Ayo, ayo, makan semen!

Gunawan Budi Susanto

 

foto Badai: tindak kekerasan terhadap ibu-ibu yang melakukan aksi antipembangunan pabrik semen di pegunungan kendeng utara, rabu, 26 november 2014

foto Badai: tindak kekerasan terhadap ibu-ibu yang melakukan aksi antipembangunan pabrik semen di pegunungan kendeng utara, rabu, 26 november 2014

 

KABAR APA YANG KAUMINTA

ya, kabar apa yang kauminta dariku

dari negeri segala nyiur yang kaurindu

tanah tempat segala bisa berubah jadi madu: katamu.

 

namun itu kisah dari masa lalu

kini, tinggal batu, tinggal debu

segala apa melenyap dalam saku

dijual penguasa ke pemodal dari negeri-negeri jauh

sementara kami merapuh, tak sempat lagi berkeluh

 

jangan kaupaksa aku berkabar, lisa

lantaran cuma duka dan tangis jelata yang tersisa

sedang aku cuma bisa mendremimilkan harapan

agar kami mampu bertahan,

membuka jalanmembangkitkan nyali,

lalu bersiap: merebut kemerdekaan.

 

jalan tak selalu lempang memang

dan langkah kami pun tak gampang

namun percayalah, lisa

kelak kita pasti bersua

di lintasan sejarah yang sama

: menjadi manusia merdeka. 

 

Gebyog, 24 Maret 2014: 16.59 

 

 

YA GENE MOK KAYA NGENE

ya gene sampean iseh doyan mangan

ngono kok ngrebut lemahe para kadang

mbrongkal gunung ngurug padesan

ya gene sampean iseh butoh ambegan

ngono kok negori sakabehing wit-witan

ngracuni lemah, banyu, samubarang

 

ya gene sampean pengin kemul kamulyan

yen saben dina tansah ngrusak tatanan

saben obah gawe cingkrange bebrayan

 

ya gene sampean iseh mbutohna liyan

sapa aruh ae mok limang taun sepisan

bar iku nggeblas ilang

nggawa bandha tanpa wilangan

ninggal tatu ninggal rewang

 

la kok nggithul temen sampean

saiki njaluk kabeh wong melu coblosan

kamangka sampean wis cidra

ing ngarsa ngeruki donya

ing madya mblidhuki kanca

tut wuri mblenjani janji

ya gene… 

 

Gebyog, 3 April 2014: 13.31 

 

 

MALING PADHA NGUBLING

kae, delengen kae, para maling padha ngubling

mripat mentheleng kuping njepiping

tangan srawehan ngantek kithing

tansah nuding kanan-kering

nemu gulune rowang banjur mithing

sing kelaran pating jlerit njempling-njempling

gorokane garing rebut balung tanpa piring

 

kae lo, kae, para sedulur pating jengking

adu otot adu gares rayahan sega aking

kurang mangan wetenge njembling

 

oalah, Gusti, nyuwun ngapura

rusaking kahanan tansaya ndadra

para durjana memba satriya

adol guyu pamer rupa

lali somah lali kluwarga

bareng madeg panguwasa

kabeh dipidak dipilara. 

 

Gebyog, 30 April 2014: 03.17

 

 

KAMI TAK MELAWAN SENDIRIAN

: tegaldawa, gunem, rembang

 

ketika persoalan mengadang di depan mata:

alat berat merusak gunung, membongkar mata air

mengeruk, menggilas tanah, menumbangkan pepopohan berseliweran

sampean meminta kami membaca buku, menekuri teori perubahan sosial

ketika polisi menangkapi para ibu

menahan beberapa kawan demonstran

seraya mengawal para pendoa peletakan batu

pembangunan pabrik semen yang ditolak warga

sampean bilang bersabarlah

: tunggu presiden baru yang bakal menyelesaikan

 

ketika tanah bongkar-bangkir, bukit bebatuan berledakan

air tak lagi mengalir ke sawah, ladang, dan huma

mematikan hasrat hidup para petani dan pekebun

sampean masih meminta kami berlagak sopan

meminta para pejabat negara berbaik hati

mengasah nurani kemanusiaan mereka

 

apalagi yang tersisa bagi kami

ketika kekuasaan telah menilap kekerasan menjadi perangkap

penguasa dan pengusaha kawin-mawin

beranak-pinak, melahirkan kelaliman

 

kami di sini tak sendirian

mengadang barisan berseragam uang

yang bakal menenggelamkan masa depan

ke dalam lumpur kerusakan dan kehinaan

 

kami di sini di rembang, di pati, di blora, di urutsewu

di mana saja hasrat hidup kami hendak dimatikan

kami menggalang barisan

kami tak berdiri sendirian

dan kami terus melawan! 

 

16 Juni 2014

 

 

AYO, MAKAN SEMEN MAKAN KAWAN MAKAN SAUDARA

makin banyak kawan doyan makan semen

tak mengherankan, meski menjijikkan

padahal bukankah selama ini mereka hidup

dari air, tanah, dan pepohonan

kenapa melupakan saudara yang bersedia

mengolah tanah merawat air, merawat tanaman

apakah makin jauh dari tanah

kehidupan sampean kian mulia dan lupa

: bermula dari tanah

kelak kembali ke tanah pula.

 

ah sampean tak usah sok romantik

berharap semua baik-baik saja

jangankan makan semen

makan kawan dan saudara pun biasa

kayak tak tahu kain dan habil saja

merekalah para pemula

yang mewariskan semangat saling membinasakan

 

segala yang berbau kekuasaan

memang asyik dinikmati sendirian

dan semua pengikut tinggal mengiyakan

lalu memperoleh upah sekadarnya

agar mereka makin gembira

mendukung kita

 

jadilah bupati

jadilah wali kota

jadilah gubernur

jadilah presiden

dan anggaplah rakyat cuma gedibal

maka sampean sudah berlaku

selayaknya dan sepantasnya sebagai pemimpin

yang tak perlu memikirkan selain diri sendiri dan keluarga.

 

oh ya, lupa, jadilah rektor dengan segala cara

dan mahasiswa pun cuma menjadi keset

alat pembersih kasut kita. 

 

Gebyog, 2 Juli 2014: 11.57

 

 

SAMPEAN KEMU APA KEMPLU

pancen gak gampang dadi penggedhe

gaweyane akeh tur kudu nggagas rakyate

gak mikir awake dhewe sakluwarga ae

nanging sing pengin lak sampean dhewe

nganti ngetekna dhuwik saakeh-akehe

baliho, spandhuk, poster ya kok gawe

sowan ulama kanthi ndhepe-ndhepe

bareng kepileh kaya menang lotre

saiki mrana-mrene leda-lede

ngalor-ngidul adol umuk

: esuk dhele sore tempe

 

pancen gak gampang dadi petinggi

kabeh prekara kudu sampean tangani

saka babagan pungli, komisi, ngantek korupsi

nata praja, njaga kahanan neng ngendi-endi

ben alame sansaya asri lan lestari

dadi rakyat isa ayem tentrem

nyambut gawe tanpa gunem

nggilut, guyub, sengkut kanthi katrem

 

la kok sampean malah pecuca-pecucu

angger ngomong kaya wong kemu

nek disengguh, jare lagi lara untu

lali tanggung jawab, lali janji-janjimu

saben obah adol banyu adol watu

gak mikir warisan kanggo anak-putu

wujud endahing alam tanpa tuku

paringane Gusti Allah satuhu.

 

piye leh, lur

apa sampean saiki wis kemplu?

 

Gebyog, 22 Juni 2014: 14.41 

 

 

AKU MEMANG DOYAN MAKAN SEMEN

aku makhluk superhuman

doyan batu doyan gunung

hidup dari besi dari baja

lambang kemodernan

jika lapar jika dahaga apa saja aku makan aku telan

saat sahur saat berbuka semen yang kumakan pula

kini lebaran, semen pula yang kukenakan

bukankah itu cermin kemajuan peradaban?

 

jangan bilang aku lupa air alpa tanaman

semua itu toh bisa kita beli tanpa hambatan

para petinggi negeri sudah piawai mengatur

agar pemenuhan kebutuhan tak terkubur lumpur

aku memang doyan makan

segala apa bakal kutelan

jika cuma semen itu mainan

gunung dan hutan pun jadi sajian

setiap saat terhidang di meja makan

 

jangan bicara seni menyoal kebudayaan

itu cuma sampah kecendekiawanan

yang lekang ketika perut kelaparan

saat nafsu makan tak pernah terpuaskan. 

 

Gebyog, 27 Juli 2014: 17.32

 

 

AKU PUN MEMBATU

aku tak bisa lagi menangis

aku tak mampu lagi bersedih

hatiku mengeras membatu

air mataku menyerpih debu

merusak mata merusak jiwa

 

aku kehilangan akal sehat

jadi arca di pelataran rumah

para pejabat dan politikus

akulah itu nurani yang sekarat

tanpa obat tanpa pemberkatan

cuma khianat yang bisa kususun

sambil terus berdiam diri

tegak menunggu kematianmu

: tanpa kubur tanpa nisan.

 

jangan bilang aku bedebah

jangan seru aku sampah

akulah itu pencipta berkah

yang tahu benar kekuasaan

bukanlah amanah. 

 

Gebyog, 9 September 2014: 13.31 

 

 

KABAR APALAGI YANG KAUINGINKAN

kabar apalagiyang kauinginkan, lisa?

bersukalah aku sekeluarga tansah sehat dan gembira.

begitu juga saudara sebangsa dan setanah airku

semua sehat, semua gembira, semua bahagia.

kami menyambut dengan riang kenaikan harga bahan bakar

kami bersuka hati ketika harga setiap dan semua barang melambung tinggi.

pembangunan di semua lini kehidupan berlangsung secara wajar

kepentingan korporasi tentu saja selalu menang

tak perlu kaukhawatirkan: para buruh, petani, nelayan

berkemampuan menahan lapar, menahan penderitaan.

 

dan, ohoi, menyenangkan melihat tontonan

polisi dan militer baku tembak dalam pertempuran

mereka telah mempergunakan setiap peluru

yang dibeli dengan duit rakyat lewat pajak

dengan cara amat-sangat elegan

: untuk saling mematikan!

 

lihatlah, lisa, lihatlah

gunung-gemunung dikeruk dan diledakkan

sawah huma ladang diuruk, lalu rumah pun bertumbuhan

hutan dibabat dijadikan kebun indah bagi orang per orang

lapangan golf dibangun di pelosok-pelosok kawasan

pabrik-pabrik bertumbuhan seperti cendawan

kampus dan sekolah bisa menjadi pusat pengungsian

sementara anak-anak itu belum beroleh pekerjaan

 

ohoi, betapa maju,

betapa mengharukan negeriku ini.

tak lagi ada orang miskin, lisa

percayalah, tak lagi ada orang miskin di negeri kami

mereka telah tenggelam dalam hiruk-pikuk pesta lima tahunan

mereka telah dikubur dalam dendang pesta tanpa usai

mereka telah memperoleh kartu-kartu

yang setiap saat bisa digunakan

: menyangkal kemiskinan mereka.

 

jangan percaya omongan orang, lisa

jika mengabarkan negeriku sedang pilu

padahal kenyataan yang terpampang

negeriku menderap mendentam maju

menuju puncak kejayaan baru.

 

percayalah, lisa

aku senantiasa sehat dan gembira! 

 

Semarang, 21 November 2014: 14.14

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *