Perjuangan Seorang Hilda

Jeng Margi

 

Hilda, sahabatku lahir dari keluarga yang sangat biasa-biasa saja. Ia tumbuh dengan 7 bersaudara di rumah petak kecil (kontrakan), berhimpit-himpitan dan jauh dari kata nyaman. Namun Hilda kecil tak pernah minder. Ia adalah anak yang pandai,  sering menorehkan  prestasi meski hanya di sekolah Inpres bukan di sekolah favorit. Dibanding saudara-saudaranya Hilda memang terlihat lain.

Melihat kondisi orang tuanya, tak memungkinkan Hilda untuk terus berpangku tangan. Di usia yang masih belia, Hilda sudah menjadi guru privat di luar jam sekolahnya. Semua yang dilakukannya semata-mata agar ia tetap bisa terus sekolah, bisa membeli buku dan pensil juga mendapatkan uang saku. Sepertinya Hilda begitu menyakini bahwa hanya sekolah yang kelak bisa mengubah hidupnya. Memang doi tak bisa berlaku santai seperti teman-teman sebayanya. Ibaratnya masa depanku ada di tanganku. Ia berangkat sekolah pagi-pagi dan kembali ke rumahnya setelah jam 7  malam karena dari sekolah doi langsung memberikan les privat mengajar di rumah beberapa murid bimbingannya. Pekerjaannya ia lakoni hingga berpuluh tahun. Hebat to Hilda ini, kecil-kecil sudah bisa nyambi. hehehehe…

wanita-sukses

Tapi itu dulu…..sekarang Hilda sudah bekerja. Namun pekerjaan memberikan les privat, tidak ia tinggalkan. Ia tetap melakoninya hingga kini. Berangkat pagi-pagi pulang malam-malam sudah jadi rutinitasnya saban hari. Di sini hebatnya, Hilda punya 2 penghasilan sekaligus saban bulannya. Di saat pengganguran meningkat, doi justru malah rangkap job. wkwkwk…

Karena tahu mencari uangnya susah, ia begitu berhati-hati dalam membelanjakan uang. Belanja-belanja yang dirasa tak perlu, doi delete. Say no to kuliner, itu slogannya. Bisa dibayangkan kawan, karena prinsip kehati-hatiannya itu tabungan hilda cepat membukit. Sebagai bukti  saat ini doi sudah mampu membeli rumah yang mungkin dulu hanya bisa memenuhi ruang mimpinya saja dan sekarang sudah dalam genggaman. Jika org-orang dalam membeli rumah biasanya 25% uang sendiri, 75 %  KPR, Hilda justru kebalikannya. So cicilan rumahnya bakalan lunas dalam kurun waktu kurang dari 6 tahun, hebat to….? Asal tau saja, harga rumah-rumah di kotaku melambung tinggi dari waktu ke waktu.

Mempunyai rumah adalah prestasi terbesar Hilda. Teman-teman di lingkungan kerjanya sampai berbondong-bondong studi banding ke rumahnya. Mereka pada apresiasi dan terkagum-kagum dengan langkah Si Hilda, yo memang pancen hebat kok, masih single sudah punya hunian tetap. Aku dan beberapa kawanku yang kebetulan sudah mendiami rumah sendiri saja dianggap hal biasa oleh sejumlah kalangan karena maaf ada “back up” dari suami. Sementara kalo ditelisik membeli atau membuat rumah sama beratnya to…? Meski itu statusnya masih single or doble hehehehe…

Dekat dengan Hilda, layaknya dekat dengan seorang ekonom, financial planner. Ia sungguh perencana yang baik.  Efeknya yang tadinya berjiwa boros, konsumtif dijamin tak lama kemudian menjadi pribadi yang teliti, setiti dan hati-hati. Sejatinya cowok-cowok yang mau naksir sama Hilda ini sesungguhnya amatlah tidak rugi. Doi sudah settle dan  tentu saja kelak jelas tidak  akan merepotkan pasangan dari sisi keuangan. Tapi entahlah….mengapa cowok-cowok seringnya  menjatuhkan pilihan pada hal-hal  yang fatamorgana. Mosok dalam memilih istri hanya karena cantik. Cantik saja tak cukup, harus ada pertimbangan yang lain. Cantik sih cantik tapi kalo sudah jadi istri rasanya akan sama wkwkwkwk…

Dan menuruntuku sesungguhnya Hilda ini  recommended lho, rupo yo oleh, mandiri yo jelas, supel dan sing penting taat beribadah. Kurang opo maneh…????

Sebagai sahabat aku hanya mampu berkata-kata…..Congratulation Hilda, atas semua capaianmu ini. Dreams come True …..dan lanjutkan apa yang menjadi mimpi-mimpimu lagi….

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.