalam pembukaan UUD 45 jelas memperlihatkan kolektifitas sebuah bangsa. Kata “kehidupan” sendiri mengandung berbagai unsur, baik manusia sebagai individu maupun kelompok, lingkungan sosial serta lingkungan geografis kita.

Kecerdasan parsial adalah kecerdasan kolektif yang belum terkoneksi dan terarah pada sebuah tujuan berbangsa. Pemandangan dalam gedung wakil rakyat merupakan contoh hangat dari kecerdasan parsial kehidupan bernegara kita. Jika saja kecerdasan kolektif telah dipahami dengan baik maka koalisi apapun yang terbentuk pada akhirnya akan melebur dalam sebuah koalisi kebangsaan. Untung saja masih tersisa sedikit jiwa kenegarawanan yang mampu mempersatukan mereka.

kecerdasan kolektif (1)

img01. Kecerdasan Parsial

 

Tak bisa dipungkiri kualitas dan tingkat pendidikan di dalam negeri sudah semakin membaik. Individu bergelar doktor bukan lagi hal asing. Namun, apakah sasaran pembangunan manusia Indonesia cukup sampai di situ? Apakah sejauh ini kehidupan kebangsaan kita telah meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah doktor tadi? Selayaknya, sisi kehidupan kebangsaan tidaklah hanya berupa manusia cerdas secara individu. Mereka harus pula terkoneksi ke dalam sebuah kecerdasan kolektif. Kecerdasan sebagai sebuah bangsa yang utuh dan menyatu.

Indonesia adalah bangsa majemuk dan terpisah-pisah secara sosial maupun geografis. Oleh karenanya, sinergi dari seluruh sumber daya yang ada mutlak diperlukan. Tanpa sinergi, berbagai kekuatan yang ada justru akan melemahkan satu sama lain. Di sinilah letak sebuah payung berwujud ideologi akan menunjukkan peranannya. Ideologi menyatukan langkah berbagai elemen bangsa. Dalam hal ini, Pancasila adalah salah satu ideologi alternatif dari berbagai pilihan yang ada.

Ideologi kapitalis yang memandang sesuatu dari sudut kebendaan dan faham sosialis yang meniadakan keunikan individu akan melebur dalam ideologi Pancasila. Pancasila menempatkan manusia (bukan benda) sebagai obyek sekaligus sebagai subyek pembangunan seperti tertera dalam sila kedua dan kelima. Di sisi lain, eksistensi individu tetap diakomodir dengan batasan-batasan kolektif (adat-istiadat) dalam interaksi antar warga negara. Hal ini tercakup dalam sila keempat Pancasila.

kecerdasan kolektif (2)

img02. Ideologi untuk menyatukan langkah

 

Individu secara bersama-sama pada lingkup kebangsaan tertentu dengan identitas dan kepentingan yang sama berperan dalam menentukan berbagai kebijakan publik. Tujuannya adalah permufakatan. Sementara lingkup kebangsaan yang luas seperti wilayah geografis, adat-istiadat dan faham keagamaan memerlukan penyederhanaan identifikasi melalui sebuah sistem perwakilan. Sistem perwakilan memungkinkan pengambilan keputusan dapat dicapai secara lebih cepat. Tinggallah peranan negara dibutuhkan agar seluruh elemen bangsa benar-benar memiliki wakil dan terwakili kepentingannya. Negara adalah perwujudan dari kata Hikmat Kebijaksanaan.

Suburnya bentuk-bentuk kecerdasan parsial seperti dengan mudah dapat kita lihat dalam dunia politik maupun olah raga (terutama sepak bola), menjadi indikasi bahwa Negara mungkin telah berhasil mencerdaskan warganya, namun masih gagal dalam mencerdaskan kehidupan Bangsanya. Negara belum sepenuhnya berhasil membangun interaksi sosial dalam bentuk kecerdasan kolektif.

Aku bukanlah kamu, mereka bukan kita; fanatisme kelompok, suku, ras dan agama; menang jadi debu, kalah jadi arang, tunduk namun menanduk, adalah berbagai ungkapan berciri kecerdasan parsial yang sering dipraktekkan dan dipertontonkan baik oleh rakyat jelata maupun oleh para panutan masyarakat. Dalam skala bangsa, kecerdasan parsial merupakan kayu bakar paling lunak bagi nyala api pergolakan di tengah masyarakat.

Sebaliknya, kecerdasan kolektif para pengkhianat dan garong terbukti mampu melemahkan sendi-sendi kehidupan berbangsa kita. Ia membaur sebagai kawan maupun lawan. Wujudnya mungkin sulit dideteksi sebab fisik dan penampilannya seperti orang kebanyakan. Yang membedakan hanyalah niat dan motivasi dalam hati dan pikiran mereka. Sehingga hanya ketajaman hati dan keluasan pikiran berupa kecerdasan kolektif pula yang akan mampu mengenalinya.

kecerdasan kolektif (3)

img03. Seni Budaya adalah Benteng Kebangsaan

 

Kecerdasan kolektif, walaupun relatif sepi, telah mampu menjangkau bahagian kecil masyarakat kita, yakni sebatas kalangan seniman dan budayawan. Mereka bahkan tak memerlukan kehadiran Negara untuk menyelami sebuah makna kecerdasan kolektif. Kita patut bersyukur bahwa para seniman dan budayawan masih mampu memupuk kecerdasan kolektif mereka, walaupun dengan resiko harus tersingkir dan terpinggirkan ke dalam celah-celah sempit kehidupan. Seniman dan budayawan adalah pejuang dan benteng terakhir Kecerdasan Berbangsa.

Apakah kecerdasan kolektif kaum seniman dan budayawan mampu menjadi pilar dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa kita? Atau malah sebaliknya, merekalah yang akan tergeser oleh budaya kecerdasan parsial ala politikus dan suporter bola? Tentu jawabannya akan segera tersaji di depan mata kita semua. Semoga saja, masih cukup asa dan waktu bagi bangsa Indonesia untuk memutus mata rantai dan memecahkan masalah ini. Sehingga cita-cita para pendiri negeri dalam mencerdaskan kehidupan bangsanya tidak hanya menggantung di atap retorika dan janji semata.

 

November, 2014

Suara anak bangsa

 

//djasMerahputih

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.