Stereotype Orang Jerman

Primastuti Dewi Pobo

 

Tidak sengaja, pagi ini menekan tombol remote TV, yang muncul berita tentang WNI yang digugat oleh suami berkewarganegaraan Asing (German), sang suami menggugat bahwa pernikahan mereka palsu dan meminta untuk pembatalan perkawinan.

Sambil sarapan aku terpikir bagaimana bisa terjadi.

Aku tidak pernah tinggal di German, baru dua kali menginjakkan kaki di negara German, tidak punya banyak pengalaman tentang kehidupan orang-orang German.

Hanya saja, beberapa sahabat ku adalah orang German, juga tidak memungkiri masa lalu, aku pernah menjalin hubungan dengan orang German hampir 3 tahun.

stereotyping

Dari merekalah sedikit banyak aku mengerti bagaimana mereka menjalani hidup dengan pola mereka :

  1. Germans are direct

Mereka tidak suka basa basi, what you hear is what on their mindthis is this, that is that. Hampir bisa dipastikan apa yang kita dengar dari mulut orang German adalah apa yang ada di hati dan pikiran mereka. Kalau mereka tidak suka, mereka tidak akan mengatakan suka hanya agar orang lain merasa senang. jika mereka mengatakan bagus, karena memang tidak jelek.

 

  1. Germans love rules, organization, and structure

Yang kedua ini bertolak belakang dengan kesukaan kebanyakan orang kita, kita tidak suka aturan, kalau pun ada aturan, selalu mencari kesempatan bagaimana caranya agar bisa melanggar aturan, akan tetapi mereka selalu memiliki cara agar tetap terlihat tidak melanggar aturan.

Berbeda dengan masyarakat German yang lebih mandiri, independen, free, masyarakat kita masih bergantung pada pengakuan masyarakat bahwa ia adalah orang “baik” yang tidak melanggar norma dan kebiasaan terlepas dari apa yang sebenarnya mereka lakukan.

 

Pengalaman ku pribadi:

Ketika mengurus pernikahan dengan suami, berkenalanlah aku dengan seorang WNI yang menikah dengan WNA asal Perancis. Kebetulan berdasarkan pengakuannya mereka menikah di Singapore, yang kebetulan juga kami (aku dan suami ku sekarang) merencanakan melakukan pernikahan sipil di Singappore. Bertanyalah aku seputar pengalamannya mengurus segala dokumen. Semua informasi yang ku dapatkan dari beliau adalah dusta, karena saat ku cocok kan dengan aturan yang langsung aku dapatkan dari ROM (Register of Marriage) di Singapore, tidak ada yang relevan. Belakangan beliau, sebutlah namanya Paijem mengaku setelah menikah di Singapore, Paijem menikah lagi di KUA Indonesia demi menyenangkan kedua orang tuanya.

Sebagai orang bodoh yang  butuh informasi, tentu saja aku tidak percaya begitu saja bualan si Paijem ini. Usut punya usut, si Paijem ini hanya mengarang cerita saja. Bahwa sebenarnya Paijem tidak menikah di Singapore, bahkan tidak juga menikah di KUA. tidak pula menikah di Perancis. mereka memang tinggal bersama tetapi tidak ada ikatan perkawinan di antara keduanya.

Aku masih tidak mengerti mengapa Si Paijem ini mengarang cerita dan memberikan informasi palsu. sebenarnya aku sungguh tidak perduli apakah mereka menikah atau tidak, bahkan aku pun tidak akan memicingkan sebelah mata ku kalau toh mereka tinggal serumah dan tidak menikah. not my bussiness at all. Kalau memang itu jalan yang mereka pilih, tentu saja aku respect tidak perlu malu atau berbohong.

Pada akhirnya aku memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan Paijem, bukan karena Paijem tinggal bersama dengan pasangannya dan tidak menikah, akan tetapi karena aku tidak mau ada pembohong dalam lingkaran kehidupan ku.

Hal semacam ini (berbohong menikah padahal tidak menikah) tidak kita jumpai di sebagian besar masyarakat German.

 

Akhirnya imajinasi liar ku bercerita sendiri:

Barangkali si WNI yang digugat oleh suaminya ini karena memiliki sertifikat nikah “palsu” (karena si WNA tidak pernah merasa menikahi si WNI) bisa juga ini sertifikat nikah abal-abal. Di negeri ini apa sih yang nggak bisa diakalin?

Di negeri ini, Malu kan kalau punya anak nggak ada suami? Jadi bohong aja udah nikah. Sementara bagi sang “suami” yang berkewarganegaraan German barangkali tidak sensitif dengan perasaan malu yang dialami sang Istri, karena di negaranya, memiliki anak hasil buah cinta di luar nikah bukanlah sebuah aib. Bagi mereka aib adalah jika mereka melakukan kebohongan, mungkin itulah sebabnya sang suami menggugat pernikahan yang dianggapnya palsu tersebut.

Secara general orang German berbicara jujur, berbicara dengan mereka tidak khawatir dibohongi, karena apa yang keluar dari mulutnya sama persis dengan apa yang ada dalam hati dan pikirannya. Aku tidak mengerti jika ada pengecualian dalam kasus ini.

Terlepas dari kasus di atas, menjadi diri sendiri rasanya lebih nyaman dibandingkan harus melakukan sesuatu karena kehendak orang lain atau agar dianggap baik oleh orang lain. tidak perlu khawatir dikucilkan masyarakat. kalau kita orang baik, selalu akan ada tempat di bumi ini untuk hidup. Aku pribadi rasanya lebih malu kalau memalsukan janji suci jika memang janji itu tidak pernah ada, dibanding memiliki anak di luar nikah.

~~~ Tulisan ini terlepas dari konteks Dosa-Dosa, Neraka yang akan kita dapatkan setelah kematian. Karena Biarlah itu menjadi tanggungan sang Pendosa itu sendiri dan menjadi rahasia Sang Pencipta.

 

 

One Response to "Stereotype Orang Jerman"

  1. Sintia  5 July, 2015 at 17:41

    Hai mbak, tapi over all apa german’s guy is a great lover? Mereka jago gombal? Or not a good lier? (Generally)
    Tolong jawab ya
    Thank you

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.