Belajar dari Masyarakat Kampung Naga dalam Memenuhi Kebutuhan Hidup Sehari-hari (2)

Wiwit Sri Arianti

 

Artikel sebelumnya:

Belajar dari Masyarakat Kampung Naga dalam Memenuhi Kebutuhan Hidup Sehari-hari (1)

 

Masih melanjutkan perjalanan di Kampung Naga, kali ini tentang bagaimana masyarakat memegang teguh dan melaksanakan dengan baik dan berkomitmen untuk meneruskan ajaran hidup selaras dengan alam pada keturunanya sepanjang kehidupan mereka. Luar biasa…..

Ajaran pertama tentang pendidikan seumur hidup, bahwa “wejangan” atau nasehat dari para leluhur harus tetap dijaga dan dijalankan agar hidup kita selamat di dunia maupun di kehidupan setelahnya. Sehingga tidak perlu sekolah yang penting “nyekolah” atau belajar apa saja tentang kehidupan ini. Ajaran berikutnya adalah hidup bersama alam, “lampah” atau langkah harus lokal, mempertahankan gaya hidup, bukan hidup gaya. Maksudnya adalah masyarakat di Kampung Naga harus menjalani hidup yang selaras dengan alam, peka terhadap tanda-tanda yang disampaikan oleh alam dan mempertahankan gaya hidup yang selaras dengan alam. Di bawah ini foto hutan lindung yang ada di Kampung Naga, orang tidak diperbolehkan masuk dalam hutan lindung, apalagi mengambil kayu bakar, sangat dilarang agar hutan tetap terjaga untuk kelestarian alam dan kehidupan.

kampung-naga 2 (2)

Sedangkan aturan untuk pelestarian dan pemanfaatan pepohonan yang ada di lingkungan tempat tinggal, setiap warga yang membutuhkan kayu harus menanam 2 pohon terlebih dulu. Setelah pohon yang ditanam sudah kelihatan tumbuh, barulah warga tersebut diperbolehkan memotong pohon dan meskipun aturan tersebut tidak tertulis secara resmi, namun seluruh warga kampung sangat mematuhi aturan tersebut. Ketika hal tersebut kutanyakan apa yang membuat mereka begitu patuh? Karena mereka sangat percaya bahwa setiap ucapan, lampah dan perilaku kita akan berdampak pada diri sendiri sehingga kesalahan ucapan, lampah dan perilaku kita, dampaknya tidak hanya dirasakan diri sendiri namun juga akan diketahui umum. Sehingga setiap orang akan menjaga ucapan, lampah dan perilakunya agar tidak berdampak buruk bagi dirinya dan lingkungan sekitarnya.

Di bawah ini adalah foto pancuran yang mengeluarkan air sepanjang masa dan warga menyebutnya sebagai air “nyusu” atau air kehidupan.

kampung-naga 2 (1)

Disebut sebagai “air kehidupan” karena air ini terus mengalir sepanjang masa sejak jaman dulu kala tanpa berhenti meskipun pada musim kemarau, debit air tidak pernah berkurang dan tetap mengalir memenuhi kebutuhan warga. Seluruh warga di kampung ini memanfaatkan air nyusu untuk keperluan air minum dan memasak secara turun temurun sejak nenek moyang mereka. Airnya begitu jernih dan menyejukkan.

kampung-naga 2 (4)

Untuk kebutuhan mandi dan mencuci pakaian, mereka menggunakan jamban umum seperti foto di atas. Jamban umum ini ada di beberapa tempat untuk memenuhi kebutuhan seluruh warga dan tamu yang datang berkunjung. Meskipun tempatnya terbuka, tidak perlu khawatir ada yang mengintip ataupun akan berbuat jahat seperti di kampung lain karena mereka sangat menjaga ucapan, lampah dan perilaku mereka serta mematuhi aturan yang telah disepakati bersama dalam membangun kehidupan yang aman dan tentram. Teman-teman yang ingin datang dan menginap di kampung ini sudah bisa membayangkan dari sekarang bagaimana mandi di alam terbuka beratap langit seperti foto tersebut.

kampung-naga 2 (3)

Sungai ini juga mengalirkan air yang jernih dan keberadaannya membelah Kampung Naga sekaligus menjadi pembatas antara pemukiman warga dengan hutan lindung. Sungai ini juga mendukung sistem irigasi yang dibangun dan dikelola oleh warga agar sawah-sawah yang ada di kampung ini mendapat kecukupan air sehingga hasil panen tetap terjaga kualitasnya. Di ujung sungai juga dibangun pintu air dan selokan/saluran air untuk pengaturan distribusi air ke sawah agar merata, sehingga tidak ada yang kekurangan maupun kelebihan. Selain itu, selokan dan saluran juga untuk memberi jalan pada air yang datang dari atas atau luar kampung ketika musim hujan dan memperkuat tebing untuk mencegah longsor sehingga meskipun di atas hujan deras, Kampung Naga tetap aman dari bahaya longsor.

kampung-naga 2 (5) kampung-naga 2 (6)

Selain sistim pengelolaan air yang tertata dengan baik, mereka juga mengelola sampah dengan baik pula, di bawah ini foto tempat sampah yang terbuat dari bambu dan diletakkan di dekat rumah dan di tempat-tempat strategis di sepanjang jalan menuju Kampung Naga sehingga kondisi kampung tetap bersih. Setelah penuh, tempat sampah bisa diangkat dan sampah dibuang di beberapa tempat pembakaran sampah yang sudah disiapkan antara lain seperti di sudut kampung, di tepi jalan dan di pinggir sungai. Secara berkala sampah akan dibakar dan abu dari pembakaran sampah akan diambil dicampur dengan kotoran hewan dan dibuat pupuk tanaman. Sehingga mereka tidak perlu membeli pupuk buatan cukup dengan pupuk organik yang dibuat dari campuran abu bekas pembakaran sampah dan kotoran hewan.

kampung-naga 2 (7) kampung-naga 2 (9) kampung-naga 2 (8)

Lihatlah pengaturan bangunan rumah di Kampung Naga pada foto di bawah ini, mereka membangun rumah panggung yang tahan gempa dengan posisi berhadap-hadapan dan berbelakang-belakangan dengan tujuan agar bisa saling berkomunikasi dan saling mengetahui keadaan. Keluarga akan mengetahui jika tetangga yang berada di belakang rumahnya tidak memasak sehingga bisa langsung membantu dengan berbagi makanan. Subhanallah,.. sungguh budaya yang sangat luhur.

Selain itu, dengan posisi rumah berjejer memanjang akan mempermudah sinar matahari jatuh merata sehingga semua atap yang terbuat dari anyaman daun atau sirap bisa memperoleh sinar matahari sehingga atap menjadi kering dan tidak berjamur. Di bawahnya lagi adalah foto rumah yang saling membelakangi dan saling berhadapan. Dengan jarak antar rumah sedekat itu pasti mereka bisa saling mencium bau masakan masing-masing dan mendengar riuhnya suara anggota keluarga makan sambil berbincang. Demikian juga jika tetangga tidak memasak pasti juga dapat diketahui.

kampung-naga 2 (10) kampung-naga 2 (11) kampung-naga 2 (12) kampung-naga 2 (13) kampung-naga 2 (14)

Foto di atas adalah rumah salah satu warga bagian depan. Rumah di kampung ini selalu ada dua pintu, pintu sebelah kanan adalah pintu masuk ke ruang tamu, dibuat dari kayu papan seperti pada umumnya pintu rumah masyarakat umum. Sedangkan yang sebelah kiri adalah pintu masuk ke dapur dengan bentuk dan bahan yang berbeda dengan maksud yang berbeda pula. Pintu masuk ke dapur setengahnya lebih (bagian atas) dibuat dari anyaman sasak, dengan tujuan agar udara dan asap dapur bisa keluar melalui lubang-lubang kecil di sela-sela anyaman. Dinding dapur juga terbuat dari anyaman sasak, selain memperlancar sirkulasi udara, dengan bentuk anyaman tersebut pada siang hari orang yang ada di dalam dapur dapat melihat ke luar rumah untuk mengetahui situasi di luar dapur. Pada malam hari ganti orang luar yang bisa melihat situasi di dalam dapur, hal ini sangat membantu petugas ronda untuk mengetahui jika terjadi sesuatu di dapur.

kampung-naga 2 (15)

Lampu petromax, teplok, dan jenis lampu berbahan bakar minyak tanah lainnya masih setia menemani warga sebagai alat penerangan utama yang dipergunakan oleh warga karena sampai saat ini listrik tidak ada di Kampung Naga. Pilihan masyarakat untuk tetap setia menggunakan lampu dengan bahan bakar minyak tanah bukan tanpa alasan. Menurut pak Ijad (pemandu) keberadaan listrik lebih banyak “mudaratnya” atau keburukannya dibanding dengan manfaatnya, paling tidak sampai saat ini. Keberadaan listrik akan mendatangkan pemborosan dan mendorong warga untuk hidup gaya, hal ini akan bertentangan dengan ajaran hidup dari moyangnya yang mempertahankan gaya hidup (lokal), bukan hidup gaya. Dengan adanya listrik akan mendorong warga membeli televisi (TV) berwarna dan menjadikan masyarakat malas beranjak dari depan TV karena keasyikan nonton acara yang selalu dibuat menarik. Demikian juga anak-anak pasti akan terdorong untuk lebih menikmati siaran TV dibanding dengan duduk manis belajar di kamar. Mungkin saja semua itu hanya kekhawatiran yang berlebihan karena jika diarahkan pasti warga masyarakat dan anak-anak tidak akan semuanya seperti itu.

Sampai sekarang hanya ada 10 warga yang memiliki TV hitam putih dengan menggunakan accu yang bisa dicas di luar kampung jika habis baterenya.

kampung-naga 2 (16)

Itulah isi dapur warga Kampung Naga, peralatan dapur sederhana terbuat dari aluminium dan bambu serta ember plastik tempat menampung air untuk keperluan minum dan memasak. Tidak ada kompor gas dan rice cooker karena mereka menanak nasi menggunakan dandang di atas tungku yang sudutnya berlubang untuk membuang abu bekas pembakaran yang akan langsung jatuh di bawah rumah yang berfungsi sebagai kandang ayam. Abu yang jatuh akan diceker-ceker oleh ayam dan tercampur dengan kotoran ayam kemudian akan diambil secara berkala untuk dijadikan pupuk tanaman.

Tidak ada meja kursi tempat makan sebagaimana layaknya keluarga di kota, keluarga di kampung ini akan makan sambil duduk lesehan di sebelah tungku di atas hamparan tikar yang terbuat dari rotan. Setelah selesai makan, sisa makanan di piring dan yang jatuh bececeran di tikar tinggal dikumpulkan dan dibuang ke bawah melalui lubang di sela-sela lantai dapur yang terbuat dari kayu. Di bawah rumah sudah menunggu ayam piaraan yang siap memakannya. Tidak ada yang terbuang percuma, sisa makanan akan dimakan ayam, kotoran ayam dan kambing akan dicampur dengan abu bekas memasak di dapur dan abu pembakaran sampah dijadikan pupuk untuk memupuk tanaman di sawah dan kebun.

Luas lahan yang dimanfaatkan untuk pemukiman atau membangun rumah maksimal hanya 1,5 ha, tidak boleh lebih supaya lahan untuk pertanian dan kebun tidak terkikis habis. Aturan tersebut mereka patuhi dan laksanakan betul untuk menjamin ketersediaan pangan dan hasil pertanian yang cukup agar dapat dipakai untuk pemenuhan kebutuhan yang lain. Sehingga, jika ada keluarga baru dan sudah tidak tersedia lahan untuk membangun rumah, mereka akan keluar dari Kampung Naga dan membangun rumah di atas atau di luar kampung.

Demikian teman-teman, kearifan lokal yang dibangun dan diapatuhi bersama di Kampung Naga ini membuat warganya hidup selaras dengan alam, sederhana namun kaya hati. Apa upaya yang mereka lakukan hingga mampu bertahan dan menjalaninya sampai sekarang, baca tulisan berikutnya ya…

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *