Setia atau Bodoh?

Wesiati Setyaningsih

 

Seorang teman menulis di Facebooknya tentang pasangan usia lanjut. Dia bilang para istri usia tujuh puluhan yang ditinggal meninggal suaminya tiba-tiba bersemangat hidup. Yang dulunya tampak menderita, sepeninggal suaminya tampak bebas tanpa beban.

Hal itu logis sekali. Cuma masalahnya, apa yang saya lihat di sekitar saya tidak demikian halnya. Salah satunya Ibu saya. Dari saya kelas dua SD Bapak saya sudah ketahuan menderita diabetes. Jadilah Ibu saya menjadi perawat dan polisi makanan sejak saat itu. Ibu yang membujuk Bapak saya untuk periksa, mengatur pola makannya.

Saya melihat sendiri bagaimana sibuknya Ibu saya menyiapkan makanan, memaksa ke rumah sakit untuk cek up, Pokoknya Ibulah yang paling direpotkan oleh Bapak saya sepanjang hidup. Bahkan menjelang meninggalnya Bapak saya membuat Ibu menunggui di rumah sakit dengan penuh ketegangan selama sepuluh hari. Toh setelah itu Ibu masih nangis-nangis. Bahkan setelah sepuluh tahun meninggalnya Bapak saya saat ini, Ibu saya masih sering merasa kehilangan.

Saya sih maklum kalau Ibu sampai sedemikian kehilangan ditinggalkan Bapak saya karena Bapak saya memang suami dan bapak yang baik. Pokok apapun yang dilakukan, semua demi kebahagiaan anak istri. Sama sekali tidak pernah memikirkan diri sendiri selain malasnya berobat dan mengatur dietnya sendiri. Saya saja sebagai anak masih terus terkenang kebaikan Bapak saya.

Yang tidak masuk akal adalah kisah Bu Lukito, tukang pijit saya. Usianya lebih muda dari Ibu saya tapi tampak jauh lebih tua. Tubuhnya yang ringkih tampak renta. Tapi jangan tanya kekuatan tangannya. Pijitannya enak luar biasa. Dia menjadi tukang pijit demi membiayai hidupnya dan suaminya yang sakit stroke. Pensiun suaminya yang sedikit tidak mencukupi kebutuhan hidup mereka beserta satu cucu yang hidup bersama mereka.

Dari cerita para tetangga, suami Bu Lukito ini dulunya playboy. Suka main perempuan hingga sempat meninggalkan Bu Lukito cukup lama. Ketika tua dia mulai sakit-sakitan, pulanglah dia ke Bu Lukito, si istri tua. Bu Lukito menerimanya dan dia rawat dengan susah payah. Setelah lama sakit, akhirnya suami ini meninggal.

Kalau kita pakai logika, mestinya Bu Lukito senang. Semua penderitaan hidup sudah dia dapatkan gara-gara suaminya ini : ditinggalkan demi perempuan lain, pas sudah sakit-sakitan malah datang lagi. Dalam kemiskinan dia terpaksa cari uang tambahan untuk makan dan biaya berobat, sekarang ketika meninggal harusnya bebannya terlepas. Tapi tampaknya Bu Lukito malah tidak bahagia. Tak lama dari suaminya meninggal, dia sakit-sakitan juga. Sekitar dua bulan kemudian dia meninggal.

Ada lagi yang membuat saya tidak habis pikir:  Mbak Ni, tenaga pocokan di rumah Ibu saya. Selama menikah, bisa dibilang hidupnya bagai neraka. Bagaimana tidak? Si suami ini pemabuk, pekerjaannya cuma serabutan tidak jelas hingga uang yang dia bawa juga tak tentu. Kalau mabuk dia bisa memukuli Mbak Ni. Kalau tidak mabuk karena tidak punya uang, dia memaki-maki Mbak Ni. Padahal praktis Mbak Ni yang sebenarnya jadi tulang punggung keluarga karena dia yang punya pekerjaan tetap, bekerja di rumah beberapa orang sebagai pembantu.

Kisah antara Mbak Ni dan suaminya ini berakhir ketika laki-laki tak bertanggung jawab ini menghamili perempuan lain. Mbak Ni sakit hati tapi tetap saja tidak mau minta cerai. Karena tidak mau bercerai sementara suaminya dipaksa keluarga si perempuan untuk menikahi, suaminya minta surat ijin menikah. Mbak Ni tidak mau. Akhirnya malah suaminya yang menceraikan dia. Harusnya Mbak Ni bersyukur terlepas dari neraka buatan suaminya.

Toh nyatanya Mbak Ni sedih luar biasa karena tidak ingin berpisah. Saya dan Ibu saya sampai gemas karena malah Mbak Ni yang takut kehilangan. Padahal kalau dilihat dengan logika waras, harusnya laki-laki itu yang merasa kehilangan Mbak Ni. Perempuan yang bisa cari uang sendiri, menghidupi keluarganya selama ini (bahkan rumah kost mereka Mbak Ni yang bayar), juga bisa memasak dan mengurus rumah. Tapi yang nangis bombay malah Mbak Ni.

Setelah mengalami fase kehilangan luar biasa pasca perceraian, akhirnya Mbak Ni bisa merelakan mantan suaminya yang tinggal tak jauh dari  rumah kost mereka bersama istri baru dan anaknya yang masih bayi. Mbak Ni tinggal bersama anak laki-laki tunggalnya dan sepertinya hidupnya sudah lebih tenang sekarang.

Kisah tentang perempuan yang malah seperti kehilangan gairah karena meninggalnya suami juga mengingatkan saya pada Bu Parman, penjual nasi dan lauk pauk yang dulu jadi favorit saya dan para langganan. Tiap hari dia berjualan dari pagi sampai siang. Suaminya hanya duduk mengangkat kaki di bangku kayu depan rumah. Tapi begitu suaminya meninggal, Bu Parman tidak mau berjualan lagi. Padahal langganannya banyak sekali sampai dia punya banyak pembantu yang untuk membantu masak dan berjualan. Tapi tak ada yang bisa membujuk Bu Parman untuk berjualan lagi hingga akhirnya dia meninggal.

loyal-or-stupid

Begitulah. Apa yang ditulis teman saya itu benar. Harusnya ketika suami meninggal, para istri terbebas dan bahagia. Tapi nyatanya yang namanya perempuan itu sepertinya memang secara naluriah ingin melakukan sesuatu buat orang lain. Mereka bahagia ketika ada yang membutuhkan mereka tiap saat, dalam hal ini suami mereka. Karena anak-anak yang sudah dirawat hingga dewasa akhirnya pergi meninggalkan mereka. Tinggallah suami yang makin lama makin jadi seperti kanak-kanak lagi. Melakukan pelayanan itu membuat mereka berharga dan punya makna. Serepot apapun itu.

Jadi, apa sih sebenarnya kesetiaan itu? Sangat tidak jelas definisinya. Saya jadi ingat kalimat, “Setia dan bodoh itu beda tipis.”

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *