[Di Ujung Dunia – Xiexie Ni de Ai] Sleeping Charming

Liana Safitri

 

TIAN YA koma.

Lydia membelai wajah pucat Tian Ya dengan tangan gemetar. Perban putih dan tebal membebat dada pemuda itu, diikat ke bahu melintang hingga ke punggung.

“Tampaknya kepulangan kita harus ditunda…” kata Franklin. Ia menyesal, karena menolong dirinyalah Tian Ya jadi seperti ini.

“Entah kapan ia akan sadar…” Lydia bergumam tanpa mengalihkan pandangannya pada Tian Ya.

“Untuk saat ini tak ada yang dapat dilakukan. Kita tidak boleh berada di sini terlalu lama, Tian Ya perlu mendapatkan udara segar.”

Lydia menggeleng, “Aku mau di sini…”

Franklin duduk di deretan kursi yang ada di luar. Ia akan menemani Lydia di rumah sakit, setidaknya untuk malam ini. Fei Yang duduk di sebelah Franklin, hanya dipisahkan oleh sebuah kursi kosong. Mereka terjebak dalam kebisuan. Fei Yang menyibukkan diri dengan bermain ponsel, Franklin sebentar-sebentar berdiri, sebentar-sebentar duduk dengan tidak tenang.

Tuan dan Nyonya Li berjalan tergesa-gesa. Tanpa memperhatikan Franklin dan Fei Yang, mereka langsung masuk ke dalam kamar tempat Tian Ya dirawat. “Tian Ya! Oh… anakku… bagaimana bisa jadi begini…” Lydia menyingkir memberikan tempat pada Nyonya Li, matanya juga sembab. Hanya Tuan Li yang memegang tangan Tian Ya sebentar lalu berdiri di samping Lydia, tampak sekali ia berusaha keras untuk tetap tenang.

“Kapan kejadiannya?”

“Tadi malam…”

Nyonya Li terus menangis, tidak mau mendengar apa yang dikatakan suaminya, atau bujukan Lydia. Ia baru keluar kamar setelah dokter dan seorang perawat datang untuk memeriksa Tian Ya. Franklin dan Fei Yang berdiri menyambut Tuan dan Nyonya Li. Nyonya Li melihat Franklin dengan tatapan aneh.

Sebelumnya Tuan dan Nyonya Li bertemu Xing Wang di depan pintu masuk. Xing Wang menjelaskan pada Tuan dan Nyonya Li secara singkat bagaimana peristiwa itu terjadi. Xing Wang membantu Franklin keluar dari gedung tua. Ia lalu bersiul panjang, memberi tanda pada Tian Ya untuk lari. Tapi tiba-tiba terdengar suara letusan. Xing Wang berbalik dan melihat Tian Ya terjatuh sambil memegangi dada, dalam sekejap bajunya ternoda oleh warna merah kehitaman. Ada dua orang yang terluka parah. Xing Wang berada di tengah, tangan kanannya memeluk Tian Ya, tangan kirinya menarik Franklin, berusaha keras membawa mereka berlari. Xing Wang, Tian Ya, dan Franklin lalu bersembunyi di dalam parit. Tidak mudah bagi mereka untuk sampai ke tempat pemukiman, mengetuk pintu rumah orang di tengah malam. Dengan keadaan menyedihkan dan darah terus menetes dari tubuh Tian Ya, akhirnya ada beberapa orang yang menolong. Hal yang sangat luar biasa karena Tian Ya bisa bertahan tidak pingsan sampai dibawa ke rumah sakit.

“Untuk apa kau berada di sini? Bukankah kau senang Tian Ya celaka?” sembur Nyonya Li.

“Jaga ucapanmu!”

Tapi Nyonya Li mengibaskan tangan suaminya berkata penuh amarah, “Kau bersekongkol dengan para penjahat itu untuk mencelakai Tian Ya! Gara-gara kau Tian Ya tertembak!”

Fei Yang tidak mengerti bahasa Indonesia, tapi melihat ekspresi semua orang tidak menyenangkan langsung menyimpulkan mereka sedang berselisih. Pasti Nyonya Li menyalahkan Franklin karena Tian Ya tertembak, pikirnya. Diam-diam ia menyingkir dari tempat itu mencari Xing Wang.

Lydia dan Franklin sama-sama terkejut dengan tuduhan yang dilontarkan Nyonya Li. “Bibi, apakah Bibi tidak melihat luka-luka di wajahku? Kalau benar aku ingin mencelakakan Tian Ya, kenapa harus membiarkan diri sendiri terluka? Aku bahkan tidak tahu kalau Tian Ya akan datang menolong!”

Tentu saja Lydia membela Franklin. “Benar, Mama tidak boleh menyalahkan kakak!”

“Jangan gelap mata hingga menuduh orang sembarangan!”

“Dia yang menyebabkan anak kita jadi begini! Dia memang tidak suka pada Tian Ya! Sejak awal dia memang berniat mau mencelakakan Tian Ya!” Nyonya Li berbalik marah pada suaminya.

“Aku ke Taiwan untuk mencari Lydia, anak Bibi-lah yang membawanya kabur!” Franklin mulai emosi.

Melihat suasana sudah tidak terkendali, Tuan Li menarik istrinya menjauh dari Franklin. “Kurasa kau kelelahan dan tak bisa berpikir jernih! Sebaiknya kau pulang untuk beristirahat, aku akan menjaga Tian Ya! Kita bisa bergantian besok.”

Lydia menyusul mereka lalu berkata pada Tuan Li, “Biar aku yang mengantar Mama pulang.”

“Lydia…” Franklin menunjukkan ekspresi tidak setuju, tapi Lydia mengedipkan mata, memberi tanda agar ia jangan khawatir.

Lydia berjalan menyusuri lorong rumah sakit sambil menggandeng tangan Nyonya Li. “Mama… aku tahu Mama sangat mengkhawatirkan Tian Ya. Tapi ini bukan salah kakakku… Akulah yang meminta tolong pada Tian Ya hingga ia pergi bersama Xing Wang untuk menyelamatkan kakak… Ia datang ke Taiwan untuk mengajakku pulang…”

Nyonya Li tiba-tiba berhenti melangkah, ia menatap Lydia lekat-lekat. “Lydia, maukah kau memenuhi satu permohonanku?”

“Ya, katakan saja, Mama!”

“Tolong tinggalkan Tian Ya!”

Lydia terkesiap. Ia tidak menyangka Nyonya Li akan mengatakan kalimat ini. “Kenapa?” Meski tahu jawabannya pasti tidak sederhana, Lydia tetap melontarkan pertanyaan itu dengan lirih.

“Kalian tidak mungkin bersatu! Meskipun kami merestui hubungan kalian… tapi ini akan sangat sulit. Orangtuamu sudah tidak menyukai Tian Ya sejak awal, entah apa sebabnya. Tian Ya bercerita padaku kalau suatu saat ia pernah datang ke rumahmu tanpa mengatakannya lebih dulu untuk memberimu kejutan. Tapi di halaman ia bertemu dengan ayahmu yang langsung mengusirnya. ‘Pergi kau, aku tidak suka ada orang asing datang ke rumah ini!’, begitu katanya.”

Lydia tertegun, Tian Ya belum pernah menceritakan kejadian ini padanya. Ia juga mulai mengerti kenapa Tian Ya selalu menolak jika Lydia mengajaknya ke rumah.

“Selain itu,” Nyonya Li melanjutkan, “Masih ada Franklin… dia punya dendam dengan keluarga kami.”

“Tapi kakak berkata sudah melupakan semuanya! Dia memang pernah tidak suka pada Tian Ya, tapi dia tidak akan melukai Tian Ya! Setelah kejadian ini aku yakin hatinya akan luluh dan merestuiku hubunganku dengan Tian Ya!”

Nyonya Li menggeleng. “Kau tidak akan pernah mengerti kekhawatiran seorang ibu hingga kau menjadi seorang ibu! Mungkin di matamu Franklin orang yang sangat baik, tapi bagi kami Franklin tetap orang lain. Kalau kau tetap bersama Tian Ya, Franklin bisa menjadi ancaman setiap saat. Apalagi semua orang tahu Franklin dan Tian Ya selalu bersaing mendapatkanmu.”

Lydia menunduk, tak tahu harus berkata apa.

“Maaf jika ini membuatmu terluka… Tapi aku harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki keadaan! Kami tidak sanggup lagi melewati hari-hari penuh kecemasan sejak Tian Ya membawamu ke Taiwan. Sebaiknya kita kembali ke tempat di mana seharusnya kita berada.” Nyonya Li tersenyum samar sembari menambahkan dengan tulus, “Satu hal yang harus kau ingat, terlepas dari apa pun aku tetap menyayangimu!”

Lydia dapat mendengar suara Nyonya Li menyerap air dari hidungnya. “Tidak usah mengantarku, aku bisa pulang sendiri.”

Saat Nyonya Li berbalik Lydia memanggil, “Mama! Biarkan aku di sisi Tian Ya sampai ia sadar. Setelah itu aku akan pulang ke Indonesia…”

Nyonya Li tak menjawab.

 

Lydia adalah orang yang paling terpukul atas musibah yang menimpa Tian Ya. Ia tidak akan pergi dari sisi pembaringan Tian Ya jika tidak dibujuk berulang kali oleh Franklin, Fei Yang, atau Xing Wang. Karena khawatir Lydia ikut jatuh sakit Franklin berpesan pada seorang perawat untuk menjaganya juga. Franklin hanya datang suntuk mengantar jemput Lydia dari rumah sakit ke hotel dan sebaliknya jika Lydia memerlukan sesuatu. Franklin tidak bisa menemani Lydia karena Nyonya Li sangat tidak suka melihatnya.

Lydia sering menatap Tian Ya sampai berjam-jam, menggenggam tangannya, berbicara padanya, mempercayai kalau Tian Ya bisa mendengar apa yang ia katakan. Lydia sangat menyesal karena beberapa hari lalu ketika Tian Ya menemuinya, mereka malah bertengkar. Lydia memutarkan lagu, membacakan novei, menonton drama terbaru melalui laptop, dan berkomentar panjang lebar, seolah mereka sedang menyaksikannya bersama.

“Kau tahu Tian Ya, dulu saat pertama kali mendengar dongeng Pemuda Gembala dan Gadis Penenun darimu, aku merasa ceritanya sangat bagus. Lalu setelah menonton Huan Zhu Ge Ge (还珠格格 —Putri Huan Zhu), aku tidak suka lagi dengan dongeng itu. Daripada menjadi Zhi Nu, lebih baik menjadi Zi Wei atau Xiao Yan Zi. Meskipun mereka putri rakyat jelata yang dimusuhi permaisuri dan ibu suri, akhirnya tetap bisa bersatu dengan Yong Qi dan Er Kang, sungguh bahagia. Kemudian aku berpikir, jadi putri zaman dulu itu juga susah, ya! Harus belajar tata krama, banyak peraturan, tidak boleh begini, tidak boleh begitu… Lebih baik hidup sebagai putri zaman modern, seperti Ye Tian Yu dalam The Prince Who Turns into a Frog. Selain bertemu ‘pangeran katak’ Shan Jun Hao, dia juga disukai Xu Zi Qian. Ah… tapi bukankah cinta segitiga sangat memusingkan? Apakah menurutmu aku ini plinplan?” Sambil berkata begitu Lydia menolehkan kepala ke arah Tian Ya dan berkata kecewa, “Aku sudah berbicara sebanyak ini, masih belum sadar juga!” Lydia mengeraskan suara berpura-pura tegar, “Baiklah! Nanti setelah bangun, aku hanya ingin kau menjadi pangeran sejati, bukan pangeran katak yang hilang ingatan!”

Franklin diam-diam mengintip dari celah pintu dan tidak jadi masuk.

Walaupun Lydia sulit melupakan Tian Ya, selalu merasa bimbang, sering bolak-balik antara dirinya dengan Tian Ya, Franklin pikir itu biasa.

Aku tak pernah berhenti berharap bahwa suatu saat nanti kau akan kembali padaku…

Di sisi lain Lydia merasa benci terhadap diri sendiri yang sulit menetapkan pilihan.

Aku berkali-kali meminta agar kita segera pulang ke Indonesia. Aku tahu hatiku mudah goyah, dan aku tak mau menyakitimu lagi. Dan sekarang lihat… lihat apa yang terjadi! Aku tak mampu menahan diri untuk kembali melihat kepadanya…

 

Lydia kembali ke hotel untuk mengambil pakaian bersih yang diperlukan selama menunggu Tian Ya. Franklin hanya duduk diam di kursi, mengamati Lydia memasukkan baju ke dalam tas. Ia sudah sering melihat adegan semacam ini, dan hati Franklin selalu merasa diaduk-aduk. Mengemasi barang-barang hanya berarti dua kemungkinan, ke tempat Franklin, atau ke tempat Tian Ya. Dan sayangnya, yang terjadi sekarang adalah pilihan yang namanya disebutkan belakangan.

Lydia mengambil sebuah dompet dan ponsel lalu dia berikan pada Franklin. “Xing Wang lupa mengembalikan padamu. Waktu itu suasana di rumah sakit sangat kacau, semua orang panik.”

Franklin menerima dompet dan ponselnya dengan diam.

“Xing Wang berkata, ia dan Tian Ya menemukan Kakak karena uang rupiah dan dompet yang Kakak jatuhkan di sepanjang jalan. Uangnya sudah mereka kumpulkan, tapi mungkin jumlahnya kurang karena siapa tahu ada yang tidak terambil. Ponselnya juga sepertinya rusak waktu terjatuh.” Lydia berkata heran, “Bagaimana Kakak bisa terpikir menjatuhkan uang dan ponsel? Sempat-sempatnya kau bawa uang Rupiah!”

“Aku sendiri lupa kalau ada uang Rupiah di kantong. Mungkin itu uang yang akan ditukarkan menjadi dolar Taiwan. Aku tahu tidak akan menang melawan mereka sendirian, lalu berlari sambil menjatuhkan apa saja yang ada di kantong. Berharap bisa menarik perhatian orang yang melihatnya agar mereka menolongku. Dan ternyata Tian Ya bersama temannya bisa menemukanku setelah melihat uang-uang Rupiah yang aku jatuhkan, bukan?”

“Bagaimana kalau uang itu malah diambil orang lain, atau tertiup angin dan terbang ke tempat lain?” Lydia ngeri membayangkan akibatnya.

“Entahlah… aku tidak bisa berpikir…”

Jika aku yang terluka parah, mungkinkah kau akan mengabaikan Tian Ya dan memilih berada di sisiku?

“Kak, aku sudah berbicara dengan mama Tian Ya. Meskipun meminta kami berpisah, tapi dia membiarkan aku menjaga Tian Ya sampai Tian Ya sadar. Berarti mereka tidak peduli kau ada di rumah sakit. Mereka pasti tahu kalau aku tidak mungkin pergi ke mana-mana tanpamu. Kalimat yang kemarin, mama Tian Ya mengatakannya karena emosi dan panik. Dia tidak bersungguh-sungguh. Jangan dimasukkan ke dalam hati.” Lydia mengira sikap diam Franklin sebagai kemarahan karena tuduhan Nyonya Li padanya.

“Kau tidak usah membelaku… Mama Tian Ya jelas-jelas tidak suka melihatku, bukan karena kemarahan sesaat. Tidak apa-apa. Dia hanya ingin melindungi anaknya, aku memang berbahaya. Aku bermasalah dengan keluarga Li!”

“Tidak usah terlalu dipikirkan! Kita semua tahu itu hanya masa lalu…” Lydia berusaha menghibur Franklin.

