27th Baba Nyonya Convention (1): Wayang Cinwa, Wayang Potehi dan Batik

JC – Global Citizen

 

Tahun 2014, Indonesia mendapatkan kepercayaan dari Federasi Peranakan Dunia untuk menyelenggarakan Peranakan Convention yang lazim disebut juga dengan Baba Nyonya Convention. Tahun ini adalah konvensi ke 27, sekaligus digabung dengan perayaan ulangtahun ASPERTINA (Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia) yang ke 3. Sedianya tahun lalu akan diselenggarakan Kondangan Peranakan Tionghoa sebagai perayaan ulangtahun ke 2 ASPERTINA, namun karena ada beberapa kendala, perayaan ulangtahun ASPERTINA diundur dan digabungkan dengan Baba Nyonya Convention 2014. Jauh-jauh hari pihak panitia sudah meminta saya untuk menjadi salah satu pembicara di acara tersebut. Tentu saja topiknya tidak jauh-jauh dari seputar kuliner.

IMG_0024 IMG_0046

Pemberian cinderamata oleh Ketua Umum ASPERTINA kepada Presiden Asosiasi tetangga

Pemberian cinderamata oleh Ketua Umum ASPERTINA kepada Presiden Asosiasi tetangga

Pemberian cinderamata oleh Ketua Umum ASPERTINA kepada Presiden Asosiasi tetangga

Pemberian cinderamata oleh Ketua Umum ASPERTINA kepada Presiden Asosiasi tetangga

IMG_0033

Akhirnya hari itu tiba juga. Konvensi berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 28 November sampai dengan 30 November 2014 di Grand Sahid Hotel, Jakarta. Tanggal 28 November para peserta dari luar negeri mulai berdatangan dan malamnya digelar welcome dinner. Kebetulan saya tidak bisa hadir karena ada acara kantor sampai menjelang tengah malam. Besoknya mendapat kabar dan cerita dari teman-teman, petang sampai dengan malam hari tanggal 28 November itu ternyata Jakarta diterpa hujan angin yang mengakibatkan kemacetan parah di mana-mana. Para pemain musik dan wayang potehi yang sedianya mengisi acara, terlambat hampir dua jam.

Tanggal 29 November pagi hari saya mengajak si Sulung meluncur ke tempat acara. Perjalanan sangat lancar dan tiba di Grand Sahid Hotel sekitar 45 menit lebih awal dari jadwal acara. Ternyata di luar ruangan tempat acara berlangsung sudah digelar lengkap berbagai pernik yang bernuansa Peranakan, didominasi oleh batik dengan corak khas pesisir yang cerah. Namun yang menarik di salah satu sudut ada dua booths berdampingan dengan warna-warna cerah menarik hati.

Saya terperangah mendapati sosok-sosok wayang kulit dengan corak dan nuansa yang ‘sangat-cina-sekali’. Walaupun belum tahu dan paham siapa-siapa tokoh masing-masing karakter yang ada di situ, dalam hati kecil sudah menduga, sepertinya wayang-wayang itu dari karakter hikayat/legenda Si Jin Kui (dulu lazim ditulis Sie Djin Kwie). Ternyata memang benar adanya setelah mendapat penjelasan lengkap dari sahabat saya yang sekaligus peneliti wayang Cinwa (Cina-Jawa) dan wayang potehi yang menghasilkan buku dahsyat. Ibu Woro Mastuti menceritakan secara singkat karena beliau memahami benar, tokoh Si Jin Kui tidak asing buat saya. Ulasan buku Ibu Woro Mastuti pernah dituliskan oleh Pak Handoko Widagdo di: http://baltyra.com/2014/09/03/wayang-potehi-gudo-seni-pertunjukan-peranakan-tionghoa-di-indonesia/.

cinwa (1) cinwa (2) cinwa01 cinwa02 cinwa03 cinwa04 cinwa05 cinwa06

Yang membuat hati saya lebih-lebih mencelos adalah wayang-wayang itu adalah repro dari wayang kulit asli yang usianya sudah ratusan tahun dan sekarang berada di Jerman. Pemiliknya adalah Dr. Walter Angst dari Überlingen! Sungguh ironis! Ibu Woro Mastuti membutuhkan waktu untuk meyakinkan Dr. Walter Angst supaya beliau mengijinkannya melakukan repro koleksi beliau. Namun sungguh sayang, sebelum tuntas merepro koleksi wayang, sang pemilik Dr. Walter Angst meninggal dunia dan koleksi peninggalannya sekarang disimpan oleh kakak beliau dan sampai sekarang belum membolehkan untuk diteliti dan direpro lagi.

Mengenai wayang potehi, mengutip tulisan saya sendiri di http://baltyra.com/2009/03/15/wayang-potehi/:

Menurut legenda, seni wayang ini ditemukan oleh pesakitan di sebuah penjara. Lima orang dijatuhi hukuman mati. Empat orang langsung bersedih, tapi orang kelima punya ide cemerlang. Ketimbang bersedih menunggu ajal, lebih baik menghibur diri. Maka, lima orang ini mengambil perkakas yang ada di sel seperti panci dan piring dan mulai menabuhnya sebagai pengiring permainan wayang mereka. Bunyi sedap yang keluar dari tetabuhan darurat ini terdengar juga oleh kaisar, yang akhirnya memberi pengampunan.

Diperkirakan jenis kesenian ini sudah ada pada masa Dinasti Qin yaitu pada abad ke 3-5 Masehi dan berkembang pada Dinasti Song di abad 10-13 M. Wayang Potehi masuk ke Indonesia melalui orang-orang Tionghoa yang masuk ke Indonesia di sekitar abad 16 sampai 19. Bukan sekedar seni pertunjukan, Wayang Potehi bagi keturunan Tionghoa memiliki fungsi sosial serta ritual. Tidak berbeda dengan wayang-wayang lain di Indonesia.

potehi (9) wayangpotehi02 wayangpotehi03 wayangpotehi04 wayangpotehi06 wayangpotehi05 wayangpotehi09 wayangpotehi08 wayangpotehi07 wayangpotehi01 potehi (18) wayang-potehi-gudo

Lebih lengkapnya silakan klik link: http://baltyra.com/2009/03/15/wayang-potehi/.

Sementara di tiga sudut ada yang menggelar koleksi-koleksi batiknya. Harga berkisar dari Rp. 150.000 sampai dengan jutaan (kisaran Rp. 1.5jt – 5jt). Dan inilah beberapa koleksi batik di sana:

batik (6) batik (12) batik (4) batik (3) batik (1) batik (2) batik (7) batik (5) batik (11) batik (10) batik (9) batik (8) batik (13) batik (14) batik (15) batik (16) batik (17) batik (18) batik (19) batik (20) batik (21) batik (22) batik (23) batik (24) batik (25) batik (26) batik (27)

 

Terima kasih sudah membaca…

 

 

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *