Ecuador, Ama La Vida: Love Life (2)

Alausi - bersiap naik kereta Nariz del Diablo

Alausi - pemandangan kota

Banos - Pusat Kota

Banos - tour agent

Cuenca Cathedral

Cuenca - salah satu sudut kota

Cuenca - salah satu sudut kota

Di dalam gerbong kereta Nariz del Diablo

Pemandangan Lembah Alausi dari kereta

Pemandangan Lembah Alausi dari kereta

Petugas kereta Nariz del Diablo

Huge Quito Terminal Quitumbe

Super Semeria bus di terminal Cenca

Tarian tradisional di Stasiun Sibambe

Nia

 

Banos – capital of adventure

Informasi tentang jadwal bus di Ecuador tidak gampang diperoleh. Saya harusnya naik bus dari Otavalo ke Quito terminal utara atau Terminal Norte Carcelen (baca: karselen) lalu naik bus lagi yang ke terminal selatan atau Terminal Quitumbe (baca: kitumbe) dan cari bus yang ke Banos. Tapi saya baca di internet ada bus dari Ibara langsung ke Banos. Ibara adalah kota di utara Otavalo, sekitar 30 menit dengan bus. Sampai di terminal bus Ibara saya baru tahu bahwa bus ke Banos hanya ada 2 kali sehari dan salah satunya berangkat jam 2 siang.

Saya tidak bisa menunggu bus yang jam 2 siang karena sampai Banos sudah gelap. Akhirnya saya naik bus yang ke Quito alias balik lagi melewati Otavalo. Sampai di Quito Terminal Norte Carcelen saya turun dan beli tiket bus untuk ke Terminal Quitumbe. Ternyata… busnya sama! Jadi bus dari Otavalo juga sampai di Terminal Quitumbe. Sopir dan kernet bus senyum-senyum melihat saya :(

Quito Terminal Quitumbe besar sekali. Mirip bandara. Berikut fotonya:

Huge Quito Terminal Quitumbe

Huge Quito Terminal Quitumbe

Di bus menuju Banos saya berkenalan dengan Edwin, pemuda dari Puyo suatu kota di daerah Amazon. Dia umur 21 tahun tapi sudah jadi guru SD mengajar Matematika dan IPA. Bahasa Inggrisnya bagus sekali. Rupanya dia berasal dari keluarga berada dan bisa sekolah di sekolah bagus. Kakak perempuannya sedang kuliah kedokteran di Cuba. Edwin baru sekali keluar negeri yaitu ke Cuba menjenguk kakaknya. ‘Aku iri sama kamu yang sudah ke berbagai negara’, katanya. Saya bilang: ‘Aku iri sama kamu yang bisa masuk Cuba’.

Saya sebenarnya sudah usaha untuk bisa mengunjungi Cuba. Tapi untuk mengajukan aplikasi visa di kedutaan Cuba di Jakarta saja tidak bisa. Salah satu syaratnya adalah konfirmasi akomodasi selama di Cuba. Saya email ke banyak Casa Particulares (rumah penduduk yang disewakan) tapi tidak satupun yang membalas email saya. Saya telepon minta email konfirmasi dijawab ‘kami tidak bisa mengirim email karena internet sulit’. Salah satu teman memberikan kontak hotel di Havana tempat dia menginap dulu. Saya tidak menghubungi hotel tersebut. Memang tidak mau tinggal di hotel karena uang saya akan masuk ke kantong pemerintah. Beda dengan menginap di casa particulares yang uangnya bisa dinikmati pemilik rumah.

Kembali ke Edwin :) dari dia saya tahu bahwa dari Banos ke Alausi (tujuan saya berikutnya) saya harus ke Riobamba dulu. Duh… bolak-balik artinya. Saya ke Banos niatnya untuk bermalam sebelum melanjutkan ke Alausi. Tahu begini saya harusnya berhenti di Riobamba saja.

Banos adalah kota kecil yang dikelilingi pegunungan dan banyak kegiatan alam seperti trekking, rafting, bungy jumping dll yang bisa dilakukan di daerah sekitar Banos. Di pusat kota mudah dijumpai tour agent yang selain menyediakan paket adventure juga menyewakan alat camping, rafting bahkan 4×4 motor.

Turis yang saya jumpai di Banos semua berbadan fit. Mereka adalah pengunjung yang memang siap menerima tantangan alam Banos. Tidak seperti saya yang hanya mampir semalam saja.

 

Alausi – Nariz del Diablo (The Devil’s Nose Train)

Dari Banos saya naik bus ke Riobamba lalu ganti bus lain menuju Alausi. Saya lupa nama bus nya. Ketika di terminal Riobamba saya dengar orang meneriakkan Alausi. Saya langsung naik ke bus dan bayar ongkos langsung ke kernetnya. Bus ini memang melewati Alausi tapi tidak berhenti di terminalnya. Saya diturunkan di tepi Pan American Highway dan ditunjukkan arah menuju pusat kota.

Alausi kotanya kecil sekali. Terminalnya saja di tengah deretan ruko. Satu hal yang terkenal dari kota ini adalah kereta yang menuju Sibambe yang disebut Nariz del Diablo atau The Devil’s Nose. Dulu kereta ini bisa dinaiki dari Riobamba tapi karena rel dari Riobamba rusak jadi kereta ini hanya melayani jalur Alausi – Sibambe.

Alausi - bersiap naik kereta Nariz del Diablo

Alausi – bersiap naik kereta Nariz del Diablo

Nariz del Diablo dari berangkat dari Alausi ke Sibambe Selasa sampai Minggu jam 8 pagi, 11 pagi dan jam 2 siang. Lama perjalanan bolak balik sekitar 2,5 jam. Harga tiket bolak balik 25 USD. Kereta ini memang ditujukan untuk turis. Di stasiun Sibambe ada pertunjukan tarian tradisional, toko souvenir, cafe, dan museum. Jika suka hiking kita bisa beli tiket sekali jalan lalu kembali ke Alausi jalan kaki.

Di Alausi ada beberapa hotel dengan harga yang cukup mahal. Saya menginap di hostel Kila Wasi yang booking nya cukup dengan email. Hostel ini lumayan jauh dari pusat kota tapi naik taxi cukup murah, hanya 1 USD saja. Harga untuk bed di kamar dorm hanya 8 USD. Saya betah di hostel itu karena pemiliknya ganteng ;) Victor namanya. Ayahnya asli Alausi tapi dia lahir di US. Dia dan anak perempuannya tinggal di rumah yang dikelilingi kebun buah dan jagung. Luna, anak Victor aktif sekali. Pulang sekolah dia memberi makan 2 anjing, ayam dan guinea pig lalu blusukan di kebun bermain dengan bebek dan kalkunnya. Saya suka ikut main di kebunnya karena bisa metik dan makan jeruk mandarin sepuasnya :)

 

Cuenca – is this Europe?

Dari Alausi ada bus langsung ke Cuenca (baca: kuenka). Jadwal yang ada di internet dan di Tourist Information beda dengan jadwal di terminal. Untuk bus di Ecuador saya sarankan cek langsung jadwal dan harga di terminal bus. Saya naik bus yang jam 10 pagi dan sampai di Cuenca jam 3 sore.

Di terminal bus Cuenca ada Tourist Information Center. Dari petugas judes di sana saya disarankan untuk naik bus Super Semeria jika ingin cross border ke Peru. Bus Super Semeria melayani rute Cuenca – Piura – Chiclayo berangkat tiap hari jam 10 malam. Ketika saya tanya di konter Super Semeria ternyata masih ada kursi untuk ke Chiclayo untuk malam itu. Saya juga bisa menitipkan ransel disana. Akhirnya saya putuskan untuk tidak menginap di Cuenca tapi langsung ke Peru malam itu juga.

Cuenca - salah satu sudut kota

Cuenca – salah satu sudut kota

Cuenca kota yang cukup besar dengan deretan bangunan kolonial di sekitar pusat kota. Wifi gratis ada di beberapa tempat, lumayan membantu bagi fakir wifi seperti saya. 5 jam saya jalan-jalan mengitari kota. Tidak terasa capai karena pemandangan yang indah.

Jam 9 malam saya kembali ke terminal. Jam 9.45 penumpang diminta menuju bus melewati gate besi yang akan dibukakan jika kita sudah membeli tiket pajak terminal sebesar 0.20 USD.

Sekitar jam 2 pagi bus berhenti di border Ecuador – Peru. Jika di border lain ada yang namanya no man’s land, di sini tidak ada. Konter imigrasi keluar Ecuador BERSEBELAHAN alias JEJER dengan konter masuk Peru. Susah membayangkannya? Anggaplah sedang antri di bank dengan meja teller 4 buah berderet. Yang 2 meja untuk keluar Ecuador dan yang 2 lagi untuk masuk Peru. Saya sebenernya juga tidak percaya tapi itulah kenyataannya. Setelah antri dan dapat cap keluar Ecuador saya tinggal mingser alias bergeser sedikit untuk antri dapat cap masuk Peru.

Setelah semua penumpang selesai dengan proses imigrasi kami melanjutkan perjalanan menuju Peru dengan bus yang sama. Dari berbagai artikel yang saya baca jika naik bus selain Super Semeria penumpang mungkin ditinggal dan harus naik bus lain.

Itulah cerita saya di Ecuador dan cross border ke Peru. Mungkin kesannya melelahkan tapi aslinya tidak. Ecuador negara yang indahhhhh sekali. Penduduknya juga ramah. Di bus menuju Peru saya berkenalan dengan seorang pemuda Ecuador yang bekerja di Peru sebagai pelatih Thai Boxing. Sayang saya lupa namanya. Dia tidak bisa bahasa Inggris dan saya tidak bisa bahasa Spanyol jadi kami ngobrol dengan bahasa Tarzan. Saya harus agak menjauh ketika dia memeragakan jurus-jurus Thai Boxing nya. Saya kebetulan bawa Bath, mata uang Thailand. Saya berikan selembar kepadanya. Semoga dia bisa mewujudkan mimpinya berlatih Thai Boxing di Thailand.

Semua foto-foto lengkap dapat dinikmati di atas ya…

 

 

About Nia

Don't judge the book by its cover benar-benar berlaku untuk Nia ini. Posturnya sama sekali tidak menggambarkan nyalinya. Blusukan sendirian ke seluruh dunia dilakoninya tanpa gentar. Mungkin hanya North Pole dan South Pole yang belum dirambahnya. Catatan perjalanannya memerkaya wawasan bahwa dunia ini benar-benar luas dan indah!

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *