Menikmati Nias (2): Omo Nifolasara Bawomataluo

Handoko Widagdo – Solo

 

Bawomataluo adalah desa adat yang jaraknya kira-kira 15 meter dari Kota Telukdalam. Mobil kami menyusuri jalan yang sejajar pantai menuju desa adat Bawomataluo. Jalanan berada di tengah-tengah hutan kelapa nan rimbun. Setelah berbelok dari jalan utama kami mendaki bukit yang cukup terjal. Desa adat Bawomataloluo memang berada di atas bukit. Arti dari Bawomataluo adalah bukit matahari. Desa adat ini tepat menghadap laut. Untuk mencapainya kita harus menaiki tangga batu yang jumlahnya lebih dari 80 anak tangga. Ada yang menghitung 80, ada pula yang menghitung 88. Desa adat ini dibangun oleh bangsawan Laowo pada tahun 1878. Artinya bangunan ini telah berumur 136 tahun.

Setelah melewati tangga yang diapit dua patung harimao, kita akan mendapati rumah-rumah adat yang bentuknya menyerupai perahu berderet saling berhadapan. Rumah adat Nias – yang disebut dengan nama ‘omo niha’, memang menyerupai perahu. Menurut Nata’alui Duha, bentuk rumah adat yang menyerupai perahu ini disebabkan karena Pulau Nias yang selalu diguncang gempa. Dahulu kala, sebelum pulau ini dikenal dengan nama Pulau Nias, pulau ini bernama ‘gulo solaya-laya’ yang artinya pulau yang selalu bergoyang. Pengalaman nenek moyang orang Nias yang datang dengan perahu menginspirasi mereka membuat arsitektur rumah adat yang menyerupai perahu. Bentuk yang mirip perahu ini mampu bertahan dalam goncangan gempa. Nata’alui Duha selanjutnya menjelaskan bahwa kunci dari arsitektur omo niha yang tahan gempa ini terletak pada adanya batu tapak ‘batu gehomo’ yang menjadi peredam gempa dan konstruksi kayu menyilang ‘ndriwa’ yang membuat rumah tidak langsung rubuh saat ada gempa.

bowomatalu-nias (1) bowomatalu-nias (2) bowomatalu-nias (3)

Di tengah-tengah rumah adat yang berderet rapi, ada bangunan yang sangat besar, yaitu rumah raja. Rumah raja di Bawomataluo disebut Omo Nifolasara Bawomataluo. Rumah besar ini ditopang oleh tiang-tiang yang besar yang jumlahnya lebih dari 60 batang. Belum lagi batang-batang yang diletakkan secara menyilang yang disebut ‘ndriwa’. Tiang-tiang itu membuat rumah kelihatan gagah perkasa.

bowomatalu-nias (4) bowomatalu-nias (5)

Pintu masuk Omo Nifolasara Bawomataluo terletak di lantai. Kita harus masuk dari lantai bawah untuk menuju ruang utama rumah. Ruang utama Omo Nifolasara terdiri atas lantai dasar, lantai kedua, lantai ketiga, dapur dan kamar raja. Sama dengan tiang-tiangnya, lantai dan tiang penyangga atap juga terbuat dari kayu-kayu besar. Tiang yang ada di tengah terbuat dari batang pohon yang sangat besar yang diukir sedemikian rupa menyerupai payung.

bowomatalu-nias (6) bowomatalu-nias (7)

Ada sebuah gendang sangat besar yang ditempatkan menggantung di sisi kanan ruangan. Gendang ini ditabuh saat raja menginginkan adanya pertemuan. Saat gendang ini ditabuh, hulubalang akan datang menghadap. Raja akan turun dari kamarnya dan duduk di kursi raja apabila semua tamu yang diharapkan sudah lengkap.

bowomatalu-nias (8)

Dinding ruangan dihiasi dengan ukiran-ukiran yang menyatu dengan papannya. Dari berbagai ukiran tersebut ada ukiran kapal Belanda elngkap dengan meriamnya. Ukiran lain adalah perangkat perhiasan raja dan ratu, beberapa binatang dan tumbuhan.

bowomatalu-nias (9) bowomatalu-nias (10) bowomatalu-nias (11) bowomatalu-nias (12)

Dapur terletak berhadapan dengan tempat raja biasanya duduk. Tempatnya sedikit berada di atas lantai utama.

bowomatalu-nias (13)

Tepat di depan dapur bagian atas ada patung monyet. Konon patung monyet ini adalah gambaran monyet kesayangan raja yang selalu membunyikan lonceng apabila ada orang yang tak dikenal mendekati rumah. Monyet ini berfungsi seperti anjing penjaga di jaman sekarang. Di belakang patung monyet yang menggantung, tepat di sebelah dapur adalah kamar raja. Kamar ini berbentuk seperti rumah adat mini. Di dalam rumah (lebih tepat disebut kamar) raja merenung, berpikir, tidur dan menunggu para tamunya datang.

bowomatalu-nias (14)

Pada bagian luar, ada hiasan kepala naga. Hiasan kepala naga yang disebut sebagai lasara adalah hiasan perahu naga yang dulu sering dipakai oleh perahu-perahu yang berlayar dari Yunnan ke Nusantara.

bowomatalu-nias (15)

Selain dari keindahan interiornya, Omo Nifolasara juga dilengkapi dengan eksterior berupa batu-batu megalith. Batu-batu besar ini ditata rapi di depan rumah. Ada dua batu pilar yang berdiri tegak sejajar, batu lempeng yang berfungsi untuk tempat duduk raja, serta tiang berbentuk yoni. Semua batu ini dihiasi dengan ornamen yang sangat presisi.

bowomatalu-nias (16) bowomatalu-nias (17)

Bangunan yang penting yang harus dilihat adalah bangunan lompat batu. Bangunan ini terdiri atas susunan batu yang akan dilompati dan batu untuk bertumpu. Pada perayaan-perayaan penting, raja dan hulubalangnya akan duduk di batu di depan rumah raja untuk menyaksikan para prajurit melakukan lompat batu.

bowomatalu-nias (18)

 

Beberapa informasi di artikel ini saya cuplik dari Buku: “Omo Niha Perahu Darat di Pulau Bergoyang” tulisan Nata’alui Duha.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.