Franklin menatap Lydia lekat-lekat, “Dulu ayahku dan papa Tian Ya adalah saingan di dunia bisnis. Orang-orang kepercayaan ayah entah bagaimana menjadi berkhianat, pindah halauan memihak papa Tian Ya. Lalu secara mencurigakan terjadi kebakaran di pabrik ayah. Semua bukti mengarah pada papa Tian Ya dan kasus ini dibawa ke pengadilan… Tapi ayahku kalah. Karena tidak sanggup membayar kerugian yang dibebankan padanya, ayah gantung diri. Tiga hari kemudian saat pulang sekolah, aku menemukan ibu memeluk adik perempuanku di tempat tidur dengan mulut berbusa. Mereka meminum racun serangga. Hanya aku yang masih hidup… Rumah dan seluruh harta ayah yang masih tersisa kemudian dijual karena ternyata ia masih punya tanggungan hutang yang cukup besar.”

“Tapi bukankah… orangtua Kakak meninggal karena kecelakaan setelah bertemu dengan orangtua Tian Ya? Mereka bertengkar di dalam mobil karena ayahmu menandatangani kesepakatan untuk menyerahkan perusahaannya pada papa Tian Ya. Itu yang diceritakan dulu…” Lydia berpikir keras, “Bukan salah orangtua Tian Ya sepenuhnya…”

“Aku tidak bisa menerima kenyataan, mengalami depresi berat, dan harus menjalani rehabilitasi selama enam bulan. Aku berubah menjadi seperti orang gila, dan lupa segala-galanya, lupa siapa diriku. Kemudian ayahmu mengangkatku sebagai anak. Dia menyembunyikan kenyataan jika orangtuaku dengan orangtua Tian Ya berselisih, mengarang cerita, mengatakan kalau orangtuaku meninggal karena kecelakaan. Demi menstabilkan kondisi jiwaku, ayahmu melarangku menonton televisi dan membaca koran. Tapi aturan ini sangat sulit diterapkan. Setiap hari orang-orang menggunjingkan kematian orangtuaku yang tidak wajar. Ayah lalu membayar sejumlah media massa untuk menyebarkan berita palsu, bahwa mereka meninggal karena kecelakaan. Aku termasuk yang mempercayainya. Mungkin papa Tian Ya juga…”

“Jadi… sebenarnya ayah sudah tahu kalau… orangtua Kakak bermasalah dengan orangtua Tian Ya?” Lydia bertanya setengah tidak percaya.

“Lebih tepatnya ayah dan ibu!” Franklin memastikan. “Sebenarnya iya! Tapi mereka menyembunyikannya dari kita.”

“Pantas ayah dan ibu mati-matian menentang hubunganku dengan Tian Ya… Rupanya begitu…” Lydia tercenung.

“Lalu setelah kau dan Tian Ya kabur ke Kaliurang, aku mencari informasi tentang keluarga Li. Itu pun tidak lengkap. Aku baru mengingat kejadian sebenarnya setelah sebulan yang lalu bertemu dengan mantan tukang kebun keluargaku. Kami berdua pergi ke pemakaman, dia menunjukkan nisan adik perempuanku yang letaknya berjauhan dari nisan ayah dan ibu. Aku menangis lama sekali karena telah menemukan apa yang sempat terlupakan. Dan mulai memahami apa yang aku rasakan terhadapmu.”

Selain karena cinta, di hatiku, kau berfungsi sebagai pengganti…

“Kakak…” Hanya itu yang mampu keluar dari bibir Lydia. Hatinya bagai tercabik-cabik. Ketika Franklin terjatuh karena kejadian tersebut, dia di Taiwan, mungkin sedang bersenang-senang dengan Tian Ya. Tapi, bahkan dengan beban berat yang harus ia tanggung, Franklin masih berusaha mencari Lydia. Sungguh, Lydia tidak tahu bagaimana membalasnya.

“Kau salah kalau mengira aku sama sekali tak punya niat buruk.” kata Franklin serius. “Mengirim James menjadi guru bahasa Mandarin untuk memata-matai tempat kursus adalah salah satunya. Lalu merekayasa kasus Peter. Aku juga hampir menyuruh orang untuk membakar tempat kursus, tapi kemudian ingat jika ada banyak anak-anak di sana. Yang lebih parah, setelah menemukanmu di Taiwan, di tempat itu, aku mempertimbangkan untuk membunuh Tian Ya. Tapi aku tidak mau kau membenciku. Kebetulan sekali Tuan Wang yang kukenal punya hubungan baik dengan Tian Ya. Jika aku menghancurkan keluarga Li dimulai dari bisnis mereka, mungkin kau tak akan tahu. Dan bukankah jatuh bangunnya seseorang di dunia bisnis hal yang wajar? Mereka membuatku tidak punya keluarga juga dengan cara itu.”

Lydia berkata lirih sambil menggeleng-gelengkan kepala, “Ini tidak mungkin…”

“Namun setelah melihat Tian Ya terbaring dalam keadaan koma karena menyelamatkanku, aku tahu harus melepaskan tangan!” Franklin menambahkan dengan suara parau, “Lydia, jika bukan karena kau, aku mungkin sudah lama menjadi seorang pembunuh!”

 

Pengakuan Franklin membuat Lydia sangat terguncang. Selama ini Lydia menganggap Franklin adalah kakak yang paling baik sedunia. Meskipun kadang merasa kesal dan marah, tapi Lydia tidak sanggup membencinya. Lydia bisa memahami kalau Franklin cemburu, ia tahu sampai sekarang Franklin masih menyukainya, tapi… dendam? Lydia tidak menyangka Franklin masih menyimpan kata mengerikan tersebut dalam hatinya. Namun setelah berpikir semalaman Lydia berusaha memahami posisi Franklin. Kehidupan Franklin sangat kelam jika dibandingkan Lydia dan Tian Ya yang pada saat itu merasa sedih hanya karena mereka harus berpisah. Lagi pula Franklin akan “melepaskan tangan”. Yang paling penting sekarang adalah Tian Ya harus sadar dari koma.

Saat membuka pintu, bau obat-obatan yang khas menyerbu hidung Lydia. Tian Ya masih berbaring diam dengan mata tertutup. Lydia sudah terbiasa dengan keadaan semacam ini. Ia seperti tidak terpengaruh, meletakkan barang bawaannya di atas meja sambil berbicara, “Pangeran Katak masih tidur rupanya? Sudah hampir dua minggu kau seperti itu apakah tidak lelah?”

Sunyi.

“Tian Ya, hari ini Brenda menelepon dari Indonesia. Kakeknya meninggal… aku minta maaf karena tak bisa datang. Kukatakan kita masih di Taiwan dan kau juga sedang sakit. Kau ingat Kakek Smith kan? Kita bersembunyi di villa keluarga mereka saat melarikan diri ke Kaliurang.”

Kenangan yang indah…

amybartram94.deviantart.com

amybartram94.deviantart.com

Lydia dan Tian Ya turun dari bus, sambil bergandengan tangan berjalan kaki sejauh dua kilometer menuju villa keluarga Brenda. Tidak ada pilihan lain. Franklin mungkin sudah mengerahkan anak buahnya untuk mengejar mereka. Halaman villa sepi. Tian Ya mengetuk pintu dengan tidak sabar. Beberapa saat kemudian Kakek Smith muncul. Ia memandang Lydia dan Tian Ya agak lama dan mulai ingat.

“Oh, Guru Bahasa Mandarin! Kalian pernah datang kemari bersama teman-teman Brenda dua bulan yang lalu, kan?”

“Kami sedang dalam masalah… Brenda menyuruh kami… tinggal di sini sementara waktu… apakah boleh?” Lydia bertanya ragu.

“Ya, ya! Masuklah!”

Pada awalnya Lydia dan Tian Ya tak begitu yakin kalau Kakek dan nenek Smith mau menolong mereka. Kabur dari rumah karena hubungan cinta tidak direstui, siapa sih orangtua yang menyetujui ide gila semacam ini? Tapi ternyata mereka disambut dengan sangat baik. Setelah makan malam semua orang berkumpul di ruang tengah.

Ketika Tian Ya bermaksud menceritakan masalah mereka Kakek Smith menggoyangkan tangan. “Aku sudah diberi tahu Brenda! Hubungan yang tidak mendapat persetujuan orangtua memang merupakan sebuah tragedi! Tapi kalian jangan khawatir, tempatku aman.”

Lydia dan Tian Ya saling bertukar pandang.

Begitu mudahnya kah?

Melihat Lydia dan Tian Ya seperti itu Kakek Smith tertawa. “Kenapa? Kalian heran, ya? Kenapa aku mau membantu kalian berbuat sesuatu yang ditentang oleh masyarakat?”

Nenek Smith yang mendengar pembicaraan mereka dari dalam menegur suaminya, “Sudahlah! Kau jangan berbicara yang tidak-tidak kepada mereka!”

“Siapa yang berbicara yang tidak-tidak?” Kakek Smith memanggil istrinya, “Hei, kau sedang apa?”

Nenek Smith muncul dan berkata tidak setuju, “Ya tentu saja kau! Tian Ya jangan disamakan dengan dirimu! Dan aku yakin dia akan berpikir panjang sebelum menuruti omonganmu!”

“Oh, jadi kau menyalahkanku? Tapi kalau waktu itu kita tidak bertindak cepat, mana mungkin akan terus bersama sampai sekarang? Lydia dan Tian Ya bukan anak-anak lagi!” Kakek Smith menarik Nenek Smith duduk di sebelahnya. “Jangan sibuk sendiri saat ada orang yang membutuhkan bantuan kita. Paling tidak mereka harus tahu perjuangan kita untuk dapat bersama juga tidak mudah.” Kakek Smith menatap Tian Ya, “Pak Guru…”

Tian Ya merasa tidak enak dipanggil dengan sebutan “Pak Guru”, karena di tempat kursus biasanya ia hanya dipanggil “Kakak” oleh anak-anak. “Ah, jangan memanggil saya dengan sebutan itu! Rasanya malu!”

“Benar, cukup panggil nama saja!” sahut Lydia.

“Baiklah… mmm… siapa namamu? Tanya?”

“Thien-ya…”

“Hien-ya?”

“Bukan, bukan! Thi-en-ya…” Tian Ya mengeja namanya pelan-pelan.

“Yenya…”

“Kalau susah, panggil nama Inggris saja, Leon!” Lydia menutup mulut dengan kedua tangan sambil terkikik.

Tian Ya tak dapat menahan diri untuk tertawa. “Sudahlah! Sudahlah! Panggil apa saja juga boleh!” kata Tian Ya akhirnya setelah menyadari jika ia pun tidak terbiasa dipanggil menggunakan nama Inggris.

“Maklum, sudah tuli!” sahut Kakek Smith. Ia melanjutkan dengan serius, “Kalian tahu, hubunganku dengan istriku dulu juga ditentang oleh orangtua!”

“Haa?” Lydia dan Tian Ya membuka mulut bersamaan.

“Ya, benar…” kali ini Nenek Smith yang gantian berbicara. “Kedua orangtua kami menentang hubungan kami karena…” Nenek Smith menarik napas dalam-dalam, “Aku berasal dari keluarga petani miskin, sedangkan keluarganya sangat kaya. Sejak awal aku sudah tahu kalau ini akan sangat sulit. Tapi dialah yang berulang kali meyakinkan aku jika semua dapat diatasi asalkan kami tidak menyerah. Karena orangtua masing-masing tetap bersikeras kami lalu pergi dari rumah, persis seperti kalian. Kami menikah diam-diam di desa terpencil, mengadakan sebuah pesta sederhana yang hanya dihadiri beberapa teman. Setelah anak laki-laki pertama kami berusia satu tahun, kami baru berani pulang.”

“Lalu?”

“Lalu? Apalagi yang bisa mereka lakukan selain menerima kami bersama generasi yang baru lahir?”

Sepasang suami istri yang sudah tua itu saling bertukar pandang dan tersenyum mengingat masa lalu mereka. “Meski demikian butuh waktu agak lama bagi orangtua kami untuk menerima kenyataan. Jadi aku tetap membawa istri dan anakku tinggal terpisah dari orangtua. Sebab jika aku tidak mengambil tindakan siapa pun yang tidak suka akan ikut campur urusan rumah tangga kami, membuat semua jadi kacau. Kalau sampai tidak bisa dipertahankan akan jadi bahan tertawaan!”

Tanpa malu-malu Kakek Smith menggenggam tangan istrinya di hadapan Lydia dan Tian Ya. “Kalian lihat, kami masih tetap bersama! Aku menceritakan ini bukan agar kalian mengikuti apa yang kami lakukan, tapi dalam hal apa pun yang diperlukan adalah ketegasan. Kalau kau merasa yakin terhadap pilihanmu, perjuangkanlah! Seandainya pilihanmu salah kau tidak akan menyesal terlalu banyak karena telah melakukan apa yang merupakan kata hatimu. Akan lebih menyedihkan lagi jika kita membiarkan hidup kita diatur oleh orang lain. Kalian…” Kakek Smith menatap Lydia dan Tian Ya berganti-ganti. “Sepertinya kalian tidak punya masalah dengan kisah si miskin dan si kaya yang menyebalkan itu.”

“Ya, tapi persoalan kami jauh lebih sulit diatasi daripada sekedar urusan dompet!” Tian Ya tertawa getir.

“Dulu ketika kalian datang kemari bersama teman-teman kalian, aku sempat berkata pada istriku, ‘Mereka akan melalui jalan yang tidak mudah,’ dan ternyata benar.”

Lydia membelalakkan mata lebar-lebar, “Bagaimana kalian tahu, padahal ketika itu belum saling mengungkapkan perasaan?”

“Kami terlalu tua untuk melihat apa-apa yang tersembunyi di dalam hati orang yang sedang jatuh cinta!”

“Kalian berasal dari dua tempat yang berbeda, generasi muda biasanya tidak terlalu mempermasalahkan. Tapi orangtua akan berpikir lebih jauh, mempertimbangkan lebih dalam, dan mengkhawatirkan lebih banyak. Menyatukan dua keluarga dengan kebudayaan dan adat-istiadat berbeda juga tidak mudah kalau masih ada yang bersikeras.”

“Memang begitulah kenyataannya…” Lydia mengangguk meski enggan mengakui.

“Tapi kukira kita sudah tahu, jalan apa yang akan ditempuh,” sahut Tian Ya mantap.

Lydia dan Tian Ya sudah menetapkan pilihan mereka untuk tinggal di villa hingga waktu yang tidak ditentukan. Mereka memenuhi kebutuhan hidup dengan berjualan tanaman hias dari pagi sampai siang. Kemudian sorenya Lydia dan Tian Ya memberi pelajaran bahasa Inggris dan bahasa Mandarin kepada anak-anak dari desa sekitar.

Sebenarnya kegiatan belajar ini tidak disengaja. Di sore hari, halaman villa memang sering digunakan anak-anak untuk bermain. Mereka menyukai Kekek dan nenek Smith yang ramah. Suatu ketika Lydia mendekati mereka dan bertanya apakah mereka sudah mengerjakan tugas sekolah, karena ia melihat anak-anak itu bermain seharian dan sebagian masih memakai seragam sekolah. Dari mulai menemani bermain, menyelesaikan pekerjaan rumah, akhirnya Lydia dan Tian Ya sepakat untuk mengadakan kegiatan belajar bersama setiap hari. Anak-anak dari SD dan SMP satu per satu berdatangan, semakin hari jumlah mereka semakin banyak. Kadang-kadang ketika Tian Ya menerima telepon dari temannya di Taiwan ia berbicara bahasa Mandarin di hadapan mereka. Anak-anak lalu minta diajari juga. Jadi selain pelajaran sekolah Lydia dan Tian Ya mengajarkan bahasa Mandarin di waktu khusus. Sedangkan para orangtua merasa senang karena anak-anak mereka kini tidak hanya menghabiskan waktu untuk bermain tapi juga belajar.

