[Cerita Rakyat Buttasalewangang] Anggesayu

Hajrah Kadir

 

Hujan deras mengguyur Desa Kaluku sore itu, suara petir bergemuruh, kilat menyambar-nyambar, bagaikan pedang samurai yang diterpa cahaya, mengkilap menerangi kegelapan. Tampak Penduduk Desa Kaluku enggan keluar rumah dan memilih menutup pintu rumahnya rapat-rapat. Meski sebenarnya masih siang, namun sang dewa siang tertutup awan tebal.

Tampaklah seorang laki-laki bertubuh tegap, badannya besar, lengannya sangat berotot, betisnya panjang dan berotot, rambutnya sebatas bahu, melintasi sebuah areal persawahan di pinggiran Desa Kaluku. Bahkan menurut cerita bahwa antara mata kiri dan mata kanan berjarak satu jengkal. Bisa dibayangkan betapa besarnya Anggesayu. Tampak dari wajahnya, laki-laki itu sangat kedinginan. Lelaki itu bernama Anggesayu.

Dari kejauhan, tampaklah sebuah rumah panggung yang sudah hampir rubuh. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang telah rapuh, atapnya terbuat dari ilalang kering jika angin kencang bertiup, maka atap ilalang tersebut juga akan terangkat pula, tiang rumah itu sudah termakan rayap. Rumah itu dihuni oleh sepasang suami istri yang sudah rentah. Mereka adalah Daeng Muin dan istrinya bernama Daeng Karra. Tidak jauh dari rumah rewot itu, berdirilah sebuah pohon mangga yang sangat rindang. Daunnya sangat lebat, kebetulan pohon mangga itu sedang berbuah. Biasanya musim hujan bersamaan dengan musim mangga.

Hujan semakin deras, laki-laki bertubuh tinggi dan tegak itu, dari kejauhan melihat pohon mangga tersebut, ia pun bernaung di bawah pohon mangga. Bajunya basah kuyup, badannya menggigil karena kedinginan. ”Lebih baik saya bernaung di bawah pohon mangga ini”, kata Anggesayu. Anggesayu pun berdiri di bawah pohon mangga itu menunggu hujan reda. Anggesayu memandang jauh, seakan menembus derasnya hujan.

Setelah beberapa jam berdiri di bawah pohon mangga, Anggesayu secara kebetulan menengadahkan wajahnya ke atas. Saat itu Anggesayu baru mengetahui bahwa pohon mangga itu sedang berbuah. Dalam derasnya hujan, biasanya perut terasa keroncongan. Demikian juga dengan Anggesayu. Karena laparnya, Anggesayu pun berkeinginan untuk mengambil beberapa buah mangga. Sebelum mengambil buah mangga, Anggesayu meminta kepada empunya mangga.

”Bisakah saya mengambil buah mangga tuan meski hanya 1 biji”?, Kata Anggesayu. ”Ambil saja, kenapa hanya satu biji”?. Makan saja sepuasmu, Kata yang empunya mangga. Mulailah Anggesayu beraksi. Anggesayu melempar mangga tersebut dengan mengunakan sebatang kayu yang kecil. ”Brrraaaakkkk”, Anggesayu terkejut, ternyata dahan pohon mangga tersebut patah. Segera Anggesayu mengumpulkan buah mangga yang ada di tiap ranting dahan yang patah. Dengan lahapnya Anggesayu memakan buah mangga tersebut, tak terasa habislah semua buah mangga baik yang ada pada dahan yang patah, maupun yang ada pohonnya.

”Astagfirullah”, hanya itu yang keluar dari mulut yang empunya mangga. Dia tidak menyangka kalau Anggesayu sanggup memakan mangga sebanyak itu, sungguh tak masuk akal. Dalam sekejap mangga itu habis. Setelah buah mangga tersebut telah habis, Anggesayu mengucapkan terima kasih kepada yang empunya mangga. ”Terima kasih, Daeng Muin”, kata Anggesayu. ”Sama-sama”, kata yang punya mangga. Meskipun dengan hati yang sedih, si empunya mangga pun menangis, karena mangga tersebut satu-satunya tumpuan hidupnya. Mangga itu biasanya dijual ke pasar untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Sesampai di rumah, Anggesayu menceritakan semua peristiwa yang dialaminya. Kedua orang tuanya hanya bisa tertegun mendegarkan cerita anaknya.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, kedua orang tua Anggesayu semakin cemas dengan prilaku anaknya yang sangat lahap jika makan dan menghabiskan semua makanan. Apapun yang dimakannya akan ludes. Jika Anggesayu makan, janganlah sekali-kali mengatakan, ”tambah lagi” melebihi tiga kali. Hal tersebut akan berakibat fatal, semua yang ada akan ludes dimakannya. Keadaan Anggesayu tersebut, membuat kedua orang tuanya berfikir untuk cepat-cepat mencarikan pasangan untuk anaknya.