Di hari penerimaan rapor beberapa orangtua datang ke villa menemui Lydia dan Tian Ya, menyerahkan sebuah “amplop” sebagai ungkapan rasa terima kasih karena nilai anak mereka naik. Tapi Lydia dan Tian Ya menolak dengan halus karena memang tidak berniat mencari uang dengan cara itu. “Kami hanya menemani anak-anak belajar,” kata Lydia. “Jika kami menerima kemudian ada orangtua anak lain yang merasa tidak bisa melakukan hal yang sama, mungkin mereka akan melarang anaknya belajar bersama kami.”

Menghadapi penolakan Lydia dan Tian Ya para orangtua mencari cara lain. Anak-anak datang belajar tidak hanya membawa buku, tapi juga beras, minyak, gula, teh, katakanlah sembako, untuk sepasang guru muda itu. Orangtua lain yang kemampuan ekonominya lebih rendah membawakan anak-anaknya kue, makanan kecil atau sayur sebagai oleh-oleh. Lydia dan Tian Ya tidak berani menolak pemberian mereka lagi karena khawatir menyinggung perasaan. Akibatnya sebelum pelajaran dimulai meja belajar disesaki dengan makanan bawaan anak-anak. Kadang karena Lydia dan Tian Ya tidak bisa menghabiskan sendiri mereka lalu mengadakan acara makan bersama setelah pelajaran berakhir.

Lydia dan Tian Ya sering mengajak bercanda anak-anak agar suasana belajar tidak terlalu tegang. Sebaliknya, anak-anak pun sering meledek Lydia dan Tian Ya. Mengatakan jika mereka berdua adalah sepasang kekasih yang sangat serasi. Semuanya gara-gara sebutir telur.

Waktu itu ada seorang anak yang berulang tahun. Orangtua si anak sengaja merayakannya di rumah kakek dan nenek Smith, setelah Lydia dan Tian Ya selesai memberikan pelajaran. Ibu, ayah, dan kakak anak itu mau repot-repot menggotong dua puluh gelas teh manis yang masih panas dan dua puluh piring “makanan orang desa” (Sesuai dengan ucapan sang ibu ketika berkata sambil tersenyum pada Lydia dan Tian Ya, “Maaf, makanan orang desa! Saya tidak mampu memberikan yang mewah-mewah, juga tidak mampu membuatkan nasi kuning. Seadanya saja dan dimasak sendiri… Tapi kalau Pak Guru dan Bu Guru mau nambah boleh.”) yang terdiri dari nasi putih, sambal kentang, kerupuk, mi kuning, dan telur.

Lydia tidak suka putih telur, sedangkan Tian Ya tidak suka kuning telur. Sejak SMP kalau menyantap satu menu makanan yang ada telurnya, mereka pasti selalu memisahkan bagian kuning dan putih telur, lalu saling menukarkan bagian telur yang tidak disukai. Sama seperti saat itu ketika makan bersama di hadapan anak-anak, Lydia dan Tian Ya spontan bertukar kuning dan putih telur. Bagi Lydia dan Tian Ya mungkin kebiasaan tersebut normal-normal saja, tapi bagi anak-anak merupakan sasaran empuk untuk dijadikan bahan ejekan.

“Wah, Bu Lydia dan Pak Li bertukar telur!”

“Cihuuiii!”

“Cieee… ciieee…!”

“Pacarnya mana, Pak Li?” tanya seorang anak ketika suatu sore Lydia tidak ikut belajar bersama karena terserang flu.

“Bu Lydia bertengkar dengan Pak Li, ya? Kenapa duduknya berjauhan?”

Tentu saja Lydia dan Tian Ya tidak bisa marah karena candaan semacam ini. Pertama, mereka bukan guru yang sesungguhnya, dan kedua, pada kenyataannya mereka memang berpacaran. Walau Lydia dan Tian Ya sedang berjuang mati-matian agar hubungan mereka mendapat restu dari keluarga, tapi entah kenapa di depan anak-anak Lydia dan Tian Ya merasa malu mengakui hubungan tersebut.

“Kalian kan, masih kecil! Belum waktunya orang seusia kalian memikirkan soal pacaran!” kata Lydia. Tapi setiap nasihat yang dilontarkan Lydia maupun Tian Ya, justru membuat anak-anak semakin bersemangat mem-bully pasangan guru muda itu.

Lagi-lagi Lydia dan Tian Ya mendapatkan hadiah dari murid mereka. Suatu ketika seorang anak perempuan yang ayahnya bekerja di tempat penyablonan, memberikan sesuatu pada Lydia dan Tian Ya. “Titipan dari Bapak,” katanya. Karena didesak anak-anak, Lydia dan Tian Ya langsung mengeluarkannya dari tas plastik.

Dua buah t-shirt warna pink yang masih baru dengan tulisan I U besar sekali di bagian depan belakang! Anak-anak langsung bertepuk tangan keras-keras sambil bersorak. Mungkin memang benar ayahnya si anak yang bekerja di tempat penyablonan itu ingin memberikan t-shirt pada Lydia dan Tian Ya. Tapi tulisan bergambar “lope-lope”? Dan warna pink? Pasti ulah anak-anak, persekongkolan besar! Tian Ya ingin marah tapi tidak bisa. Sedangkan Lydia hanya menahan tawa dengan pipi merah padam.

Malam harinya Tian Ya mengomel tanpa henti di kamar. “Aku tidak mau memakai kaus itu! Warna pink!”

“Tapi ini dari anak-anak…” Lydia menunjukkan dua t-shirt tersebut ke hadapan Tian Ya.

“Kamu pikir kita anak remaja yang baru jatuh cinta? Kau tidak masalah karena memang suka warna pink! Tapi kalau aku mengenakan kaus itu, seluruh dunia bisa menertawakanku!”

“Bagaimanapun juga pemberian orang harus dihargai! Kalau kau tidak mau memakainya, berarti kau tidak benar-benar menyukaiku!” kata Lydia galak sekali. Ia pergi meninggalkan Tian Ya.

Tian Ya berdiri menatap t-shirt “lope” miliknya. Setelah mendengus kesal Tian Ya berteriak, “Iya! Akan kupakai untuk tidur!”

Namun ada situasi tak terduga. Hujan turun terus selama beberapa hari, Tian Ya tak memiliki baju bersih kecuali t-shirt aneh itu. Tian Ya mau pergi keluar bersama Lydia dengan syarat, Lydia tidak memakai t-shirt yang sama. Lydia harus berulang kali menutup mulut dengan tangan melihat penampilan baru Tian Ya. Setiap kali Lydia terkikik, Tian Ya akan melotot padanya.

Dalam sekejap Lydia dan Tian Ya menjadi terkenal di wilayah itu.

“Pak guru dan bu guru yang datang dari kota itu baik sekali, ya!”

“Iya, mereka tidak mau menerima uang pemberian Bu RT… Baguslah, anggap saja les gratis. Tapi aku sering tidak tega jadi memberi mereka sayur masakan sendiri.”

“Nilai pelajaran anakku jadi semakin baik! Bahasa Inggrisnya lancar, berhitung Matematika-nya cepat!”

“Masih ada satu bahasa lagi yang diajarkan… apa ya, namanya?” Seorang ibu berusaha mengingat-ingat. “Ah… aku tidak tahu, lupa!”

“Tapi sepertinya guru yang laki-laki benar-benar dari luar negeri…”

“Dia orang Jepang! Seperti yang ada di film-film silat!”

“Bagaimana Ibu tahu?”

“Wajahnya seperti orang Jepang!”

“Ganteng, ya! Ibu gurunya juga cantik…”

“Mereka pasti suami istri!”

Lydia dan Tian Ya juga tahu jika mereka sering menjadi bahan pembicaraan orang-orang desa. Dari mulai para ibu yang datang arisan sampai belanja di warung, mereka selalu menyapa kalau bertemu Lydia dan Tian Ya. Bahkan Tian Ya sempat mendapat undangan untuk jaga malam yang dengan sangat menyesal ditolak.

“Kita tidak bisa terlalu membaur dengan masyarakat. Kita sedang bersembunyi. Sekarang aku malah khawatir kalau dikenal terlalu banyak orang. Kakak akan mudah menemukan kita,” Lydia mengingatkan.

“Ya…”

“Kalau sampai ketahuan, tidak tahu harus pindah ke mana…”

Tian Ya tidak mendengar kata-kata Lydia, sesaat ia seperti terpesona dengan kehidupan yang mereka jalani pada saat itu dan berkata pada Lydia, “Penduduk di sini ramah-ramah, tempatnya nyaman. Bagaimana kalau kita menetap di tempat ini saja?”

fafner1.deviantart.com

fafner1.deviantart.com

Orang yang dulu pernah mengucapkan kalimat itu, sekarang menggerakkan tangan pun tak mampu. “Nenek Smith pasti sangat sedih… Atau mungkin dia rela melepas suaminya karena usia kakek sudah sangat tua dan tak lama lagi akan tiba gilirannya? Aku tidak tahu bagaimana rasanya ditinggal pergi oleh orang yang kita cintai?” Lydia menggenggam tangan Tian Ya erat-erat, “Aku tidak tahu, tapi aku juga tidak ingin tahu! Jadi kau jangan terlalu kejam padaku… Kalau kau pergi sekarang, aku tak akan pernah memaafkanmu!”

Hari berikutnya Lydia meletakkan MP3 di dekat bantal Tian Ya.

“Kau mau mendengarkan lagu siapa?” Lydia berharap Tian Ya bisa mengatakan apa yang menjadi keinginannya saat itu. “Steve Chou? Jacky Cheung? Cyndi Wang? Atau… Angela Zhang?” Lydia melihat daftar lagu dari ponselnya. Beberapa detik kemudian ia menjawab sendiri, “Kurasa hari ini giliran Sang Raja Langit Hong Kong yang menemani kita.” Ia memutarkan salah satu lagu Jacky Cheung dengan suara pelan. Lydia memandang wajah Tian Ya lama sekali, sampai lagu berakhir.

“Wo taoyan ni (我讨厌你 —aku membencimu), kutarik kembali kata-kata itu… Aku menyesal telah mengucapkannya… Seharusnya aku mengatakan wo xihuan ni (我喜欢你 —aku menyukaimu).” Lydia menundukkan kepala dan mencium bibir Tian Ya.

Kemudian Lydia tiba-tiba mundur. Ia melihat bulir-bulir air mata yang mengalir turun dari kelopak mata Tian Ya yang tertutup. Dengan perasaan kacau-balau Lydia keluar ruangan dan berteriak, “Dokter! Dokter! Dia menangis! Aku melihatnya menangis! Dia meneteskan air mata!”

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.