Tersebutlah sebuah desa yang bernama Desa Soreang. Di desa itu terdapat sebuah keluarga yang cukup terpandang. Soreang adalah salah satu tetangga desa Kaluku. Ayahnya bernama Daeng Sakka, ibunya bernama Daeng Kati, dan anak semata wayangnya bernama Sattuma.

Kedua orang tua Anggesayu mendengar bahwa di Desa Soreang terdapat sebuah keluarga yang memiliki seorang anak perempuan yang memiliki perawakan seperti anaknya. Kedua orang tua Anggesayu berniat untuk melamarnya. Kedua orang tua Anggesayu kemudian menanyakan kepada Anggesayu tentang niatnya untuk melamar seorang perempuan untuknya. Anggesayu pun tidak keberatan dengan rencana orang tuanya.

Hari baik untuk melamarpun telah ditentukan oleh keluarga Anggesayu. Para utusan pun berkunjung ke rumah yang dimaksud. Tak lama kemudian para utusan pun tiba. Rumah Sattuma dipenuhi oleh sanak keluarga yang ingin menyaksikan acara lamaran tersebut. Para utusan disambut gembira oleh keluarga Sattuma, terutama oleh kedua orang tuanya. Acara lamaran pun dimulai.

Pada saat prosesi lamaran tersebut, dilakukan beberapa kesepakatan, antara lain adalah tentang banyaknya uang belanja, tanggal pernikahan, serta mahar yang akan dibawa oleh pihak laki-laki pada saat acara akad nikah nanti. Semua syarat yang diajukan oleh pihak perempuan disetujui oleh pihak laki-laki (utusan Keluarga Anggesayu). Akad nikah dilakukan sebulan setelah acara lamaran. Setelah semua acara dilalui, maka utusan keluarga Anggesayu pun pulang.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Anggesayu bagaikan raja sehari, menduduki tahta singgasana. Iring-iringan pengantin pun meninggalkan Desa Kaluku menuju Desa Soreang. Sepanjang jalan Anggesayu dielu-elukan. Tibalah Anggesayu di rumah mempelai perempuan. Rumah Sattuma penuh sesak oleh keluarga dan handai taulan yang ingin menyaksikan pasangan pengantin. Mereka berdua sangat serasi. Karena mereka sama-sama memiliki tubuh yang kekar, dan besar. Pesta pernikahan Anggesayu dan Sattuma, sangat meriah. Tamu-tamu dari kampung sebelah berdatangan. Malam telah larut, perta pun usai.

Pasangan pengantin baru itu terlihat sangat bahagia. Ke mana-mana mereka selalu tampak berdua. Baik ke sungai untuk mencuci, maupun ke sawah menyaksikan sawah mereka. Kebetulan saat itu musim hujan saat mengerjakan sawah. Sebagaimana biasa penduduk di pedesaan, jika musim penghujan tiba, mereka berbondong-bondong bahu membahu mengerjakan sawah mereka. Begitu pula di Kampung Kaluku. Sawah orang tua Sattuma sangat luas. Keluarga Sattuma termasuk keluarga terpandang.

Sudah tradisi, orang tua Sattuma memanggil beberapa warga desa untuk mengerjakan sawahnya yang luas dan sangat banyak. Sebagaimana lazimnya jika memanggil warga desa untuk mengerjakan sawah, orang tua Sattuma juga menyiapkan makanan yang banyak untuk bagi mereka.

”Anggesayu, besok pagi warga desa akan datang untuk membantu mengerjakan sawah kita, kuharap kamu bisa turut membantu dan mengawasinya”, kata mertuanya. Anggesayu hanya mengangguk, tanda setuju. Anggesayu mulai berfikir, bagaimana cara mengerjakan sawah itu tanpa membebani warga desa.

Malam itu, Sattuma dan beberapa perempuan membantu memasak makanan. Makanan yang disediakan sangat banyak, dengan maksud untuk mereka yang mengerjakan sawah besok pagi.

Kira-kira pukul 01.00, Anggesayu meninggalkan rumah mertuanya. Dia menuju hutan cukup jauh dari rumahnya. Dia menebang sebuah pohon pinang yang tingginya sekitar 12 meter. Tubuh yang kekar dan besar, tinggi, sangat memungkinkan jika Anggesayu memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Anggesayu dapat dengan cepat merebahkan pohon pinang itu dan membuatnya salekko. Pohon pinang itu hanya dibagi empat untuk membuat Salekko. Salekko adalah sejenis alat untuk menangkap ikan. Bisa dibayangkan betapa tinggi dan besar badan Anggesayu.

Setelah salekko yang dibuat telah selesai, maka Anggesayu pun pergi ke sawah mertuanya untuk menggarapnya. Semua sawah milik mertuanya diselesaikannya malam itu juga. Setelah semuanya dianggap selesai, Anggesayu pun kembali ke rumah mertuanya.

Sesampai di rumah mertuanya, Anggesayu melihat hidangan yang sangat banyak. Anggesayu pun merasakan perutnya keroncongan setelah bekerja semalaman. Akhirnya Anggesayu menyantap makanan itu tanpa tersisa sedikit pun. Setelah menyantap semua makanan, Anggesayu pergi ke kamar dan berbaring di samping istrinya. Tak berapa lama, Anggesayu pun terlelap.

Keesokan harinya ketika ayam berkokok, warga desa yang telah dipanggil untuk membatu mengerjakan sawah berdatangan. Mereka langsung ke sawah yang akan dikerjakannya. Namun mereka sangat terkejut, ketika menyaksikan sawah yang akan mereka kerjakan telah dikerjakan orang lain. ”Siapa yang mengerjakan sawah ini”, kata salah seorang dari mereka. ”Dia pasti bukan orang sembarangan, dia memiliki kekuatan yang luar biasa”, kata yang lainnya.

Mereka saling berpandangan, tak tau mau berbuat apa. Akhirnya mereka melaporkan kejadian yang baru disaksikannya kepada orang tua Sattuma. Daeng Sakka, ayah Sattuma juga heran mendengar laporan itu.

”Siapa yang menyantap semua makanan di dapur”?, sambil berlari, Sattuma keluar dari dapur, dan melaporkan kepada ayahnya prihal ludesnya semua makanan yang ada di dapur. Mereka heran dengan semua kejadian yang terjadi. Pertama, sawah yang sudah terbajak entah siapa yang melakukannya. Kedua, makanan di dapur semuanya habis entah siapa yang memakannya.

Warga desa yang berniat untuk membantu mengerjakan sawah, akhirnya hanya menanam padi saja. Sambil menanam padi, mereka tak henti-hentinya bercakap tentang peristiwa yang baru saja terjadi. Mereka tak henti-hentinya berfikir, siapa yang lekaukan pekerjaan ini. Hanya dalam waktu semalam, sawah yang begitu luas dapat dibajak. Mereka tetap bekerja sampai semua sawah dapat ditanami.

Tak terasa, waktu terus berjalan, musim panen pun tiba. Warga desa kembali berkumpul untuk membantu keluarga Daeng Sakka memanen padinya. Anggesayu turut membantu. Ada satu kejadian yang sangat menakjubkan. Setiap sore hari, para pekerja pulang ke rumah Daeng Sakka dengan membawa hasil panennya hari itu dengan perantaraan seekor kerbau. Dalam bahasa Makassar disebut dengan ”Pateke”. Yaitu menggunakan tenaga hewan (kerbau, sapi, atau kuda) untuk membantu membawa gabah, dengan cara mengikat gabah pada punggung sapi, kerbau atau kuda.

giantzbrushed

Pada saat pulang dari sawah, Anggesayu selalu memikul kerbau pada satu sisi dan semua orang yang memotong padi pada sisi lainnya. Hal tersebut menjadi tontonan masyarakat sepanjang jalan menuju rumahnya. Namun dengan enteng, Anggesayu tetap saja memikul keduanya. Anggesayu adalah laki-laki yang sangat kuat dalam bekerja, akan tetapi jika ia makan, akan menghabiskan semua makanan yang dihadapinya bahkan lebih dari itu. Demikianlah cerita tentang Anggesayu.

Sampai sekarang, keturunan Anggesayu masih ada. Dipesankan, jangan sekali-kali mempersilakan makan lebih dari tiga kali. Akan berakibat fatal. Karena semua yang ada di sekelilinya yang berupa makanan baik itu yang sudah dimasak maupun masih berupa bahan mentah akan habis. Bahkan gabah pun yang masih berada dalam karung akan surut, entah ke mana.

Ada sebuah batu yang menggunung, yang disebut dengan ”batu lengga”, yang ada di Kecamatan Simbang, menurut cerita bahwa itu adalah batu yang digunakan oleh Anggesayu melempar sapi-sapi yang akan memasuki lahannya. Sampai sekarang batu itu masih dapat ditemukan. Makam Anggesayu dapat dilihat sampai sekarang di daerah Majannang Kecamatan Simbang.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.